Lyra, seorang wanita independen yang besar dari keluarga sederhana, bekerja keras. Cibiran kerabat tak pernah ia hiraukan. Ia menikah dengan Alexander, sang CEO perusahaan tempatnya bekerja. Pernikahan mereka bukan didasari cinta, melainkan perjodohan orang tua. Alexander, yang disangka dingin, ternyata sosok suami yang baik dan penuh perhatian.
Hampir lima tahun pernikahan, mereka hidup di bawah satu atap tanpa keintiman. "Aku belum siap," selalu menjadi alasan Lyra, dan Alexander menghargai itu. Ia berjanji akan menunggu hingga Lyra bersedia dengan sukarela. Lyra bekerja di perusahaan suaminya sebagai supervisor, merahasiakan statusnya, ingin diakui karena kemampuannya, bukan karena status 'istri CEO'.
Perasaan Lyra mulai berubah seiring waktu. Ia mulai menemukan sesuatu dalam diri Alexander. Titik balik terjadi ketika drama masa lalu menyambangi mereka.
Pertama, mantan tunangan Alexander datang ke kantor, memamerkan cincin. Alexander segera memutus adegan itu dengan ketus, "Dia memang tunangan-ku dulu, tapi aku sudah menikah dengan orang lain—bukan dia." Wanita itu diusir tanpa ampun.
Beberapa hari kemudian, giliran mantan kekasih Lyra muncul dengan buket dan cincin, melamarnya di depan karyawan. Lyra menolak keras, "Aku sudah putus, dan aku tidak akan menikah dengan laki-laki "mokondo" seperti kamu! Aku sudah menikah dengan seseorang yang bukan mokondo!"
Melihat suaminya mengutip adegan itu dengan wajah kesal, Lyra merasa geli. Ia sengaja tidak menjawab saat Alexander menuntut penjelasan di ruangannya. Malamnya, Alexander menuntut jawaban di rumah, dan Lyra akhirnya bercerita tentang masa lalu kekasihnya yang mata duitan. Alexander hanya tersenyum, meninggalkan Lyra di depan TV. "Dasar laki-laki aneh!" seru Lyra kesal. Itu adalah percakapan paling 'ramai' mereka setelah hampir lima tahun.
Perlahan, hubungan mereka membaik. Mereka mulai banyak berbicara, mengenal sifat dan kebiasaan masing-masing. Mereka mengatasi masalah kecil dengan kedewasaan.
Namun, badai besar melanda: perusahaan Alexander di ambang kebangkrutan akibat peretasan data. Pelakunya adalah paman Alexander sendiri, didorong rasa iri dan ambisi karena merasa disingkirkan dari warisan perusahaan. Meskipun Lyra awalnya ingin menjauh karena itu masalah keluarga Alexander, ia berjanji akan membantu. Mereka akhirnya melaporkan paman Alexander ke polisi.
Di tengah kekacauan itu, mantan kekasih mereka berdua muncul kembali bersama reporter, menuduh Lyra dan Alexander sebagai perebut pasangan. Dengan tenang, mereka menjawab, "Kita menikah atas perjodohan dan bahagia. Sebelum itu, kita sudah putus dengan mereka karena berselingkuh." Mereka menutup pintu rumah, melanjutkan makan siang dengan santai.
Malam itu, Lyra membuat keputusan. Ia masuk ke kamar Alexander. Meskipun hanya tidur seranjang, ini adalah langkah besar. Esoknya, Lyra memindahkan semua barangnya ke kamar Alexander.
Ketika ibu-ibu mereka datang dan terkejut, Alexander dengan bangga menjelaskan, "Dia sudah pergi ke kantor, bukan minggat. Semalam dia tidur bersamaku, dan pagi ini dia pindah barangnya ke kamar ku." Kedua orang tua itu berbahagia.
Di kantor, Lyra mulai menunjukkan statusnya sebagai istri CEO, tidak peduli apa kata orang, yang penting melindungi suaminya. Posisinya naik menjadi manajer, digantikan oleh supervisor baru yang terang-terangan menggoda Alexander. Lyra cemburu, namun mencoba percaya.
Puncaknya, Lyra tidak tahan lagi. Ia menerobos masuk saat wanita itu menggoda Alexander. Dalam kemarahan, Lyra menjambak dan memukul wanita itu. "Laki-laki yang kau goda adalah **suamiku**!" Alexander hanya tersenyum tipis. Lyra menuntut pemecatan, dan Alexander segera memenuhinya.
Malam harinya, Lyra masih kesal. Ia mendengar Alexander bercerita pada ibunya bahwa ia marah dan "lucu banget."
Hampir enam tahun penantian, Lyra akhirnya siap. Ia menelpon Alexander, meminta suaminya pulang cepat, mengancam akan menyesal jika lewat jam delapan. Alexander tiba tepat waktu.
Malam itu, Lyra menyambut suaminya dengan pakaian seksi. "Aku siap," katanya lembut. "Kita lakukan bersama dengan penuh cinta." Alexander terkejut, namun bahagia. Penantian panjang itu berakhir, malam pertama mereka tiba.
Pagi harinya, saat orang tua mereka datang, Alexander menjawab pertanyaan tentang Lyra yang masih tidur, "Masih tidur, dia kecapean. Seperti suami istri biasanya lakukan apa." Ayahnya langsung berseru, "Berarti siap-siap aku akan menggendong cucu!"
Kebahagiaan Lyra bukan datang tiba-tiba, melainkan tumbuh dari komitmen dan pengertian. Cinta sejati tidak perlu dicari, kadang ia datang sendiri, perlahan-lahan mengisi relung hati yang kosong, bahkan di atas sebuah perjodohan. Lyra tersenyum, bersyukur atas suami yang menerima dan mencintainya dengan sabar.
~TAMAT~