aku akan mengguncang dunia persilatan, aku yang memiliki ingatan masa depan memiliki keunggulan yang akan menghacurkan segala yang merebut waktu dan duniaku!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GEELANG, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10 - Perlombaan Melawan Waktu
Kabut tebal yang biasa menyelimuti Lembah Batu Pecah terasa lebih dingin dan kelam pagi itu. Halaman yang hancur berantakan bekas pertempuran semalam masih menyisakan ceruk-ceruk dalam dan pepohonan yang tumbang. Bau amis darah memang telah tersapu angin malam, tetapi aroma bahaya masih tercium pekat di udara.
Sun Chen keluar dari gubuk bambu dengan membawa ember kayu kecil untuk mengambil air. Di tengah halaman, Chou Tian sudah berdiri tegak seperti biasa, memandangi kerapatan hutan pinus di luar batas lembah. Pria tua itu mengenakan jubah bersih, menyembunyikan rapat-rapat apa yang terjadi semalam.
"Guru," panggil Sun Chen seraya membongkokkan tubuhnya penuh hormat.
"Ambil air dan segera bersiap," kata Chou Tian, suaranya terdengar datar dan dingin seperti biasa. "Latihan hari ini tidak akan sama dengan kemarin."
Sun Chen mengangguk, lalu berjalan menuju aliran sungai di samping gubuk. Namun, mata tajam jiwa prajurit veterannya tidak bisa dibohongi. Ia memperhatikan ritme dada Chou Tian saat bernapas sedikit lebih pendek dan patah-patah. Langkah kaki sang guru saat berbalik pun tidak seluwes kemarin, seolah ada beban tak kasat mata yang menekan punggung tuanya.
Saat berjalan ke belakang gubuk untuk mengambil sisa kayu bakar, Sun Chen menghentikan langkahnya. Matanya tertuju pada sebidang tanah kering di balik rumput liar. Di sana, terdapat bercak cairan kental berwarna hitam pekat yang telah mengering, merusak dan membakar rumput di sekitarnya hingga hangus.
Sun Chen berlutut, menyentuh tanah basah di dekat bercak itu. Bau amis racun yang sangat tajam menyengat penciumannya.
Qi Racun Bayangan Hitam... batin Sun Chen bergemuruh.
Ia tahu betul jenis racun ini dari kehidupan lalunya. Racun jahat milik Lu Gu itu tidak membunuh seketika, melainkan menggerogoti pembuluh darah dan merusak meridian secara perlahan setiap kali korbannya mengalirkan tenaga dalam.
Sun Chen berdiri, mengepalkan tangannya rapat-rapat. Ia melangkah kembali ke halaman depan dan menatap lurus ke arah gurunya.
"Guru," kata Sun Chen, suaranya bergetar menahan gejolak emosi. "Guru terluka."
Chou Tian diam sejenak. Pria tua itu tidak memalingkan wajahnya, tetapi bahunya sedikit melemas. Ia menarik napas panjang yang terdengar amat berat.
"Kau melihatnya," gumam Chou Tian pelan.
"Mengapa Guru menyembunyikannya dari saya?" tanya Sun Chen. "Racun itu... racun itu sangat berbahaya jika Guru terus memaksa mengalirkan Qi!"
Chou Tian akhirnya membalikkan badan. Wajahnya tampak sedikit lebih pucat di bawah sinar matahari pagi. "Lu Gu menyalurkan jarum beracun saat benturan terakhir semalam. Aku bisa menekan peredarannya menggunakan tenaga dalamku, tetapi itu hanya menunda waktu."
Pria tua itu melangkah mendekati Sun Chen, menaruh telapak tangannya yang besar dan kasar di atas bahu kecil muridnya.
"Itulah sebabnya kita tidak punya banyak waktu lagi, Sun Chen," ucap Chou Tian, matanya memancarkan ketegasan yang mutlak. "Aku tidak tahu berapa lama raga tua ini sanggup bertahan menahan racun ini. Karena itu, sebelum mataku tertutup selamanya, kau harus sudah memiliki raga dan fondasi yang sanggup melindungimu dari dunia yang kejam ini."
Dada Sun Chen terasa sesak. Di kehidupan lalunya, ia dikelilingi oleh orang-orang yang saling memanfaatkan dan mengkhianati. Namun kini, seorang pria tua yang baru dikenalnya beberapa minggu rela menahan sakitnya racun mematikan demi menempanya menjadi lebih kuat. Kesadaran itu membakar jiwa Sun Chen dengan tekad yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.
Metode latihan hari itu berubah menjadi tempaan hidup dan mati yang sesungguhnya.
Chou Tian tidak lagi membiarkan Sun Chen hanya memukul udara kosong. Di tengah halaman, Chou Tian memegang sekeranjang batu-batu kali berukuran kepalan tangan. Sun Chen diminta berdiri di atas tiang kayu yang sempit sambil mengulang pukulan lurus yang diajarkan kemarin.
Wus!
Tanpa peringatan, Chou Tian melempar sebuah batu kecil ke arah bahu kanan Sun Chen.
Sun Chen yang fokus pada posisinya terkejut. Batu itu menghantam bahunya dengan keras, membuatnya kehilangan keseimbangan dan jatuh tersungkur dari atas tiang kayu.
"Jangan hanya melihat tanganmu!" seru Chou Tian keras dari tepi halaman. "Musuh di dunia nyata tidak akan berdiri diam menunggumu menyempurnakan posisi! Matamu harus membaca pergerakan udara, telingamu harus mendengar desir angin, dan tubuhmu harus merespons sebelum otakmu berpikir!"
Sun Chen bangkit berdiri, menyapu darah dari bibirnya yang pecah, lalu kembali memanjat tiang kayu.
Wus! Wus!
Chou Tian melemparkan dua batu sekaligus dari sudut berbeda. Sun Chen memiringkan kepalanya sedikit, mengelak dari batu pertama, lalu melayangkan pukulan lurus untuk membiaskan batu kedua. Namun, batu ketiga yang dilempar Chou Tian menghantam dadanya, membuatnya kembali terhempas ke tanah.
"Lagi!" teriak Chou Tian tanpa belas kasihan.
Berkali-kali Sun Chen jatuh dan bangkit kembali. Tubuh balitanya dipenuhi memar biru dan goresan luka baru. Namun, seiring berjalannya waktu, refleks jiwanya yang pernah melewati ribuan pertempuran mulai menyatu dengan raga kecilnya.
Sun Chen belajar membaca ayunan lengan gurunya sebelum batu dilemparkan. Ia mengarahkan benih Qi di dantiannya menuju telapak kaki untuk mencengkeram tiang kayu, sementara dadanya tetap rileks untuk menyerap guncangan. Di akhir sore, Sun Chen sanggup bertahan di atas tiang kayu sambil menangkis dan mengelak dari sepuluh lemparan batu berturut-turut tanpa kehilangan keseimbangan.
Chou Tian memperhatikan perkembangan pesat itu dengan napas yang semakin berat. Di dalam hatinya, ia merasa bangga sekaligus cemas. Kecepatan belajar Sun Chen berada di luar nalar manusia biasa, seolah raga kecil itu memang ditakdirkan untuk berdiri di puncak dunia persilatan.
Malam harinya, setelah menyelesaikan latihan fisik yang memeras habis tenaganya, Sun Chen duduk bersila di atas batu datar di depan gubuk. Rasa sakit di sekujur tubuhnya berdenyut-denyut, tetapi ia mengabaikannya dan mulai mengatur pernapasan dasar.
Begitu ia memejamkan mata dan menyusup ke dalam lautan kesadarannya, ruang batinnya yang gelap kembali bergetar.
Cahaya ungu kehitaman membumbung tinggi. Sisik naga purba melayang anggun di tengah lautan pikirannya, memancarkan pendaran energi yang jauh lebih terang dan jernih dari malam-malam sebelumnya.
Gumpalan aksara kuno berputar perlahan, memperlihatkan barisan kalimat baru dari warisan purba yang kini bisa dibaca oleh jiwa Sun Chen:
"Fondasi Sempurna Tahap Pertama: Menyelaraskan Lima Organ dengan Aliran Qi Murni. Tanpa Raga Besi, Tulang Baja, dan Meridian Terbuka, Kekuatan Purba Hanya Akan Membakar Jiwa Pemiliknya."
Sebuah metode pengaturan aliran energi yang sangat rinci terpampang di dalam pikirannya. Metode itu menjelaskan cara mengalirkan benih Qi untuk menguatkan organ dalam terlebih dahulu sebelum mencoba menembus pembuluh darah yang lebih besar.
Sun Chen merenungkan petunjuk tersebut. Di kehidupan lalunya, ia mungkin akan tergiur untuk segera mencoba mempraktikkan teknik serangan purba demi mendapatkan kekuatan instan. Namun kini, berkat pencerahan dari latihan keras Chou Tian, Sun Chen menyadari kebenaran mutlak di balik warisan tersebut.
Guruku benar... batin Sun Chen mantap. Kekuatan terbesar berasal dari fondasi yang paling sempurna. Aku tidak boleh terburu-buru.
Sun Chen memilih untuk tidak memaksakan warisan naga itu. Ia hanya menggunakan petunjuk tersebut untuk menyalurkan benih Qi keemasan di dantiannya guna memulihkan otot-otot dan organ dalamnya yang lelah akibat latihan seharian, membiarkan tubuh kecilnya pulih dan tumbuh secara alami.
Sementara itu, jauh di sebuah benteng rahasia milik organisasi pemburu.
Di dalam aula batu yang remang-remang, Tetua Bayangan Lu Gu berlutut dengan wajah pucat dan dada yang dibebat kain kassa tebal. Di hadapannya, duduk pria berjubah hitam pekat di atas kursi batu berukir tengkorak.
"Jadi... kau gagal membawanya dan justru terluka parah oleh Tinju Penghancur Gunung milik Chou Tian?" suara pria berjubah hitam itu bergema rendah, penuh tekanan yang mengintimidasi.
Lu Gu menunduk lebih dalam, peluh dingin mengalir di dahinya. "Mohon ampun, Yang Mulia. Kekuatan tua bangkai itu masih sangat dahsyat. Namun... hamba berhasil melukainya dengan Qi Racun Bayangan Hitam. Racun itu sudah merasuk ke dalam meridian utamanya."
Pria berjubah hitam itu tidak menunjukkan amarah. Sebaliknya, ia menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi batu seraya terkekeh pelan—sebuah tawa dingin yang membuat bulu kuduk berdiri.
"Bagus," kata pria itu santai. "Chou Tian adalah pendekar tua yang keras kepala. Jika kita terus mengirim pasukan untuk menyerangnya secara langsung, kita hanya akan membuang-buang prajurit elit kita untuk bertarung mati-matian dengannya."
Pria berjubah hitam berdiri, melangkah perlahan mengelilingi aula batu.
"Racun Bayangan Hitam tidak memiliki penawar kecuali menggunakan tenaga dalam ahli tingkat Suci. Chou Tian akan perlahan-lahan hancur dari dalam setiap kali ia mengalirkan Qi. Kita tidak perlu terburu-buru."
Ia memalingkan wajahnya ke arah seorang mata-mata bertopeng yang berlutut di sudut ruangan.
"Kirim tim pengintai elit ke sekeliling Lembah Batu Pecah. Jangan melakukan serangan apa pun. Cukup awasi mereka dari kejauhan. Biarkan racun itu menggerogoti raga Chou Tian hingga ia tak sanggup lagi berdiri. Saat hari itu tiba... kita akan mengambil bocah itu tanpa perlu menumpahkan banyak darah."
Kembali ke Lembah Batu Pecah.
Matahari mulai menyingsing di ufuk timur, memancarkan sinar keemasan yang mengusir kabut malam. Sun Chen dan Chou Tian sudah kembali berada di halaman, memulai rutinitas latihan fisik yang berat seperti hari-hari sebelumnya.
Tanpa disadari oleh guru dan murid tersebut, jauh di atas puncak tebing batu tertinggi yang menghadap langsung ke arah gubuk bambu...
Dua sosok bergaun hitam meringkuk tengkurap di antara semak-semak dan bebatuan. Mereka memegang teropong kecil dan mencatat setiap pergerakan yang terjadi di dasar lembah.
Salah satu pengintai menurunkan teropongnya, lalu menyunggingkan senyuman dingin yang mengerikan.
"Lihat si tua bangkai itu... gerakannya mulai melambat," bisiknya pelan pada rekannya, suaranya tersapu angin pagi. "Pesan dari pusat benar. Kita hanya perlu menunggu. Mangsa sudah masuk ke dalam perangkap, dan waktunya hampir habis."