Tamara Hadinata adalah perempuan tegas yang terbiasa memegang kendali. Memiliki gaya hidup yang dipenuhi ambisi dan emosi, membuatnya tak pernah serius memikirkan pernikahan.
Ia sibuk bekerja, sesekali terlibat hubungan sementara tanpa komitmen nyata. Sampai keputusan papanya, mengubah segalanya.
Khawatir dengan gaya hidup dan masa depan Tamara, sang Papa menjodohkannya dengan Arvin Wicaksono—Pria karismatik, intelektual, dan dianggap mampu menjadi penyeimbang hidup putrinya.
Namun bagi Tamara, pertemuan mereka adalah benturan dua dunia dan karakter yang tak seharusnya saling bersinggungan.
____
Bagaimana pernikahan mereka bisa terjadi?
Lalu, apa jadinya jika dua orang yang nyaris bertolak belakang, disatukan dalam ikatan pernikahan?
Di tengah kesibukan dan perbedaan, bisakah keduanya hidup berdampingan meski memulai hubungan tanpa cinta?
kuyyy ikuti kisahnya ya~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lonafx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 01 Melepas Benalu
Suasana kamar apartemen mewah malam itu, tampak lebih hidup dari biasanya.
Cahaya lampu langit-langit kamar, menyorot dua sosok yang berbaur dalam keintiman hangat.
"Ahhh... Beb... "
Suara desahan perempuan bercampur bunyi kasur berdecit, seperti irama latar yang menggema berulang kali memecah kesunyian.
Di luar kamar, Tamara baru masuk dari arah pintu utama. Setelan kerja masih melekat di tubuh rampingnya, riasan tipis masih menempel di wajah meski matanya menyimpan sedikit lelah.
Tumit sepatunya menghantam lantai marmer, tenang dan tidak terburu-buru.
Sampai sudut matanya menangkap sesuatu yang terasa ganjil, alisnya terangkat.
Di ujung sofa, gaun tipis wanita berwarna lembut—yang tidak ia kenali—tergeletak menjuntai, nyaris jatuh ke lantai.
Matanya membulat, meski wajahnya masih tenang. Di sudut lain—kaus pria, jaket jeans, hingga pakaian dalam wanita berserakan di lantai.
Pola letaknya seakan membentuk barisan petunjuk jalan, dan mengarah ke kamar utama.
Tamara menahan napas sebentar, tangannya meremas ponsel yang sejak tadi berada dalam genggaman.
Langkahnya berpindah ke koridor menuju pintu kamar. Dari celah kecil pintu yang terbuka, pelan tapi terdengar jelas—suara napas memburu, desahan tertahan, diiringi suara gesekan ranjang.
"Andra... ssttt... Aahhh... " Suara manja itu terdengar menggelikan.
Tamara mengambil napas panjang, rahangnya mengeras saat mendorong pelan pintu hingga terbuka.
Matanya melebar. Ia tetap berdiri tegak dan tanpa suara, meski jantungnya terjun bebas saat melihat semuanya tepat di depan mata.
Andra, sang pacar—berada di atas ranjang, tubuhnya bergerak maju mundur menutupi seorang perempuan muda dengan rambut terurai berantakan.
Selimut yang terlihat kusut, menutupi sebagian tubuh keduanya. Bukti yang terlalu jelas untuk disangkal.
Tamara maju beberapa langkah, mengangkat ponsel, mengarahkan lensa kamera pada dua orang yang sedang asyik pada dunia kecil mereka.
Cukup untuk merekam momen singkat, sebelum sang perempuan menyadari kehadirannya.
Wajah perempuan itu panik, lantas mendorong tubuh Andra yang sedang di puncak gairah.
Tangannya buru-buru menarik selimut, hingga menutupi tubuhnya sampai leher.
Andra yang memutar kepala mengikuti arah pandangannya, tersentak kaget sebelum ikut menutupi diri.
Wajahnya pucat pasi melihat sosok Tamara—datar, ekspresi yang justru membuatnya menahan napas.
Tamara menurunkan ponsel. "Pertunjukkan yang luar biasa, Andra," ucapnya sinis.
"Sayang... Ini bukan—" Andra gelagapan.
Tangannya menggaruk kepala, gelisah mencari alasan yang bahkan tidak bisa menolong.
Tamara menyeringai singkat. "Jadi ini? Bilangnya kecapean habis seharian photoshoot sama syuting iklan, sampai nggak bisa nemenin aku... "
"Sayang, aku bisa—" kata Andra.
"Kita putus!" potong Tamara cepat.
Ia menyilangkan tangan, tatapannya menekan.
"Mulai sekarang, aku tarik semua fasilitas yang sudah kuberikan. Aku beri waktu satu jam, kemasi barang-barang kamu!"
Tamara memutar badan ke arah pintu, lalu melangkah keluar. Saat di ambang, ia menoleh sejenak.
Tatapannya menyorot perempuan muda itu, yang dirasa percuma menyembunyikan muka.
Sudut bibir Tamara terangkat miring. "Saya kenal baik wajah kamu... " Nada suaranya dingin, membuat perempuan itu membeku di tempat.
Tamara kembali melangkah, hingga sosoknya semakin menjauh di balik pintu yang terbuka lebar.
Andra mengacak-acak rambutnya hingga berantakan. "Nggak bisa gini, nih! Gue nggak bisa kehilangan Tamara gitu aja." Rasa sesalnya bercampur frustasi.
Perempuan di sampingnya masih terdiam, mengumpulkan sisa napas. Aroma parfum Andra masih menempel di kulitnya, tapi pikirannya kacau.
Ia meraih bahu Andra, mengarahkan padanya. "Kamu kenapa nggak bilang punya hubungan sama Tamara Hadinata?!" pekiknya.
Andra menatapnya kesal. "Apa pentingnya buat kamu? Sekarang, justru nasibku yang terancam. Tamara itu sumber segalanya buat hidupku!"
Kilatan mata perempuan itu langsung menajam. "Jelas penting buat aku! Kamu udah bohongin aku!" teriaknya, tak kalah frustasi.
Jarinya menunjuk-nunjuk ke arah pintu keluar. "Terus dia... dia itu CEO Lunara, Ndra! Bukan hanya nasib kamu yang terancam. Aku juga!" suaranya bergetar.
Wajahnya panas, malu bercampur kekhawatiran yang terlalu nyata.
Andra langsung berdiri. "Mau aku kasih tahu ataupun enggak, nyatanya sekarang dia udah melihat kita, kan?"
Perempuan itu terdiam, hingga Andra mengambil pakaian dan langsung meninggalkannya.
Tujuan Andra saat ini cuma satu, ia tidak akan membiarkan malam ini berakhir dengan keputusan Tamara yang mengakhiri hubungan mereka.
Saat itu Tamara baru keluar dari lift. Langkah sepatunya tegas dan cepat menyusuri lorong menuju jalan keluar.
Tangan kiri menggenggam kunci mobil yang sempat ia ambil, sebelum meninggalkan apartemen.
Sementara tangan kanan sibuk memegangi ponsel di daun telinga, mendengarkan suara lawan bicara di seberang telepon.
"Iya. Tolong bantu kosongkan unit yang ditempati Andra, malam ini juga! Pastikan dia tidak memiliki akses lagi, sekalian blokir semua kartu saya yang digunakan Andra," titah Tamara.
Langkahnya tetap stabil, tapi jari jempolnya menekan tombol panggilan merah pada layar dengan tenaga berlebihan.
Niatnya malam ini mau sedikit memberi perhatian manis, malah berujung mendapat pertunjukan eksklusif.
Setiap suara desahan itu terngiang di kepalanya, darahnya langsung naik ke ubun-ubun. Bukan karena cemburu, tapi benci merasa telah dibodohi.
Tamara baru sampai di area parkir basement yang cukup sepi, saat suara Andra terdengar dari arah belakang.
"Tamara!" serunya, mencoba menahan.
Tamara mempercepat langkah tanpa menghiraukan, namun laki-laki itu terus mengejarnya hingga berhasil menyusul.
"Sayang... Jangan gini dong," kata Andra saat meraih tangannya, mencoba kembali merayu.
Tamara berhenti, tatapannya tajam—tatapan yang bagi Andra terasa menelanjangi harga dirinya.
Tamara menepis pegangan Andra, tapi laki-laki itu belum menyerah.
Ia mendekat. "Sayang, aku bisa jelasin. Kamu dengerin dulu," katanya.
Suaranya dramatis ala aktor sinetron yang kebanyakan latihan.
Tamara menyilangkan tangan. "Jelasin apa? Mau jelasin kalau kamu udah tidur sama perempuan lain di apartemenku?" Suaranya meninggi, naik satu oktaf.
Andra memejamkan mata sejenak. "Aku khilaf... aku cuma butuh sesuatu yang nggak pernah kamu kasih ke aku," ujarnya polos.
Tamara mengangkat alis, sorot matanya penuh tanda tanya.
Andra menarik napas panjang. "Sayang, aku ini cowok. Aku juga punya kebutuhan lain."
Lalu buru-buru menambahkan, "Apa yang kamu lihat tadi... It's just a sex, no love! Cuma pelampiasan, bukan apa-apa! Dan itu... normal."
Tamara menatapnya tak percaya. Normal?
Tapi ekspresi Andra semakin dramatis. "Kamu tahu sendiri, kamu nggak pernah mau tidur sama aku. Padahal kamu tahu aku cinta banget sama kamu, tapi kamu dingin terus sama aku," katanya.
Begitu mahir memainkan gaya korban andalannya, di beberapa scene sinetron atau FTV yang biasa dibintanginya.
Tamara masih mendengarkan. Wajahnya berubah datar, tapi tangannya mengepal kuat.
Andra menatapnya sok dewasa, kedua tangan bertolak santai di pinggang. Mencoba berdiri tegak dengan harga diri yang tersisa.
"Sayang, come on! Kamu pikir, semua orang bisa tahan pacaran tanpa sentuhan? Kamu pikir, aku kuat terus-terusan hanya liatin kamu tanpa bisa—"
"Jadi kamu selingkuh, karena aku nggak bisa menuhin hasrat kamu?" potong Tamara, nada bicaranya setengah geli, setengah jijik.
Padahal semua yang sudah ia berikan, membuka pintu kemewahan yang bahkan belum saatnya dinikmati aktor muda pendatang baru itu.
Andra mengangguk pelan dengan wajahnya yang polos—wajah tampan menggemaskan, yang biasanya dengan mudah membuat para remaja perempuan histeris memujanya.
Tamara memutar bola mata, ingin sekali melempar sepatu ke wajah itu.
"Bocah tengik... " umpatnya pelan, nyaris tak terdengar.
Tamara mendekat, sedikit menengadah ke arah pemuda bertubuh jangkung itu. Wajahnya tetap santai, tapi tatapannya tak goyah sedikit pun.
"Kamu selingkuh karena kamu nggak bisa ngendaliin nafsu. Itu bukan salahku, Andra. Itu... karakter kamu," suara Tamara rendah, tenang namun mengandung racun.
Andra meraih tangannya, lalu mengecup singkat punggung tangan itu.
Tindakan halus yang biasanya ampuh membuat Tamara sedikit melunak, ketika mereka sedang bertengkar.
"Sayang, maafin aku. Aku cinta banget sama kamu... Kamu nggak tahu betapa sulitnya bersaing sama cowok lain buat dapetin perempuan cantik dan hebat kayak kamu."
Andra kembali dramatis, menirukan gaya aktor profesional dengan jam terbang tinggi.
"Aku cuma khilaf. Kasih aku kesempatan... kamu yang paling tahu, kalau aku nggak bisa tanpa kamu."
Tamara tertawa sinis, menarik kembali tangannya.
"Kamu nggak bisa tanpa aku? Atau nggak bisa tanpa semua fasilitas dari aku? Hm?" Sorot matanya menantang.
Andra terdiam, sadar kata-kata itu terlalu keras menamparnya.
"Jangan lupa berkemas!" Tamara mengingatkan. Ia melirik jam mewah di pergelangan tangannya.
"Waktu kamu nggak banyak. Bawa semua barang kamu, sekalian angkut harga diri kamu!" tambahnya ketus.
Ia kembali melanjutkan langkah, Akan tetapi Andra masih berusaha. "Sayang, tapi ya nggak harus putus juga dong!"
Tatapannya beralih ke arah mobil sport yang dituju Tamara. "Hadiah yang pernah kamu kasih kok diambil juga sih?"
Ia memandang protes ke arah punggung Tamara, perempuan itu melenggang santai dan tetap acuh.
Namun belum sempat tangannya membuka pintu mobil, Andra dengan langkah cepat mendekat.
Tanpa aba-aba langsung memeluknya dari belakang, bentuk usaha terakhir yang mengharap 'masa depan cerahnya' masih bisa diperjuangkan.
"Jangan tinggalin aku, Tamara," lirihnya, setengah putus asa.
Tamara kaget, tubuhnya menegang. Tangannya melepas dengan kasar, seolah pelukan itu benalu.
Lantas berbalik menghadap Andra. "Dengerin aku! Sekali lagi kamu berani menyentuh aku kayak tadi... " Ia menatap tajam, penuh dominasi.
Lalu meletakkan telunjuk di dada Andra. "Aku nggak akan ragu buat hancurin karir kamu ya, Andra," suaranya rendah, namun mengandung belati.
Kemudian menambahkan, seolah peringatan akhir. "Kamu tahu, kalau aku mengambil keputusan saat sedang marah, aku nggak akan punya rasa iba."
"Sayang... " Andra masih mencoba menahannya, akan tetapi percuma.
Tamara membuka pintu mobil, duduk dengan tenang hingga mobil sport mewah itu segera melaju.
Raungan mesin dan suara decitan ban terdengar memilukan bagi Andra, seolah itu salam perpisahan terpahit yang ditinggalkan Tamara.
Ia mengusap wajah dengan kasar, lalu mengacak-acak rambut, gelisah seperti orang yang benar-benar kehilangan tempat ternyaman.
Tanpa ia tahu. Tak jauh dari sana, seseorang dari dalam mobil baru saja menurunkan kamera ponsel yang sejak tadi mengarah ke posisinya.
Tak menunggu lama, mobil hitam itu bergerak maju, melewati Andra tanpa kesan mencurigakan menyusul jejak kepergian Tamara.
BERSAMBUNG....
Hay.. hay.. selamat datang di karyaku ya~
Kalau suka boleh dilanjut, jangan lupa tinggalkan jejak, karena apapun bentuk dukunganmu sangat berarti untuk author.
Enjoyyyy💃💃🕺🕺🤸♂️🤸♂️
arvin godaanmu sampai ke hatiku🤣
. yg lagi mahal sekarang🥺