Dalam hidupnya Arkana punya satu rasa penyesalan yang teramat sangat. Bahkan dia tidak tahu ketika berpisah dengan Kanaya, wanita itu sedang dalam keadaan hamil.
Sampai suatu hari Arkana bertemu kembali dengan Kanaya, mantan istrinya. Karena ingin menebus rasa bersalahnya, Arkana ingin rujuk dan membangun pernikahan yang sesungguhnya.
Namun, Kanaya yang masih menyimpan luka, enggan rujuk.
Apakah Arkana berhasil mendapatkan hati Kanaya kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
PLAK!
Arkana memukul mulut Sadewa refleks. Dia tidak suka jika ada yang bicara seperti itu.
Sadewa sampai memalingkan wajah karena kerasnya pukulan itu. Sudut bibirnya sedikit robek.
Ruangan mendadak sunyi..Hanya suara pendingin ruangan yang terdengar samar di antara napas berat keduanya.
Arkana membeku. Tangannya masih terangkat. Mata pria itu memerah.
"Jangan pernah ngomong seperti itu!" bentaknya dengan suara bergetar. "Kanaya tidak mati!"
Sadewa perlahan menoleh kembali. Bukannya marah, tatapannya justru dipenuhi rasa iba.
"Sudah lima tahun, Arka! Dan tidak ada kabar sedikitpun yang kita dapatkan."
Arkana mengepalkan kedua tangannya. "Dia masih hidup."
"Kamu yakin?" tanya Sadewa.
"AKU YAKIN!" ucap Arkana dengan keras.
Bentakan itu menggema memenuhi ruangan. Dada Arkana naik turun. Dia seperti orang yang sedang mempertahankan satu-satunya harapan yang tersisa dalam hidupnya.
Sadewa menghela napas panjang. "Aku cuma mengkhawatirkan kamu, Arka."
"Aku tidak butuh kekhawatiran siapa pun," balas Arkana ketus.
"Kamu butuh kenyataan."
Kalimat itu menghantam Arkana seperti palu godam. Pria itu langsung berdiri.
"Aku tidak peduli kenyataan seperti apa. Selama aku belum melihat jasadnya sendiri, aku akan tetap percaya Kanaya hidup."
Sadewa terdiam. Ada sesuatu dalam suara Arkana yang membuatnya tidak mampu membantah. Itu bukan sekadar keyakinan.
Itu keputusasaan. Keputusasaan seorang laki-laki yang kehilangan seluruh dunianya.
Setelah Sadewa pergi, Arkana kembali sendirian. Seperti lima tahun terakhir yang selalu dia jalani. Ruangan kantor yang luas itu tiba-tiba terasa sesak.
Di luar sana, semua orang menganggap hidupnya sempurna. Direktur utama termuda, kaya raya, tampan, berpengaruh, dan memiliki perusahaan yang berkembang pesat. Namun, tidak ada yang tahu bahwa setiap malam dia tidur bersama penyesalan. Dan setiap pagi dia bangun bersama rasa kehilangan.
Arkana berjalan menuju jendela besar kantornya. Lampu-lampu kota terlihat berkelap-kelip dari lantai tertinggi gedung itu. Begitu banyak manusia yang sedang menjalani hidup mereka. Begitu banyak pasangan yang sedang tertawa bersama. Begitu banyak keluarga yang sedang berkumpul. Sementara dirinya sendirian dan terasa kosong.
Pandangan Arkana jatuh pada bingkai foto yang tersimpan di rak kecil dekat meja kerja. Tangannya gemetar saat mengambil benda itu.
Foto itu sudah mulai kusam. Foto seorang perempuan yang sedang berdiri di sampingnya, Kanaya. Wanita sederhana yang pernah dia sakiti dengan begitu kejam.
Arkana mengusap wajah dalam foto itu menggunakan ibu jarinya dengan perlahan dan penuh kerinduan.
"Maafkan aku, Aya."
Suara Arkana begitu lirih dan rapuh. Seakan-akan sedikit saja angin bertiup, maka suara itu akan hancur menjadi serpihan.
"Aku benar-benar minta maaf."
Mata pria itu mulai berkaca-kaca. Selama lima tahun dia mengucapkan kalimat yang sama. Namun, orang yang ingin mendengarnya tidak pernah ada di hadapannya.
"Aya, aku rindu kamu."
Arkana menutup mata. Dan seperti biasa kenangan lima tahun yang lalu itu kembali datang.
Hari pertama setelah Kanaya pergi. Arkana masih berpikir semuanya akan baik-baik saja.
Dia yakin Kanaya hanya marah dan kecewa. Lalu, akan kembali beberapa hari kemudian. Karena semua orang tahu kalau Kanaya itu orang baik dan selalu memaafkan kesalahan orang kepadanya.
Namun, ketika keesokan harinya Arkana datang ke panti asuhan tempat Kanaya dibesarkan dan menjadi salah satu pengurus di sana, dia tidak mendapati wanita itu di sana. Seketika dia panik karena artinya Kanaya benar-benar pergi jauh dari semua orang.
Satu hari berubah menjadi satu minggu..Satu minggu berubah menjadi satu bulan. Kanaya tidak pernah kembali.
Rumah kontrakan kecil yang dulu mereka tempati kosong. Nomor teleponnya tidak aktif. Media sosialnya menghilang. Semua jejak Kanaya seakan ditelan bumi.
Saat itulah hidup Arkana mulai benar-benar hancur. Dia mendatangi semua tempat yang pernah dikunjungi Kanaya. Hasilnya wanita itu tidak ada sama sekali.
Kanaya benar-benar menghilang. Seolah tidak pernah hadir dalam hidup Arkana. Dan saat itulah Arkana menyadari sesuatu. Cintanya sudah habis diberikan untuk perempuan itu. Dia sangat mencintainya. Namun, semuanya terlambat.
Arkana menjatuhkan tubuhnya ke kursi. Air matanya akhirnya jatuh, tetapi rasa sakit itu tidak pernah berkurang. Bahkan semakin hari terasa semakin tajam.
Arkana sadar kalau dirinya kehilangan Kanaya karena dirinya sendiri. Karena kebodohannya. Karena kesombongannya. Karena taruhan terkutuk yang dulu dianggapnya permainan biasa.
"Kalau saja waktu bisa diputar aku rela kehilangan semuanya. Asal tidak kehilangan kamu, Aya."
Air mata terus mengalir membasahi wajah Arkana. Tangannya mencengkeram pigura foto itu erat. Seolah takut foto itu ikut menghilang.
"Aku ingin bertemu dengan kamu, Aya."
Kalimat sederhana itu justru terdengar paling menyakitkan. Karena tidak ada jawaban, hanya kesunyian.
Arkana menundukkan kepala, bahu lebarnya bergetar. Menangis seperti seorang anak kecil yang kehilangan jalan pulang.
Sementara di luar sana, hujan mulai turun membasahi kota. Entah di belahan dunia yang mana dan dalam keadaan seperti apa? Apakah masih mengingatnya atau tidak? Wanita bernama Kanaya itu masih menjadi satu-satunya nama yang tidak pernah berhasil dihapus dari hati Arkana.
Satu-satunya luka yang tidak pernah sembuh. Dan satu-satunya penyesalan yang akan terus dia bawa sampai akhir hidupnya.
Sementara itu, di belahan kota yang lain, Kanaya berjalan tergesa di tengah keramaian pusat perbelanjaan. Langkahnya tidak teratur, napasnya tersengal, sementara matanya bergerak liar, mencari ke segala arah.
“Abinaya...! Ayana...!”
Suaranya pecah, tenggelam di antara hiruk pikuk manusia. Ia terus berjalan, lalu berlari kecil, hampir menabrak beberapa orang.
“Maaf ... maaf!” ucap Kanaya terburu-buru tanpa benar-benar menatap mereka, suaranya bergetar, langkahnya goyah.
Pikiran Kanaya tidak berada di sana. “Ya Allah ...,” bisiknya gemetar. “Ke mana mereka ...?”
Ketakutan mulai merayap, perlahan berubah menjadi kepanikan yang terasa mencekik. Tempat ramai dan banyak orang asing. Langkah Kanaya terhenti dengan mata berkaca-kaca.
“Jangan-jangan ...” Napas Kanya tercekat. “Ada yang menculik mereka?!”