Planet 3212—planet sampah paling melarat.
Tri, bocah tujuh tahun, bertahan dari rongsokan—tapi ia menyimpan ingatan insinyur mecha dewa dari kehidupan sebelumnya. Kesalahan pendaftaran melemparkannya ke jurusan tempur paling brutal. Semua meremehkan bocah sampah ini—sampai ia menghancurkan lawan, rancangan "jelek"nya mengguncang forum maestro, dan kekuatan 3S-Agung yang terpendam mulai terkuak.
Diburu Kabut Hitam, dilindungi rival terkuatnya, Tri harus pilih: tunduk—atau bangkit menelan takhta bintang. Dari tumpukan sampah menuju singgasana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fajar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7
Bab 7 — Peluru yang Menembus Tembok
Lubang di dinding melebar dari dalam.
Bukan karena terbakar.
Sesuatu mencakarnya.
Beton tua yang selama ini cukup keras untuk menahan hujan asam ringan pecah seperti kulit kering. Serpihan dinding jatuh ke lantai, memantul di antara baut dan kabel. Di balik celah itu, sepasang mata merah tidak berkedip.
Kom di pergelangan Tri mendesis.
“Tri?” Suara Hendra mengecil, pecah oleh gangguan. “Itu apa?”
Tri tidak menjawab.
Ia menghitung jarak.
Tujuh meter.
Terlalu dekat untuk benda yang bernapas sebesar itu.
Satu cakar hitam menembus lubang. Panjangnya hampir sama dengan lengan Tri. Bukan kuku biasa. Permukaannya berlapis kilap gelap, seperti logam yang pernah direndam darah lama. Cakar itu menekan sisi dinding.
KRAK.
Separuh dinding runtuh.
Debu meledak ke dalam ruang kerja.
Tri menutup hidung dengan siku, mundur dua langkah, lalu kakinya menghantam meja. Mecha mini di atas meja bergetar. Senjata Uji 37 masih hangat di tangan kanannya.
Dari balik debu, tubuh raksasa merangkak keluar.
Tiga meter lebih.
Bentuknya mirip serigala, tetapi bahunya terlalu tinggi, dadanya terlalu lebar, dan punggungnya ditumbuhi tonjolan tulang seperti mata pisau patah. Kulitnya hitam keabu-abuan, dengan urat merah berdenyut di bawah lapisan sisik keras. Air liur jatuh dari rahangnya dan membakar lantai beton menjadi noda putih.
Bestia Bintang.
Nama itu muncul dari kelas teori yang pernah ia hadiri hanya setengah jam sebelum kabur ke bengkel.
Pak Ilyas pernah melempar kapur ke kepalanya karena ia menggambar struktur sendi di buku catatan saat guru menjelaskan klasifikasi Bestia.
Waktu itu Tri merasa klasifikasi tidak penting.
Sekarang ia menarik kembali pendapat itu.
“Sial.”
Bestia itu menoleh ke arah suara.
Tri mengangkat Uji 37 dan menekan pelatuk.
Denging putih menembus debu.
Tepat mengenai leher.
Tidak tembus.
Cahaya pecah di permukaan sisik, menyebar seperti air di atas kaca, lalu hilang dalam asap tipis. Hanya ada bekas hangus sebesar koin. Bestia itu bahkan tidak menjerit. Ia hanya mengguncang kepala, seperti terusik oleh gangguan kecil.
Dada Tri turun satu inci.
“Baja Wisa palsu?” gumamnya.
Tidak.
Lebih buruk.
Struktur sisiknya punya sifat yang sama dengan Baja Wisa. Anti-laser. Anti-senjata murah. Anti-orang miskin yang terlalu percaya diri.
Kom menjerit kecil. “Tri, lari!”
Tri sudah bergerak sebelum Hendra selesai bicara.
Ia menendang tuas di kaki meja.
Mecha mini melompat.
Gerakannya kasar, tetapi perintah dasarnya masuk. Dua kaki besi menghantam lantai, lengan kanan mengangkat pisau gergaji dari punggungnya. Mesin Kristal Kelabu memancarkan cahaya kelabu pucat. Kerangka kecil itu menerjang ke arah Bestia, bukan untuk menang.
Hanya untuk membeli tiga detik.
Bestia Bintang mengayunkan kaki depan.
Satu pukulan.
Mecha mini yang ia bangun selama delapan bulan pecah menjadi tiga bagian.
Pisau gergajinya terbang, menancap di rak alat. Dada kerangka hancur. Mesin inti Kristal Kelabu terpental ke lantai, berkedip dua kali, lalu padam.
Tri tidak sempat merasa sakit hati.
Ia sudah meraih kabel pengait di dinding.
Tubuhnya meluncur ke kiri saat rahang Bestia menerkam tempat ia berdiri. Gigi hitamnya menghantam meja, meremukkan permukaan besi, menggigit kotak baut seolah-olah itu roti kering. Baut-baut muncrat ke segala arah.
Satu baut memotong pipi Tri.
Darah turun ke dagu.
Ia mendarat di dekat rak bawah, menggulung tubuh, lalu menarik pisau lempar dari paha.
Tidak untuk melempar.
Untuk memotong tali penahan beban.
Rak atas jatuh.
Tiga puluh tujuh pisau lempar, dua motor mikro, dan satu kotak pelat logam menimpa punggung Bestia.
CLANG!
CLANG!
CLANG!
Sebagian pisau mental.
Dua patah.
Hanya satu yang menancap dangkal di bahu, lalu langsung terdorong keluar oleh gerakan otot.
Tri menatapnya selama setengah detik.
“Baik. Bukan jalur ini.”
Bestia itu memutar badan.
Ekor tulangnya menyapu ruangan.
Tri melompat.
Tidak cukup tinggi.
Ekor itu menghantam rusuk kirinya.
Suara retak datang dari dalam tubuhnya, bukan dari lantai.
Ia terlempar menabrak lemari komponen. Udara di paru-parunya kosong. Pandangannya memutih. Kom di pergelangan kiri menghantam sudut besi dan layar kecilnya pecah.
“Tri!”
Suara Hendra hilang dalam denging rusak.
Tri jatuh berlutut.
Rasanya ada tangan besar meremas dada dari dalam.
Ia batuk.
Darah memercik ke lantai.
Bestia berjalan mendekat.
Pelan.
Ia tidak terburu-buru.
Mata merahnya memantulkan cahaya hijau dari Uji 37 yang masih tergenggam di tangan Tri. Bau darah membuat rahangnya terbuka lebih lebar. Lidah gelap menjilat gigi.
Tri mengatur napas.
Satu napas masuk.
Gagal.
Nyeri menutup separuh pikirannya.
Ia memaksa jari kanan bergerak.
Uji 37 masih bisa menembak dua kali sebelum tabung kristal retak karena panas. Tembakan ke leher gagal. Mata mungkin lebih lunak. Mulut saat terbuka punya jaringan basah. Kalau ia menembak masuk dari bawah rahang, cahaya bisa memantul di langit-langit tengkorak.
Kalau jarak cukup dekat.
Kalau tangannya tidak gemetar.
Kalau ia belum kehabisan darah.
Tri tertawa pendek.
Suara itu keluar seperti napas tersumbat.
“Pak Ilyas benar,” bisiknya. “Kelas tempur ternyata ada gunanya.”
Ia selalu mengambil bagian yang menurutnya berguna.
Pijakan.
Sendi.
Arah serangan.
Cara jatuh.
Tapi ia malas mendengar ceramah tentang naluri hidup Prajurit Mecha. Ia lebih suka membongkar mesin latihan setelah kelas selesai. Menurutnya tubuh bisa dilatih nanti, senjata bisa mengganti banyak kekurangan.
Sekarang senjatanya hangat di tangan.
Tidak cukup.
Bestia menerkam.
Tri menjatuhkan tubuh ke samping.
Cakar menghantam lantai dan membuat beton terbelah. Ia menggulingkan diri ke bawah dada Bestia, mengangkat laras Uji 37 ke rahang terbuka, lalu menekan pelatuk.
Cahaya putih masuk.
Bestia meraung.
Raungan itu membuat telinga Tri berdenging dan hidungnya panas. Tembakan tidak membunuh. Hanya membakar separuh lidah dan menyisakan asap busuk dari mulutnya.
Cakar belakang menghantam perut Tri.
Kali ini ia tidak sempat menghindar.
Tubuhnya terlempar ke dinding yang retak.
Punggungnya menghantam beton.
Dunia padam sekejap.
Saat cahaya kembali, ia sudah telentang di antara pecahan Mecha mini.
Langit-langit berputar.
Darah memenuhi mulut.
Uji 37 tergeletak dua langkah dari tangannya, larasnya membara merah, tabung kristal retak sampai setengah. Jari Tri bergerak ke arahnya. Satu sentimeter. Dua sentimeter.
Tidak sampai.
Bestia Bintang berdiri di atasnya.
Bayangannya menutup cahaya senja.
Tri melihat dadanya naik turun. Melihat bekas hangus di rahang. Melihat titik lunak di bawah mata kiri, seukuran ujung jarum.
Kalau ada satu tembakan lagi.
Kalau tangannya lebih panjang sedikit.
Kalau ia tidak terlalu miskin untuk membuat mekanisme pemanggil jarak jauh.
Rahang Bestia turun.
Angin amis menekan wajah Tri.
Ia mengangkat tangan kosong.
Tidak untuk menahan.
Hanya untuk memastikan, bila mati, ia mati sambil mengukur jarak terakhir.
Cahaya tajam tiba-tiba membelah ruangan.
Tidak putih kebiruan seperti laser Tri.
Cahaya itu dingin, bersih, dan cepat.
Satu garis.
Kepala Bestia Bintang terpisah dari lehernya.
Darah hitam menyembur ke langit-langit.
Tubuh raksasa itu masih berdiri setengah detik, lalu roboh di samping Tri. Lantai bergetar. Debu dan darah menghantam wajahnya.
Tri tidak bisa bergerak.
Di antara penglihatan yang pecah-pecah, ia melihat bayangan dua Mecha turun dari lubang atap yang baru terbuka.
Satu Mecha berlapis pelindung berat, garis-garisnya halus seperti dibuat untuk menutup semua celah.
Satu lagi lebih ramping, membawa bilah yang masih meneteskan darah hitam.
Dari kokpit yang terbuka separuh, dua sosok gadis menatap ke bawah.
Tri ingin bertanya siapa mereka.
Yang keluar hanya darah.
Lalu dunia bergoyang, gelap, dan ia jatuh ke dalam sunyi yang dingin.