NovelToon NovelToon
Di Buang Keluarga,Di Pungut Tuan Mafia

Di Buang Keluarga,Di Pungut Tuan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / CEO
Popularitas:8.3k
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

Suara tangisan bayi di ruang bersalin malam itu tidak membawa kebahagiaan bagi Husein. Bagi pria itu, jeritan napas pertama putri kecilnya adalah detik terakhir dari hembusan napas wanita yang paling dicintainya. Istrinya mengembuskan napas terakhir tepat setelah merenggang nyawa demi melahirkan sang buah hati.

​"Namanya... Kirana Husein..." bisik Husein dengan suara bergetar, memeluk tubuh istrinya yang telah mendingin tanpa sedikit pun menatap bayi di dalam boks bayi.

​Sejak hari itu, Kirana tumbuh bukan sebagai lambang cinta, melainkan sebagai bayangan duka yang teramat dalam bagi Husein. Setiap kali melihat wajah polos Kirana, yang terbayang di benak Husein hanyalah penderitaan dan kepergian istrinya. Rasa benci yang tidak adil mulai mengakar di dada Husein. Bagi Husein, kehadiran Kirana adalah alasan utama mengapa belahan jiwanya telah tiada.

​Demi menjauhkan Kirana dari pandangannya, Husein mengirim putri tunggalnya itu ke sekolah asrama di tempat yang sangat jauh sejak usia K

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pengakuan Dan Lembar Baru

​Sementara itu, di kediaman keluarga Husein, suasana rumah yang megah berubah tegang. Suara dentuman pintu yang dibanting keras menggelegar saat Nara melangkah masuk dengan napas terengah-engah dan raut wajah yang membara oleh amarah.

​"Papa! mama! Keluar!" teriak Nara tak sabaran seraya melempar tas desainer mewahnya ke atas sofa.

​Husein yang sedang duduk santai di ruang keluarga sambil membaca berkas keuangan perusahaan bersama Murni tersentak kaget. Pria paruh baya itu membetulkan letak kacamatanya, menatap anak tirinya dengan dahi berkerut.

​"Ada apa, Nara? Kenapa berteriak-teriak begitu di rumah?" tegur Husein dengan nada lelah.

​Nara menghampiri mereka dengan langkah cepat, dadanya naik turun menahan kekesalan yang siap meledak. "Papa tahu tidak, tadi aku ketemu sama Kirana di supermarket!"

​Murni yang sedang menyesap teh hangatnya langsung meletakkan cangkirnya, tatapannya menajam. "Kirana? Gadis sialan yang sudah diusir semalam itu? Mau apa dia? Mengemis padamu?"

​"Bukan, Mama! Dia tidak mengemis!" seru Nara hysteris, lalu menghentakkan kakinya. "Dia... dia bersama seorang pria tampan dan sangat kaya! Pria itu pakai jas mahal, punya Black Card, dan membentakku di depan teman-temanku! Katanya... katanya Kirana itu istrinya! Istri sah dari pemilik Devan Corp!"

​Ruang keluarga itu mendadak hening sejenak.

​Husein menatap Nara, lalu detik berikutnya, sebuah tawa meremehkan keluar dari mulut pria itu. Ia menggelengkan kepalanya perlahan, menganggap ucapan anak tirinya hanyalah sebuah lelucon atau kebohongan murahan untuk mencari perhatian.

​"Hah! Mengarang cerita apa kau ini, Nara?" cemooh Husein sambil menyandarkan punggungnya di sofa dengan gaya santai. "CEO Devan Corp? Menikahi Kirana? Jangan bermimpi!"

​"Aku tidak bohong, Pa! Pria itu sendiri yang mengatakannya!" bela Nara dengan wajah memerah, frustrasi karena tidak dipercayai.

​"Dengar, Nara," potong Husein dengan suara penuh keangkuhan dan pandangan yang sangat meremehkan anak kandungnya sendiri. "Papa yang membesarkan Kirana. Dia itu tidak punya apa-apa, polos, dan sama sekali tidak punya daya tarik untuk pria kelas atas. Bagaimana mungkin seorang CEO terkenal dan berkuasa mau menikahi gadis biasa seperti Kirana?"

​Husein terkeh pelan, melipat kedua tangannya di dada. "Paling-paling itu cuma pria bayaran yang disewa Kirana untuk menakut-nakutimu, atau mungkin pria hidung belang yang kebetulan lewat. Devan Corp adalah konglomerat raksasa yang jangankan Kirana, kita saja susah untuk menembus jaringannya. Jangan biarkan gertakan sambal seperti itu membuatmu takut."

​Murni ikut tersenyum sinis sambil mengusap pundak anaknya. "Benar kata Papamu, Nara. Kirana itu sudah jadi sampah jalanan sekarang. Tidak usah dipikirkan lagi."

​Nara mengepalkan tangannya rapat-rapat. Meski ayah dan ibunya berusaha menenangkan, bayangan tatapan mata elang Devan yang dingin dan mengerikan di supermarket tadi masih terus menghantuinya—membuat sebuah firasat buruk perlahan mulai merayapi hatinya.

​Di saat kesombongan memenuhi kediaman keluarga Husein, mobil mewah Devan akhirnya memasuki pekarangan mansion yang megah dan tenang. Karpet salju yang menutupi pelataran membuat suasana terasa makin sunyi dan eksklusif.

​Pengawal membukakan pintu mobil dengan sigap. Devan turun terlebih dahulu, lalu mengulurkan tangannya pada Kirana. Kirana menerima uluran tangan hangat itu dengan perasaan yang jauh berbeda dibanding tadi pagi. Rasa cemas dan keterasingannya perlahan terkikis, berganti dengan rasa percaya pada pria yang kini berdiri kokoh di sampingnya.

​Mereka melangkah masuk ke dalam mansion. Devan menyerahkan kantong belanjaan cemilan Kirana kepada pelayan untuk dirapikan, lalu memimpin Kirana menuju ruang keluarga utama yang bernuansa hangat dengan perapian yang menyala lembut.

​Devan melepas jas mewahnya, menyampirkannya di sandaran sofa, lalu duduk berseberangan dengan Kirana. Mata elangnya menatap lembut ke arah gadis itu.

​"Bagaimana perasaanmu?" tanya Devan, memecah keheningan. "Adik tirimu tidak membuatmu takut lagi, kan?"

​Kirana menggeleng pelan, sebuah ukiran senyum tulus terpancar di wajah cantiknya. "Tidak, Devan. Justru... aku merasa lega. Selama ini aku selalu diam saat mereka merendahkanku. Tapi hari ini, melihat bagaimana kau membela dan memegang janji perlindunganmu... aku sadar kalau aku tidak lagi sendirian."

​Devan mengangguk pelan. "Mulai hari ini, tidak akan ada satu orang pun yang bisa menyentuhmu tanpa berhadapan denganku. Nama belakangku sekarang adalah perisaimu, Kirana."

​Kirana meremas jemarinya pelan, menatap Devan dengan mata jernihnya yang penuh kepolosan. "Tapi Devan... kenapa kau melakukan semua ini? Kenapa kau memilih mendaftarkan pernikahan ini secara sah dan melindungiku seperti ini, padahal kita baru saja bertemu?"

​Devan menyandarkan punggungnya, menatap lurus ke dalam iris mata Kirana dengan kedalaman yang tak terukur.

​"Karena aku melihat keteguhan di matamu saat kau berada di titik terendah," jawab Devan dengan suara bernada rendah yang mantap. "Dan aku tidak pernah salah menilai seseorang. Kau bukan sekadar gadis yang tersesat di tengah badai, Kirana. Kau adalah takdir yang memang seharusnya berada di sisiku."

​Mendengar pengakuan itu, dada Kirana berdesir hangat. Di tengah dinginnya kota dan kejamnya pengkhianatan keluarga kandungnya sendiri, ia akhirnya menemukan sebuah rumah—sebuah tempat di mana ia tidak lagi dianggap sebagai beban, melainkan sebagai seorang yang berharga

1
Ariany Sudjana
puji Tuhan, hubungan Kirana dan Husein sudah membaik
Ariany Sudjana
hahaha Nara mana mau hidup susah? pasti ga beda sama murni, jadi pelacur murahan buat laki-laki kaya raya 🤣🤣😂😂
Waaaaaa_
😍😍😍😍
Ariany Sudjana
puji Tuhan, hubungan Kirana dan Husein juga dipulihkan
Ariany Sudjana
bagus Kirana, jangan ragu dan takut, Devan mendukung semua keputusan kamu, sekarang tinggal tunggu apakah Husein berkomitmen untuk memenuhi syarat itu
Ariany Sudjana
hahahaha mampus kamu murni, karena kesombongan kamu, perusahaan suami kamu bangkrut dan kalian siap-siap jadi gembel 😂😂🤣🤣
Ariany Sudjana
puji Tuhan, congrats yah Devan and Kirana 😄🙏
Waaaaaa_: Makasih kak suport nya dari awal😍
total 1 replies
Ariany Sudjana
puji Tuhan, congrats yah Kirana dan Devan
Ariany Sudjana
puji Tuhan, congrats yah Kirana 😄🙏
Ariany Sudjana
ah ga seru, kirain si pelacur murahan dan preman itu akan diselesaikan dengan cara dunia bawah, malah dikasih ke aparat hukum
Ariany Sudjana
ga seru ini, kok Kirana dengan bodohnya langsung minum begitu saja, tanpa curiga sedikitpun. tadinya sih berharap Kirana membongkar kejahatan Siska di depan dewan direksi, tapi malah Siska yang menjebak Kirana, dan bodohnya Kirana masuk dalam jebakan itu. katanya Devan mengawasi, tapi masak Siska bisa menjalankan rencana tersebut, tanpa hambatan?
Ariany Sudjana
hah? Kirana kok langsung minum begitu saja? tanpa curiga sama sekali? bodoh sekali ya
Ariany Sudjana
semangat yah Kirana, dengan dukungan suami kamu, tunjukkan kamu itu perempuan baik-baik, cerdas dan mandiri, dan kamu tunjukkan kamu jauh lebih berkelas daripada si pelacur murahan Siska itu
𝓮𝓵𝓯𝓪𝓷𝓪𝔂𝓪 ₳ⱤⱤ₣₳₳ 🕸🌪
tunjukkan pd keluarga mu klo kamu bisa berdiri di atas kakimu sendiri...semangat kirana
Ariany Sudjana
semangat yah Kirana untuk memulai hari baru, bekerja di Devan corp. tunjukkan kamu perempuan baik-baik, cerdas dan mandiri
Ariany Sudjana
bagus Devan, kamu tidak salah memilih istri, Kirana itu perempuan tangguh dan mandiri, dan tugas kamu melindungi Kirana dan menghancurkan keluarganya yang ga tahu diri itu
𝓮𝓵𝓯𝓪𝓷𝓪𝔂𝓪 ₳ⱤⱤ₣₳₳ 🕸🌪
kamu gk boleh lemah di depan mereka, kamu harus jd wanita tangguh dan balas perbuatan mereka
Ariany Sudjana
jangan takut Kirana, kamu harus bangkit dan kalahkan orang-orang yang ga tahu diri itu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!