Sore itu, aku berdiri di depan pagar rumah Laras dengan gemetar. Sesuai janji, kami akan belajar bareng. Aku sudah memastikan tiga hal:
Celanaku baru, kuat, dan TIDAK robek.
Aku membawa martabak manis (setengah cokelat, setengah keju) sebagai "pelicin" jalan.
Aku sudah memakai minyak rambut supaya tidak terlihat seperti orang baru jatuh dari tembok.
"Bimo! Masuk, Bim," panggil Laras dari teras. Dia memakai kaus santai dan kacamata, yang jujur saja, membuatnya terlihat sepuluh kali lipat lebih cantik daripada di sekolah.
Aku melangkah masuk dengan gaya yang aku buat se-elegan mungkin. "Ini, Ras. Ada sedikit martabak buat nemenin belajar."
Ibu Laras keluar dari dapur. "Wah, ini temannya Laras yang 'atlet panjat pagar' itu ya?" tanya beliau sambil tersenyum penuh makna.
Wajahku panas seketika. Ternyata berita tentang tragedi ventilasi celanaku sudah sampai ke telinga orang tua. "I-iya, Tante. Hehe."
"Duduk, Bim. Jangan tegang gitu," kata Laras sambil menunjuk kursi kayu di ruang tamu.
Aku pun duduk. Namun, karena terlalu grogi, aku tidak sadar kalau kursi yang aku duduki adalah kursi goyang antik yang alasnya agak licin. Begitu aku mendaratkan bokongku, kursi itu meluncur ke belakang dengan kecepatan cahaya.
Sreeeet... DUK!
Kepalaku membentur rak pajangan di belakangku. Sebuah piring hias mungil bergoyang, jatuh, dan mendarat tepat di atas martabak manis yang baru saja kubuka.
Prak! Martabak manis keju-cokelat itu sekarang resmi memiliki topping keramik.
Laras kaget. Ibu Laras kaget. Tapi yang paling kaget adalah Si Belang, kucing mereka yang sedang tidur di bawah rak. Karena kaget mendengar bunyi piring pecah, Si Belang melompat dan entah bagaimana ceritanya, dia malah mendarat di kepalaku.
"ARGH! RAS, KUCING LO MAU NYERANG OTAK GUE!" teriakku sambil berusaha melepaskan cakar Si Belang dari rambutku yang sudah penuh pomade.
"Belang! Jangan! Bimo, jangan gerak!" Laras berusaha menangkap kucingnya.
Dalam kekacauan itu, aku mencoba berdiri, tapi kakiku tersangkut kabel lampu hias. Lampu itu bergoyang, dan... PYARR! Ruang tamu Laras mendadak gelap karena lampunya mati total.
Hening.
Gelap gulita.
Hanya terdengar napas terengah-engahku dan suara kucing mengeong di kejauhan.
"Bimo?" panggil Laras dalam kegelapan.
"Gue di sini, Ras. Di samping martabak yang sudah hancur," jawabku lesu. Aku sudah siap-siap diusir dari rumah ini.
Tiba-tiba, aku merasakan cahaya lampu HP menyinari wajahku. Laras berdiri di depanku, menatap kekacauan yang kubuat. Piring pecah, martabak hancur, dan rambutku yang sekarang mirip sarang burung karena ulah Si Belang.
Aku menghela napas. "Gue pulang aja deh, Ras. Gue emang pembawa bencana."
Laras diam sebentar, lalu tiba-tiba dia tertawa. Bukan tawa mengejek, tapi tawa yang sangat renyah. "Bim, lo tahu nggak? Dari semua cowok yang pernah ke sini, cuma lo yang bisa bikin ruang tamu gue kayak habis kena badai tornado dalam waktu lima menit."
"Maafin gue, Ras..."
"Nggak apa-apa," Laras mengambil satu potong martabak yang tidak terkena pecahan piring, lalu menggigitnya. "Enak kok. Daripada belajar, gimana kalau lo bantuin gue beresin ini semua? Nanti gue kasih hadiah."
"Hadiah apa?" tanyaku penuh harap.
Laras mendekat, membisikkan sesuatu di telingaku yang membuat jantungku mau copot: "Hadiahnya... besok ke sekolah bareng gue. Naik motor lo. Tapi janji, jangan ada atraksi panjat pagar lagi ya?"
Malam itu, meski kepalaku benjol dan badanku penuh bulu kucing, aku pulang dengan perasaan paling bahagia di dunia. Ternyata, menjadi konyol adalah strategi cinta terbaikku.