Dalam mimpiku, aku berjalan di tempat yang tidak pernah ada di peta. Langitnya berwarna senja abadi—tak terlalu terang, tak benar-benar gelap. Udara terasa ringan, seperti napas yang tak perlu dihirup terlalu dalam.
Aku melihat diriku sendiri di kejauhan. Ia tersenyum, tapi matanya menyimpan lelah yang sama seperti yang sering kurasakan saat terjaga. Kami saling menatap tanpa bicara, seolah sudah saling mengerti semua hal yang tak pernah sempat diucapkan.
Di sekeliling kami, kenangan berjatuhan seperti daun. Tawa lama, janji yang tak ditepati, dan harapan kecil yang pernah kusimpan diam-diam. Anehnya, tak ada rasa sakit—hanya tenang, seperti menerima bahwa semuanya memang pernah terjadi.
“Tak apa,” kata versi diriku dalam mimpi. “Kamu sudah berusaha.”
Aku ingin bertanya banyak hal, tapi suaraku tak keluar. Langkahku terasa berat, seolah mimpi ini tak ingin aku terlalu lama tinggal. Angin berhembus pelan, membawa bisikan yang tak jelas, namun hangat.
Lalu semuanya memudar.
Aku terbangun dengan mata basah dan dada yang terasa kosong, tapi ringan. Mimpi itu pergi, seperti kebanyakan mimpi lainnya. Namun perasaan yang ditinggalkannya tetap tinggal—sebuah pengingat bahwa di balik lelah dan ragu, aku masih ada, masih bertahan.
Mungkin mimpi bukan sekadar bunga tidur.
Mungkin ia adalah cara hati berbicara saat dunia terlalu bising.