Nadia mati mengenaskan akibat dikhianati. Namun, takdir memberinya kesempatan kedua dengan memindahkan jiwanya ke tubuh Chelsea Latief, gadis kaya raya yang sedang koma.
Terbangun sebagai Chelsea, Nadia tidak hanya harus mencari cara untuk menghancurkan orang-orang yang telah membunuhnya di masa lalu, tetapi ia juga harus bertahan hidup di rumah mewah yang penuh dengan konspirasi racun, sekaligus menghadapi Reynald—tunangan arogan yang tiba-tiba berbalik mengejar cintanya.
"Aku bukan Chelsea yang bisa kamu injak-injak lagi, Tuan Reynald."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SAIDA VALE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: Intimidasi Sang Singa
Ketegangan di dalam ruangan utilitas nomor 104 itu mendadak meningkat hingga ke titik didih. Kehadiran Reynald di ambang pintu seolah menyedot seluruh pasokan udara, menyisakan keheningan yang mencekam. Tatapan matanya yang sedingin es mengunci sosok Nadia sebelum beralih ke arah Adrian dengan tatapan menguliti, penuh dengan permusuhan yang terang-terangan.
Adrian, meski terkejut dengan kedatangan mendadak sang penguasa bisnis kota, mencoba tetap tenang dan melangkah mundur satu tapak untuk menjaga jarak aman.
Nadia menarik napas dalam-dalam, menguasai keterkejutannya dengan cepat. Ia menegakkan bahunya, menatap langsung ke dalam manik mata hitam Reynald. "Tuan Reynald, Anda tampaknya tersesat. Aula utama ada di lantai atas."
"Aku tidak tersesat, Chelsea," desis Reynald, suaranya terdengar sangat rendah dan berbahaya. Ia melangkah masuk ke dalam ruangan yang remang-remang itu. Setiap ketukan langkah sepatunya terdengar seperti lonceng kematian. "Aku mengikutimu. Dan untungnya aku melakukan itu, sebelum tunanganku melakukan sesuatu yang... memalukan di belakangku."
Reynald berhenti tepat di depan Nadia, mengabaikan keberadaan Adrian sepenuhnya seolah pria itu hanya angin lalu. Ia menatap map cokelat tebal yang didekap erat oleh Nadia di dadanya.
"Apa itu? Dan apa hubunganmu dengan pria ini?" tuntut Reynald, nadanya penuh dengan rasa kepemilikan dan otoritas yang tidak bisa diganggu gugat.
Nadia tersenyum tipis, sebuah senyuman tenang yang menantang amarah Reynald. "Ini adalah urusan pribadi keluarga Latief, Tuan Reynald. Tidak ada hubungannya dengan kesepakatan bisnis kita di kantor Anda kemarin."
"Apapun yang melibatkan keselamatanmu adalah urusanku sekarang, Chelsea!" Reynald mendadak mencengkeram pergelangan tangan Nadia dengan cukup kuat, membuat gadis itu sedikit meringis namun tetap mempertahankan sorot mata pembangkangnya. "Kita punya kesepakatan. Kamu meminta perlindunganku, tapi kamu menyembunyikan hal sebesar ini dariku dan menemui pria lain di tempat sekotor ini?!"
"Lepaskan dia, Tuan Reynald." Adrian akhirnya membuka suara, mencoba membela Nadia meskipun tahu statusnya jauh di bawah pria di hadapannya itu.
Reynald menoleh lambat-lambat ke arah Adrian. Sorot mata elangnya berkilat penuh ancaman yang mematikan. "Tutup mulutmu jika kamu masih ingin melihat matahari esok hari, anak muda. Kamu tidak tahu sedang berurusan dengan siapa."
"Tuan Reynald, cukup!" bentak Nadia sembari menyentakkan tangannya hingga cengkeraman Reynald terlepas. Ia melangkah maju, memposisikan dirinya di antara Reynald dan Adrian untuk melindungi informan berharganya tersebut.
Nadia menatap Reynald dengan kilat amarah yang sama besarnya. "Jangan bertingkah seolah Anda adalah suami yang cemburu, Tuan yang terhormat. Hubungan kita murni transaksional. Pria ini adalah Adrian, analis data kepercayaan mendiang ayah saya. Dia baru saja memberikan bukti bahwa Paman Hendra... adalah orang yang memesan racun untuk membunuh saya."
Mendengar kalimat terakhir Nadia, kemarahan di wajah Reynald mendadak surut, digantikan oleh ekspresi terkejut yang sangat kentara selama beberapa detik. Mata elangnya beralih menatap map cokelat di tangan Nadia.
"Racun? Hendra Latief?" tanya Reynald memastikan, suaranya merendah.
"Ya," jawab Nadia tegas. Ia membuka map tersebut dan menunjukkan selembar kertas transaksi pasar gelap yang ditandatangani oleh Yayasan Latief kepada Reynald. "Paman saya terlilit utang judi besar di kasino milik Baskoro Corp. Rencana mereka adalah melenyapkan saya, membuat kematian saya terlihat seperti bunuh diri karena depresi, lalu menyerahkan seluruh sisa aset keluarga Latief kepada Baskoro sebagai pelunasan utang."
Reynald terdiam, membaca lembar demi lembar bukti yang ditunjukkan Chelsea dengan cepat. Otak bisnisnya yang jenius langsung menyatukan potongan teka-teki yang selama ini membingungkannya. Sekarang ia paham mengapa Chelsea begitu emosional dan menjatuhkan mental Baskoro di aula atas tadi. Semuanya saling terhubung.
Reynald mengembalikan berkas itu, lalu menatap Adrian kembali, kali ini dengan pandangan yang sedikit melunak namun tetap waspada. "Kamu... analis data Wijaya Latief?"
"Benar, Tuan Reynald. Saya hanya menjalankan amanah terakhir dari Tuan Wijaya untuk menjaga Nona Chelsea dari bayangan," jawab Adrian hormat namun tetap tegas.
Reynald menghela napas panjang, merapikan kembali jas tuksedonya yang sedikit kusut. Ia menoleh ke arah Nadia, menatap wajah cantik tunangannya itu dengan pandangan yang sulit diartikan—campuran antara rasa takjub, khawatir, dan ketertarikan yang semakin dalam.
"Kamu seharusnya memberi tahu aku sejak awal, Chelsea. Mengingat musuhmu sekarang bukan hanya Hendra, melainkan juga Baskoro," ucap Reynald, suaranya kini kembali tenang namun terdengar lebih protektif dari sebelumnya.
"Jika saya memberi tahu Anda tanpa bukti, Anda hanya akan mengira saya sedang membuat drama fiksi untuk mencari perhatian Anda, bukan?" balas Nadia sarkastik, membalikkan kata-kata Reynald di rumah sakit dulu.
Reynald mendengus pelan, merasa terpukul oleh kata-katanya sendiri. Ia maju satu langkah, memperkecil kembali jarak di antara mereka, lalu berbisik rendah di depan wajah Nadia. "Baik, aku mengaku salah karena sempat meragukanmu. Tapi mulai detik ini, tidak ada lagi rahasia di antara kita. Adrian... mulai besok, tim kamanan perusahaanku akan mendanai dan mengawasi operasimu secara rahasia. Pastikan tidak ada satu pun pergerakan Hendra dan Baskoro yang lolos dari pengawasanmu."
Adrian menatap Nadia, meminta persetujuan. Nadia mengangguk pelan, menyetujui keputusan Reynald. Memiliki dana dan jaringan keamanan dari Reynald Group akan membuat pergerakan Adrian jauh lebih aman dan cepat.
"Dimengerti, Tuan Reynald," jawab Adrian mantap.
Reynald kemudian meraih jemari tangan Nadia, menyelipkannya kembali ke sela lengannya dengan posesif. "Sekarang, mari kita kembali ke aula atas, Tunanganku. Kita harus memberikan pertunjukan penutup yang tidak akan pernah dilupakan oleh Pamanmu dan Baskoro malam ini."
Nadia mengulas senyum miring yang penuh kemenangan di bibir merah gelapnya. "Dengan senang hati, Tuan Reynald. Mari kita hancurkan malam indah mereka."