Vanya Mentari, gadis yang memulai peruntungan bekerja di ibu kota menjadi kupu-kupu malam, terpaksa harus terlibat pernikahan kontrak dengan pria yang terkenal sangat dingin.
Pernikahan yang membawa penderitaan pada Vanya di setiap harinya. Bukan hanya luka fisik, melainkan luka batin. Tiap hari, perkataan yang terlontar dari mulut pria yang menikahinya begitu sangat pedis, dan tanjam hingga mampu menusuk rongga jantung dan membuat luka yang teramat mendalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon momian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KKM 10
Bukhh.....
Satu bogem mentah mendarat sempurna tepat di wajah Glen.
Glen yang sama sekali belum siap, langsung mundur dengan posisi yang hampir jatuh.
"Breng*sek." Teriak Glen dengan keras dan maju ingin memberikan hantaman pada pada Bian, namun pukulan Glen mampu di tangkis oleh Bian.
Bukk..bukkhhh
Lagi, Bian memberikan bogem mentah tepat di kedua pipi Glen.
"Kau yang breng*sek. Pria sampah." Kesal Bian, yang ingin kembali memberikan bogem mentah tapi Zam langsung menarik tubuh Bian.
"Tuan Bian. Sudah, bisa jadi tinggal nama jika tuan terus memukulnya." Kata Zam.
Glen mengusap sudut bibirnya yang sudah mengeluarkan darah segar.
"Kenapa? Apa kau marah karena aku sudah menikahi wanita yang kau cintai? Hahahahh, Bian, Bian, rupanya kau belum bisa melupakan kekasih mu." Ejek Glen.
"Tuan." Zam kembali menarik tubuh Bian. "Banyak yang melihat anda tuan." Bisik Zam.
"Sekali lagi aku tahu kau menyakiti Neysia, atau membuat pipi Neysia basah karena air mata. Maka aku tidak akan segan-sengan untuk membunuhmu." Ancam Bian dengan keseriusan sambil menatap tajam Glen.
•••••
"Tuan, harusnya tuan bisa mengatur emosi. Bagaimana jika Glen justru semakin marah dan membuat nona Neysia semakin menderita." Jelas Zam saat keduanya sudah berada di atas mobil.
"Jika sampai itu terjadi maka ancaman yang tadi aku katakan menjadi kenyataan." Jawab Bian dengan nada yang penuh emosi.
"Cinta? Apa tuan masih mencintai nona Neysia?" Tanya Zam
Namun Bian tidak menjawab, ia hanya diam sambil menatap jalan ke depan.
Hening..
Baik Zam dan juga Bian, keduanya terdiam hingga ponsel Zam berdering. Nomor baru, Zam tidak menjawab, namun panggilan terus saja masuk seakan orang yang menghubungi tidak pantang menyerah.
"Berisik." Ucap Bian.
Dan mau tidak mau akhirnya, Zam menjawab panggilan tersebut.
"Zam..." Teriak seorang wanita yang tentu Zam sangat hapal betul sang pemilik suara.
"Nona Vanya."
"Kau ternyata mengenaliku. Hey Zam kau di mana? Jemput aku sekarang."
"Jemput? Tapi nona, saat ini aku sedang bersama dengan tuan Bian."
"Buang saja tuan mu itu lalu cepat jemput aku. Ini titah, cepat!"
Zam menelan salivanya secara kasar, tidak tuannya tidak istri tuanya semuanya sama saja, sama-sama suka mengancam. Mungkin saja, jika orang di luar sana yang melihat akan menebak jika mereka saudara.
"Siapa?" Tanya Bian
"Jangan katakan jika itu aku." Ucap Vanya lalu memutuskan sambungannya.
"Siapa?" Tanya Bian kembali.
"Salah sambung tuan."
••••
Kini Zam metapa rumah Rossa, alamat yang di kirim oleh Vanya ternyata rumah ini dan itu artinya Vanya sedang berada di dalam.
Zam masuk, Vanya yang sudah tahu Zam tiba langsung menyambut Zam dengan senyum. Senyum yang Zam sendiri tidak tahu artikan.
"Zam duduklah. Kau ingin minum apa?" Tanya Vanya, hingga Zam menelan salivanya.
"Apa ini? Ada apa? Kenapa nona Vanya menjadi baik?" Tanya Zam namun hanya dalam hati saja. "Apa saja nona. Asal jangan memberiku racun." Jawab Zam namun kalimat terakhir hanya Zam ucapkan dalam hati.
Vanya pun langsung segera ke dapur. Dan beberapa saat kemudian Vanya datang sambil memberikan segelas sirup.
"Minumlah kau pasti haus." Kata Vanya, dan benar saja Zam langsung meminumnya hingga tangkas, tapi tak lupa Zam membaca doa sebelum meminum minuman yang di berikan oleh Vanya.
"Bismillah, jika minuman ini mengandung racun, tolong ampuni dosaku Tuhan, dan semoga tuan Bian memberikan kompensasi yang banyak pada keluargaku." Batinnya.
"Oh yah, Zam aku ingin bertanya sesuatu dan kau pun harus menjelaskan semuanya." Kata Vanya, lalu Vanya pun mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan foto pada Zam. "Jelaskan, siapa dia. Dan ada hubungan apa dengan tuanmu. Dan jangan ada yang kau sembunyikan satupun dariku." Tanya Vanya penuh dengan selidik.
Zam melihat foto Neysia, yang memang sempat di ambil oleh Vanya saat di mall.
"Oh dia teman tuan Bian." Jawab Zam
Vanya diam dan masih menatap tajam pada Zam.
"Serius, dia memang hanya temannya Bian." Ulang Zam.
"Hahahah" Vanya tertawa, lalu menepuk pundak Zam, hingga membuat Zam merasa nyeri di pundak. "Aku tahu ada yang kau sembunyikan. Katakan! Atau..."
"Dia mantan tuan Bian." Jawab Zam dengan cepat. Spontan Zam langsung menutup mulutnya karena keceplosan.
"Jangan di tutup-tutupi. Aku tidak akan cemburu, kau ingat? Kalau aku hanya di kontrak untuk menikah. Jadi ceritakan semuanya biar aku tahu sedekat apa dulu wanita itu dengan Bian."
Kini, Zam pun memilih menceritakan kisah percintaan Bian pada Vanya tanpa sedikit pun yang terlewatkan. Kini Vanya pun tahu, alasan kenapa kedua sepasang sejoli ini memutuskan hubungan. Bukan sepasang yang memutuskan, tapi sepihak yang memutuskan karena alasan yang tidak masuk akal, itu yang Vanya pikirkan.
"Apa Bian tidak bisa di obati?" Tanya Vanya.
Zam terdiam sambil memikirkan perkataan Vanya.
"Bawa tuanmu berobat, maka aku akan melahirkan banyak anak untuknya, jika dia sudah sembuh." Ucap Vanya, yang mampu membuat Zam menatap wajah Vanya dengan mulut yang mengaga.
"Really?"
"Aku tidak pernah berbohong dengan perkataanku. Maka dari itu aku minta, bawa tuanmu berobat dan aku akan memberikan tuanmu anak." Ucap Vanya dengan mantap.
Jujur Vanya merasa kecewa dengan keputusan Neysia yang meninggalkan Bian karena Bian tidak bisa memberikan keturunan. Dan Vanya, ada di sini untuk membantu dan membuktikan pada Neysia jika kelak Neysia akan menyesali telah mengambil jalan yang salah.
FLASHBACK.
Rossa menangis di hadapan Vanya dan memohon pada Vanya agar mau membantu Bian berobat, dan agar Vanya mau mengandung benih Bian. Sunggu Vanya pun merasa getir, hatinya bergetar melihat sang ibu mertua yang sudah ia anggap sebagai ibu menangis di hadapannya.
"Aku harus bagaimana bu, aku dan Bian.." Ucapan Vanya terpotong, sungguh ia tidak mampu berterus terang di hadapan Rossa.
"Enam bulan. Ibu tahu, kau menikah kontrak dengan Bian. Ibu tahu semuanya." Kata Rossa, sambil menatap wajah Vanya, dan membuat Vanya tentu kaget. "Ibu tidak pernah menganggap pernikahan kalian palsu. Ibu tetap menganggapmu sebagai menantu, istri sah Bian. Beri ibu cucu, ibu janji akan memberikan semuanya. Ibu janji." Ucap Rossa memohon di sela tangisnya.
"Ibu.." Vanya mengusap air mata Rossa. "Bantu Vanya, bantu Vanya agar Bian jatuh cinta pada Vanya, Bu. Jika itu terjadi, maka aku akan membatu ibu memiliki seorang cucu."
Ucapan Vanya bagai angin segar. Rossa langsung memeluk tubuh Vanya, ia sungguh tidak menyangkah bisa mendapat menantu yang luar biasa baiknya. Memang Rossa belum mengenal lama Vanya, tapi Rossa bisa tahu jika Vanya adalah wanita yang baik. Rossa melihat kedalam mata Vanya, mata yang senduh mata yang haus akan kasih sayang, tatapan mata yang mencoba kuat untuk melawan dunia.
"Terima kasih sayang. Ingat apapun yang kau mau ibu akan memberikan semuanya."
saking banyaknya dosis obat lerangsang sampe lupa gawang yg udah loss doll atau masih tersegel rapi😅
Apa Bian jg gak liat bekas darah d sprei🤔
mereka sekarang saling mencintai lho Tor ....
beruntung sekali nasibmu Zam...
bertaubat lah ZAM...😂
apa sudah menyadari klo dia satu²nya pria yang tidur sama Vanya...??
lihat aja...