NovelToon NovelToon
Reingkarnasi Jia Menjadi Istri Suami Yang Cacat Tahun 60 An

Reingkarnasi Jia Menjadi Istri Suami Yang Cacat Tahun 60 An

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Romansa pedesaan / Terpaksa Menikahi Suami Cacat
Popularitas:21.2k
Nilai: 5
Nama Author: Smi 2008

Hehehe… jadi istri penurut, cengeng, penakut? Tidak buruk sama sekali. Setidaknya Jia bisa makan gratis tanpa kerja, cukup menumpahkan air mata, pasang wajah sedih dan imut… sambil tetap menggerakkan suami buasnya sesuka hati.

“Aku harus ke bengkel sebentar, sedikit lagi pekerjaan selesai,” Su Hao lalu berdiri, namun terduduk kembali. Ia menatap istrinya dengan serius, nada suaranya tegas.

“Jangan coba-coba kabur lagi, kalau berani…!”

Su Hao kemudian mencondongkan tubuhnya, mendekatkan mulut ke telinga Lu Jia dan berbisik:

“Kedua tungkaimu… akan ku jadikan bahan bakar besiku.” Ia pun berbalik lalu melangkah keluar rumah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Smi 2008, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

“Selamat Datang Kembali"

"Ayo, tekan lagi! Tekan lebih keras! Meili, cepat cari kain-kepalanya berdarah!"

"Cepat, beri napas buatan! Buka mulutnya... ya... begitu... tiup... tiup lagi..."

"Uhuk... uhuk...!"

Dada Lu Jia mengentak keras. Air menyembur keluar dari mulut dan hidungnya, napasnya tersendat seolah paru-parunya baru saja diseret kembali dari jurang.

"Eh! Sudah sadar! Dia sadar! Syukurlah!"

"Kau tidak apa-apa?"

Suara berat itu menembus kesadarannya yang masih terombang-ambing.

Kelopak matanya terangkat sedikit. Cahaya menusuk tanpa ampun. Rasa nyeri menjalar ke mana-mana, paling kejam di kepala yang berdenyut tanpa ritme. Dingin merayap masuk, menggigit sampai ke tulang, membuat giginya beradu pelan.

Aneh sekali. Aku ingat mati di daratan, bukan di air. Kenapa rasanya seperti mau membeku?

"Dingin..."

Bukan air. Bukan angin.

Lebih dalam dari itu.

Seperti sesuatu yang pernah menembus tubuhnya.

Kilatan singkat melintas.

Cahaya redup.

Bayangan bergerak cepat.

Sesuatu yang dingin... menekan masuk.

Napasnya sempat terhenti.

Lalu gelap.

Kesadarannya naik-turun seperti lampu minyak yang hampir padam. Suara di sekelilingnya belum utuh, hanya serpihan yang saling bertabrakan di kepala, sebelum akhirnya perlahan mengeras menjadi bentuk yang bisa dikenali.

Ingatan masih berantakan ketika sebuah lengan kokoh melingkar, menariknya tanpa ragu ke dalam dekapan hangat.

"Ini, pakai kain ini dulu."

Nada yang tadi terdengar mantap kini retak, tergesa.

Selimut tebal segera membungkusnya rapat.

Naluri membuatnya meringkuk, wajahnya tanpa sadar menekan ke dada hangat di depannya. Ia bahkan belum sempat memastikan siapa yang menahannya.

Tiba-tiba ia merasakan tubuh di hadapannya itu menegang kaku.

Perasaan risih dan sungkan muncul seketika. Jia perlahan berusaha menjauhkan badannya, ingin memberi jarak.

Namun, sebelum ia sempat bergerak jauh, tangan kuat itu kembali menariknya.

Kali ini bukan sekadar memeluk, melainkan mengunci. Lebih erat, lebih mendesak, seolah tak memberinya ruang untuk sekadar bergerak satu inchi pun.

"Astaga, nak... sampai segitunya kau benci suamimu sampai nekat loncat ke jurang?" suara wanita itu terdengar lagi, penuh selidik. "Untung Su Hao melihatmu dan langsung ikut terjun, menarikmu naik."

Suami?

Kata itu tidak langsung punya makna. Ia seperti benda asing yang dilempar ke dalam pikirannya, mengambang tanpa tempat jatuh.

Suami apa?

"Paman, ini kainnya!"

"Terima kasih, Meili."

Pria itu menjawab singkat. Mengambil kain dari tangan si gadis kecil, dengan sangat pelan ia menggeser anak rambut di dahi istrinya, lalu menekannya perlahan pada dahi Jia.

"Ahh... aohh..."

Jia meringis, punggungnya sampai melengkung tinggi. Mata sayunya mengeluarkan air mata. Karena penasaran ingin tahu rasa sakitnya datang dari mana, Jia menyentuh kepalanya sendiri, dan sepenuhnya ia sadar-ada luka terbuka di sana.

"Terbentur bebatuan, sedikit robek. Jangan terus diraba."

Suaminya berbicara lagi. Pria itu menahan pergelangan tangannya. Jia tidak menariknya kembali.

"Su Hao, segera bawa pulang istrimu."

Perintah itu datang dari wanita tua itu.

Oh, namanya Su Hao?

"Kalau begitu saya kembali dulu, Nyonya. Terima kasih, berkat Nyonya Cheng, aku bisa menyelamatkan istriku tepat waktu," ucap Su Hao hormat.

Jia menatap wanita tua itu yang hanya mengangguk, lalu mendekatkan wajahnya ke arah Jia.

"Selamat datang kembali..." katanya disusul dengan satu senyum tipis yang tak sampai ke matanya. Gadis kecil di samping nenek pun ikut tersenyum-lebih tepatnya, menyeringai.

Aneh!

"Kita pulang," ucap Su Hao, memutus kontak antara Jia dan sang nenek.

Perjalanan pulang berjalan perlahan. Langkah demi langkah ditempuh dengan susah payah, memberi waktu bagi Jia untuk mengamati orang yang sedang menggendongnya itu.

Gerakan Su Hao lebih menyita perhatian Jia sekarang. Saat lelaki itu berdiri, berat tubuhnya jatuh hampir sepenuhnya ke sisi kanan.

Kaki kirinya ikut turun, tapi tidak benar-benar menahan beban. Jia tak perlu melihat jelas untuk menebak-ada yang tidak beres dengan salah satu kaki suaminya.

Begitu posisi stabil, pria itu mulai melangkah.

Langkahnya timpang, tidak seimbang. Jia merasa dirinya diayun naik turun, hingga matanya mulai terasa berat. Hembusan angin dan aroma tubuh suaminya membuat kesadaran Jia berangsur memudar.

Tanpa ia sadari, pikirannya bergeser sebentar.

Lelaki ini tampan, tubuhnya kokoh, dan gerakannya terlalu stabil untuk diabaikan.

Langkah itu terus bergerak perlahan, setiap hentakan kaki seperti menambal kesadaran Jia yang masih setengah runtuh.

Lalu dari kejauhan, suara manusia mulai masuk-kasar, tanpa saringan.

"Eh, lihat itu... si Pincang, berhasil lagi menangkap istrinya yang doyan kabur,"

"Wajar saja sih. Siapa yang mau sama pria kasar, cacat, dan miskin begini?"

"Cantik-cantik tapi nasib sial. Dijual ibu tirinya cuma tukar tiga bilah pisau dan sebuah cangkul. Mahar yang keterlaluan."

Perih itu sempat naik ke dada, menusuk singkat sebelum menyebar seperti panas yang ditahan paksa.

Ia membuka mata perlahan, bukan karena rapuh, tapi karena ingin memastikan siapa saja yang berbicara.

Lalu sesuatu di dalam dirinya menekan rasa itu kembali ke tempat asalnya-terlalu sering ia pernah lebih buruk dari ini.

Di tengah suara-suara yang masih mengganggu telinga, pandangannya akhirnya berhenti pada satu titik-wajah orang yang menggendongnya.

Garis rahangnya tegas dan kokoh. Bekas luka tipis di pipi, ditambah jenggot halus yang baru tumbuh, justru menambah aura garang dan dewasa yang memikat.

Meski terlihat kasar dan sederhana, tapi... sama sekali tidak jelek. Bahkan sangat tampan dengan cara yang maskulin dan liar.

Jia menatap satu per satu wajah itu, sebelum akhirnya...Jia tersenyum puas, lalu menengok tajam ke arah orang-orang yang tadi merendahkannya.

"Biar aku jalan sendiri... aku sudah agak baikan."

Jia menguap panjang. Rasa kantuknya belum juga hilang, gadis itu kembali memejamkan mata. Dengan santai ia memperbaiki posisinya di gendongan Su Hao, melipat kedua tangannya di atas perutnya.

Su Hao menunduk, menatap wajahnya.

Tatapan itu sempat melembut... lalu mengeras lagi tanpa alasan yang jelas.

"Tidak perlu. Kau tidur saja."

"Oh..."

Setelah perjalanan yang cukup lama, akhirnya mereka tiba di rumah. Matahari sudah condong ke barat saat Su Hao melangkah masuk dan meletakkan Jia di atas pembaringan.

Matahari sore menembus celah dinding, menyorot wajah cantiknya yang masih terpejam. Awalnya hangat menyenangkan, perlahan berubah menjadi panas yang menyengat kulit rapuh itu. Jia terbangun. Kepalanya masih terasa nyut-nyutan.

Jia mengedarkan pandangan sekeliling: lemari kayu, meja kayu, jendela kayu, lantai kayu, dinding kayu... semuanya kayu.

"...."

Apa ada sesuatu yang bukan kayu? Jia berharap menemukan sesuatu yang sedikit berwarna atau berkilau. Hingga matanya tertumbuk pada rak besi di sudut ruangan.

Jadi aku kembali lahir sebagai wanita miskin. Lagi.

Jia bersandar lesu, menarik napas panjang... menghembus...hingga matanya tertumbuk pada rak besi di sudut ruangan.

Namun yang benar-benar mengunci napasnya bukan benda itu-melainkan sesuatu yang tergantung di dinding di atasnya.

Sebuah kalender. Angka-angka hitamnya tidak bergerak, tidak menunggu, hanya menetapkan satu kebenaran dingin: 1960.

Pelan-pelan Jia mencoba berdiri, memastikan penglihatannya masih normal, tetapi tubuhnya langsung membeku sesaat begitu melihat pantulannya di cermin.

"Astaga Naga... itu aku?"

Wajah kecilnya putih bersih, kulitnya halus dan pucat, bibirnya lembap berwarna lembut, rambutnya hitam berkilau dan sedikit bergelombang.

Paras wajah seindah ini pasti mampu membuat siapa saja betah berlama-lama memandanginya.

'Manusia kejam mana yang tega mendorongmu untuk lompat ke jurang manis?'

"Kau sudah bangun?"

Jia menoleh kaget. "Ha?... I-iya."

Di dekat pintu, Su Hao muncul lalu menghampiri Jia, membawa beberapa butir telur di dalam mangkok.

"Makanlah ini dulu. Sebentar lagi nasi dan sup ayamnya matang,"

Su Hao duduk di samping Jia, mengupas sebutir telur dan perlahan mendekatkannya ke mulut istrinya.

Jia langsung memundurkan kepalanya, refleks seperti hewan kecil yang belum yakin pada tangan yang mendekat.

"Anu... aku tidak la-"

Jia langsung diam saat melihat wajah Su Hao mengeras.

"Kunyah. Atau kakimu yang kubuat benar-benar tidak bisa dipakai."

1
Yuni Anto
😍😍aku slalu setia menunggu nopel² KKA author 💪💪💪y kka
Latifa Ainum
ditunggu ya Thor😭🥳
Latifa Ainum
authorrrr, ini cerita nya g lanjut kah😭
Latifa Ainum: oke gpp Thor yg penting cerita nya lanjuttt,, aku tunggu ya Thor, semangat revisi sma ngetik nya Thor❤‍🔥🥳
total 2 replies
Pa Muhsid
ati ati coy kau memelihara jagal untuk tubuh mu dan cuan mu belum lagi si pandai besi kebayang kan tukang jagal dan tukang besi bersatu auto tamat disitu yicheng end sudah 😛😛😛
Yani
ayok crita nya d lanjut kan Thor 🥰🥰🥰
Yuni Anto
🙄sayang. di lewat kan🤩🤩cuan2ny🥰🥰🥰
Fahreziy
nexk
Smi
oh. Itu ucapan muslim Hui menyebut Assalamualaikum.
🌹🌼🍁embun nirmaladewi🍀🌻🌺
??????????!!!!!!!!!!
Elwana Muhamad
bagus
Yuni Anto
/Curse/hehehe/Curse/ada² aja kelakuan Jia 🥳🥳🥳 semangat 💪💪💪 ya Thor makasih update ny tiada henti selalu menanti update KKA../Pray//Pray//Pray//Kiss//Kiss//Kiss//Heart/
Fauziah Daud
hahaha... trusemangattt
Smi
👻 terimakasih 💝💝💝
Yuni Anto
😍hmn 🥰 makasih banyak KKA 🥳🥳🥳hati ku GE happy 🥳🥳🥳KKA author tersayang lagi sering banget kasih update terus 🥳/Kiss/🥳💪💪 semangat terus ya Thor 💪💪💪n sehat selalu Bwt kka 🤩🤩🤩/Determined//Angry//Determined//Angry//Determined//Determined/
Smi
hihiji, orang yg barunsaja kena apes
Fauziah Daud
lanjuttt
Smi
aku ...👋
Smi
sudah ku dagu😁
Yuni Anto
🙄saha atuh🤔tamu yg tak di undang ini bikin kita yg baca kena penyakit kepo pisan/Frown//Determined//Angry//Determined//Angry/
Lina Hibanika
siapakah tamu tak terduga itu 🤔
Lina Hibanika: kayak nya yg jari tangan nya bengkak 🤔
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!