NovelToon NovelToon
BAYANG BAYANG MASA LALU

BAYANG BAYANG MASA LALU

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Penyesalan Suami / Selingkuh
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Dinarta Firdaus

Enam tahun membina rumah tangga, Kirana merasa pernikahannya dengan Aris adalah definisi kebahagiaan yang sempurna. Namun, semua hancur saat Kirana menemukan kenyataan bahwa Aris kembali menjalin hubungan rahasia dengan Sarah, mantan kekasihnya yang dulu gagal dinikahi karena terganjal restu. Alih-alih menangis dan meminta cerai begitu saja, Kirana memilih jalan yang lebih gelap: menghancurkan Aris dari dalam dengan mendekati Bimo, sahabat karib sekaligus rekan bisnis Aris. Sebuah permainan ego, pengkhianatan, dan cinta yang keliru pun dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinarta Firdaus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERMAINAN 2 SISI

​Dunia ini adalah sebuah panggung sandiwara, dan Kirana baru saja menguasai seni peran tingkat tertinggi.

​Bagi seseorang yang tidak tahu apa yang bergolak di dalam penthouse berlantai marmer itu, kehidupan pasca-kepulangan Aris dari Bali tampak begitu sempurna. Sinar matahari pagi menembus jendela kaca raksasa, menyinari meja makan yang dipenuhi dengan sarapan estetis—roti panggang gandum, telur mata sapi dengan tingkat kematangan yang presisi, dan jus jeruk segar yang diperas langsung oleh tangan Kirana.

​"Kopi hitammu, Aris. Tanpa gula, seperti biasa," ucap Kirana lembut, meletakkan cangkir porselen putih di samping tablet digital suaminya. Ia mengenakan gaun rumah kasual berbahan linen putih, memancarkan aura ketenangan seorang istri yang mengabdikan seluruh waktunya untuk kenyamanan sang suami.

​Aris mendongak dari layar tabletnya, tersenyum lebar hingga matanya menyipit. Ada gurat kepuasan yang sangat kentara di wajahnya. Proyek Uluwatu berjalan lancar, dan egonya sebagai seorang pria berada di puncak tertinggi karena merasa berhasil menjinakkan dua wanita paling penting dalam hidupnya. Di Bali, ia memiliki Sarah yang membakar gairahnya dengan ambisi yang meledak-ledak. Di Jakarta, ia memiliki Kirana yang meneduhkan rumahnya dengan kepatuhan yang mutlak.

​"Terima kasih, Sayang. Kamu memang selalu tahu apa yang kubutuh," Aris meraih tangan Kirana, mengecup punggung tangannya dengan kemesraan yang biasa ia tunjukkan. "Oh ya, Bimo bilang dokumen Financial Trustee yang kamu tanda tangani kemarin sudah masuk ke sistem legal perusahaan. Investor Singapura sangat terkesan dengan struktur akuntabilitas kita. Semua ini berkat kamu, Kirana."

​"Aku hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang istri, Aris," Kirana tersenyum manis, membiarkan jemari Aris mengusap kulit tangannya.

​Di dalam kepalanya, Kirana sedang menghitung waktu. Sentuhan tangan Aris yang dulu memicu debar bahagia, kini tidak lebih dari sekadar gesekan kulit mati yang hambar. Rasa mual yang sempat menyiksa lambungnya pada minggu-minggu pertama kini telah bermutasi menjadi ketenangan yang mematikan. Kirana membiarkan Aris merasa aman. Ia membiarkan Aris percaya bahwa kebohongannya telah terbungkus rapi oleh kebodohan seorang istri rumahan. Karena semakin aman Aris merasa, semakin ceroboh pula setiap langkah yang diambil pria itu.

​Begitu Aris menyelesaikan sarapannya, mengecup pipi Kirana untuk berpamitan, dan melangkah keluar menuju mobil sedan mewahnya, topeng manis di wajah Kirana luruh seketika.

​Ia berjalan ke kamar mandi, berkumur dengan mouthwash hingga dua kali untuk membasuh sisa kecupan Aris, lalu melangkah ke ruang kerjanya. Dari dalam laci meja yang terkunci ganda, ia mengeluarkan ponsel cadangan yang layarnya langsung menyala menampilkan satu pesan dari Bimo: "Pukul 11.00. Di tempat biasa. Dokumen pengalihan aset kloter kedua sudah siap."

​"Tempat biasa" bukan lagi kantor Bimo di lantai 12, tempat di mana mata Siska atau dinding-dinding berkaca buram bisa mengkhianati mereka. Bimo telah menyewa sebuah ruang kerja privat (private suite) di sebuah co-working space eksklusif di kawasan SCBD. Tempat itu memiliki akses masuk menggunakan kartu enkripsi khusus, dinding kedap suara tebal, dan jendela yang ditutupi oleh tirai beludru tebal yang selalu tertutup.

Saat Kirana masuk, Bimo sudah menunggu di balik meja kaca besar. Penampilan Bimo tampak sedikit berbeda akhir-akhir ini; ada ketegangan yang konstan di bahunya, namun matanya memancarkan binar protektif yang semakin intens setiap kali menatap Kirana. Hubungan fisik dan emosional yang mereka lewati di malam badai itu telah mengubah Bimo sepenuhnya dari seorang pengacara yang kaku menjadi seorang pria yang siap mempertaruhkan seluruh lisensinya demi wanita yang ia puja.

1
Ara putri
mampir ya kak. Jika berkenan mampir juga keceritaku TUAN AYAZ, TOLONG BERHENTI!
Dinarta Firdaus: baik kakak terimakasih sudah mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!