Perpustakaan SMA Cakrawala selalu sepi saat jam pulang sekolah. Rak-rak buku berdiri kaku, hanya ditemani suara kipas tua dan bau kertas lama. Tapi ada satu alasan kenapa siswa jarang berani tinggal lama di sana: hantu cantik.
Namanya dikenal sebagai Nona Aruna.
Tak ada yang tahu pasti sejak kapan ia muncul. Yang jelas, setiap sore menjelang magrib, lampu perpustakaan sering berkedip, dan sesosok gadis bergaun putih pucat terlihat duduk di sudut rak sastra. Rambutnya panjang terurai, wajahnya lembut, dan matanya selalu menatap buku yang sama—buku harian usang tanpa judul.
Anehnya, Aruna tidak pernah menakutkan. Ia tak berteriak, tak menampakkan wajah seram. Justru banyak siswa mengaku melihatnya tersenyum sedih.
Suatu hari, Raka—anggota OSIS yang bertugas merapikan buku—tak sengaja tertinggal sendirian. Saat hendak keluar, ia mendengar suara halaman dibalik perlahan.
“Bukunya… jangan salah tempat.”
Suara itu halus. Saat Raka menoleh, Aruna berdiri di belakang meja baca. Jantungnya berdebar, tapi rasa takutnya kalah oleh rasa iba.
“Kak… kamu siapa?” tanya Raka pelan.
“Aku dulu siswa di sini,” jawab Aruna. “Aku mencintai perpustakaan ini… tapi tak sempat mengucapkan selamat tinggal.”
Sejak hari itu, Raka sering datang sore-sore. Ia tahu Aruna bukan hantu jahat. Aruna hanya menjaga buku-buku, merapikan rak yang berantakan, dan memastikan perpustakaan tetap hidup meski dilupakan.
Beberapa minggu kemudian, sekolah merenovasi perpustakaan. Buku harian usang itu ditemukan. Di halaman terakhir tertulis:
Jika aku tak ada, biarlah buku-buku ini tetap dibaca.
Sejak buku itu disimpan rapi, Aruna tak pernah terlihat lagi. Namun anehnya, perpustakaan yang dulu sepi kini selalu ramai. Buku-buku sering tersusun rapi sendiri, dan terkadang—jika kamu datang menjelang magrib—kamu bisa mencium aroma melati lembut di antara rak.
Seolah Aruna masih di sana,
tersenyum,
menjaga perpustakaan kesayangannya