Masa remaja Andini, seorang gadis SMA yang ceria, seharusnya dihabiskan dengan mengerjakan PR, tertawa bersama teman-teman, dan menikmati masa muda yang bebas. Namun, takdir berkata lain. Sebuah perjodohan mendadak menyeretnya ke dalam ikatan pernikahan yang tidak pernah ia bayangkan, dengan pria yang berada di dunia yang sangat jauh berbeda dari dunianya.
Charles, seorang CEO muda yang dikenal dengan reputasi "es berjalan". Baginya, hidup adalah tentang keuntungan, strategi, dan kesempurnaan. Ia tidak pernah menginginkan pernikahan ini baginya, Andini hanyalah tanggung jawab yang harus ia jaga demi memenuhi wasiat sang kakek.
Di sekolah, Andini adalah siswi biasa yang berusaha menjalani hari dengan tenang. Namun di balik pintu apartemen mewah, ia adalah istri dari pria yang paling disegani sekaligus ditakuti di dunia bisnis. Pernikahan ini harus dirahasiakan rapat-rapat; satu kesalahan kecil bisa menghancurkan reputasi Charles dan masa depan sekolah Andini...?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selenium Alchemy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Duniaku yang terbelah
Suara riuh koridor SMA Nusantara selalu sama setiap jam pulang sekolah. Teriakan anak-anak basket yang baru selesai latihan, tawa segerombolan siswi yang sedang menggosipkan drama Korea terbaru, hingga bunyi derap langkah sepatu yang terburu-buru menuju parkiran. Bagiku, Andini, suara-suara itu adalah musik yang menenangkan. Itu adalah satu-satunya dunia di mana aku bisa menjadi diriku sendiri—seorang siswi kelas sebelas yang sibuk memikirkan nilai ujian sejarah dan rencana *hangout* akhir pekan.
Aku menghela napas panjang, memasukkan buku catatan ke dalam tas ransel dengan kasar. Hari ini melelahkan. Pak Haris memberikan tugas matematika yang hampir membuat kepalaku berasap. Aku berjalan menunduk, menghindari tatapan teman-teman yang mungkin akan mengajakku mampir ke kedai kopi di seberang jalan.
"Din! Ikut kita makan bakso, yuk?" panggil Siska, sahabatku, sambil melambaikan tangan dari kejauhan.
Aku tersenyum tipis, sebisa mungkin terlihat natural. "Duh, Sis, *sorry* banget. Gue harus buru-buru pulang. Nyokap nitip beli bahan kue buat pesanan tetangga," bohongku. Itu adalah kebohongan standar yang sudah kusiapkan jika keadaan mendesak.
"Yah, padahal mau curhat nih! Ya udah deh, hati-hati ya!"
Aku melambaikan tangan, lalu bergegas mempercepat langkah menuju gerbang belakang sekolah yang lebih sepi. Begitu kakiku melangkah keluar dari area sekolah, senyum di wajahku lenyap seketika. Tubuhku menegang.
Di sana, di bawah pohon beringin tua yang agak tersembunyi dari jalan raya, terparkir sebuah sedan hitam mewah dengan kaca gelap. Mobil itu terasa sangat asing di lingkungan sekolah yang sederhana ini. Mobil itu seperti noda hitam di atas kanvas putih yang bersih. Dan aku tahu persis siapa pemiliknya.
Jantungku berdegup kencang, bukan karena jatuh cinta, melainkan karena rasa panik yang menjalar ke ujung jari. Aku melirik ke kanan dan kiri, memastikan tidak ada siswa atau guru yang memperhatikan, lalu dengan cepat aku masuk ke kursi penumpang bagian depan.
Begitu pintu tertutup, keheningan mencekam menyambutku. Aroma *sandalwood* dan parfum mahal yang maskulin langsung menyeruak, memenuhi ruang sempit itu. Di sampingku, pria itu duduk dengan tegak. Tatapannya lurus ke depan, seolah-olah ia sedang menatap proyek bernilai miliaran rupiah, bukan seorang remaja yang sedang memakai seragam sekolah putih abu-abu.
Charles. Pria itu—suamiku di atas kertas—tampak sempurna seperti biasanya. Jas hitamnya rapi tanpa satu pun kerutan, dasinya terikat kencang, dan jam tangan *luxury* melingkar di pergelangan tangannya yang kokoh.
"Kau terlambat tiga menit," ucapnya dingin. Suaranya rendah, berat, dan tanpa nada emosi.
Aku menelan ludah, berusaha menetralkan napas. "Maaf. Guru matematikaku menahan kelas. Lagipula, kenapa kamu menjemputku di sini? Kita sudah sepakat kalau kita tidak boleh bertemu di sekolah, Charles."
Charles menoleh. Tatapan matanya tajam, seolah bisa membedah setiap ketakutan yang kusembunyikan di balik seragam ini. "Aku tidak punya waktu untuk berdebat tentang protokol keselamatan yang sudah kita buat sendiri. Ada dokumen mendesak yang harus kau tanda tangani untuk aset properti atas namamu yang akan diserahterimakan besok."
"Aku masih sekolah, Charles! Aku bukan sekretarismu!" seruku, frustrasi. "Dan tolong, jangan jemput aku di sini lagi. Kalau teman-temanku melihat, atau guru-guru tahu..."
"Mereka tidak akan tahu jika kau tidak membuat keributan," potongnya dingin.
Charles menyalakan mesin mobil. Raungan halus mesin V8 terdengar, kontras dengan suasana sekolah yang mulai sepi. Ia menjalankan mobil dengan tenang, seolah tidak peduli dengan detak jantungku yang masih tidak beraturan.
Di dalam mobil, keheningan kembali mendominasi. Aku menatap keluar jendela, melihat pemandangan kota yang mulai berubah menjadi deretan gedung pencakar langit. Kehidupan Charles adalah dunia itu—dunia korporat yang dingin, penuh perhitungan, dan tanpa celah. Sedangkan duniaku? Duniamu adalah ruang kelas, kantin, dan kecemasan remaja.
"Kenapa kau diam saja?" tanya Charles tiba-tiba tanpa mengalihkan pandangan dari jalan.
"Apa yang harus kukatakan?" balasku ketus. "Kau datang, merusak rencanaku, dan menuntutku menandatangani dokumen bisnis di tengah hari sekolah. Hidupku terasa seperti terbelah, Charles. Di sekolah, aku harus berpura-pura menjadi siswi biasa yang hidupnya lurus. Di rumah, aku harus menjadi istrimu yang... entah apa definisinya."
Charles terdiam sejenak. Tangannya yang memegang kemudi mengencang, buku-buku jarinya memutih. "Pernikahan ini adalah tanggung jawab, Andini. Kau tahu itu. Kakekmu memintaku untuk melindungimu, dan aku melakukannya dengan cara yang kumampu."
"Melindungiku atau mengurungku?" tantangku.
Kali ini, Charles menoleh sekilas. Tatapannya melembut sesaat, namun segera kembali dingin seperti es. "Aku melindungimu dari dunia luar yang tidak kau mengerti. Sekarang, berhenti bersikap seperti anak kecil yang merajuk. Kita akan mampir ke kantor sebentar."
"Aku tidak bisa! Aku ada latihan eskul!"
"Dibatalkan," jawabnya singkat.
Aku mendengus kesal, menyilangkan tangan di dada. "Kau benar-benar CEO yang menyebalkan. Tidak heran istrimu yang dulu—"
Kalimatku terputus. Suasana di dalam mobil berubah drastis. Charles mengerem mendadak, menepikan mobil di bahu jalan yang sepi. Napasnya terdengar berat. Ia menatapku dengan tatapan yang membuat bulu kudukku berdiri.
"Jangan pernah bahas masa laluku," desisnya. "Kau tidak tahu apa-apa tentang itu."
Aku terdiam, mematung. Ini adalah sisi Charles yang paling kutakuti. Sisi di mana tembok pertahanannya runtuh dan menunjukkan kemarahan yang tertahan. Selama ini, aku hanya mengenalnya sebagai pria kaku yang sibuk dengan angka dan strategi. Namun, di balik itu semua, ada sesuatu yang gelap dan dalam yang selalu ia sembunyikan.
"Maaf," cicitku pelan.
Charles membuang muka, kembali menjalankan mobilnya. "Cepat ganti pakaianmu nanti. Kita akan menghadiri jamuan makan malam bisnis. Kau harus mendampingiku."
"Makan malam bisnis? Dengan seragam ini?"
"Akan ada gaun yang disiapkan di apartemen. Kau hanya perlu mengikuti arahanku."
Aku menunduk, memandangi seragam putih abu-abuku. Pakaian ini seharusnya menjadi simbol kebebasan masa remajaku, tapi sekarang, ia terasa seperti kostum dalam sebuah sandiwara panjang yang tak kunjung usai. Aku melirik Charles dari samping. Profil wajahnya yang tegas terlihat sangat tampan, namun entah kenapa, keindahan itu justru terasa menyakitkan.
"Charles?" panggilku pelan.
"Hm?"
"Apakah suatu hari nanti, kau akan berhenti bersikap seperti ini? Maksudku... tidak harus selalu formal. Bisakah kita setidaknya menjadi teman?"
Charles tidak langsung menjawab. Ia fokus pada jalanan di depan, namun jemarinya yang mengetuk kemudi menunjukkan keraguan. "Aku tidak tahu cara berteman, Andini. Aku hanya tahu cara memimpin dan melindungi. Dan untuk saat ini, mungkin itu sudah cukup untuk kita."
Mobil berhenti di depan gerbang sebuah apartemen mewah yang menjadi 'penjara' emas kami. Aku keluar dari mobil, merasa sedikit sesak. Aku berjalan menuju pintu masuk, meninggalkan Charles yang masih diam di dalam mobil.
Sebelum masuk ke dalam lift, aku berbalik dan melihat mobil hitam itu masih terparkir di sana. Charles belum pergi. Ia masih menatapku melalui kaca depan. Untuk sesaat, aku merasa seolah-olah dia sedang berusaha mengatakan sesuatu, namun egonya yang terlalu besar menahannya.
Aku menghela napas, menekan tombol lift. Ini adalah bab pertama dari kehidupan kami. Sebuah pernikahan yang dipaksakan oleh wasiat, disembunyikan oleh seragam, dan dibalut oleh dinding-dinding es yang dibangun oleh seorang CEO berhati dingin. Aku tidak tahu bagaimana cerita ini akan berakhir, atau apakah es di hati Charles bisa mencair sebelum masa SMA-ku berakhir.
Yang kutahu pasti, mulai hari ini, duniaku tidak akan pernah sama lagi.