Zayyan Mahendra membawa Lolly ke Swiss untuk merayakan kelulusannya sekaligus melamar wanita itu. Namun di saat Zayyan berharap cinta mereka berakhir bahagia, Lolly justru memilih pria lain.
Dengan hati hancur, Zayyan memutuskan pulang ke Indonesia. Tak disangka, di bandara ia bertemu kembali dengan teman lamanya dan membuat keputusan gila. Dia menikah Alin, teman lamanya itu.
Pernikahan tanpa cinta itu awalnya hanya pelarian. Tapi siapa sangka, takdir justru mempertemukan mereka pada cinta yang sebenarnya. Namun, keberadaan Lolly selalu mengganggu rumah tangganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1
Lima belas tahun kemudian.
Waktu berjalan begitu cepat, seolah semua luka, air mata, dan perjuangan di masa lalu telah tertelan oleh perjalanan hidup yang tak pernah berhenti. Kini, Zayyan bukan lagi anak kecil yang dulu bergantung pada orang lain. Di usianya yang ke-22 tahun, ia telah tumbuh menjadi sosok pria dewasa yang tenang, bertanggung jawab, dan penuh kasih.
Dia baru saja menyelesaikan pendidikan S1-nya dengan hasil yang membanggakan. Masa depan terbentang luas di hadapannya. Namun sebelum benar-benar terjun ke dunia kerja yang sesungguhnya, Zayyan ingin memberikan sesuatu yang berarti bagi seseorang yang selama ini selalu ada di sisinya, yaitu Lolly.
Seorang gadis yang selama beberapa tahun ini telah mengisi hari-harinya dengan tawa, kesabaran, dan cinta yang tulus.
Pagi itu, suasana bandara begitu ramai. Orang-orang berlalu lalang dengan berbagai tujuan, membawa koper, harapan, dan cerita masing-masing. Di antara keramaian itu, Zayyan dan Lolly berdiri berdampingan. Tangan mereka saling menggenggam erat, seolah tak ingin terpisah walau hanya sedetik.
Tujuan mereka jelas, ke Swiss.
Negara yang sejak dulu hanya bisa Lolly lihat dari layar ponsel dan gambar-gambar di internet. Pegunungan bersalju, danau yang jernih, serta kota-kota indah seperti negeri dongeng. Itu adalah impian Lolly. Dan hari ini, Zayyan berusaha mewujudkannya.
"Kamu siap?" tanya Zayyan lembut, menoleh ke arah gadis di sampingnya.
Lolly menatapnya dengan mata berbinar. Senyum tak pernah lepas dari wajahnya sejak tadi.
"Iya... aku sudah tidak sabar ingin melihat negara impianku," jawabnya penuh semangat, suaranya sedikit bergetar karena terlalu bahagia.
Zayyan tersenyum. Ia mengusap puncak kepala Lolly dengan lembut.
"Kalau begitu, kita mulai petualangan kita," ucapnya.
Mereka pun berjalan bersama menuju pintu keberangkatan. Setiap langkah terasa ringan, seolah dunia sedang berpihak pada mereka. Setelah melalui proses check-in dan pemeriksaan, akhirnya mereka memasuki pesawat.
Lolly duduk di dekat jendela, matanya tak berhenti melihat ke luar. Bahkan sebelum pesawat lepas landas, ia sudah tampak begitu antusias.
"Zayyan..." panggilnya pelan.
"Hm, kenapa sayang?" sahut Zayyan sambil mengenakan sabuk pengaman.
"Makasih ya..."
Zayyan menoleh, sedikit mengernyit. "Untuk apa?"
Lolly tersenyum, kali ini lebih lembut. "Untuk semuanya. Untuk selalu berusaha mewujudkan hal-hal kecil yang aku inginkan. Kamu selalu memberikan semua yang aku inginkan"
Zayyan terdiam sesaat. Tatapannya melembut.
"Aku nggak merasa sedang berusaha keras, baby. Karena selama itu tentang kamu, akan aku berikan. Yang penting kamu bahagia" jawabnya jujur.
Ucapan itu membuat pipi Lolly merona. Ia memalingkan wajahnya, pura-pura kembali fokus ke jendela, padahal hatinya berdebar lebih cepat.
Tak lama kemudian, suara pengumuman terdengar, menandakan pesawat akan segera lepas landas. Mesin mulai menderu, perlahan pesawat bergerak, hingga akhirnya melaju cepat dan terangkat meninggalkan landasan.
Lolly spontan menggenggam tangan Zayyan erat, seakan takut terjadi sesuatu.
Tak lama pramugari datang memberikan makanan dan juga minuman untuk para penumpang.
"Terima kasih" ucap Zayyan dan Lolly secara bersamaan.
Mereka mulai menikmati makanan tersebut sambil sesekali mengobrol.
Setelah menghabiskan makanannya, Zayyan dan Lolly memilih memejamkan matanya, mengusir rasa bosannya selama di perjalanan.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Perjalanan panjang yang melelahkan akhirnya terbayar lunas begitu roda pesawat menyentuh landasan. Dari balik jendela, hamparan putih salju yang menyelimuti sebagian wilayah Swiss terlihat begitu memukau, seolah dunia berubah menjadi lukisan yang selama ini hanya bisa mereka bayangkan.
Lolly yang sempat tertidur di tengah penerbangan, perlahan membuka matanya saat pesawat mulai berhenti. Ia mengerjap beberapa kali, lalu langsung menoleh ke arah jendela.
Matanya membesar.
"Sayang.." suaranya lirih, nyaris seperti bisikan tak percaya.
Zayyan yang sudah lebih dulu bangun hanya tersenyum melihat reaksi itu. "Welcome to Swiss," ucapnya pelan.
Lolly menutup mulutnya, menahan haru yang tiba-tiba menyeruak. Pemandangan di luar benar-benar nyata. Bukan lagi gambar di layar, bukan lagi mimpi semata.
Setelah proses imigrasi dan mengambil bagasi, mereka keluar dari bandara. Udara dingin langsung menyambut, menusuk kulit hingga membuat Lolly sedikit menggigil.
"Eh..." Lolly merapatkan jaketnya.
Zayyan yang melihat itu langsung melepas scarf yang ia kenakan, lalu melilitkannya dengan lembut ke leher Lolly.
"Pakai ini dulu, biar tidak kedinginan" katanya singkat.
Lolly menatapnya sejenak. "Tapi, nanti kamu yang kedinginan"
"Aku lebih kuat," jawab Zayyan santai.
Lolly tersenyum kecil, lalu mengangguk.
Perjalanan mereka berlanjut menuju hotel yang sudah dipesan oleh Zayyan jauh-jauh hari. Mobil yang mereka tumpangi melaju melewati jalanan bersih dengan deretan bangunan khas Eropa yang tertata rapi. Lampu-lampu kota mulai menyala, menciptakan suasana hangat di tengah dinginnya udara.
Lolly tak henti-hentinya menatap ke luar jendela.
"Indah banget..." gumamnya.
Zayyan hanya melirik sekilas, lalu kembali fokus ke depan. Namun senyum tipisnya tak bisa disembunyikan. Melihat Lolly bahagia seperti itu sudah cukup baginya.
Tak lama, mereka akhirnya tiba di hotel. Bangunan megah dengan arsitektur klasik-modern itu berdiri anggun, dihiasi lampu-lampu hangat yang membuat suasana terasa nyaman.
Setelah proses check-in selesai, Zayyan membawa koper mereka menuju ke kamar yang berada di lantai tiga.
Di depan sebuah pintu kamar, Zayyan berhenti.
"Istirahat dulu. Besok aku akan mengajakmu ke suatu tempat," katanya sambil menyerahkan kartu akses kamar kepada Lolly.
Lolly mengangguk pelan. Ia sempat menatap pintu di sebelahnya, lalu kembali menatap Zayyan.
"Kamu... di kamar sebelah?" tanyanya memastikan.
"Iya."
Lolly terdiam sesaat. Ada sesuatu yang ingin ia katakan, tapi dia urungkan. Ia tahu, Zayyan sengaja memesan kamar dengan terpisah untuk mencegah sesuatu yang buruk terjadi.
Zayyan pernah berjanji, bahwa ia tidak akan menyentuhnya sebelum hubungan mereka halal. Janji yang terdengar sederhana, tapi begitu berarti di zaman yang serba bebas seperti sekarang.
Lolly tersenyum kecil. "Makasih..."
Zayyan mengernyit. "Lagi-lagi makasih?"
"Kali ini beda," jawab Lolly pelan. "Karena kamu menjaga aku... bahkan saat kita jauh dari siapa pun."
Zayyan terdiam. Tatapannya berubah lembut.
"Aku bukan cuma menjaga kamu, baby, aku juga sedang menjaga diriku sendiri." ucapnya serius.
Kalimat itu membuat suasana mendadak hening. Namun bukan hening yang canggung, melainkan hening yang hangat.
Lolly mengangguk pelan. "Selamat istirahat"
"Iya. Kamu juga."
Tanpa banyak kata lagi, Lolly membuka pintu kamarnya dan masuk ke dalam. Pintu itu tertutup perlahan.
Di dalam kamar, Lolly bersandar sejenak di balik pintu. Ia menarik napas panjang, mencoba meredakan perasaan yang tiba-tiba terasa penuh.
Ia berjalan menuju jendela, membuka tirainya, dan kembali terpukau oleh pemandangan malam Swiss yang begitu indah. Lampu kota berkilauan seperti bintang yang jatuh ke bumi.
Namun di balik keindahan itu, pikirannya justru dipenuhi oleh satu hal yang hanya dia saja yang tahu.
Sementara itu, di kamar sebelah, Zayyan juga baru saja masuk. Ia meletakkan kopernya, lalu duduk di tepi ranjang.
Ia menghembuskan napas panjang. Perjalanan ini bukan hanya soal liburan. Ada sesuatu yang sudah ia rencanakan sejak lama. Sesuatu yang akan mengubah hubungan mereka ke tahap yang lebih serius.
Zayyan berdiri, berjalan ke arah jendela, dan menatap langit malam yang sama seperti yang dilihat Lolly dari kamar sebelah.
"Aku sudah tidak sabar ingin memilikimu sepenuhnya..." gumamnya pelan.
Senyum tipis terukir di wajahnya.
lanjut Thor 💪💪💪
lanjut Thor 🔥🔥🔥