Pagi itu, aku bangun dengan semangat yang setara dengan roket NASA. Hari ini adalah hari bersejarah, Bimo Sang Pemanjat Pagar resmi menjadi Bimo Sang Driver Pribadi Laras.
Aku sudah mencuci motor bebek tuaku (jalu) sampai kinclong. Saking semangatnya, aku sampai menyemir bannya menggunakan semir sepatu. Mengkilap sih, tapi licinnya minta ampun.
Pagi yang (Harusnya) Sempurna
Aku sampai di depan rumah Laras tepat waktu. Begitu dia keluar dengan seragam yang rapi dan wangi parfum vanila, jantungku mendadak melakukan breakdance.
"Siap, Ras?" tanyaku sambil memberikan helm cadangan yang sudah kupastikan tidak bau apek.
"Siap, Bim. Pelan-pelan aja ya, gue belum mau mati muda," jawabnya sambil naik ke boncengan.
Begitu Laras memegang pundakku, aku merasa seperti punya kekuatan 1000 tenaga kuda. Aku injak persneling, gas kutarik... dan JEDER! Si Jalu mengeluarkan suara ledakan dari knalpotnya.
"Bimo! Itu motor apa mercon?" teriak Laras kaget.
"Biasa, Ras, ini namanya 'karakter' mesin tua," jawabku panik sambil terus tancap gas.
Masalah mulai muncul di pertigaan dekat sekolah. Di sana berdiri kembaran Pak Bambang, yaitu Pak Polisi Bambang. Beliau meniup peluit karena aku sedikit melewati garis marka jalan.
Karena panik melihat wajah yang mirip guru Fisika paling galak itu, aku langsung menekan rem depan sekuat tenaga. Ingat kan kalau ban motorku tadi kusirami semir sepatu biar mengkilap?
Akibatnya Ban depanku selip. Motor tidak berhenti, malah meluncur miring seperti atlet ice skating.
"BIMOOO! REM, BIM! REEEM!" teriak Laras sambil memeluk pinggangku kencang sekali. (Oke, di tengah kepanikan ini, bagian dipeluk Laras itu sebenarnya bonus yang luar biasa).
Motor kami akhirnya berhenti tepat di depan kaki Pak Polisi setelah menabrak sekumpulan ember plastik dagangan penjual asongan.
Pak Polisi Bambang mendekat, menurunkan kacamata hitamnya. "Selamat pagi, Dek. Kamu mau sekolah atau mau ikut balap liar di pasar?"
"Maaf, Pak. Remnya agak... over-excited," jawabku sambil gemetar.
Laras turun dari motor dengan wajah pucat, tapi dia buru-buru merapikan rambutnya. "Maaf ya, Pak. Teman saya ini memang agak kurang sinkron antara otak dan tangannya kalau lagi grogi."
Pak Polisi itu menatap Laras, lalu menatapku, lalu melihat ember-ember yang berserakan. Beliau menghela napas. "Ya sudah, karena ini masih pagi dan kamu bawa siswi berprestasi (rupanya Laras terkenal), saya lepaskan. Tapi tolong, ban motor jangan disemir pakai minyak goreng lagi!"
"Semir sepatu, Pak!" koreksiku spontan, yang langsung dibalas injakan kaki oleh Laras.
Kami sampai di parkiran sekolah tepat sebelum bel berbunyi. Aku turun dari motor dengan sisa-sisa harga diri yang masih tercecer di jalanan.
"Ras... maaf banget ya. Sumpah, gue tadi nggak bermaksud bikin kita hampir jadi konten berita 'Kecelakaan Beruntun Gara-Gara Semir Ban'."
Laras melepas helmnya, lalu menatapku tajam. Aku sudah pasrah kalau dia bilang "Kita jangan bareng lagi."
Tapi tiba-tiba, dia malah merapikan kerah seragamku. "Bim, lo tahu nggak? Dibonceng lo itu lebih ekstrem daripada naik roller coaster. Tapi... jujur, gue nggak pernah se-deg-degan ini berangkat sekolah."
"Deg-degan karena takut mati atau karena... gue?" tanyaku sok berani.
Laras tersenyum tipis, jenis senyum yang bikin aku mau pingsan di tempat. "Dua-duanya. Besok jemput gue lagi ya. Tapi tolong, motornya diservis dulu. Gue nggak mau besok kita masuk sekolah pakai mobil derek."
Laras berjalan pergi menuju kelas, meninggalkanku yang masih berdiri mematung di samping Si Jalu. Dodi tiba-tiba muncul dari balik pohon dan menepuk bahuku.
"Bim, lo emang bener-bener 'The King of Chaos'. Celana robek, piring pecah, sekarang hampir nabrak polisi. Tapi kok bisa-bisanya Laras malah makin nempel?"
Aku cuma bisa nyengir lebar. "Itu rahasianya, Dod. Cewek itu butuh hiburan, dan gue adalah pertunjukan komedi berjalan buat dia."