Demi melindungi harga diri suaminya yang mandul, Larissa rela menanggung caci maki sebagai wanita mandul. Namun, pengorbanannya dibalas dengan surat cerai dan pengusiran kejam setelah sang suami memalsukan hasil medisnya demi bersanding dengan wanita lain.
Tiga tahun berlalu, dunia terguncang ketika Larissa bangkit sebagai istri dari CEO terkaya dan melahirkan dua anak yang sehat. Saat kebohongan masa lalu mulai terbongkar, giliran Larissa yang memegang kendali untuk membuat mantan suaminya merangkak dalam penyesalan seumur hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CHIBEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 - Badai Pasca Perjamuan
Keheningan di dalam mobil sedan hitam milik Bram malam itu terasa begitu mencekam. Begitu pintu mobil tertutup rapat di area parkir hotel, atmosfer di dalam kabin langsung berubah menjadi ruang interogasi yang pengap.
Bram mencengkeram kemudi dengan sangat kuat, hingga urat-urat di punggung tangannya menonjol tegang. Napasnya memburu kasar, memecah kesunyian malam yang dingin.
"Sialan! Benar-benar sialan!"
Brak!
Bram menggebrak setir mobil dengan tinjunya. Malam ini dia tidak hanya terluka, melainkan telah hancur lebur berkeping-keping di depan ratusan pasang mata jajaran pengusaha paling elite di ibu kota.
Diusir secara halus oleh petugas keamanan atas perintah langsung dari Bayu adalah tamparan paling hina yang pernah dia rasakan sepanjang hidupnya.
Dan yang paling membuatnya gila adalah kenyataan bahwa penyebab semua ini adalah Larissa, wanita yang selama lima tahun ini dia anggap sebagai sampah tidak berguna yang patut disembunyikan dari dunia.
Vera yang duduk di kursi penumpang sampingnya bergidik ngeri melihat ledakan amarah suaminya. Gaunnya kini tampak kusut, sewarna dengan wajahnya yang memucat pasi akibat menahan rasa malu dan panik.
Dia mencoba mengulurkan tangannya yang gemetar untuk menyentuh bahu Bram, berusaha menggunakan suara lembutnya yang biasa untuk meredam amarah suaminya.
"Mas Bram... tenang dulu, Mas. Tolong kendalikan emosimu," rintih Vera, suaranya terdengar bergetar.
"Bayu hanya sedang berlagak di depan media malam ini. Dia pasti tidak tahu apa-apa tentang kelakuan asli Larissa yang sebenarnya. Kita bisa mencari cara lain untuk menjelaskan—"
"Menjelaskan apa, Vera?!" bentak Bram, memutar tubuhnya dengan sentakan kasar hingga sepasang matanya yang memerah menatap Vera dengan murka.
"Kamu lihat sendiri kan bagaimana posisi Larissa di sana tadi? Dia bukan lagi buruh administrasi miskin yang bisa kita injak-injak! Dia memegang posisi kepala asisten utama! Dia yang menyaring proposal kita!"
Bram menunjuk wajah Vera dengan jarinya yang gemetar karena berang. "Dan kamu! Sebelum kita menikah, kamu selalu membanggakan koneksi bisnismu yang luas! Kamu bilang draf analisis operasional yang timmu susun bisa dengan mudah menembus kurator Megah Corp! Tapi apa kenyataannya malam ini? Relasi bisnismu itu sama sekali tidak berguna menghadapi Bayu! Kita justru dipermalukan seperti pengemis di depan para menteri!"
Vera tersentak mundur hingga punggungnya membentur pintu mobil. Jantungnya berdegup tidak karuan. Tuduhan kasar dari Bram mendarat tepat di titik terlemahnya.
Tapi ketakutan terbesar Vera malam ini bukan hanya soal kemarahan Bram, melainkan jadwal ke dokter kandungan yang dia tunda pagi tadi dengan alasan pingsan. Bom waktu tes kesuburan dari Ibu Maya masih berdetik, dan sekarang posisi Bram sebagai suaminya justru mulai meragukan kapabilitas dirinya.
"Mas... kenapa kamu malah menyalahkan aku?" tangis Vera pecah, kali ini bercampur dengan rasa frustrasi yang nyata.
"Aku sudah berkorban banyak untuk berdiri di sampingmu! Ini semua salah si mandul itu! Dia sengaja merancang ini untuk menghancurkan kita!"
Bram tidak membalas tangisan Vera. Dia menyalakan mesin mobil dengan sentakan kasar, lalu menginjak pedal gas dalam-dalam, membiarkan mobil mereka melesat membelah jalanan Jakarta dengan kecepatan tinggi.
Di dalam benaknya yang egois, sebuah retakan besar telah resmi tercipta dalam memandang istri barunya; pesona Vera kini mulai luntur, digantikan oleh bayangan keanggunan dingin Larissa yang malam ini berdiri di puncak tertinggi.
Keesokan harinya, badai pasca-perjamuan itu bergulir dengan efek domino yang jauh lebih mengerikan bagi Baskoro Konstruksi.
Pukul sepuluh pagi, ruang kerja Bram sudah dipenuhi oleh kepulan asap rokok dan tumpukan dokumen pembatalan kerja sama. Rumor mengenai insiden memalukan di gala dinner tadi malam menyebar dengan kecepatan yang tidak terbendung di kalangan asosiasi pengusaha.
Di dunia high society, reputasi adalah segalanya. Berita bahwa Bram Baskoro telah mempermalukan diri sendiri dan menyinggung langsung CEO tertinggi Megah Corp menjadi sinyal bahaya bagi para investor.
Kring! Kring!
Ponsel Bram di atas meja terus berdering tanpa henti. Bayu tidak perlu turun tangan untuk menghancurkan bisnis Bram, ekosistem bisnis Jakarta sendiri yang mengucilkan Baskoro Konstruksi demi mencari muka di hadapan Megah Corp.
"Halo, Pak Bram? Kami dari jajaran manajemen konsorsium investasi Artha Raya ingin mengonfirmasi bahwa kami memutuskan untuk menarik diri dari proyek subkontraktor di koridor timur," ujar sebuah suara di seberang telepon dengan nada formal yang dingin.
"Tapi, Pak! Dana talangan awal sudah kami alokasikan untuk pembelian material!" seru Bram dengan wajah yang panik setengah mati, keringat dingin membasahi kemeja kerjanya.
"Mohon maaf, Pak Bram. Komite audit kami menilai risiko tata kelola perusahaan Anda terlalu tinggi setelah mendengar perkembangan terbaru tadi malam. Selamat siang."
Tut... tut... tut...
Sambungan telepon terputus secara sepihak. Bram melempar ponselnya ke atas meja dengan frustrasi. Wajahnya kini tampak kaku menahan beban kehancuran yang sudah di depan mata.
Dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam, tiga investor utama telah menarik modal mereka secara simultan. Perusahaan yang dibangun oleh ayahnya bersama ibunya kini sedang berada di ambang kebangkrutan total, dan pelampung penyelamat mereka telah resmi tenggelam di ujung jari tangan mantan istrinya sendiri.
Di belahan kota yang lain, di dalam ruang kerja lantai tertinggi Megah Corp, atmosfer udara terasa begitu tenang, kontras dengan badai yang sedang menggulung keluarga Baskoro.
Bayu sedang duduk di balik mejanya, menatap beberapa berkas analisis pasar yang baru saja dirapikan oleh Larissa.
Larissa sendiri sedang berdiri tegak di sisi meja, memegang sebuah tablet kerja dengan postur tubuh yang tegak sempurna, tetap mempertahankan profesionalitasnya sebagai seorang asisten pribadi utama.
Bayu meletakkan pulpen emasnya, lalu menyandarkan punggungnya pada kursi. Sepasang mata elangnya menatap lekat-lekat pada wajah Larissa yang tampak begitu tenang pagi ini, seolah insiden drama di gala dinner semalam tidak memengaruhi ketenangan mentalnya sedikit pun.
"Bu Larissa," panggil Bayu, suaranya terdengar lebih rendah dan lembut daripada biasanya.
Larissa menundukkan kepalanya sedikit dengan hormat. "Ya, Pak Bayu? Ada yang perlu saya siapkan lagi untuk rapat siang ini?"
"Saya ingin berbicara empat mata dengan Anda mengenai kejadian semalam," ujar Bayu tegas, memberikan isyarat dengan tangan agar Larissa mendekat sedikit.
"Atas nama manajemen kesekretariatan Megah Corp, saya meminta maaf atas ketidaknyamanan yang disebabkan oleh kehadiran mantan suamimu dan istrinya di acara gala dinner tersebut. Protokoler kami kecolongan dalam menyaring undangan kelas dua."
Mendengar permintaan maaf yang jarang sekali keluar dari mulut seorang penguasa tertinggi seperti Bayu, Larissa justru menyunggingkan sebuah senyum yang sangat tipis di sudut bibirnya.
Dia menurunkan tablet kerjanya perlahan, lalu menatap langsung ke dalam manik mata Bayu.
"Anda tidak perlu meminta maaf, Pak," jawabnya dengan nada suara yang sangat tenang. "Bagi saya, momen semalam justru bukan sebuah ketidaknyamanan. Kejadian itu adalah sebuah konfirmasi yang sangat berharga bagi hidup saya."
Bayu menyipitkan matanya samar, tertarik oleh respons Larissa yang tidak biasa. "Konfirmasi seperti apa yang Anda maksud?"
Larissa menarik napas pendek, sepasang mata gelapnya berkilat memancarkan pendar kekuatan yang baru. "Melihat wajah pucat dan ketakutan mereka saat mengetahui posisi saya di samping Anda... itu membuat saya sadar. Saya tidak perlu lagi merasa takut atau terintimidasi oleh masa lalu saya bersama keluarga Baskoro. Mereka tidak lagi memiliki kekuatan apa pun untuk menyentuh saya. Rasa sakit yang mereka berikan selama ini... telah resmi berubah menjadi bahan bakar untuk pembalasan saya."
Bayu terdiam selama beberapa saat. Binar rasa kagum di dalam manik matanya kian pekat memancar. Ketangguhan mental dan cara berpikir Larissa dalam memanfaatkan situasi krisis adalah sesuatu yang sangat langka.
Wanita di hadapannya ini bukan lagi korban yang meratapi takdir, dia telah menjelma menjadi seorang predator yang sangat menawan di dalam lingkaran kekuasaannya.
Bayu perlahan berdiri dari kursi kerjanya. Tubuh tingginya melangkah mengikis jarak di antara mereka hingga aroma wewangian kayu cedar yang mahal dari tubuhnya kembali menguar pekat menyelimuti indra penciuman Larissa.
Bayu berdiri tepat satu langkah di depan Larissa, menundukkan kepalanya sedikit untuk mengunci fokus pandangan wanita itu di bawah dominasi auranya yang begitu kuat.
"Saya senang mendengar ketegasanmu, Larissa" ujar Bayu, untuk pertama kalinya dia menjatuhkan panggilan formal "Ibu" di dalam ruang kerja privat ini, memberikan kesan kedekatan yang begitu intim tanpa meninggalkan kesan berwibawa.
Bayu mengulurkan tangan kanannya, jemari kekarnya bergerak perlahan untuk merapikan sehelai rambut halus Larissa yang sempat terurai di dekat pelipisnya dengan kelembutan yang sangat protektif, sebuah gestur yang membuat seluruh urat saraf Lana mendadak menegang halus.
"Namun perlu kamu ingat," suara Bayu merendah hingga ke titik bariton yang paling dalam, menembus langsung ke dalam relung batin Larissa.
"Saya tidak akan membiarkan siapa pun merendahkan atau mengusik harga dirimu lagi di kota ini. Mulai hari ini, seluruh perimeter keamanan pribadimu dan Elang adalah prioritas tertinggi saya pribadi. Siapa pun yang berani menyentuhmu, berarti mereka sedang menantang seluruh kekuatan Megah Corp."
Kata-kata penuh perlindungan dan kepemilikan yang keluar dari bibir sang pria es itu seketika mendarat dengan getaran yang luar biasa dahsyat di dalam dada Larissa.
Bersambung
Emak suka cerita ini , tidak bertele- tele, alurnya runtut