NovelToon NovelToon
Kontrak Hati Seorang CEO

Kontrak Hati Seorang CEO

Status: tamat
Genre:Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:141
Nilai: 5
Nama Author: Akmaluddinl

Nareswari (18), gadis desa peraih beasiswa, dipaksa menerima perjodohan dengan Arjuna Bhaskara (27), CEO dingin yang sinis terhadap cinta karena trauma masa lalu. Pernikahan mereka hanyalah kontrak kaku yang didasari janji orang tua. Di apartemen yang sunyi, Nares berjuang menyeimbangkan hidup sebagai mahasiswi baru dan istri formal. Mampukah kehangatan dan kepolosan Nares, yang mendambakan rumah tangga biasa, mencairkan hati Juna yang beku dan mengubah ikatan kontrak menjadi cinta sejati, di tengah kembalinya bayangan masa lalu sang CEO?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Akmaluddinl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1 KHSC

Langit di atas Gunung Kidul sore itu terlukis dengan palet oranye dan ungu yang memesona. Nareswari Kirana duduk di teras rumahnya yang terbuat dari kayu jati tua, menghadap bentangan sawah yang menghijau. Udara sejuk membungkusnya, membawa aroma jerami kering dan segarnya embun. Di desa kecil ini, Nares dikenal bukan hanya karena kecantikannya yang sederhana—mata teduh, senyum ramah, dan kulit sawo matang yang sehat—tetapi juga karena kecerdasannya. Ia adalah harapan, Bunga Desa yang dipercaya akan membawa nama baik kampung ke tingkat yang lebih tinggi.

Usia delapan belas tahun adalah usia penuh mimpi dan janji. Bagi Nares, mimpi itu terwujud dalam bentuk selembar amplop tebal berwarna krem yang kini tergeletak di meja rotan. Amplop itu, yang dikirim dari Jakarta, terasa sangat berat, seolah menampung seluruh masa depan Nares di dalamnya.

Ayahnya, Pak Harjo, seorang petani yang tangguh, duduk di sampingnya, sibuk mengiris tembakau kering, tetapi perhatiannya sepenuhnya tercurah pada amplop itu. Bu Lastri, sang ibu yang sehari-hari menjadi pengrajin batik tulis, mondar-mandir tak tenang, sesekali membuang napas berat. Keheningan yang terjadi bukanlah keheningan santai sore hari, melainkan keheningan yang dipenuhi ketegangan.

“Ayah, Ibu, kenapa kalian seperti sedang menunggu hasil panen yang terancam gagal?” canda Nares, mencoba meredakan suasana, meskipun jantungnya sendiri berdebar kencang.

Pak Harjo tersenyum tipis, senyum yang tak mencapai matanya. “Bukan gagal, Nak. Ini soal keberhasilan yang terlalu besar. Ayah hanya… gugup.”

Nares mengangguk. Ia tahu ini lebih dari sekadar surat kelulusan. Ini adalah jawaban dari Universitas Wijaya Kusuma (UWIKA), salah satu universitas paling prestisius di Ibukota. Selama setahun terakhir, Nares berjuang melawan keterbatasan desa: sinyal internet yang putus-nyambung, keterbatasan buku, dan dana yang nyaris tidak ada. Ia mengerahkan semua energinya untuk memenangkan satu-satunya tiketnya ke sana: beasiswa penuh. Sebuah beasiswa yang mencakup biaya kuliah, biaya hidup, dan akomodasi. Tanpa itu, mimpinya hanya akan berakhir di batas desa.

Dengan tangan yang sedikit gemetar, Nares meraih amplop itu. Ia merobek segelnya dengan perlahan, seakan memperlambat waktu. Pak Harjo dan Bu Lastri mencondongkan badan, menahan napas.

Nares mengeluarkan kertas formal itu. Matanya membaca cepat deretan kata-kata resmi.

“...Setelah melalui serangkaian seleksi ketat dan penilaian mendalam terhadap potensi akademik dan non-akademik Saudari...”

Nares berhenti sejenak, lalu matanya terpaku pada satu kata kunci, satu kata yang mengubah seluruh hidupnya.

“Ayah! Ibu! Nares DITERIMA!” teriak Nares, suaranya melengking tinggi, dipenuhi euforia murni. Ia melompat berdiri, selembar kertas itu digenggam erat di dada.

Bu Lastri segera memeluknya, air mata kebahagiaan membanjiri pipinya, membasahi bahu Nares. “Ya Allah, Nak! Kamu berhasil! Kamu berhasil membuktikan bahwa anak desa juga bisa!”

Pak Harjo mendekat, matanya berkaca-kaca. Ia menepuk-nepuk punggung Nares dengan bangga, melepaskan beban yang selama ini menekan pundaknya. Ia membayangkan anaknya akan memakai toga, menjadi orang terpelajar, dan hidup jauh lebih baik darinya. Momen itu adalah puncak dari semua pengorbanan mereka.

Setelah suasana mereda, Nares kembali duduk, kini penuh dengan semangat membara. Ia membuka lipatan surat itu lagi, membaca detail tentang pendaftaran ulang, orientasi, dan jadwal keberangkatan ke Jakarta.

“Nares harus segera mengurus surat-surat pindah. Nares akan mencari kos dekat kampus, yang sederhana saja. Ayah dan Ibu jangan khawatir, Nares akan hemat dan fokus belajar. Nares janji, empat tahun lagi, Nares akan pulang membawa ijazah terbaik!” Nares berbicara dengan cepat, nadanya dipenuhi rencana.

Saat itulah Nares menyadari ada yang aneh. Meskipun Nares sudah diterima, raut wajah kedua orang tuanya kembali ke mode tegang. Senyum Pak Harjo telah lenyap, digantikan ekspresi serius yang terasa dingin. Bu Lastri hanya menunduk, memainkan ujung kain batiknya.

Nares menghentikan ceramahnya tentang rencana kos-kosan dan mengernyitkan dahi. “Kenapa, Yah? Ada biaya administrasi yang belum Nares baca?”

Pak Harjo menarik kursi rotan, mendekat ke Nares. Ia mengambil tangan putrinya dan menggenggamnya, sebuah gestur yang penuh kasih sekaligus penuh penyesalan.

“Nak Nares… ada hal lain. Hal yang harusnya Ayah sampaikan sebelum ini, tapi Ayah ingin kamu tenang saat menghadapi ujian beasiswa.” Pak Harjo menghela napas yang sangat panjang, seolah mengumpulkan seluruh kekuatannya.

“Ini tentang janji. Janji yang diikat Ayah dan Ibu dengan Pak Baskara dan Bu Melati di Jakarta, sahabat lama kami.”

Nares merasakan hawa dingin merambat dari tangan ayahnya. “Janji apa, Yah? Soal Ayah yang pernah meminjam uang atau…”

“Bukan, Nak. Janji ini menyangkut hidupmu, menyangkut perlindunganmu di kota besar. Jakarta itu kejam, Nak. Ayah tidak tenang membiarkan kamu sendiri, tinggal di kos-kosan. Kamu tidak tahu siapa yang akan kamu temui di sana.”

Bu Lastri mengangkat wajahnya, air matanya sudah siap tumpah lagi. “Kami sudah bersepakat, Nak. Dulu, kami pernah berada di titik terendah. Keluarga Baskara yang membantu kami bangkit. Dan mereka memiliki janji, janji untuk menjodohkanmu dengan putra mereka.”

Nares merasakan kepalanya berdengung. Ia menatap kedua orang tuanya, mencoba mencari celah kebohongan, tetapi yang ia temukan hanya ketulusan yang diselimuti penderitaan.

“Dijodohkan? Dengan siapa?” Nares bertanya, suaranya tercekat.

“Dengan Arjuna Bhaskara. Dia adalah putra mereka, usianya dua puluh tujuh tahun, dan dia adalah CEO dari perusahaan teknologi yang sangat besar di Jakarta. Dia orang sukses, mapan. Dia bisa menjagamu, memberimu tempat tinggal yang aman, dan memastikan kamu kuliah dengan tenang.” Pak Harjo menjelaskan, nada bicaranya memohon pemahaman.

“CEO? Dua puluh tujuh tahun? Sembilan tahun lebih tua dari Nares? Ayah, Ibu, Nares bahkan belum lulus SMA sebulan penuh! Nares tidak mengenalnya! Apa ini berarti Nares harus mengubur semua mimpi Nares?” Nares tidak bisa menahan suaranya agar tetap pelan.

“Tidak, Nak! Justru dengan menikahinya, kamu bisa melanjutkan mimpimu! Hanya saja… kamu akan melakukannya sebagai seorang istri,” kata Bu Lastri, terisak. “Ayah dan Ibu tidak memaksamu, Nak. Tapi ini adalah janji yang harus ditepati. Dan ini adalah kesempatanmu untuk hidup aman di Ibukota.”

Nares menjatuhkan diri kembali ke kursi rotan. Amplop beasiswa di tangannya kini terasa seperti kertas kosong, tak berarti lagi. Impiannya untuk menjadi mahasiswi mandiri, gadis desa yang menaklukkan kota, kini harus diubah menjadi peran lain: istri CEO.

“Apakah dia setuju, Yah? Pria sukses seperti dia, mau dijodohkan dengan gadis desa sepertiku?” tanya Nares getir.

“Dia setuju, Nak. Ayah sudah bertemu dengannya. Dia pria yang baik, hanya sedikit... formal dan kaku. Dia bilang, dia setuju demi menghormati janji Kakeknya,” jawab Pak Harjo.

Formal dan kaku? CEO 27 tahun yang setuju menikahi gadis 18 tahun demi janji? Dalam hati Nares, ia tahu. Perjanjian ini tidak didasari cinta, melainkan kewajiban. Pria itu pasti sama terpaksa dan dinginnya seperti surat perjanjian formal.

Pak Harjo mendekat dan memeluk Nares. “Ini bukan akhir dari mimpimu, Nak. Ini adalah cara Ayah dan Ibu memastikan kamu memiliki tempat berlindung di tengah badai. Kamu tetap akan kuliah. Kamu hanya perlu beradaptasi dengan status barumu.”

Nares membalas pelukan ayahnya, air mata yang ia tahan sejak tadi akhirnya tumpah membasahi bahu kemeja ayahnya yang beraroma keringat dan tanah. Ia menangis bukan karena tidak ingin menikah, tetapi karena ia merasa kebebasannya, yang baru saja ia raih lewat beasiswa, telah direnggut.

“Kapan, Yah?” bisik Nares.

“Begitu kamu tiba di Jakarta. Kami akan ikut ke sana, acaranya hanya sederhana dan tertutup. Kamu akan segera pindah ke apartemennya.”

Malam itu, Nares menghabiskan waktu di jendela kamarnya, menatap bintang-bintang desa yang bersinar terang. Kehidupan Nares, yang tadinya sejelas air sungai, kini mendadak keruh. Ia akan meninggalkan semua kenangan, kehangatan, dan kesederhanaan untuk memasuki kehidupan baru yang rumit: kampus, kota besar, dan seorang suami asing yang berhati es. Ia tahu, ia tidak hanya akan berjuang di ruang kuliah; ia akan berjuang di medan perang baru, yaitu di dalam rumah tangganya sendiri.

Ia harus kuat. Demi beasiswa yang sudah ia perjuangkan, dan demi kedua orang tuanya yang mempertaruhkan segalanya untuk memberinya perlindungan yang mereka yakini terbaik. Nareswari Kirana, sang Bunga Desa, kini bersiap menjadi istri CEO, memulai babak hidupnya yang paling tidak terduga di Ibukota.

Bersambung.....

Terimakasih sudah membaca😁🙏

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!