NovelToon NovelToon
Ranjang Panas Preman Kampus

Ranjang Panas Preman Kampus

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Bad Boy / Tamat
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: El khiyori

#tamat
Follow Instagram jane_marry03
Bara Adikara, tumbuh dengan kebencian setelah perselingkuhan ayahnya. Ibunya meninggal dan hidupnya hancur. Ia akan terus disiksa jika tak mau menurut pada peraturan sang ayah. Begitu dewasa, Bara pun menjelma menjadi sosok yang keras dan dingin. Ia berpura-pura menjadi pecundang bodoh yang tak peduli pada semuanya. Tanpa seorangpun tahu kalau sebenarnya Bara sedang merencanakan sebuah balas dendam. Ia akan merebut semua milik ibunya, rumah dan perusahaan. Selain itu, ia juga akan menghancurkan wanita yang sudah membuat keluarganya hancur, dengan memanfaatkan anaknya. Andrea Willona, gadis itu akan Bara hancurkan, tapi disaat hati mulai ikut campur, benarkah semua akan tetap pada alurnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El khiyori, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

Tujuh bulan akhirnya berlalu dengan cepat, melipat semua kenangan masa lalu menjadi lembaran sejarah yang seharusnya sudah terkubur.

Bara berdiri di depan cermin raksasa di kamar penthousenya, merapikan setelan jas buatan penjahit ternama Italia. Malam ini adalah malam yang telah ia rancang sejak lama. Pesta makan malam privat di restoran bintang lima, tempat ia akan menyematkan cincin berlian bernilai miliaran rupiah ke jari Angel.

Pertunangan ini adalah titik puncak dari kejayaannya. Menikahi putri tunggal dari keluarga konglomerat rekan bisnis utamanya yang akan semakin mengukuhkan posisinya di puncak piramida kekuasaan.

Untuk sekarang Angel adalah pilihan yang paling tepat menurut Bara. Ia akan mendapatkan banyak keuntungan dengan kerjasama yang dilakukan bersama keluarga Angel. Selain itu, Angel juga memiliki reputasi yang sangat baik. Dia pintar dan sangat menjaga pergaulannya dengan orang-orang papan atas.

Dendamnya juga sudah tuntas. Hartanya melimpah. Wanitanya anggun dan setara. Bara seharusnya berada di puncak kebahagiaan sebagai seorang pria.

Namun, saat ia menatap pantulan dirinya sendiri di cermin, mata elangnya tampak redup. Ada kehampaan yang menganga di dalam dadanya. Sebuah rongga kosong yang ironisnya tidak bisa diisi oleh deretan angka di rekening bank atau tepuk tangan para pengusaha.

Selama tujuh bulan terakhir, Bara memaksa dirinya untuk mematuhi satu aturan, yaitu berhenti mencari tahu tentang Andrea. Ia telah membakar laporan terakhir anak buahnya, memecah fokusnya pada ekspansi bisnis, dan meyakinkan dirinya sendiri bahwa gadis itu hanyalah serangga kecil yang kebetulan pernah terinjak oleh langkah besarnya.

Tapi malam ini, ketika kotak beludru berisi cincin permata yang diselipkan di dalam saku jasnya, bayangan mata bening Andrea yang menatapnya penuh cinta di malam temaram itu mendadak menghantam ingatannya tanpa ampun.

Rasa gelisah yang teramat asing dan liar tiba-tiba mencengkeram dadanya. Deru napasnya memburu. Tanpa sadar, Bara berbalik, melangkah lebar keluar dari restoran bintang lima yang sudah ia pesan, mengabaikan panggilan telepon dari Angel yang memintanya segera datang.

Saat ini Bara justru sedang memacu mobil sport-nya membelah hujan yang mulai mengguyur kota, melaju kencang menuju ke sebuah jalan kecil di pinggiran kota yang sudah tujuh bulan ini menghiasi pikirannya secara diam-diam.

Toko bunga Florist beraroma tanah basah dan kelopak mawar segar. Lampu gantung bernuansa hangat menerangi ruangan kecil yang tenang itu.

Dering bel di atas pintu kaca berdenting halus saat Bara melangkah masuk. Postur tubuhnya yang tinggi tegap, dipadukan dengan setelan jas mewahnya, membuat toko bunga sederhana itu mendadak terasa begitu sempit.

"Selamat datang di toko bunga Florist, ada yang bisa saya ban ... tu .... "

Kalimat itu terputus karena sesuatu yang mendebarkan sedang terjadi.

Sesaat kemudian seorang wanita keluar dari ruangan belakang sambil membawa seikat bunga krisan putih. Langkahnya terhenti sejenak, namun bukan karena terkejut atau panik.

"Andrea .... "

Bara membeku di tempatnya. Matanya yang tajam langsung terkunci pada satu titik. Pandangannya meluncur turun dari wajah Andrea yang tampak semakin tirus, melewati lehernya, hingga hinggap di bagian tengah tubuh gadis itu.

Di balik apron kain berwarna krem yang terikat melingkar di tubuhnya, tampak perut Andrea yang buncit. Sebuah tanda bahwa ada kehidupan yang telah berkembang di dalam sana. Kehamilan yang sudah memasuki usia tua.

Jantung Bara seolah berhenti berdetak. Napasnya seperti tertahan di tenggorokan.

Bara bukan pria bodoh. Ia menghitung bulan. Ia mengingat malam itu, malam panas yang liar di mana ia mencicipi kepolosan Andrea tanpa pengaman sama sekali, malam yang ia gunakan sebagai senjata psikologis untuk mengunci mulut gadis itu.

"Apa jangan-jangan itu adalah anakku," bisik Bara dalam hati.

Darah di dalam tubuh Bara mendidih seketika. Perpaduan antara syok, ketakutan, dan rasa kepemilikan meledak di benaknya. Ia bersiap menghadapi ledakan emosi. Bara bersiap jika Andrea akan menuduhnya, menangis, melemparkan bunga ke wajahnya, atau mengusirnya sambil meraung-raung dan menyebutnya iblis tak berperasaan.

Namun, reaksi Andrea justru menghantam Bara jauh lebih keras daripada tamparan apa pun.

Andrea hanya berkedip pelan. Tidak ada binar terkejut di matanya. Tidak ada gemetar di tangannya. Wajahnya begitu datar, sedingin es, bagaikan menatap orang asing yang kebetulan lewat di depan tokonya.

Gadis itu melanjutkan langkahnya, meletakkan seikat krisan ke atas meja kasir dengan gerakan anggun dan tenang.

"Ada yang bisa saya bantu?" suara Andrea mengalir tenang, begitu profesional. "Mencari bunga untuk kekasih, atau untuk acara formal?"

Pertanyaan itu membuat Bara mengepalkan jemarinya kuat-kuat. "Andrea ...." suara pria itu parau, sarat akan tekanan. "Apa-apaan ini?"

Andrea mendongak, menatap lurus ke dalam mata Bara. Pandangannya begitu kosong, seolah Bara hanyalah bayangan tanpa wujud.

"Maaf, kenapa ya? Jika ingin memesan karangan bunga besar, sebaiknya bicaralah sendiri dengan pemilik toko ini. Dia masih ada di belakang. Akan aku panggilkan," ucap Andrea ramah, namun ada jarak tak kasatmata berukuran ribuan kilometer di antara mereka.

"Jangan berakting di depanku, Andrea!" bentak Bara. Suaranya meninggi, memecah ketenangan toko bunga yang sunyi. Langkahnya maju perlahan, memangkas jarak di antara mereka. "Perutmu ... anak siapa itu?!"

Andrea tidak mundur. Ia bahkan tidak berkedip saat Bara membentaknya. Dengan tenang, ia mengusap lembut perutnya yang membuncit di balik apron. Sebuah gestur naluri ibu yang penuh kasih sayang, namun di mata Bara, itu tampak seperti ejekan paling dingin.

"Ini anakku," jawab Andrea pelan. "Dan ini ... bukan urusan kamu. Jika tidak berniat membeli bunga, silahkan keluar dari toko, karena sebentar lagi kami mau tutup."

"Bukan urusanku?!" Bara tertawa sumbang, suara tawa yang sarat akan kemarahan yang meluap-luap. Egonya hancur berkeping-keping melihat betapa santainya gadis di depannya mengabaikan keberadaannya. "Kamu pikir aku tidak bisa menghitung, Andrea?! Kamu pikir aku bodoh?! Kamu menyembunyikan anakku di tempat kumuh ini?!"

Untuk pertama kalinya malam itu, Andrea menghela napas panjang. Bukan karena takut, melainkan karena lelah.

"Anakmu?" Andrea menatap Bara dengan ukiran senyum tipis yang teramat sinis. Sebuah senyuman yang belum pernah Bara lihat sebelumnya dari Andrea. "Pria hebat dan kaya raya seperti kamu ... punya anak dari wanita miskin dan hancur sepertiku? Jangan bercanda Tuan Bara Adikara .... "

Kata 'Tuan Bara Adikara' terucap dari bibir Andrea bagaikan belati yang diulas racun.

"Anak ini tidak punya ayah. Dia hanya anakku," lanjut Andrea. Suaranya tetap stabil tanpa getaran sedikit pun. "Tolong jangan mengotori kehidupan kami yang tenang. Kamu sudah mendapatkan semua yang kamu mau. Kamu juga sudah membuat ibuku gila, Kamu sudah menang. Jadi ... apalagi yang kamu inginkan?"

Bara menegang. Kemarahan yang tak terkendali meledak di dalam dadanya. Ia tidak tahan melihat tatapan tanpa beban dari Andrea. Ia tidak tahan ditatap seolah dirinya tidak lagi berarti!

BRAK ....

Bara memukul meja kasir kayu yang terletak di antara mereka. Matanya memerah, napasnya memburu bagai binatang buas yang terluka.

"Dengar, Andrea!" geram Bara. Suaranya rendah dan mengancam, jemarinya menunjuk tepat di depan wajah Andrea. "Kamu tidak berhak memutuskan ini sendirian! Kamu milikku, dan kalau darah dagingku ada di dalam perutmu, kamu tidak akan pernah bisa lari dariku!"

Andrea menatap tangan Bara yang menunjuknya, lalu perlahan kembali menatap mata pria itu. Tidak ada ketakutan. Hanya ada kedalaman rasa muak yang teramat sangat.

"Aku tidak pernah lari darimu" bisik Andrea pelan, namun setiap katanya menghantam tepat di jantung Bara. "Kamulah yang sudah membuangku."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!