KitaDi antara kita, ada jarak yang tak pernah benar-benar bisa disebut jauh,
namun juga tak cukup dekat untuk saling menyentuh perasaan tanpa ragu.
Kita duduk di bangku yang sama, menatap papan tulis yang sama,
tertawa pada lelucon yang kadang hanya kita berdua yang mengerti.
Namun setiap kali ingin bertanya, “Apa kamu baik-baik saja?”
kata-kata itu selalu tertahan di tenggorokan.
Di antara kita ada waktu—
waktu yang berjalan berbeda di kepala masing-masing.
Kamu melangkah cepat, seolah tahu ke mana harus pergi.
Aku berjalan pelan, takut kehilangan jejak, tapi juga takut mengejar.
Pernah suatu sore, hujan turun tanpa aba-aba.
Kita berteduh di tempat yang sama, bahu hampir bersentuhan.
Tak ada percakapan penting,
hanya suara hujan dan detak jantung yang berpura-pura biasa saja.
Saat itu aku sadar,
di antara kita bukan kekosongan—
melainkan hal-hal yang tak berani diucapkan.
Hari demi hari berlalu.
Kita tetap “kita”, tapi dengan definisi yang samar.
Bukan asing, bukan juga sepenuhnya dekat.
Hanya dua orang yang berbagi kenangan,
lalu menyimpannya rapi di tempat yang sama-sama kita jaga.
Mungkin suatu saat, jarak itu akan hilang.
Atau mungkin justru tetap ada,
menjadi batas yang membuat kita saling menghargai.