Semua akan hadir jika kita sedang memiliki harta benda, Rumah yang mewah , harta dimana mana, semua akan di anggap KELUARGA jika kita punya segalanya, Tapi coba lihat jika kita sedang tidak punya apa apa, jangankan di anggap keluarga di tanya kabar pun tidak akan pernah, Uang yang berbicara, uang yang membuat lingkungan keluarga menjadi Cemara dalam cerita ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Coretan Hitam.Id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Latar belakang
Alesi namanya, Hidupnya begitu berbeda dari anak anak seusianya, dia baru beranjak 19 tahun, Yang seharusnya masih bergelut dengan pendidikan tapi karena ekonomi yang menghambat keadaan, Jadilah Alesi Hanya sampai pendidikan Sekolah Dasar saja.
mulai dari putus sekolah itu pun Alesi selalu ikut dengan kedua orang tuanya merantau , berdagang di sebuah kantin rumah sakit.
membantu ibu dan bapaknya berjualan makanan , menyiapkan bahan bahan untuk adonan gorengan dan sayuran lain nya.
"Lesi Bawa sini adonan bakwan nya ya, mau ibu goreng " tutur ibunya sembari menuangkan minyak ke dalam wajan besar. Lesi segera membawa Wadah yang berisikan adonan yang sudah dia buat lima menit sebelumnya.
Ibu Arumi ibu kandung Alesi adalah anak Sulung dari empat bersodara adiknya sudah berumah tangga, dan ada juga yang bersetatus duda ia adalah adik pertama Bu Arumi Aryo , Dan Adik keduanya bernama Luslam dan adik terakhirnya perempuan bernama Semi .Dulu mereka berempat terlihat akrab akrab saja, tapi semenjak satu persatu kedua orang tua nya meningg4l , keakraban itu berubah menjadi asing, Bahkan rasanya jarang sekali mereka berkunjung ke rumah Ibu Arumi sekedar Bersilaturahmi di saat lebaran atau pun hari hari biasanya, Padahal rumah mereka tidak jauh, bahkan Bi Semi ,rumahnya bersebelahan hampir menempel tembok rumah nya dengan rumah bu Arumi, tapi ketika lebaran datang, yang bersilaturahmi terlebih dahulu dari keluarga ibu Arumi sendiri, ya tidak salah juga mau itu dari yang lebih tua atau yang lebih muda, tidak ada salahnya siapa yang lebih dulu menghampiri.
tapi terlihat berbeda sifat adik bu Arumi ketika bersalaman dengan kakak nya yaitu bu Arumi sendiri dan teman teman nya, jika dia bersalaman dengan Bu Arumi hanya ucapan kata "maaf" saja lalu sudah, tidak ada senyuman di raut wajahnya, tidak ada kesedihan bahkan kebahagiaan, berbeda jika dia bertemu dengan teman atau tetangga lain nya, raut wajahnya berubah sumbringah, tawa lepas, senyum merekah, pelukan erat dengan tangisan seperti sudah berabad abad tidak bertemu saja.
bapaknya Lesi, Pak Warto juga anak sulung dari empat bersodara tiga laki laki dan satu perempuan , Orang tua pak Warto masih lengkap walau pun sudah rentan sakit sakitan, adik adiknya sudah berumah tangga semua, sudah ada yang memilik anak lima dan ada juga yang sudah memiliki cucu, rumah mereka berdekatan dengan rumah kedua orang tuanya, agar mudah melihat keadaan , karena kedua orang tua nya hanya tinggal berdua saja di rumah sedangkan pak Warto sendiri rumahnya jauh bahkan beda desa. Adik pertama Pak Warto sudah meninggal karena serangan jantung, kini tersisa hanyalah Om Badrun, dan Bi Keni. saja, dan istri dari almarhum Om Seto yang sudah di anggap sebagai anak kandung oleh nenek. hubungan pak Warto dan adik adiknya sangat lah akrab dan rukun jika di lihat lihat, Apa pun yang mereka butuhkan mereka saling bantu, bahkan pekerjaan di kantin yang Pak Warto tekuni saja ini berkat Om Badrun yang merekomdasikan Pak Warto dan Bu Arumi kepada pemilik kantin tersebut, mereka kerja bergantian dua bulan sekali mereka pulang, dan di ganti oleh Om Badrun dan istrinya.
Tapi ini baru saja Satu bulan , Om Badrun sudah datang sendirian, Ia mengatakan akan menggantikan Pak Warto dan Bu Arumi, " Pulang dulu saja bang, nanti aku yang dagang ya sama istriku" jelasnya sambil menyeruput kopi yang Lesi sediakan.
Pak Warto menyinyitkan keningnya, dengan tatapan penuh tanya terhadap adiknya " aku kan masih ada satu bulan lagi disini. bukan nya sudah sepakat kita jatah Dua bulan an, kamu masih ada waktu sebulan di kampung " jelas Pak Warto sambil mengelap meja di depan nya.
Om Badrun menghela napas dan meletakan gelas nya di meja. " Iya aku tahu, tapi sekarang aku sedang butuh uang banyak untuk modal Bang, tolonglah ngerti , kasih aku jatah tiga bulan, setelah itu boleh abang berangkat lagi kesini , ya bang, Mbak ?" Ia memohon kepada pak Warto yang sedang kebinggungan dengan tujuan adik bungsunya itu, bu Arumi dan Pak Warto saling tatap , dan Bu Arumi menarik pak Warto ke dalam untuk berdiskusi.
" gimana sih pak, katanya dua bulan kita kerja disini, kok dia maunya tiga bulan, berarti kita cuma satu bulan doank donk, satu bulan aja gak ful " keluh ibu, Membuat Pak Warto semakin kebinggungan.
Pak Warto mempunyai watak yang penyabar dan selalu mengalah, beliau tipikal orang yang gak mau banyak omong, " sudahlah bu kita turuti saja maunya, toh dia janji bakalan pulang setelah tiga bulan, nanti kita kesini lagi bu, sabar ya " jelasnya, tapi Bu Arumi mesedekap dada dan Raut wajahnya murung.
Pak Warto kembali keluar dan berbicara kepada Adik nya, lalu di angguki oleh Adik bungsunya, tidak lama dari itu pula Om Badrun pamit untuk pulang ke kampung.
Pak Warto dengan lahkan gontay menghampiri Lesi dan Bu Arumi yang duduk di kusi kayu panjang. " besok klo om Badrun dan Bi Inah kesini, kita pulang ya " ujarnya.
bu Arumi dan Lesi tidak mau banyak bertanya , mereka kompak mengangguk dan patuh kepada aturan Pak Warto.