Mesin waktu itu tidak sebesar yang ada di film. Ia hanya berupa jam tua berwarna perak, tersembunyi di dalam laci meja ayah. Jarumnya bergetar pelan, seolah bernapas.
Aku menemukannya secara tidak sengaja, pada malam ketika listrik padam dan hujan turun tanpa jeda. Di balik jam itu, tertulis kalimat kecil yang hampir pudar:
Jangan kembali untuk mengubah, kembalilah untuk memahami.
Dengan tangan gemetar, aku memutar jarumnya ke tanggal yang paling ingin kuhindari.
Cahaya menyilaukan menyelimuti tubuhku, dan ketika semuanya mereda, aku berdiri di masa lalu—di hari ketika segalanya mulai runtuh. Aku melihat diriku yang lebih muda, tersenyum polos, belum tahu apa yang akan hilang.
Aku ingin berteriak.
Ingin memperingatkan.
Ingin mengubah semuanya.
Namun kakiku tak bisa melangkah mendekat.
Aku hanya bisa melihat.
Aku melihat bagaimana kesalahan kecil tumbuh menjadi penyesalan besar. Bagaimana kata-kata yang tak terucap menjadi jarak. Bagaimana kepergian seseorang bukan karena tak sayang, tapi karena sama-sama lelah.
Air mataku jatuh, namun tak satu pun dari mereka menyadarinya.
Saat jarum jam bergetar kembali, aku berpindah ke masa depan. Di sana, aku melihat diriku yang lebih dewasa—masih membawa luka, tapi juga kekuatan. Ia tersenyum kecil, bukan karena bahagia sepenuhnya, melainkan karena sudah berdamai.
“Aku bertahan,” katanya pelan.
Aku kembali ke masa kini dengan dada sesak dan mata basah. Mesin waktu itu berhenti berdetak. Seolah tugasnya telah selesai.
Aku akhirnya mengerti. Mesin waktu tidak diciptakan untuk memperbaiki masa lalu atau mencuri masa depan. Ia ada agar kita belajar menerima—bahwa waktu berjalan satu arah, dan satu-satunya hal yang bisa kita ubah adalah langkah hari ini.
Aku menutup laci meja ayah, lalu melangkah pergi.
Tanpa mesin waktu.
Tanpa penyesalan yang sama.