Anton adalah seorang pria biasa yang hidupnya hancur dalam semalam setelah dicampakkan dan dipermalukan secara brutal oleh pacarnya demi seorang anak konglomerat. Di titik terendahnya, saat rasa sakit dan keputusasaan memuncak, Anton secara tak terduga membangkitkan [Sistem Mata Dewa] yang memberinya kemampuan luar biasa untuk melihat menembus segala jenis benda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Tepuk tangan riuh menggema di dalam Grand Ballroom yang megah. Kilatan blitz kamera menyambar dari berbagai sudut, mengabadikan momen bersejarah ketika dua sosok revolusioner melangkah naik ke atas panggung.
Anton berdiri di depan mimbar kaca dengan setelan tuksedo putihnya yang memancarkan aura seorang raja muda. Di sebelahnya, Elena tersenyum anggun, memancarkan pesona keanggunan seorang ratu bisnis.
Ruangan yang dipenuhi ratusan miliarder, menteri, dan petinggi perusahaan itu mendadak hening ketika Anton mendekatkan bibirnya ke mikrofon.
"Selamat malam, para pemimpin, inovator, dan visioner," sapa Anton dengan suara bariton yang tenang, namun entah mengapa terdengar menggema hingga ke sudut terdalam jiwa setiap orang yang mendengarnya.
"Dunia teknologi dan medis selama ini berjalan terlalu lambat. Kita dibatasi oleh perangkat keras yang cepat panas, dan tubuh fisik yang terlalu mudah menua," lanjut Anton, menatap tajam ke seluruh penjuru ruangan.
Layar LED raksasa di belakang panggung menyala, menampilkan logo Aegis Medica yang berkilau emas.
"Malam ini, bersama Nona Elena, saya tidak akan menjual janji manis tentang masa depan. Saya membawa masa depan itu ke hadapan Anda sekarang juga."
Anton memberi isyarat tangan. Dua asisten cantik bergaun merah membawa sebuah kotak kaca transparan ke atas panggung. Di dalamnya, terdapat sebotol kecil cairan berwarna biru kristal yang memancarkan cahaya redup.
"Perkenalkan, Aegis Cell-Regen," ucap Elena mengambil alih mikrofon dengan suara lantang dan penuh percaya diri.
"Ini bukan sekadar suplemen. Ini adalah hasil ekstraksi bioteknologi modern dari resep medis kuno yang telah hilang selama ratusan tahun. Satu tetes cairan ini mampu mempercepat regenerasi sel tubuh manusia hingga tiga kali lipat, membalikkan penuaan, dan memulihkan fungsi organ vital."
Gumam terkejut langsung meledak di antara para tamu undangan.
"Membalikkan penuaan? Itu mustahil!"
"Apakah ini penipuan? Bagaimana mungkin ilmu pengetahuan kita sudah mencapai tahap itu?"
Melihat keraguan di mata para taipan tua, Anton tersenyum tipis.
"Saya tahu klaim ini terdengar tidak masuk akal. Karena itu, malam ini kami hanya memproduksi seratus botol untuk angkatan pertama. Harga satu botol adalah satu miliar rupiah," tantang Anton.
Satu miliar untuk satu botol kecil! Angka itu membuat beberapa orang menelan ludah.
"Tetapi," potong Anton sebelum ada yang protes, "Bagi siapa pun yang membelinya malam ini, kami memberikan garansi uang kembali seratus persen jika dalam waktu 24 jam Anda tidak merasakan tubuh Anda sepuluh tahun lebih muda. Saya, Anton, dan Star Technology menjadi jaminannya."
Mendengar nama Star Technology yang sedang merajai pasar teknologi, keraguan para taipan itu langsung runtuh.
"Saya ambil sepuluh botol!" teriak seorang konglomerat tambang dari barisan depan sambil mengangkat tangannya tinggi-tinggi.
"Saya pesan dua puluh botol! Jangan ada yang merebutnya!" sahut seorang CEO properti tua yang sudah lama menderita penyakit komplikasi.
Hanya dalam waktu kurang dari lima menit, seratus botol Aegis Cell-Regen ludes terjual. Dana segar seratus miliar rupiah masuk ke rekening Aegis Medica semudah membalikkan telapak tangan.
Elena menatap Anton dengan mata berbinar penuh kekaguman. Pemuda ini bukan hanya seorang jenius teknologi, tapi juga dewa pemasaran yang tahu persis bagaimana memanipulasi hasrat dan ketakutan manusia akan kematian.
Sementara itu, di sudut ruangan yang gelap, Marco Surya berdiri dengan wajah sepucat mayat.
Keringat dingin membasahi seluruh kemejanya. Dia baru saja menyaksikan bagaimana Anton mencetak seratus miliar hanya dengan berbicara beberapa menit di atas panggung.
Namun, bukan itu yang membuat Marco ketakutan setengah mati.
Kata-kata bisikan Anton beberapa menit yang lalu terus terngiang di kepalanya. "Besok pagi, giliran asetmu yang akan aku ambil alih."
Drrt. Drrt.
Ponsel di saku jas Marco bergetar hebat. Panggilan dari ayahnya, Direktur Utama PT Surya Mikro.
Dengan tangan gemetar, Marco mengangkat telepon itu.
"H-halo, Ayah?" sapa Marco pelan.
"MARCO! APA YANG KAU LAKUKAN BAJINGAN TOLOL?!" Suara ayahnya menggelegar dari seberang telepon, diiringi suara sirine polisi yang meraung-raung di latar belakang.
"A-ada apa, Ayah? Aku sedang di acara—"
"KANTOR KITA DIGEREBEK MABES POLRI! Seseorang membocorkan seluruh data transaksi gelap kita ke internet! Bukti transfer lima ratus juta ke geng Macan Besi, data penggelapan pajak selama lima tahun, semuanya bocor dari server internal kita yang tidak bisa ditembus siapa pun!"
Napas Marco tercekat. Kakinya lemas hingga ia nyaris jatuh berlutut.
Penggelapan pajak? Bukti transfer? Pemuda bernama Anton itu benar-benar melakukannya! Dia tidak sedang menggertak!
"Saham kita di bursa efek langsung dibekukan malam ini juga! Kurator bank sedang dalam perjalanan untuk menyita aset pribadi kita! Cepat kabur ke bandara sebelum polisi menemukanmu!"
Klik. Telepon terputus.
Marco menjatuhkan ponselnya ke lantai berlapis karpet tebal itu. Matanya menatap kosong ke arah panggung, tempat Anton sedang berdiri menerima tepuk tangan meriah dan sanjungan dari para pejabat negara.
Perbedaan di antara mereka berdua malam ini bagaikan langit dan bumi. Anton sedang dinobatkan sebagai dewa baru ibu kota, sementara Marco dan keluarganya baru saja dilempar ke dasar neraka.
Anton, dari atas panggung, melirik sekilas ke arah sudut ruangan tempat Marco berada.
Dengan menggunakan Penglihatan Tembus Pandang Tingkat 2, Anton bisa melihat ponsel Marco yang terjatuh, dan mengonfirmasi bahwa email berantai yang ia jadwalkan untuk dikirim ke kepolisian lima menit yang lalu telah bekerja dengan sempurna.
"Satu lagi hama yang berhasil disingkirkan," batin Anton tersenyum puas.
Ting.
Suara mekanis bergema di dalam kepala Anton.
[Sistem Log: Ancaman dari PT Surya Mikro telah dilenyapkan.]
[Misi Sampingan 'Pembersihan Kompetitor' selesai.]
[Hadiah: Uang tunai senilai Rp 50.000.000.000 telah ditransfer ke rekening rahasia luar negeri Host melalui jalur pencucian uang legal sistem.]
[Hadiah Tambahan: Desain Cetak Biru Baterai Quantum Generasi 1 ditambahkan ke dalam inventaris pikiran.]
Mata Anton sedikit melebar mendengar hadiah tambahan tersebut.
Baterai Quantum? Jika Star-Core 1 merevolusi kecepatan prosesor, maka Baterai Quantum akan merevolusi industri kendaraan listrik dan energi global!
Pesta peluncuran malam itu berakhir dengan kemenangan absolut bagi Anton dan Elena.
Ketika para tamu mulai pulang dengan kepuasan masing-masing, Anton dan Elena berdiri di balkon VVIP hotel, menatap gemerlap lampu ibu kota dari ketinggian.
"Kau luar biasa malam ini, Anton," ucap Elena lembut, berdiri sangat dekat di samping Anton. Angin malam meniup rambut panjangnya, membawa aroma parfum mewah yang memabukkan.
"Keuntungan bersih kita malam ini melebihi target tahunan perusahaanku sebelumnya."
Anton menoleh, menatap mata Elena yang berbinar di bawah cahaya bulan.
"Ini baru permulaan, Elena. Sebentar lagi, kita tidak hanya akan menguasai pasar farmasi dan sirkuit elektronik."
Anton mengalihkan pandangannya kembali ke hamparan gedung pencakar langit.
"Kita akan menguasai energi yang menghidupkan kota ini."
Era monopoli sang miliarder dengan mata dewa, baru saja membuka lembaran barunya yang paling mengerikan.