Aku hanyalah debu.
Tak bernama, tak bersuara, dan sering disalahkan.
Setiap kali cahaya matahari menembus jendela tua itu, tubuhku terlihat menari—melayang pelan di udara. Namun manusia selalu mengernyit. “Debu lagi,” kata mereka, seolah aku adalah penyebab segalanya: sesak napas, kotoran, ketidakrapian.
Padahal aku hanya sisa waktu.
Aku berasal dari buku-buku yang tak lagi dibuka, dari meja belajar yang ditinggalkan pemiliknya karena tumbuh dewasa, dari foto-foto lama yang menyimpan tawa seseorang yang kini hanya kenangan. Aku lahir dari hal-hal yang pernah dicintai.
Di rumah tua itu, seorang gadis kecil datang membersihkan. Tangannya berhenti ketika melihat pigura retak berisi foto seorang nenek. Matanya berkaca-kaca. Saat kain lapnya menyentuh meja, aku beterbangan, lalu perlahan jatuh kembali.
“Aku kangen,” bisiknya.
Jika aku bisa bicara, aku ingin berkata:
Aku ada karena cinta pernah tinggal di sini.
Aku tak bersalah. Aku hanya bukti bahwa waktu berjalan, bahwa sesuatu pernah hidup, pernah berarti. Namun manusia lebih suka menyapuku, membuangku, melupakanku—tanpa pernah bertanya dari mana aku berasal.
Saat angin sore masuk melalui jendela, aku kembali menari. Untuk sesaat, aku bersinar. Bukan sebagai kotoran, tapi sebagai saksi bisu dari kenangan yang tak ingin benar-benar pergi.
Aku debu.
Dan aku tak pernah bersalah.