lanjutan novel Tuan Tiada Tanding
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abdul Rizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tuan Arjuna berkonsentrasi
Di pagi hari ini terlihat Arjuna yang sedang membersihkan barang-barang antik yang ada di dalam tokonya yang sepi ini.
Sudah sangat lama sekali Arjuna tidak membersihkan barang dagangannya ini, "sial! Debunya banyak sekali!" Ucap Arjuna yang langsung menyeka satu-persatu barang antik di tokonya.
"Namun aku sama sekali tidak menyangka meskipun benda-benda ini akh geletakan dan tidak pernah aku rawat, namun pedang ini tidak berkarat, aneh.." ucap Arjuna sambil mengambil pedang dengan bilah yang terlihat cukup indah, "apa ya nama pedangnya? Ah bodo amat.." ucap Arjuna yang kembali meletakan pedang itu.
Sementara itu saat ini dua kuli sedang berada di pasar, mereka berdua mendapatkan tugas dari Arjuna untuk membeli daging, sosis, bakso. Sebagai perayaan Arjuna membeli mobil baru. Arjuna ingin mengadakan bakar-bakaran dan nyate kecil-kecilan.
Tentu saja pesertanya dia dan duo kuli saja.
Oleh karena itu Arjuna menyuruh duo kuli untuk pergi ke pasar dan berbelanja. Pasar yang di tuju oleh duo kuli adalah pasar dinoyo.
Singkat cerita mereka telah tiba, mereka bertiga segera menuju ke taman belakang dan memasak makanan.
Duo kuli secara antusias mendengar cerita Arjuna di pantai licin lebakharjo.
"Kalian harus tahu kemarin aku dan bambang bertemu banyak sekali orang stres di sana! Selain bertemu banyak orang stres aku juga bertemu dengan Arya dan Erlina kakak beradik, Erlina adalah adik Arya. Erlina tunarungu dan tunawicara dia sangat menyukai kumbang dan secara tidak sengaja aku menemukan kumbang emas dan aku berikan kepada Erlina dia sangat senang mendapatkan kumbang emas itu dan ajaibnya keesokan harinya Erlina menjadi manusia normal lagi! Selain bertemu dengan Arya dan Erlina aku juga mendapatkan teman baru yaitu pak wongso damar lintang, dan 2 anaknya Pradipta dan Ajeng."
Suwarno dan Momon menyimak dengan ekspresi serius cerita dari Arjuna.
Ya kumbang emas yang di temukan Arjuna merupakan pulung kencono yang di rebutkan oleh keluarga damar lintang dan semua orang penting, pulung kencono merupakan sebuah anugrah pulung kencono berpaling dan menolak ajeng karena kehadiran Arjuna di pantai lebakharjo.
Arjuna yang tidak tahu apa-apa menangkap kumbang emas yang ternyata pulung kencono dan memberikannya kepada Erlina yang notabennya suka dengan kumbang.
Semua orang tidak terima namun semuanya mendadak bisu ketika Arjuna berkata 'diam' termasuk keluarga damar lintang.
Namun bisu yang di alami keluarga damar lintang tidak berlangsung lama karena mereka segera meminta maaf kepada Arjuna. Arjuna yang mendapati wajah sedih dari Ajeng dan Pradipta memberikan liontin batu kali dan miniatur pedang kepada Ajeng dan Pradipta. Mereka berdua sangat senang dengan pemberian Arjuna karena 2 pusaka yang di berikan Arjuna merupakan pusaka yang tidak kalah dari pulung kencono. Mereka tidak tahu saja Arjuna memiliki setoples liontin batu kali dan sekardus miniatur pedang.
Itulah singkat cerita segmen Arjuna di pantai lebakharjo. Singkatnya Arjuna saat ini sudah berteman dengan keluarga damar lintang termasuk patriark wongso, jika ada yang ingin di tanyakan tentang segmen ini tanyakan di komentar saya akan menjawabnya. Dan secara resmi kita memasuki segmen terbaru selamat membaca dan semoga terhibur.
***
Tidak ada yang istimewa pada acara bakar-bakaran di malam hari itu.
Beberapa hari terlewati, di pagi hari ini terlihat Arjuna, Suwarno, dan Momon berada di dalam hutan dekat toko barang antiknya.
Pedang dengan bilah yang cukup indah terlihat di gantung di atas pohon.
Sementara Arjuna berada di depan sebuah kanvas, di tangan Arjuna sendiri terlihat ada palet dan kuas.
Ya, Arjuna ingin menggambar pedang itu. Arjuna ingin belajar menggambar, karena Arjuna sedang belajar sehingga dia menggunakan media yang gampang saja yaitu pedang Tajimalela ini.
"Pak Arjuna, pedang ini sangat cantik dan luar biasa. Seharusnya pedang ini tidak usah di jual dan di simpan sebagai koleksi saja.." ucap Suwarno.
Arjuna menggelengkan kepalanya, "pedang seperti ini tidak bisa membuat perut kenyang, walaupun pedang ini peninggalan kakekku namun kalau seumpama ada orang yang menawar dengan harga tiga ratus ribu akan aku lepas pedang ini." Ucap Arjuna.
Mendengar ucapan entng dari Arjuna seketika itu juga Suwarno dan Momon memegangi dada mereka berdua dengan ekspresi pahit, pahit sekali...
Mereka berdua yakin pedang ini bukanlah pedang biasa, melainkan pedang mistis yang hanya bisa di gunakan oleh orang yang lahir di bulan dan tanggal tertentu.
Namun bagi Tuan Arjuna pedang ini sama sekali tidak berharga dan malah ingin di jual seharga tiga ratus ribu rupiah.
Sekali lagi Suwarno dan Momon merasakan kesenjangan yang tinggi sekali.
"Sebentar, aku akan menggambar terlebih dahulu." Ucap Arjuna yang mencelupkan kuasnya ke dalam palet berisi cat hitam yang dia bawa.
Ketika Tuan Arjuna berkonsentrasi seperti ini baik Suwarno dan Momon merasakan badan mereka merinding, seolah ada hawa dingin yang muncul ketika Tuan Arjuna berkonsentrasi.
Semakin lama Tuan Arjuna berkonsentrasi perasaan dingin yang di alami Suwarno dan Momon semakin terasa.