🌺 Sekuel cerita "Suami Rahasia Anindia", disarankan untuk membaca S1 terlebih dahulu agar ceritanya lebih nyambung untuk dibaca, terima kasih:)
•••
Setelah lulus SMA, Anindia dan Keanu memutuskan untuk melanjutkan pendidikan mereka di Universitas Trisakti Jakarta. Mereka berdua memiliki impian besar untuk masa depan, dan mereka tahu bahwa pendidikan adalah kunci untuk mencapai impian tersebut.
Namun, kehidupan mereka tidaklah semudah yang mereka bayangkan. Mereka harus menghadapi tantangan baru sebagai orang tua muda, mengurus si kecil Shaka yang berusia 1 tahun. Anindia dan Keanu harus membagi waktu antara kuliah, mengurus Shaka, dan menjalani kehidupan sebagai pasangan muda.
Bagaimana Anindia dan Keanu akan menghadapi tantangan sebagai orang tua muda dan mahasiswa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NdahDhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Peran ganda
Setahun yang lalu, Anindia dan Keanu telah melangsungkan acara tasyakuran aqiqah anak pertama mereka, Shaka Zayn Pratama. Acara itu dihadiri oleh banyak orang, tak terkecuali sanak saudara dan teman-teman dekat mereka. Rasa bahagia masih begitu nyata di raut wajah keduanya ketika mengingat momen itu.
Kini, di dalam kamarnya, Anindia tengah memandikan bocah laki-laki itu. Shaka, yang baru berumur 1 tahun terlihat begitu aktif dengan gerakannya, membuat Anindia tertawa melihat tingkah lucunya. Seperti saat ini misalnya, baby Shaka menggenggam sabun dan hampir saja memasukkannya ke dalam mulut.
"Ta-ta-ta," oceh bayi laki-laki itu sembari menendang-nendang kakinya di dalam tempat mandinya.
"Ndak boleh sayang. Ini sabun, jangan di makan ya," ujar Anindia lembut sembari menarik tangan Shaka yang sedang menggenggam sabun.
Tidak menghiraukan, tiba-tiba saja Shaka memukul-mukul air di hadapannya, membuat percikan air muncrat kemana-mana. Bahkan, wajah Anindia basah oleh air mandi karena ulah anaknya sendiri.
"Hahaha, nak! Liat, bunda udah basah," ujar Anindia yang merasa gemas dengan putranya sendiri.
Anindia mengusap wajahnya dengan tangan, berusaha menghapus air yang membasahi wajahnya. Ia kemudian mengangkat Shaka dari tempat mandinya.
"Sudah mandinya sayang. Gantengnya anak bunda," ujar Anindia sembari mencium gemas pipi Shaka.
Anindia menggendong Shaka yang masih terus mengoceh. Lalu ia membalut tubuh putranya itu dengan handuk lembut.
"Wah-wah, anak ayah udah mandi."
Saat itu, terdengar suara Keanu yang baru saja selesai mandi dari kamar sebelah. Rambutnya basah dan terlihat acak-acakan, dengan handuk yang ia letakkan di atas pundaknya.
"Iya dong ayah, Shaka udah mandi, udah wangi," ujar Anindia yang menirukan suara anak kecil.
Keanu terkekeh, lalu berjalan mendekati Anindia yang masih mengurus baby Shaka. Ia duduk di tepi tempat tidur, tepat di sebelah anaknya.
Anindia mengusapkan minyak angin dan bedak pada tubuh Shaka, membuat aroma khas bayi terasa begitu kentara di indra penciuman mereka.
Tangan mungil Shaka yang masih basah, tiba-tiba saja memukul tangan Anindia yang sedang memegang bedak, membuat bedak itu terlempar dan tumpah ke wajah Keanu. Anindia langsung menertawai suaminya yang penuh dengan taburan bedak di wajahnya.
"Mas, muka kamu putih banget. Skincare aja kalah nih," gurau Anindia.
"Hahaha, nak! Kamu ini nakal banget ya? Anak siapa sih, hmm?" Ujar Keanu yang merasa gemas sembari menciumi pipi Shaka berkali-kali.
Anindia terkekeh melihat suami dan anaknya, terlebih Shaka yang tertawa khas ala bayi, sungguh menggemaskan sekali. Baginya, menikah muda itu begitu menyenangkan. Ia tidak pernah berpacaran, sekalinya bertemu dengan laki-laki langsung di jalur pernikahan. Puji syukur Anindia panjatkan karena Allah ingin menghindarinya dari zina.
"Shaka ganti baju dulu, ayah," ujar Anindia yang kembali menirukan suara anak kecil, sembari memakaikan baju untuk Shaka.
Keanu tersenyum tipis, lalu mengacak pucuk kepala Anindia. Suatu kebiasaannya yang tidak pernah berubah pada Anindia, meskipun statusnya sekarang sudah menjadi seorang ayah. "Iya, sayang. Shaka ganteng banget, nih," ujarnya.
"Mas, ingat! Udah jadi ayah, lho," ujar Anindia yang tersipu malu.
Anindia yang masih mengurus Shaka langsung menundukkan kepalanya, mencoba untuk menyembunyikan wajahnya yang bersemu merah. Ia merasa bahagia melihat Keanu masih memiliki kebiasaan lama yang membuatnya jatuh cinta setiap hari.
Keanu tertawa melihat reaksi Anindia. Ia menggelengkan kepalanya lalu menoleh ke arah Shaka yang berbaring di tempat tidur, dengan Anindia yang masih memakaikan pakaian untuknya.
"Shaka, sini cium dulu, emmuach!"
Bukannya mencium pipi Shaka, Keanu justru mencium pipi istrinya. Hal itu jelas saja membuat Anindia merasa panas di wajahnya. Ia memukul lengan Keanu pelan, terlihat jelas bahwa ia sedang salting.
"Mas, kebiasaannya gak pernah berubah!" Ujar Anindia.
Keanu hanya tertawa menanggapinya, tanpa kata ia langsung beranjak dan mengeringkan rambutnya dengan handuk. Anindia hanya bisa memandangi Keanu dengan gelengan kepala, senyum tipis terukir di wajahnya.
Keanu sendiri langsung menyisir rambutnya setelah ia menjemur handuknya. Ia mengenakan kemeja yang yang rapi, siap untuk memulai aktivitasnya sebagai seorang mahasiswa. Setelah selesai, ia menghampiri Anindia untuk menggendong Shaka.
"Anak bunda udah ganteng. Shaka sama ayah dulu ya, nak? Bunda mau ganti baju dulu," ujar Anindia pada Shaka yang tangan mungilnya menyentuh wajah Anindia.
"Iya, nak. Ayo, Shaka sama ayah dulu," ujar Keanu sembari mengulurkan tangannya untuk menggendong Shaka.
Shaka langsung mengulurkan kedua tangannya, seolah mengerti bahwa sang ayah sedang mengajaknya. Keanu langsung menggendong Shaka, aroma khas bayi dari tubuh anaknya membuat Keanu merasa tenang.
"Sayang, aku tunggu di bawah ya," ujar Keanu lembut.
"Iya, Mas. Aku juga mau ganti baju dulu," ujar Anindia dengan seutas senyum.
Keanu mengangguk, lalu ia membawa Shaka turun ke bawah. Sementara Anindia langsung membereskan perlengkapan mandi Shaka, sebelum akhirnya ia beranjak ke arah lemari untuk mengambil pakaian ganti.
Setelah selesai dengan segala sesuatunya, Anindia juga menyusul ke ke arah ruang makan keluarga Bramantyo. Mahasiswi cantik itu tidak ingin melewatkan momen indah bersama keluarga kecilnya.
Anindia menuruni anak tangga. Saat menginjak anak tangga terakhir, ia bisa mendengar jelas suara kedua mertuanya yang sedang mengajak ngobrol Shaka, dengan Shaka yang tertawa menggemaskan. Ia menghentikan sejenak langkahnya, menatap ke kejauhan dengan penuh rasa bahagia.
"Alhamdulillah ya Allah. Terima kasih, engkau telah mentakdirkan aku menjadi bagian dari keluarga yang bahagia ini," ucap syukur Anindia, sebelum akhirnya melanjutkan langkahnya menuju ke arah ruang makan.
"Cucu Oma udah mulai lasak, ya?" Ujar ibu Keanu pada cucu pertamanya.
"Cucu Opa pintar," ujar ayah Keanu yang tersenyum bangga ketika melihat cucunya itu yang lahap menikmati MPASI, dengan Keanu yang menyuapinya.
Keanu hanya tersenyum ketika memandang Shaka yang sedang makan bubur bayi. Ia memangku Shaka dengan satu tangan, sementara tangan yang lainnya menyuapi bayi laki-laki itu dengan sabar.
"Lahap banget makannya, nak. Enak ya?" Ujar Keanu lembut, sembari menyeka pipi Shaka yang kotor oleh bubur.
"Mas, kamu makan aja. Biar aku yang suapi Shaka," ujar Anindia yang langsung berjalan mendekat ke arah suami dan anaknya.
Keanu menoleh dengan seutas senyum tipis yang terukir di wajahnya. Ia menggelengkan kepalanya, menatap Anindia dengan tatapan lembut. "Gapapa sayang, gantian. Kamu setiap hari menyuapi Shaka sebelum pergi ke kampus. Kamu makan aja, ya?" Ujarnya.
Ayah dan ibu Keanu tersenyum melihat putranya yang benar-benar sudah dewasa, bahkan begitu menghargai istrinya. Keduanya saling bertukar pandang, merasa bahagia melihat kebahagiaan anak dan menantunya.
Anindia tersenyum, merasa terharu dengan perhatian Keanu. "Iya, Mas. Terima kasih," ujarnya dengan anggukan singkat.
Anindia duduk di sebelah Keanu, lalu mengambil piring dan menyuapi Keanu sebelum akhirnya ia menyuap nasi ke mulutnya sendiri.
Keanu tersenyum, menatap Anindia dalam. Perhatian Anindia untuknya selalu saja membuatnya merasa dicintai oleh istrinya sendiri. "Makasih, sayang," ujarnya.
"Sama-sama, Mas," ujar Anindia dengan seutas senyum manis, lalu menoleh ke arah Shaka yang wajahnya belepotan bubur. "Enak mamam nya ya, nak?" Lanjutnya sembari membersihkan wajah Shaka dengan tisu.
"Hmm... Udah punya anak romantisnya masih sama, ya?" Goda ibu Keanu, sementara ayah Keanu berpura-pura tidak melihat momen itu, dengan mengalihkan pandangannya pada secangkir kopi miliknya.
Anindia tersipu malu, wajahnya merona karena perkataan ibu mertuanya. "Ma, bisa aja deh," ujarnya.
"Iya dong, Ma. Mama sama Papa yang udah punya cucu aja makin romantis, kan?" Ujar Keanu santai, kembali menggoda ibunya.
Kedua orang tua Keanu tertawa, tidak menyangka dengan penuturan putranya. Sementara Anindia hanya tersenyum, menatap Keanu dengan gelengan singkat.
"Itu kunci langgengnya rumah tangga, nak," ujar ayah Keanu menimpali.
Mereka tertawa, merasa hangat dengan perbincangan dan canda pagi itu. Mereka kembali menikmati sarapannya, dengan Anindia yang makan sepiring berdua dengan Keanu.
"Ba-ba-ba!" Shaka yang berada di pangkuan Keanu pun langsung menarik perhatian dengan tingkahnya yang lucu, memukul-mukul tangan Keanu.
"Aktif banget ya cucu Oma ini," ujar ibu Keanu yang tersenyum melihat keaktifan cucu pertamanya.
Shaka, yang sedang berada di dalam pangkuan Keanu, tiba-tiba memukul piring yang di pegang Keanu. Mereka semua tertawa gemas melihat tingkah Shaka yang lagi aktif-aktifnya.
"Ya ampun nak, mau makan lagi?" Ujar Anindia dengan kekehan kecil.
Anindia mengambil alih Shaka dari pangkuan Keanu, membersihkan wajah anaknya dengan tisu basah. Bi Yeyen, membawa sebotol susu bayi untuk Shaka. Bayi laki-laki itu langsung memintanya dengan gerakan tangan dan ocehan yang tidak jelas.
"Non, ini susunya buat den muda Shaka," ujar Bi Yeyen sembari menyerahkan botol susu itu pada Anindia.
"Terima kasih ya, Bi," ujar Anindia sembari menerima botol susu itu.
Bi Yeyen mengangguk, lalu berpamitan kepada keluarga Bramantyo untuk kembali ke dapur. Shaka yang melihat botol susu di tangan Anindia langsung menggenggam botol susu itu dengan tangan mungilnya.
Anindia langsung membantu Shaka memegangi botol susu itu, dan Shaka langsung memasukkannya ke mulut dan meminumnya dengan lahap.
"Enak ya, nak? Pintarnya anak bunda, minum susu," ujar Anindia sembari mengusap kepala Shaka penuh kasih sayang.
"Perasaan baru kemarin kamu lahir, nak. Tau-tau udah gede aja," ujar Keanu dengan seutas senyum.
"Iya dong, ayah. Masa Shaka di suruh kecil terus, ya?" Ujar Anindia yang tatapannya fokus pada Shaka di pangkuannya.
Di rumah keluarga Bramantyo, semuanya terasa begitu berbeda semenjak kehadiran Shaka. Bayi kecil yang menggemaskan itu menambah suasana di antara mereka.
Sarapan pagi yang biasanya hanya terdengar perbincangan santai di antara mereka, kini terlihat lebih bahagia dengan kehadiran baby Shaka. Suara tawa dari Shaka membuat keempat orang dewasa itu merasa rileks setelah melewati aktivitasnya masing-masing.
Setelah selesai sarapan, Shaka langsung di ambil alih oleh ibu Keanu. Semenjak mereka memasuki dunia perkuliahan, Shaka di titipkan kepada sang ibu. Sebenarnya ayah Keanu menyarankan untuk diasuh oleh babysitter saja, tapi sang ibu menolak karena ia merasa mampu untuk mengasuh cucunya itu ketika Anindia dan Keanu sedang berada di kampus.
"Anak ganteng, bunda sama ayah pergi dulu ya? Shaka sama Oma dulu ya, nak," ujar Anindia sembari mengecup pipi gembul Shaka.
"Jangan nakal ya, nak. Jangan rewel, kasihan Oma," ujar Keanu yang juga mengecup pipi Shaka.
Ibu dan ayah Keanu sedang mengajak ngobrol Shaka, membuat Shaka tertawa. Anindia dan Keanu tersenyum ketika melihat Shaka yang begitu anteng bersama Oma dan Opa nya.
"Maaf ya, Ma. Nindi jadi ngerepotin Mama karena harus ngurus Shaka," ujar Anindia merasa tidak enak pada mertuanya itu.
Ibu Keanu menoleh, senyum manis terukir di wajahnya. "Tidak apa, sayang. Mama senang bisa mengurus Shaka. Kalian fokus kuliah aja, ya?" Ujarnya lembut.
"Mama sama sekali tidak merasa direpotkan, bagaimanapun Shaka kan cucu Mama," lanjut ibu Keanu.
"Benar nak, kalian fokus saja pada kuliah. Biar Mama yang mengurus Shaka," ujar ayah Keanu menimpali.
"Terima kasih, Ma, Pa," ujar Anindia dengan seutas senyum, merasa haru dengan perhatian kedua mertuanya.
"Kalau begitu kami berangkat dulu ya, Ma, Pa," ujar Keanu sembari mencium takzim tangan kedua orang tuanya, diikuti dengan Anindia yang melakukan hal yang sama.
"Iya, nak. Hati-hati di jalan," ujar ibu Keanu mengingatkan.
Anindia dan Keanu mengangguk serempak, setelah mengucapkan salam keduanya melangkahkan kakinya ke arah pintu.
Seperti masa-masa SMA, Keanu lebih memilih untuk menaiki motor sportnya dan menghabiskan waktu berdua bersama Anindia. Motor itu melaju membelah jalanan, angin yang berhembus menerpa wajah keduanya.
Keduanya sudah menikah dan sudah memiliki seorang anak. Tapi, ketika pergi ke kampus dengan motor seperti ini, mereka terkesan seperti sedang berpacaran. Wajar saja, karena keduanya masih berusia muda.
Tiba di parkiran kampus, keduanya langsung turun dari motornya. Mereka sama-sama kuliah di Universitas Trisakti Jakarta, dengan jurusan yang berbeda. Seperti yang telah mereka bahas sebelumnya, Anindia mengambil jurusan seni desain dan grafis, sementara Keanu mengambil jurusan manajemen bisnis.
"Semangat kuliahnya ya, my wife," ujar Keanu sembari mengacak pucuk kepala Anindia, ketika mereka hendak berpisah di koridor.
Anindia tersenyum, perhatian yang selalu diberikan oleh Keanu membuatnya merasa bahagia. "Semangat juga ya, my husband," ujarnya.
Keanu terkekeh, lalu keduanya berpisah menuju ke ruang kelas masing-masing. Mereka berdua menjalankan peran ganda, dimana ketika di rumah menjadi orang tua untuk Shaka, dan ketika di kampus mereka menjadi mahasiswa dan mahasiswi yang sedang memperjuangkan ilmu.
"Morning, Anindia," ujar suara seseorang, ketika Anindia hendak melangkahkan kakinya menuju ke ruang kelas.
^^^Bersambung...^^^
Kebetulan sekali, novel ini, muncul di beranda-ku kak 🙏😁