Sebuah Perjalanan Penuh Perjuangan
Lampu neon di emperan toko yang berkedip-kedip itu adalah satu-satunya saksi bisu betapa dinginnya aspal jalanan di bawah telapak kaki Satria. Malam itu, ia hanya memiliki selembar ijazah SMA yang sud
0
1
Sebuah Pertaruhan Jiwa
Lampu minyak di sudut ruangan itu menari-nari, membiaskan bayangan yang panjang dan gelisah di dinding kayu yang mulai lapuk. Di luar, hujan turun dengan ritme yang monoton, seolah-olah langit sedang
0
1
Cinta Sejati
Lantai kayu di rumah panggung kami selalu mengeluarkan derit yang sama, sebuah simfoni tua yang seolah meratapi ingatan Ayah yang kian hari kian meluruh. Di pedalaman tanah Melayu ini, waktu terasa be
0
1
Terima Kasih Bapak
Aroma debu jalanan dan uap panas dari panci alumunium tua itu adalah parfum pertama yang kukenal. Sejak jemariku belum cukup kuat untuk menggenggam pensil dengan benar, mereka sudah belajar cara memeg
0
2
Bawang Dan Mimpi
Lantai marmer di ruang tengah itu masih terasa dingin di telapak kaki Hanum, padahal jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Di tangannya, sehelai kaus dalam milik Arlan, suaminya, masih menunggu u
0
1
Putih Abu-Abu
Krriiingg... Suara bel berbunyi di halaman sekolah tanda siswa akan masuk kelas, sebentar lagi pintu gerbang akan ditutup oleh satpam sekolah. Aku melirik arlojiku berulang kali dan mempercepat langka
0
2
Parallax of Truth
Semua orang yang tampak sudah kelelahan tengah berlomba menenangkan kegugupan pasangan yang akan segera menikah esok pagi. Para Groomsmen dan Bridesmaids sepakat untuk mengadakan 'sesi' penutupan aca
0
0
The Galaxy In Our Room
"Baby, you're here?" Suara berat namun terdengar riang itu membelah sunyi, muncul dari arah ruang depan apartemen Faira. Faira hanya sanggup menengadahkan wajahnya yang—kalau boleh jujur—sudah beg
0
0
keterasingan agama diduniawi
Tahun 2050. Di kota Ranzar, matahari terbenam di balik gedung-gedung pencakar langit yang menjulang layaknya tombak logam. Lampu neon tak pernah padam, dan layar-layar digital raksasa menayangkan pesa
0
0
Anugerah Mimpi yang Indah
Kematian sering kali digambarkan sebagai sesuatu yang gelap, sunyi, dan dingin. Namun bagi Amira, kepulangan ibunya justru menjadi gerbang menuju keajaiban yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. H
0
1
Lupa Nyuci Baju
Lantai kamar mandi belakang itu selalu terasa dingin, namun siang itu, dinginnya semen kalah oleh rasa panas yang menjalar di sekujur tubuhku. Air di dalam bak mandi masih tenang, berkilau memantulkan
0
1
Nek, Aku Masih Disini
Pagi itu, aroma kopi tubruk dan minyak goreng panas selalu menjadi alarm alamiku. Di balik tirai kamar yang tipis, aku selalu bisa mendengar suara gemerisik plastik kresek dan sapaan ramah dari balik
0
1
Jangan Ganggu Kami
Malam itu, udara di komplek perumahan kami terasa lebih berat dari biasanya. Sebenarnya, hari itu dimulai dengan sangat normal, bahkan menyenangkan. Kami—aku dan gerombolan teman masa kecilku—menghabi
0
1
Siapa Wanita itu?
Malam itu, suasana di rumah terasa lebih sunyi dari biasanya. Jarum jam dinding di ruang tengah berdetak dengan ritme yang seolah-olah menggedor kesunyian. Aku memilih tinggal sendiri karena rasa mala
0
2
Ketika Aku Ketindihan
Waktu itu pukul tiga sore. Matahari sedang terik-teriknya, seolah berusaha membakar aspal jalanan. Aku pulang sekolah dengan tubuh super lelah, rasanya tulang-tulangku mau rontok. Seragam putih abu-ab
0
1
Kamu Sudah Makan, Nak?
Teras rumah itu selalu beraroma kayu manis dan bawang goreng. Bagi teman-temanku, rumah di ujung gang itu bukan sekadar bangunan beton, melainkan pelabuhan. Di sana, ada seorang wanita dengan celemek
0
1
Sisa Lapangan
Tribun lapangan basket sudah hampir kosong. Botol plastik dan kertas berserakan di bawah kursi. Alana masih duduk di barisan atas sambil memegang tasnya. Matanya mengikuti Gavin yang masih berdiri sen
0
1
Sorak Sorai dan Ancaman
Lapangan basket sekolah sore itu penuh teriakan. Alana berdiri di barisan penonton paling belakang dengan topi hitam dan masker. Dia tidak suka keramaian, tapi ancaman Gavin membuatnya datang. Matanya
1
1
Mahar yang Tak Terbayangkan
Namaku Alya Sasmita. Usia dua puluh tiga tahun. Seorang perempuan biasa yang hidup di rumah sederhana di pinggir kota. Ayah sudah lama meninggal, dan ibu bekerja menjahit baju tetangga untuk menghidup
0
1
Tulip yang kamu kirimkan
Sirgy:" Hari ini saya berulang tahun, kamu mau kirim kan bunga apa? " Tulip, lavender, mawar? " Nancy :" Saya maunya tulip" Sirgy:" Baiklah saya akan mengirim ke alamat mu" Nancy :" Dhrllshvdmdhb,
0
0