Malam pertama aku menempati Rumah Kos Melati terasa berbeda. Udara di lorongnya dingin meski lampu menyala terang, dan dindingnya memantulkan bayangan yang terasa terlalu panjang.
Aku pindah ke kota ini untuk memulai hidup baru—meninggalkan masa lalu yang penuh luka setelah kegagalan pertunanganku setahun lalu. Aku hanya ingin kesempatan kedua, hidup yang tenang, dan hati yang tak lagi rapuh.
Di kamar nomor tujuh, aku bertemu Arga. Ia penghuni kos sebelah, laki-laki pendiam dengan senyum hangat yang jarang muncul. Kami sering bertemu di dapur bersama; Arga selalu menawarkan teh hangat, seolah tahu aku mudah menggigil. Entah kenapa, berada di dekatnya membuat lorong kos yang dingin terasa lebih ramah.
Namun sejak malam ketiga, hal aneh mulai terjadi. Tepat pukul dua belas, terdengar ketukan pelan di pintu—tiga kali—lalu sunyi. Saat kubuka, tak ada siapa-siapa. Aku mencoba mengabaikannya, mengira itu hanya ulah perasaanku yang lelah. Sampai suatu malam, aku melihat bayangan perempuan berambut panjang berdiri di ujung lorong, gaunnya putih, wajahnya menunduk.
Aku menjerit pelan dan menutup pintu. Keesokan paginya, aku menceritakan semuanya pada Arga. Ia mendengarkan dengan wajah serius, lalu berkata pelan, “Lorong itu memang punya cerita. Tapi jangan takut. Tidak semua yang datang ingin menyakiti.”
Sejak itu, Arga sering menemaniku hingga larut. Kami berbagi kisah—tentang kegagalanku dan tentang dirinya yang pernah kehilangan seseorang. Di sela ketakutan, tumbuh perasaan hangat yang tak kuduga. Aku mulai menunggu langkah kakinya di lorong, dan senyumnya menjadi penguat saat malam terasa panjang.
Ketukan itu kembali, semakin sering. Suatu malam, aku memberanikan diri membuka pintu tepat saat bunyinya terdengar. Di hadapanku berdiri perempuan bergaun putih itu. Wajahnya pucat, matanya basah, tapi tak ada kebencian di sana—hanya kesedihan yang sangat tua.
“Aku hanya ingin dikenang,” katanya lirih.
Arga muncul di belakangku. Ia menatap perempuan itu dengan mata yang berkaca-kaca. “Sinta,” ucapnya pelan.
Aku terkejut. Arga lalu bercerita. Bertahun lalu, Sinta adalah kekasihnya. Ia meninggal di kos ini akibat kecelakaan. Arga pindah ke sini bukan tanpa alasan, ia kembali untuk berdamai, bukan melupakan. Namun keberaniannya selalu runtuh.
Sinta menoleh padaku. “Kau datang membawa cahaya baru bagi Arga,” katanya. “Aku hanya ingin Arga melangkah tampaku.”
Malam itu, kami bertiga berdiri di lorong. Arga akhirnya berbicara, meminta maaf pada masa lalu yang ia genggam terlalu lama. Air mata jatuh, dan angin dingin yang biasa menyelimuti lorong perlahan menghangat. Sosok Sinta tersenyum—senyum yang ringan—lalu memudar seperti kabut pagi.
Sejak malam itu, ketukan tak pernah terdengar lagi. Lorong terasa biasa, bahkan ramah. Arga dan aku duduk di dapur, menyesap teh hangat seperti biasa. Tapi kali ini, ada kejujuran yang tumbuh.
“Aku ingin mencoba lagi,” kata Arga. “Bukan menghapus masa lalu, tapi berjalan bersamanya.”
Aku tersenyum. “Aku juga. Kesempatan baru tak datang untuk meniadakan luka, tapi untuk mengajarkan cara hidup dengannya.”
Hari-hari berlalu. Aku tak lagi takut pada malam. Di Rumah Kos Melati, aku menemukan lebih dari tempat tinggal—aku menemukan keberanian untuk membuka hati. Dan di antara sisa-sisa dingin lorong yang pernah angker, kesempatanku untuk mencintai kembali datang.
Kesempatan baru itu nyata. Kadang ia datang bersama ketakutan, kadang juga melalui kisah yang tak kasat mata. Tapi ketika kita berani melangkah, bahkan bayangan pun bisa berubah menjadi cahaya yang menuntunmu pulang.
Event by : GC Rumah Menulis