NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Musuh!!

Menikah Dengan Musuh!!

Status: tamat
Genre:Nikahmuda / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Dijodohkan Orang Tua / Tamat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: NaNa/ji-eun

not allowed to copy , cerita ini 100% hasil dari pikiran ku sendiri, jadi jangan copy cerita ini,

cerita ini berjudul *menikah dengan musuh!! *
pemeran perempuan dalam cerita ini sangat membenci seorang lelaki yang sangat nakal dan sering bolos waktu sma, dan nama nya adalah ALRESCHA dan kerap di panggil al/reska

ayana/ pemeran utama dari cerita ini sangat membenci al,namun al menyukai nya dari zaman sma hingga kuliah, namun al sama sekali tidak pernah mengungkapkan cinta nya kepada ayana, dan sekarang dia di pertemukan lagi, dan di paksa oleh kedua orang tua mereka untuk menikah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NaNa/ji-eun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 1

Matahari siang itu bersinar sangat terik, seolah-olah sedang menghukum siapa pun yang berani melangkah keluar rumah. Di dalam kamar yang masih tertutup rapat oleh gorden berwarna abu-abu tua, Ayana perlahan membuka matanya. Rasa pening langsung menyerang pangkal hidungnya. Ia melirik jam beker di nakas—pukul 11.45 siang.

Ayana menghela napas panjang, merutuki kebiasaannya begadang hingga jam 3 subuh hanya demi menamatkan maraton serial detektif yang sebenarnya sudah ia tonton berulang kali. Tidur pagi adalah pelariannya, dan beruntung sekali dewi fortuna sedang berpihak padanya hari ini; tidak ada jadwal kelas pagi yang biasanya menyiksa jiwa dan raganya.

Ia bangkit dengan langkah gontai, tulang-tulangnya terasa kaku. Setelah menghabiskan waktu sekitar dua puluh menit di bawah guyuran air dingin yang menyegarkan, kesadaran Ayana baru pulih sepenuhnya. Ia mengenakan kemeja flanel kebesarannya dan segera turun ke lantai bawah karena perutnya sudah mulai mengeluarkan bunyi keroncongan yang memalukan.

Namun, langkah kaki Ayana melambat saat ia menginjak anak tangga terakhir. Suasana rumah itu terasa berbeda. Biasanya, jam segini ibunya pasti sedang sibuk di taman belakang atau ayahnya sedang menyesap kopi sambil membaca berita di ruang tengah. Kini, hanya ada keheningan yang janggal.

"Bi? Bibi Zainab?" panggil Ayana pelan sambil melangkah menuju dapur.

Bibi Zainab muncul dari arah area cuci, tampak sedikit terkejut melihat majikannya sudah bangun. "Eh, Non Ayana sudah bangun? Mau makan sekarang, Non? Bibi sudah siapkan ayam goreng kesukaan Non."

"Iya, Bi, laper banget. Oh iya, Ayah sama Ibu ke mana? Kok sepi banget, motor Ayah juga nggak ada," tanya Ayana sambil menarik kursi meja makan.

Bibi Zainab terdiam sejenak, tampak ragu. "Aduh, itu dia Non, Bibi juga kurang paham. Tadi pagi-pagi sekali, sekitar jam delapan, Ibu sama Ayah sudah rapi. Wajahnya kelihatan serius banget. Mereka langsung pergi tanpa pamit mau ke mana. Ibu cuma pesan, 'Bi, nanti kalau Ayana bangun, suruh makan saja, jangan biarkan dia keluyuran'."

Ayana mengerutkan dahi. Serius? Pergi tanpa bilang? Biasanya ibunya adalah tipe orang yang akan mengirimkan pesan WhatsApp panjang lebar jika pergi sebentar saja ke pasar. Perasaan tidak enak mulai menyusup ke hati Ayana, tapi ia mencoba menepisnya. Mungkin mereka hanya ada urusan mendadak di kantor atau bank.

Setelah menghabiskan makannya dengan terburu-buru, Ayana segera menyambar kunci motor dan tas kuliahnya. Perjalanan menuju kampus yang memakan waktu empat puluh menit terasa lebih lama dari biasanya karena pikirannya terus terbayang pada raut wajah "serius" orang tuanya yang diceritakan Bibi Zainab.

Begitu roda motornya berhenti di parkiran kampus, sebuah suara melengking yang sudah sangat ia kenal langsung memecah lamunannya.

"HOEEEEEE! SI NGOK BARU DATANG!"

Ayana memejamkan mata sejenak, menyiapkan mental. Zean, sahabat karibnya sejak SMA, sedang berlari kecil ke arahnya dengan semangat yang tidak masuk akal untuk ukuran manusia di siang hari yang panas. Zean adalah sosok yang unik—cantik, berkulit putih bersih, rajin ibadah, tapi mulutnya... mulutnya adalah mesin yapping tanpa henti yang bisa membicarakan apa saja, mulai dari teori konspirasi alien sampai warna kaos kaki dosen.

"Zean, tolong ya, suara lo itu bisa kedengeran sampai rektorat," keluh Ayana sambil melepas helm.

"Halah, biarin aja! Gue lagi happy nih! Ayo ke kantin, gue mau cerita tentang tujuh bias baru gue yang baru debut kemarin. Lo harus lihat visual mereka, gila banget, na! Kayak pangeran turun dari langit tapi lupa bawa sayap!" Zean menarik tangan Ayana tanpa menunggu jawaban.Ayana hanya bisa pasrah.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Di kantin, suasana sangat ramai. Zean terus bercerita dengan kecepatan seribu kata per menit, sementara Ayana hanya mengangguk-angguk sambil menyeruput es teh manisnya. Namun, tiba-tiba Zean berhenti bicara di tengah kalimat. Matanya membelalak, wajahnya berubah tegang seolah baru saja melihat hantu.

BRAAAKKK!

Zean memukul meja kantin dengan telapak tangannya. Semua orang di kantin—termasuk sekelompok mahasiswa tingkat akhir yang sedang mengerjakan skripsi—menoleh serempak ke arah mereka.

"ZEANNN!!! Malu, ih! Bisa nggak sih lo bertingkah normal sedikit?!" Ayana ingin sekali menenggelamkan wajahnya ke dalam gelas es teh.

"Bodo amat sama malu! na, gue baru ingat sesuatu yang gawat!" Zean berbisik, tapi suaranya tetap saja terdengar sampai meja sebelah. "Tadi pagi, pas gue lagi antre nasi goreng di depan komplek rumah lo, gue lihat mobil bokap lo lewat."

"Ya terus? Emang kenapa kalau lewat? Kan jalan umum," balas Ayana datar.

"Bukan masalah lewatnya, Malih! Masalahnya, bokap sama nyokap lo itu berhenti dan masuk ke rumah Al!"

Jantung Ayana seakan berhenti berdetak sejenak. "Rumah Al? Al siapa? Al di kampus kita ini ada banyak banget, Zean! Ada Al anak Teknik yang ganteng tapi sombong, ada Al anak Sastra yang sukanya bikin puisi galau, ada juga Al anak Hukum yang hobi demo. Yang mana?!"

Zean tampak frustrasi. Ia mengacak rambutnya sendiri. "Aduh, itu dia masalahnya! Gue susah jelasinnya. Dia itu Al yang... yang itu pokoknya! Orangnya agak misterius, jarang ngomong, dan auranya kayak... kayak mau ngajak berantem tapi cakep. Gue nggak tahu dia jurusan apa, tapi yang jelas namanya Al! Gue lihat mereka masuk ke rumah itu dan pintu langsung ditutup rapat."

Ayana terdiam seribu bahasa. Pikirannya melayang. Mengapa orang tuanya pergi ke rumah teman sebayanya? Apakah ini ada hubungannya dengan dirinya? Atau ada rahasia keluarga yang tidak ia ketahui?

"Eh, udah jam satu! Ayo masuk kelas, entar Pak Broto ngamuk kalau kita telat!" Zean menarik Ayana lagi, menghentikan spekulasi liar yang mulai tumbuh di kepala gadis itu.

Di dalam kelas, Ayana tidak bisa fokus pada materi Statistik yang sedang dijelaskan.

Pikirannya benar-benar kacau. Siapa "Al" yang dimaksud Zean? Mengapa orang tuanya ke sana? Dan mengapa Bibi Zainab bilang mereka tampak serius?

Tiba-tiba, ponsel di dalam saku kemejanya bergetar panjang.

Dertttt... derttt... derttt...

Ayana melirik layar ponselnya. Ibu Calling.

"Waduh, mampus lo! Nyokap lo telepon tuh!" bisik Zean yang hobi sekali mengintip.

"Jangan-jangan lo ketahuan punya pacar rahasia? Atau lo ketahuan beli album K-Pop pake uang SPP? Hayo loh, kabarnya baik atau buruk nih?"

"Diem, Zean! Gue nggak pernah macem-macem!" Ayana menjauh sedikit dari Zean dan mengangkat teleponnya dengan tangan gemetar.

"Halo, Bu? Ada apa?"

"Ayana, kamu sudah selesai kuliahnya?" Suara ibunya terdengar datar, namun ada nada tegas yang tak terbantahkan.

"Ini baru mau beres, Bu. Kenapa?"

"Bagus. Langsung pulang sekarang juga. Jangan keluyuran ke mana-mana, jangan mampir ke rumah Zean atau ke mall. Ibu sama Ayah tunggu di rumah. Ada hal sangat penting yang harus kita bicarakan."

"Hal penting apa, Bu?" tanya Ayana, suaranya sedikit mencicit.

"Pulang saja dulu. Ibu tunggu. Hati-hati di jalan. Assalamualaikum."

Titt.

Sambungan diputus secara sepihak.

Ayana menatap layar ponselnya yang sudah gelap dengan perasaan campur aduk. Ia merasa seperti seorang terdakwa yang sedang dipanggil ke ruang sidang.

"Gimana? Gimana? Cerita ke Zean yang cantik, manis, putih, baik hati, dan calon istri idaman ini! Apa kata nyokap lo? Dia mau kasih lo mobil baru atau mau buang koleksi poster lo?" Zean memberondongnya dengan pertanyaan begitu kelas bubar.

Ayana menghela napas, menatap sahabatnya itu dengan tatapan lelah. "Gue nggak tahu, Ze. Intinya gue disuruh pulang sekarang.

Kayaknya ada masalah serius di rumah."

Wajah Zean yang tadinya penuh canda tiba-tiba berubah empati. Ia menepuk bahu Ayana pelan. "Ya udah, tenang aja. Mungkin cuma masalah sepele. Tapi kalau ternyata ada apa-apa, lo langsung telpon gue ya. Gue siap sedia 24 jam buat dengerin yappingan lo gantiin gue."

Ayana tersenyum tipis. Walaupun Zean sangat menyebalkan dan berisik, dialah satu-satunya orang yang paling bisa diandalkan. "Makasih ya, Ze. Gue cabut dulu."

"Hati-hati! Kabari gue kalau itu kabar baik, kabar buruk, atau kabar setengah-setengah!" teriak Zean saat Ayana sudah mulai menjauh menuju parkiran.

Ayana memacu motornya dengan kecepatan di atas rata-rata. Di sepanjang jalan, hanya ada satu pertanyaan yang berputar di kepalanya: Siapa Al, dan apa yang sedang direncanakan orang tuanya?

...oke guys sampe sini dulu...

...semoga suka sama cerita aku yaaa makasih udah baca🩷...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!