NovelToon NovelToon
Kontrak Nikah Boss Dody : Demi Nafas Nonik

Kontrak Nikah Boss Dody : Demi Nafas Nonik

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Mafia
Popularitas:967
Nilai: 5
Nama Author: Alya Senja

Demi nafas Nonik, Santi OB miskin rela jual harga diri.
Demi warisan triliunan Opa Darwis, Dody CEO dingin butuh istri kontrak.

Satu tanda tangan di UGD, satu cap jempol Nonik yg sekarat.
Kontrak nikah 250 juta resmi dibuat.

Dia istri di atas kertas. Dia suami yg membeku.
Di antara mereka ada Nonik, bocah 5 tahun yang nyawanya jadi taruhan.

Bisakah hati sedingin es Dody luluh oleh tangis Santi?
Sementara Wati sang HRD dan Wandy sang tunangan siap menikam dari belakang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alya Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TANDA TANGAN KONTRAK

Santi berlari panik. Pegal di kakinya tidak dirasakan lagi, yang penting anaknya cepat mendapatkan perawatan cepat. Bau karbol dan cairan mengaduk perutnya yg kosong sejak kemarin. Di gendongannya, Nonik kejang lagi. Bibir bocah lima tahun itu membiru, napasnya satu-satu, tersengal seperti ikan kehabisan air. Dia betul-betul tidak berpikir Panjang. Sampai kakinya sakit karena kesandung batu juga tidak dia rasanya. Baginya Nonik…Nonik yang ada dipikirannya.

“Nak…tahan nak. Jangan….”

Santi berucap panik kepada Nonik yang digendongannya. Nonik diam tak bereaksi. Dia tidak mendengar ucapan Santi. Nonik adalah putri semata wayangnya yang sering sakit-sakitan sejak kecilnya karena jantung bawaan dan asma akut. Jantung bawaan dia dapat dari ayahnya yang juga punya penyakit jantung bawaan. Asma akut dia dapat ketika tinggal di kosan sempit di gang Mawar yang penuh debu dan sesak oleh polusi sehingga akhirnya Nonik pun terkena asma. Sebagai OB dia tidak punya banyak uang bagi perawatan anaknya. Di kota S ini dia tidak punya siapa-siapa yang bisa dimintai tolong. Dia harus mengandalkan diri sendiri supaya tetap dapat bertahan hidup dari dunia yang kejam ini.

Santi melihat ke dokter jaga. Waktu itu pukul jam 1 pagi. Dia tidak merasakan ngantuk sama sekali. Yang penting anaknya segera mendapatkan perawatan segera.

"Dok, tolong anak saya..." Santi berbisik. Suaranya habis. Air mata sudah kering. Dua hari dia nggak tidur, jagain Nonik yg step terus-terusan.

Dokter jaga cuma geleng, menyodorkan kertas. "Bu, kartu kesehatan Ibu nggak cover penyakit jantung bawaan. Ini tagihan sementara. 50 juta. Kalo mau masuk ICU dan operasi darurat, deposit 25 juta sekarang."

50 juta. Angka itu seperti palu godam menghantam kepala Santi. Gajinya sebagai OB kontrak di PT Gumilang cuma 2 juta. Obat Nonik sebulan saja 3 juta. Dia mau transit milik pun tidak cukup.

"Pak... saya gak punya..."

"Saya ngerti, Bu. Tapi ini prosedur RS." Dokter itu pergi, ninggalin Santi sendirian di lorong UGD yg remang.

Nonik tiba-tiba membuka mata. Tangannya yg kecil dingin menggenggam kerah daster lusuh Santi. "Mama... Nonik ngantuk... Nonik mau bobo sama Papa..."

Papa. Kata itu menyayat hati Santi. Suaminya sudah dua tahun meninggal. Kecelakaan kerja di proyek PT Gumilang. Pesangonnya ditilep HRD. Tinggal Santi dan Nonik, dua perempuan lemah melawan kekejaman dunia.

Tiba-tiba lorong jadi sunyi. Langkah sepatu mahal menggema. Wangi parfum dingin mengalahkan bau karbol.

Santi mendongak.

Seorang laki-laki tinggi berdiri di sana. Jas hitam, kemeja putih tanpa dasi, wajah datar seperti patung es. Matanya tajam, tapi kosong. Seluruh suster UGD menunduk hormat.

Itu Dody Gumilang. CEO PT Gumilang. Anak bos tempat Santi mengepel lantai setiap hari.

Dody menatap Nonik yg sekarat, lalu menatap Santi. Tatapannya tidak kasihan. Hanya menghitung. Dia bagaikan siluet hitam yang menakutkan tetapi misterius dimata Santi.

"Kamu Santi. OB lantai 15." Suaranya datar, tanpa intonasi. "Anakmu butuh 250 juta buat operasi dan perawatan setahun."

Santi kaget. Darimana dia tahu?

Dody menyodorkan map hitam dari sekretaris di belakangnya. "Saya butuh istri kontrak satu tahun. Buat warisan Opa Darwis. Bayarannya 250 juta cash. Cukup buat anakmu."

Dunia Santi berhenti berputar. Dia terhenyak kaget. Apa-apaan ini.

Istri kontrak? 250 juta?

"Kenapa... kenapa saya?"

Santi terbata-bata. Dia tidak habis pikir buat apa pak Dody Gumilang menyodorkan penawaran itu.

"Karena kamu susah. Karena kamu nggak akan nuntut lebih. Karena anakmu butuh nyawa, dan saya butuh tanda tangan." Dody melirik jam tangannya. "Kamu punya waktu 5 menit. Setelah itu saya cari OB lain."

Santi terdiam. Dia menghela nafas Panjang. Nonik butuh perawatan. Itu mahal sekali. Uang yang dia miliki tidak cukup untuk biaya perawatan Nonik. Apalagi kartu Kesehatan juga tidak membantu sama sekali. Ini sebuah dilemma berat buat Santi yang pas-pasan gajinya. Bahkan kadang dia tidak makan sama sekali asalkan Nonik dapat makan dan obat dia rela.

Nonik kejang lagi. Lebih parah. Busa keluar dari mulut kecilnya. Suster berlari mendekat, "Bu! Pasien step lagi! Harus ke ICU sekarang!"

ICU. 25 juta deposit. Yang tidak Santi punya. Bagaimana ini Nonik harus segera mendapatkan perawatan. Bila tidak Nonik tumbang. Dia lah yang selaku ibunya akan diburu rasa bersalah yang besar. Bahkan semua orang akan menyalahkan dirinya. Juga keluarganya di kampung di lereng gunung G. Mereka akan menuduh dia tidak pecus sebagai ibu. Tidak bisa menjaga. Tidak bisa merawat anaknya dengan sungguh-sungguh. Santi termenung sejenak.

Santi menatap map hitam itu. Di dalamnya surat perjanjian nikah. Di sebelahnya, Dody menyodorkan bolpoin emas.

“Ayo tanda tangani ini. Kamu dapat biaya perawatan buat anakmu.”

Dody menyerahkan ballpoint kepadanya.

Tangannya gemetar. Harga diri? Sudah lama dia jual buat beli bubur Nonik. Masa depan? Nonik bahkan belum tentu punya besok pagi. Dia takut kehilangan Nonik. Hanya Nonik yang dia miliki didunia ini. Dunia kejam. Dunia yang tidak berpihak pada orang rendah seperti dirinya.

"Nonik..." bisik Santi.

Nonik membuka mata sebentar. Dengan sisa tenaga, dia mengusap air mata di pipi Santi. "Mama jangan nangis... Nonik nggak sakit..." Lalu pingsan lagi.

Santi menutup mata. Ditariknya napas terakhir sebagai Santi si janda miskin.

Saat membuka mata lagi, dia adalah Santi calon Nyonya Gumilang.

Dia merebut bolpoin itu. Tapi jarinya terlalu lemas untuk menggenggam. Sehingga ballpoint malah terlepas dari tangannya yang lemas itu.

Dody berdecak, tidak sabar. "Cap jempol saja."

Sekretaris Dody sigap menyodorkan bantalan tinta merah.

Santi menatap jempol Nonik yg lemas terkulai. Dengan sisa keberanian, dia menekan jempol mungil anaknya ke tinta merah, lalu menekannya keras-keras di kertas perjanjian.

Cap jempol cairan.

Bukan milik Santi. Milik Nonik.

Dody mengambil map itu, melirik cap jempol  di sana. Wajahnya tetap datar. "Bagus. Mulai besok, KTP kamu sudah jadi Istri Dody Gumilang. Sekretaris saya akan urus administrasi dan transfer 250 juta ke RS."

Dia berbalik, hendak pergi. Langkahnya dingin.

"Tunggu!" Santi berteriak. Tenaga dari mana, dia tidak tahu. "Anak saya... Nonik... dia bisa sembuh kan? 250 juta itu cukup kan?"

Dody berhenti. Tidak berbalik. Hanya menjawab ke tembok kosong di depannya.

"Uang bisa beli dokter terbaik. Tapi tidak bisa beli nyawa. Itu urusan anakmu sama Tuhan."

Ucapan Dody terasa dingin, kejam dan tidak berperasaan.

Lalu dia pergi. Meninggalkan Santi terduduk di lantai UGD, memeluk Nonik yg masih pingsan, dengan cap jempol cairan di surat kontrak yg akan mengubah hidupnya selamanya.

Di ujung lorong, dari balik pintu kaca, seorang wanita paruh baya berkacamata mengamati semua. Wati. Kepala HRD PT Gumilang. Tante kandung Dody.

Bibirnya menyeringai sinis. "OB naik kelas? Kita lihat saja, Santi. Di kantorku, kamu tetap rendah.

Bersambung

1
gendiz
semangat ya
Alya Senja: Terima kasih kak sudah mampir
total 1 replies
MayAyunda
keren
Alya Senja: Makasih kak sudah mampir 🙏
total 1 replies
Alya Senja
ya terima kasih mau mampir kak. Kita langsung ya kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!