NovelToon NovelToon
Sebuah Janji Di Balik Rindu

Sebuah Janji Di Balik Rindu

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Tamat
Popularitas:596
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​Saat Azka berbalik untuk menuju kelasnya sendiri, langkahnya mendadak terhenti. Di ujung koridor yang ramai, seorang murid baru berdiri memegang peta denah sekolah. Rambutnya sebahu, matanya bulat jernih—persis seperti mata bocah yang dulu suka duduk di dahan kamboja.

​Gadis itu menoleh. Pandangan mereka bertabrakan.

​Waktu seolah berhenti. Suara bising siswa-siswi yang lalu-lalang mendadak senyap di telinga Azka.

​"Azka...?" bisik gadis itu. Suaranya bergetar, memanggil nama yang selalu ia simpan rapi dalam doanya selama tiga tahun terakhir.

​"Anggi?" suara Azka nyaris tak keluar.

​Anggi tersenyum lebar, matanya berkaca-kaca. Ia melangkah maju dengan binar kebahagiaan yang tak mampu dibendung. Tiga tahun menunggu, pindah kembali ke kota ini, dan akhirnya takdir membawanya tepat ke hadapan laki-laki yang memegang janjinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menjelang Hari H

​Sheila menatap dalam-dalam manik mata Azka, mencari kesungguhan dari tiap penuturan cowok di hadapannya itu. Angin sore berembus pelan membelai wajah mereka berdua di balik gedung belakang kelas.

​"Kamu beneran udah nggak mikirin Anggi lagi?" tanya Sheila pelan, menuntut kepastian mutlak yang tak bisa ditawar lagi.

​Azka menggenggam kedua jemari Sheila, menatapnya tanpa ragu sedikit pun. "Iya, beneran. Di pikiran aku sekarang cuma ada kamu, She. Aku nggak mau kehilangan orang yang udah nemenin aku selama tiga tahun ini."

​Raut wajah Sheila yang tadinya tegang dan dingin perlahan melembut. Dinding pertahanan yang ia bangun sejak semalam akhirnya runtuh juga melihat raut penyesalan di wajah kekasihnya.

​"Iya, bener sayang... oke deh, aku maafin," ucap Sheila akhirnya dengan senyum tipis yang mengembang.

​Tanpa membuang waktu, Sheila langsung melangkah maju dan memeluk erat tubuh Azka. Azka menghela napas lega yang amat dalam, melingkarkan kedua tangannya di pinggang Sheila dan mendaratkan dagunya di bahu cewek itu. Rasa cemas yang menghantuinya sejak semalam perlahan sirna.

​Setelah beberapa saat saling melepaskan rindu dan ketegangan, Sheila melepas pelukannya lalu tersenyum manis. "Yaudah, yuk balik ke antrean. Nanti kostum adat kita keburu kehabisan atau dapet yang ukuran nggak pas."

​"Yuk," balas Azka seraya merangkul pelan pundak Sheila.

​Keduanya berjalan kembali menuju sekretariat OSIS dengan bergandengan tangan. Di barisan antrean yang masih cukup panjang, mereka kembali bergabung untuk mengambil setelan kostum adat couple yang akan mereka kenakan di acara pawai nanti—mencoba menata kembali serpihan hubungan tiga tahun mereka yang sempat retak.

​Setelah mengantre cukup lama di tengah sesaknya lorong sekretariat OSIS, Azka dan Sheila akhirnya mendapatkan setelan kostum adat couple mereka. Dengan senyum yang kembali mengembang di wajah Sheila, mereka berdua berjalan beriringan menyusuri koridor menuju kelas.

​Masing-masing dari mereka memegang garment bag berisi pakaian adat yang akan dikenakan untuk perayaan besar sekolah. Rasa canggung yang sempat membentang di antara mereka perlahan menguap, digantikan oleh kehangatan hubungan tiga tahun yang berusaha mereka rajut kembali.

​Hari itu berlalu dengan cepat. Suasana sekolah kian riuh dan dipenuhi antusiasme menyambut perayaan 17 Agustusan. Banner, umbul-umbul merah putih, serta berbagai hiasan daerah sudah mulai terpasang rapi di seluruh penjuru kompleks sekolah.

​Lusa adalah hari yang paling ditunggu-tunggu seluruh siswa: Karnaval Budaya HUT RI.

​Dua hari kemudian, suasana pagi di lingkungan sekolah tampak sangat berbeda dari biasanya. Sejak pukul enam pagi, lapangan utama sudah dipenuhi ratusan siswa yang tampil memukau dengan beragam pakaian adat dari berbagai daerah di Indonesia. Warna-warni kain tenun, kebaya, hingga hiasan kepala nan megah menyemarakkan area sekolah.

​Di sudut area persiapan dekat panggung, Anggi berdiri anggun mengenakan busana adat pilihan OSIS. Riasan tipis yang membalas wajah ayunya dipadukan dengan mahkota kecil di kepalanya, membuat siapapun yang melintas terpana menatapnya.

​Dari arah ruang panitia, Zayan melangkah mendekat dengan pakaian adat yang senada. Balutan busana yang gagah membuat wibawa sang Ketua OSIS makin terpancar. Saat matanya menangkap sosok Anggi, langkah Zayan terhenti sejenak, diiringi senyum hangat yang langsung terbit di wajahnya.

​"Anggi," sapa Zayan lembut. "Kamu... kelihatan cantik banget hari ini."

​Pipi Anggi seketika merona merah mendengar pujian jujur tersebut. "Makasih, Kak Zayan. Kakak juga gagah banget."

​Sementara itu, tak jauh dari posisi mereka berdiri, Azka dan Sheila yang juga sudah mengenakan pakaian adat couple baru saja memasuki area panggung utama. Mata Azka sempat tak sengaja menangkap keanggunan Anggi di samping Zayan. Namun, mengingat janjinya pada Sheila, Azka dengan cepat memalingkan pandangan dan mempererat genggaman tangannya pada Sheila.

​Deru musik marching band sekolah mulai terdengar nyaring, menandakan barisan karnaval akan segera diberangkatkan.

1
Lisa
Udh ending y Kak ? ceritanya bagus banget..👍
Lisa: 😊 gitu y Kak..kita tunggu karya selanjutnya y Kak..
total 2 replies
Lisa
Bahagia selalu y Anggi..
Lisa
Congratz y Anggi..semangat & sukses yaa 🙏
Lisa
👍 semangat Anggi utk menyongsong masa depan..
Lisa
Semangat y Anggi 💪
Lisa
Kayaknya Anggi bakal balik sama Azka lg nih .
Lisa
Ternyata Zayan selingkuh nih 🤭
Lisa
Congratz y Anggi..sukses y utk langkah selanjutnya 👍
Lisa
Aku mampir Kak
Waaaaaa_: Terimakasih😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!