“Rangga Dewantara Aldebaran menguasai sekolah ini, tapi Keisha Zahra Aurellia menguasai jantungnya.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scrpn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Bab 5: Bayangan di Balik Pintu Gelap
Aroma khas tembakau lembut bercampur wangi sabun mandi pria langsung menyelimuti indra penciuman Keisha saat punggungnya menubruk dada bidang seseorang di dalam ruangan yang temaram itu. Telapak tangan besar yang tadinya membungkam mulutnya kini perlahan melonggar, membiarkan gadis itu menarik napas panjang untuk mengisi paru-parunya yang sempat kekurangan oksigen akibat berlari tadi.
Ruang penyimpanan barang bekas itu sangat sempit dan pengap. Debu tipis berterbangan di udara, tersorot oleh secercah cahaya matahari yang lolos dari celah ventilasi atas. Di luar ruangan, sayup-sayup terdengar suara langkah kaki berlari tergesa-gesa disusul oleh suara napas memburu milik anggota geng Viper yang sedang mencari mangsa.
"Mereka kelewatan..." bisik suara berat Rangga tepat di dekat telinga kiri Keisha, begitu dekat hingga hembusan napas hangat pria itu menyentuh kulit lehernya.
Keisha tidak berani bergerak sedikit pun. Jantungnya berdegup kencang seolah ingin melompat keluar dari rongga dadanya. Bukan hanya karena ketakutan setengah mati pada kejaran musuh di luar sana, melainkan karena jarak fisik di antara mereka yang terasa terlalu intim di dalam ruangan sekecil ini. Tangan kiri Rangga masih menahan dinding di samping kepala Keisha, sementara tangan kanannya memegang pergelangan tangan gadis itu untuk memastikan tidak ada gerakan ceroboh yang bisa menimbulkan suara.
"Sial, tadi cewek itu lari ke arah sini kan?" suara berat seorang pria terdengar dari balik pintu kayu tua yang hanya tertutup setengah.
"Cek ruangan itu! Jangan sampai lolos!" sahut suara kedua yang terdengar semakin mendekat.
Keisha menahan napasnya rapat-rapat. Air mata ketakutan kembali menggenang di pelupuk matanya. Jika mereka sampai membuka pintu ini, habis sudah riwayatnya. Ia meremas ujung jaket kulit hitam milik Rangga yang masih ia kenakan, mencari pegangan di tengah kepanikan yang mencengkeram.
Merasakan ketakutan hebat dari tubuh mungil yang gemetar di hadapannya, tatapan mata kelam Rangga berubah tajam. Rahangnya mengeras seketika. Tanpa mengalihkan pandangan dari celah pintu, tangan kanan Rangga yang tadinya memegang pergelangan tangan Keisha perlahan turun, menggenggam jemari kecil gadis itu dengan erat—bukan untuk menyakiti, melainkan memberikan sebuah genggaman penenang yang anehnya berhasil meredakan sebagian besar rasa panik di dada Keisha.
Kriet...
Suara gerit pintu yang ditarik pelan dari luar membuat darah Keisha seolah berhenti mengalir. Seseorang di luar sana mulai mendorong daun pintu ruang penyimpanan tersebut!
Rangga bergerak cepat. Dengan satu gerakan sigap, ia menarik tubuh Keisha semakin rapat ke sudut ruangan, menutupi seluruh sosok gadis itu dengan postur tubuhnya yang tinggi dan tegap, sehingga jika ada yang membuka pintu, yang pertama kali terlihat hanyalah punggungnya yang membelakangi ruangan.
Pintu terbuka selebar setengah meter. Cahaya terang dari koridor langsung menerobos masuk, menyinari sebagian sepatu bot hitam milik anggota Viper yang berdiri di ambang pintu.
"Woi! Siapa di dalam?" panggil suara asing itu dengan nada mengintimidasi, mengedarkan pandangan ke dalam ruangan yang tampak gelap dan penuh tumpukan kardus serta meja rusak.
Rangga perlahan menolehkan kepalanya ke belakang lewat bahunya, menatap tajam ke arah penyusup tersebut dengan sorot mata sedingin es yang mampu membekukan darah siapa pun yang melihatnya.
Pria anggota Viper yang membuka pintu itu langsung terkesiap kaget saat melihat siapa yang berdiri di dalam ruangan gelap tersebut. Nyali pria itu langsung ciut seketika. Menghadapi ketua Black Raven di tempat sempit tanpa persiapan adalah sebuah bentuk bunuh diri.
"Ra... Rangga?" cicit pria itu dengan suara bergetar ketakutan.
"Nggak usah cari masalah di wilayah kekuasaan gua, atau lo bakal pulang tinggal nama," desis Rangga rendah, suaranya tidak terlalu keras namun sarat akan ancaman kematian yang mutlak.
Anggota Viper itu menelan ludah susah payah, mundur dua langkah ke belakang dengan gemetar. "S-s-sori, Bos. Kita cuma... cuma nyari udara segar."
"Pergi dari sini sebelum gua patahin tangan lo sekarang juga," bentak Rangga tajam.
Tanpa membuang waktu sedetik pun, pria itu langsung membanting pintu rapat-rapat dan berlari terbirit-birit bersama temannya menjauhi area sayap timur lantai dua.
Suara langkah kaki yang berlari menjauh itu akhirnya benar-benar hilang di ujung koridor, menyisakan kesunyian yang mencekam di dalam ruang penyimpanan.
Keisha menghembuskan napas beratnya perlahan, melumerkan seluruh ketegangan di sekujur tubuhnya. Kakinya terasa lemas seketika, dan jika saja Rangga tidak sigap menahan sebelah bahunya, ia pasti sudah merosot jatuh ke lantai berdebu itu.
"Udah... mereka udah pergi," ucap Rangga pelan, nadanya tidak lagi sedingin tadi saat menghadapi musuh. Ia menatap wajah Keisha yang tampak pucat pasi dengan keringat dingin membasahi pelipisnya.
Keisha mendongak perlahan, menatap manik mata kelam pria di hadapannya. Suara isakan kecil akhirnya lolos dari bibirnya, rasa takut yang tertahan sejak tadi kini tumpah bersamaan dengan debaran jantung yang belum juga normal. "M-mereka... mereka ngincer aku, Kak... Aku takut..."
Melihat air mata yang hampir tumpah di pipi gadis itu, pertahanan dingin seorang Rangga Dewantara Aldebaran runtuh seketika. Tanpa sadar, tangan kirinya terulur untuk menghapus jejak air mata di pipi Keisha dengan ibu jarinya secara sangat lembut—sebuah kelembutan yang tidak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun di dunia ini.
Keisha terpaku, terbuai sejenak oleh sentuhan hangat yang kontras dengan reputasi sang ketua geng jalanan.
"Gua udah bilang kan?" bisik Rangga dengan suara serak yang begitu dekat. "Selama lo ada di dekat gua, dan selama jaket itu ada di badan lo... tidak ada satu pun orang dari Viper yang berani menyentuh lo seujung kuku pun."
Keisha menelan ludahnya, merasakan gelombang perasaan asing yang bergemuruh di dadanya—rasa aman, takut, bingung, dan debaran aneh yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya. Di balik sosok berandalan yang ditakuti seluruh sekolah, pria di hadapannya ini justru berdiri sebagai perisai paling kokoh yang melindunginya dari bahaya nyata.
Dan pada detik itu, di dalam ruang penyimpanan yang gelap dan penuh debu, Keisha menyadari satu hal: dunianya yang lurus dan tenang telah benar-benarjungkir balik, terseret selamanya ke dalam orbit sang penguasa malam.