Di Kerajaan Aurelion, hiduplah seorang tuan putri bernama Seraphina, dikenal bukan hanya karena kecantikannya, tetapi juga karena kebijaksanaan dan hatinya yang lembut. Namun, di balik kemegahan istana dan kilau mahkota emas, ada satu sosok yang selalu berdiri di sisinya—seorang ksatria pribadi bernama Alaric.
Alaric bukan ksatria paling terkenal di medan perang, juga bukan bangsawan berdarah biru. Ia berasal dari rakyat biasa, namun sumpah setianya lebih kuat dari baja pedangnya. Sejak kecil, ia dilatih khusus untuk melindungi sang putri, bahkan sebelum Seraphina mengenal dunia luar istana. Baginya, keselamatan tuan putri adalah hukum tertinggi.
Ke mana pun Seraphina pergi—ke taman mawar istana, ke perpustakaan tua, atau ke balkon tertinggi saat malam—Alaric selalu berada beberapa langkah di belakang. Ia jarang berbicara, tetapi matanya selalu waspada. Sang putri sering tersenyum kecil setiap menyadari kehadirannya, merasa aman tanpa perlu kata-kata.
Suatu malam, kerajaan terancam oleh pengkhianatan dari dalam. Api hampir melahap istana, dan kekacauan menyelimuti aula megah. Tanpa ragu, Alaric membawa Seraphina melewati lorong rahasia, melindunginya dari bahaya dengan tubuh dan pedangnya. Luka ia terima, namun langkahnya tak pernah goyah.
Saat fajar menyingsing dan kerajaan kembali aman, Seraphina menatap ksatria itu dengan mata berkaca-kaca. “Terima kasih,” ucapnya pelan. Alaric berlutut, menunduk hormat. “Itu adalah tugasku… dan kehormatanku.”
Sejak hari itu, seluruh kerajaan tahu: selama ksatria pribadi itu masih berdiri, tak satu pun bahaya akan menyentuh tuan putri. Dan bagi Seraphina, Alaric bukan sekadar pelindung—ia adalah perisai kepercayaannya, bayangan setia yang selalu ada, tanpa meminta apa pun selain kesempatan untuk melindungi.