Hai aku Bimo,Spesialis pemikir skenario romantis di otak, tapi eksekutor paling payah di dunia nyata.Di sekolah gue suka sama cewek yang namanya Laras, Cewek yang senyumnya bikin aku lupa cara bernapas, tapi sayangnya dia sangat peka dengan hal-hal aneh. Di sana juga gue punya sahabat namanya Dodi, yang merasa dirinya adalah "Konsultan Cinta" bersertifikat, padahal modalnya cuma nonton drama Korea.
Hari itu, aku memutuskan untuk menjadi pahlawan. Laras, cewek yang sudah setahun ini menghuni setiap sudut pikiranku, lupa membawa buku tugas Matematika. Aku tahu karena Dodi, sang intel sejati, mendengar Laras panik di kelas.
"Ini kesempatan lo, Bim! Lo pulang sekarang, ambil bukunya di rumah dia kebetulan rumah kalian searah—terus balik lagi sebelum jam istirahat selesai," saran Dodi sambil makan gorengan.
"Masalahnya, gerbang sekolah dijaga Pak Kumis, Dod!"
"Lewat tembok belakang, Bim. Ingat, love requires sacrifice," balas Dodi sok puitis.
Aku berhasil keluar lewat lubang di pagar belakang yang tertutup semak-semak. Singkat cerita, aku berhasil meminjam buku Laras dari adiknya di rumah, dan sekarang aku sudah kembali di depan tembok sekolah.
Masalahnya satu, Temboknya ternyata lebih tinggi kalau dilihat dari luar.
Aku mencoba memanjat dengan bantuan dahan pohon mangga. Saat posisiku sudah di puncak tembok, tiba-tiba aku melihat Laras sedang berjalan di koridor bawah menuju kantin.
"Laras! Laras!" panggilku setengah berbisik.
Dia menoleh ke atas, matanya membelalak. "Bimo? Lo ngapain di atas tembok? Mau jadi Spiderman?"
"Nggak, Sher... eh, Ras! Ini buku lo! Gue ambil di rumah lo tadi!" teriakku bangga sambil mengangkat buku itu tinggi-tinggi.
Saat aku hendak turun dengan gaya cool, tiba-tiba ujung celana seragamku tersangkut di kawat pagar yang tajam. Aku kehilangan keseimbangan.
Sreeeeeet!
Suara kain robek itu terdengar sangat nyaring di telingaku. Aku tergantung terbalik dengan kaki satu di atas, kepala di bawah, dan bagian belakang celanaku robek sukses membentuk ventilasi udara yang sangat tidak diinginkan.
"Bimo! Lo nggak papa?" teriak Laras panik, tapi dia juga menahan tawa melihat posisiku yang seperti kelelawar siang hari.
Di saat yang paling tidak tepat, Pak Kumis muncul dengan peluit saktinya.
PRIIIIIIIT!
"SIAPA ITU YANG MAU KABUR?!" teriak Pak Kumis. Beliau berlari ke arah kami, tapi langkahnya mendadak berhenti saat melihatku tergantung dengan celana robek yang memperlihatkan boxer motif polkadot warna-warni pemberian ibuku.
Setelah dievakuasi Pak Kumis dengan penuh omelan (dan tawa tertahan), aku berakhir di UKS dengan sarung pinjaman untuk menutupi tragedi ventilasi di celanaku.
Laras masuk membawa segelas teh hangat. Dia duduk di samping bed, lalu meletakkan bukunya yang sudah lecek karena aku peluk saat jatuh tadi.
"Bim, makasih ya bukunya. Tapi jujur, itu cara paling konyol buat pamer perhatian," katanya sambil tertawa sampai matanya menyipit.
"Gue cuma nggak mau lo dihukum Pak Bambang, Ras," jawabku sambil menutupi wajah dengan sarung. "Malu banget gue, asli."
Laras menyentuh lenganku. "Tahu nggak? Boxer polkadot lo tadi... sebenarnya lumayan lucu. Cocok sama kepribadian lo yang aneh."
Aku mengintip dari balik sarung. "Jadi... lo nggak ilfil?"
"Dikit sih. Tapi karena lo rela nyangkut di pagar demi buku gue, kayaknya gue bisa pertimbangin buat kita belajar bareng sore ini. Asal... lo jangan pakai celana yang itu lagi."
Aku nyengir lebar. Meskipun harus menanggung malu seumur hidup di depan Pak Kumis dan seluruh penghuni sekolah, setidaknya ventilasi di celanaku tadi berhasil membukakan pintu di hati Laras.