Ketika Arbiyan Pramudya pulang untuk melihat saudara kembarnya, Abhinara, terbaring koma, ia bersumpah akan menemukan pelakunya. Dengan menyamar sebagai adiknya yang lembut, ia menyusup ke dalam dunia SMA yang penuh tekanan, di mana setiap sudut menyimpan rahasia kelam. Namun, kebenaran ternyata jauh lebih mengerikan. Di balik tragedi Abhinara, ada konspirasi besar yang didalangi oleh orang terdekat. Kini, Arbiyan harus berpacu dengan waktu untuk membongkar semuanya sebelum ia menjadi target berikutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon QueenBwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Aroma karat dari darah yang mengering dan bau tajam keringat menyengat indra penciumannya, sebuah parfum kekalahan yang familier bagi lawannya. Arbiyan Pramudya meludahkan setetes darah ke lantai beton yang kotor, seringai tipis terukir di sudut bibirnya yang sedikit sobek. Di hadapannya, sesosok tubuh besar terkapar, napasnya tersengal-sengal di tengah riuh rendah sorakan penonton yang memadati gudang tua di sudut Queens. Ini bukan tentang uang. Ini tentang pelepasan. Setiap pukulan yang ia daratkan adalah gema dari amarah yang tak pernah bisa ia suarakan di rumah.
“Cukup buat malem ini, Biyan,” sebuah suara berat memotong kebisingan. Neo, dengan tubuh menjulang dan wajah tenangnya, melemparkan handuk ke bahu Arbiyan. “Lo udah menang. Gak usah bikin dia cacat permanen.”
Arbiyan hanya mendengus, menyeka darah dari bibirnya dengan punggung tangan. “Dia yang mulai, Neo. Lo liat sendiri kan?”
“Gue liat lo yang ngabisin,” balas Neo datar, matanya yang tajam mengawasi kerumunan yang mulai membubarkan diri. “Ayo cabut. Eve udah nunggu di mobil.”
Baru saja ia hendak melangkah, sesosok gadis berambut pixie cut menerobos kerumunan kecil mereka. Wajahnya, yang biasanya dihiasi ekspresi sarkastis, kini pias pasi. Itu Eve. Di tangannya, sebuah ponsel menyala, layarnya menempel di telinga.
“Biyan!” panggilnya, nadanya mendesak. “Telepon. Buat lo.”
Arbiyan mengerutkan kening, rasa kesal menjalari dirinya. Siapa yang berani mengganggu ritual malamnya? “Dari siapa? Kalo Kakek, bilang gue lagi—”
“Bukan,” potong Eve cepat, matanya menyiratkan sesuatu yang tidak beres. “Dari Indonesia.”
Seketika, seluruh kebisingan di sekelilingnya meredup. Indonesia. Hanya ada dua alasan seseorang dari sana akan meneleponnya di jam mustahil seperti ini: ibunya, atau… Abhinara. Jantungnya berdebar sedikit lebih kencang. Ia merebut ponsel dari tangan Eve, menatap layar. Nama yang tertera di sana membuat darahnya mendidih pelan. Arkan. Asisten kepercayaan ibunya. Antek penjilat yang selalu menatapnya dengan senyum palsu.
“Ngapain lo nelpon gue?” sembur Arbiyan begitu panggilan tersambung, tanpa basa-basi. Ia bisa mendengar Neo menghela napas di belakangnya.
Terdengar jeda sejenak di seberang sana, sebelum suara Arkan yang tenang dan terkalkulasi mengalun. Suara yang paling dibenci Arbiyan di seluruh dunia. “Selamat malam, Arbiyan. Maaf mengganggu. Ini saya, Arkan.”
“Gue tahu suara lo,” ketus Arbiyan. “Langsung aja ke intinya. Nyokap mana? Kenapa lo yang nelepon?”
“Ibu Linda sedang tidak bisa bicara sekarang. Beliau…” Suara Arkan terdengar ragu untuk sesaat, sebuah keraguan yang dipoles dengan profesionalisme dingin. “Saya menelepon untuk menyampaikan kabar penting. Ini mengenai adik kembar kamu, Abhinara.”
Nama itu, diucapkan oleh mulut Arkan, terasa seperti pelanggaran. Tubuh Arbiyan menegang. Cengkeramannya pada ponsel mengerat hingga buku-buku jarinya memutih. “Abhi? Dia kenapa?”
Dunia di sekeliling Arbiyan terasa berputar dalam gerak lambat. Ia bisa melihat mulut Neo bergerak tanpa suara, mata Eve melebar ngeri. Tapi satu-satunya yang bisa ia dengar hanyalah napasnya sendiri yang tertahan, menunggu kalimat selanjutnya.
“Abhinara… dia mengalami kecelakaan di sekolahnya,” lanjut Arkan, setiap kata diucapkan dengan presisi yang menyakitkan. “Sekarang kondisinya… kondisinya koma, Arbiyan.”
Koma.
Satu kata itu jatuh seperti batu raksasa ke dalam danau sunyi di benaknya, menciptakan riak-riak es yang membekukan segalanya. Sorakan penonton lenyap. Bau anyir darah memudar. Yang tersisa hanyalah dengung statis di telinganya dan bayangan wajah Abhinara saat terakhir kali ia melihatnya di bandara setahun lalu. Wajah kurus itu, mata yang selalu menyimpan sekelumit kecemasan, dan senyumnya yang dipaksakan.
“Kak Biyan hati-hati di sana, ya,” bisiknya waktu itu. “Jangan lupa kabarin Abhi.”
Dan Arbiyan, dengan keegoisan remajanya, hanya menepuk kepalanya sambil lalu. “Tenang aja. Lo jaga diri baik-baik. Jangan jadi cengeng.”
“Kecelakaan apa?” Suara Arbiyan keluar serak, nyaris tak dikenali. Amarah yang tadi ia luapkan di arena pertarungan terasa seperti bara api kecil dibandingkan dengan neraka yang kini berkobar di dadanya.
“Detailnya belum jelas. Pihak sekolah bilang dia jatuh dari tangga. Tapi…” Arkan berhenti lagi.
“Tapi apa, bangsat?!” teriak Arbiyan, tak lagi peduli pada Eve dan Neo yang kini berdiri di sisinya, siap menopang.
“Saat ditemukan, ada beberapa luka lain di tubuhnya yang tidak sesuai dengan luka jatuh,” jawab Arkan, nadanya tetap datar seolah sedang membacakan laporan cuaca. “Ibu Linda meminta kamu untuk segera pulang.”
Bukan permintaan. Itu adalah perintah yang terbungkus dalam kesopanan palsu. Tapi Arbiyan tidak butuh perintah. Sesuatu di dalam dirinya telah patah. Rasa bersalah, tajam dan bergerigi, merobek pertahanannya. Ia meninggalkan Abhinara. Ia membiarkan adiknya sendirian di rumah yang terasa seperti sangkar emas, menghadapi dunia yang tidak pernah ramah pada kelembutannya.
“Biyan?” Suara Eve terdengar lirih, menariknya kembali dari jurang pikirannya.
Arbiyan menurunkan ponselnya, panggilan itu bahkan belum ia putuskan. Matanya kosong, menatap dinding bata di hadapannya, tetapi yang ia lihat adalah wajah Abhinara. Adiknya yang rapuh. Adiknya yang selalu berlindung di belakang punggungnya saat mereka kecil. Adiknya yang kini terbaring tak berdaya di ranjang rumah sakit, ribuan mil jauhnya.
“Gue harus pulang,” desisnya, lebih pada dirinya sendiri.
“Oke,” sahut Eve tanpa ragu. Ia sudah mengeluarkan tabletnya, jari-jarinya menari di atas layar. “Penerbangan paling cepat ke Jakarta. Tiga jam dari sekarang. Aku urus tiketnya.”
“Gue ikut,” tambah Neo tegas, meletakkan tangan besar di bahu Arbiyan, sebuah jangkar di tengah badai. “Lo gak sendirian.”
Arbiyan menggeleng. Kepalanya terasa berat, dipenuhi kabut kemarahan dan penyesalan. “Gak. Kalian jaga Kakek. Ini urusan gue.” Ia menatap kedua sahabatnya, tatapannya mengeras menjadi baja. “Ini urusan keluarga gue.”
Ia berbalik, berjalan cepat meninggalkan gudang itu, meninggalkan serpihan kehidupannya di Amerika. Setiap langkah terasa seperti menginjak pecahan kaca. Janjinya pada Abhinara berdengung di telinganya. Gue bakal jagain lo. Selalu. Sebuah janji yang kini terasa seperti kebohongan paling busuk.
Pesawat jet itu menggeram di landasan pacu, bersiap merobek langit malam. Arbiyan menekan keningnya ke kaca jendela yang dingin, menyaksikan lampu-lampu kota yang pernah menjadi tempat pelariannya kini menyusut menjadi titik-titik cahaya yang tak berarti. Kabin bergetar hebat saat mesin mencapai kekuatan penuh, mendorong tubuhnya ke belakang dengan kekuatan brutal. Dorongan itu terasa familier, seperti sebuah pukulan telak di ulu hati, meremukkan semua udara dari paru-parunya.
Di tengah deru mesin yang memekakkan telinga, satu ingatan melintas begitu jelas seolah baru terjadi kemarin: Abhinara, berusia sepuluh tahun, menangis di belakang sekolah karena kacamatanya dipecahkan oleh anak lain. Arbiyan kecil datang, tanpa pikir panjang menghajar anak itu sampai babak belur. Setelahnya, ia memeluk adiknya yang gemetar.
“Selama ada gue,” bisiknya saat itu, “gak ada yang boleh nyakitin lo, Abhi. Gak akan pernah.”
Getaran pesawat semakin kuat, mengangkat badan logam raksasa itu dari tanah. Arbiyan memejamkan matanya erat-erat, cengkeramannya pada sandaran tangan begitu kuat hingga buku-buku jarinya terasa sakit.
Maafin gue, Abhi. Gue pulang sekarang.
Dan saat pesawat itu akhirnya lepas landas, melesat menembus kegelapan, sebuah sumpah tanpa suara terucap di relung hatinya yang paling dalam. Siapa pun yang telah menyakiti adiknya, siapa pun yang menyebabkan semua ini terjadi, ia akan menemukan mereka. Ia akan membuat mereka membayar dengan cara yang tidak akan pernah mereka lupakan.
Mesin meraung lebih keras, seolah menyuarakan badai yang baru saja lahir di dalam jiwa Arbiyan. Di ketinggian tiga puluh ribu kaki, di antara langit Amerika dan tanah air yang memanggilnya pulang dengan jeritan sunyi, perang pribadinya baru saja dimulai. Perang untuk satu-satunya orang yang pernah benar-benar ia pedulikan. Perang untuk Abhinara. Lampu tanda kenakan sabuk pengaman berkedip sekali lagi sebelum padam, tetapi Arbiyan tahu, sabuk pengaman macam apa pun takkan sanggup menahannya saat ia mendarat nanti. Ia tidak pulang untuk berdamai.
Ia pulang untuk menuntut balas. Pesawat itu menembus lapisan awan, dan di bawah sana, kota yang ia tinggalkan telah lenyap sepenuhnya, ditelan malam. Sama seperti ketenangan yang pernah ia miliki.
Tidak sabar untuk selanjutnya!
semangat ya!