NovelToon NovelToon
Terlempar Ke Zaman Kuno

Terlempar Ke Zaman Kuno

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Transmigrasi / Ruang Ajaib
Popularitas:11.5k
Nilai: 5
Nama Author: Anisa Ammoera(_)

Jia Li adalah seorang dokter genius dari modern. Meski begitu, keluarganya sendiri tidak pernah menghargainya dan lebih menyayangi kakak laki-laki nya yang menjadi pengangguran.

Tepat setelah Jia Li selesai melakukan operasi. Sebuah tamparan menantinya di pintu keluar. Awal dari segalanya.

Jiwa Jia Li terseret ke zaman kuno, lebih tepat nya memasuki raga Lin Jia. Lin Jia adalah putri dari Kaisar Lin Dong dan selir kedua. Diam - diam di belakang Kaisar. Lin Jia di remehkan karena tidak memiliki Elemen apapun dalam tubuhnya.

Namun semua berubah saat jiwa Jia Li menempati raga Lin Jia. Berkat bantuan sistem dan ruang ajaib. Jia Li akan mengubah takdir Lin Jia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Ammoera(_), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hukuman

Siang itu, Alun-alun Kekaisaran Naga Langit riuh, beberapa Prajurit Kekaisaran tampak menyeret beberapa orang berpakaian serba hitam. Semua rakyat tampak saling berbisik dan bertanya dalam hening. Mereka membawanya menuju lapangan eksekusi.

Suasana yang awalnya riuh itu mendadak senyap saat sebuah tandu Kekaisaran berwarna emas melintas. Semua rakyat serempak menundukkan kepala mereka saat Kaisar Lin Dong turun dari tandu.

Langkahnya tenang, berwibawa, dan memancarkan aura kuat yang mutlak. Kaisar Lin Dong duduk di kursi kebesaran yang sudah disediakan sebelumnya. Tanpa sepatah kata pun, ia hanya mengangguk kecil, memberikan isyarat dingin yang langsung dipahami.

Jenderal Mo maju ke depan, berdiri tegak di hadapan seluruh rakyat sambil memegang sebuah gulungan dekret emas. Ia membukanya dengan hentakan mantap, lalu membacakannya dengan suara yang menggelegar ke seluruh penjuru alun-alun.

"Dekret Kekaisaran!" pekik Jenderal Mo, membuat semua orang menahan napas seketika. "Inilah hukuman mati yang akan mereka terima karena telah berani mengusik ketenangan wilayah Kekaisaran Naga Langit! Mereka tidak hanya merampok rumah-rumah bangsawan, tetapi juga dengan kelancangan yang tak termaafkan telah menyusup ke dalam istana suci."

Jenderal Mo menjeda kalimatnya, tatapannya menyapu tajam ke arah para tahanan yang bersujud pasrah.

"Namun, dosa terbesar yang paling tidak bisa diampuni adalah fakta bahwa mereka berasal dari Sekte Terlarang! Orang-orang sesat yang menggunakan jalan pintas berdarah, mengorbankan nyawa manusia demi mencapai kultivasi elemen tingkat tinggi yang menentang hukum langit! Dengan ini, atas nama Yang Mulia Kaisar Lin Dong. Kekaisaran menjatuhkan hukuman... penggal!"

Mendengar kata 'Sekte Terlarang' dan 'hukuman penggal', semua rakyat membelalakkan matanya terkejut. Kemarahan mereka langsung tersulut.

"Dasar iblis sialan! Beraninya kalian mengotori tanah kami!" teriak seorang warga dari kerumunan, yang langsung diikuti oleh yang lain.

Tanpa komando, rakyat mulai memungut batu-batu jalanan dan menimpuk para penjahat itu hingga bersimbah darah. "Mati kalian! Eksekusi mereka sekarang juga!" sahut warga lain riuh, meluapkan seluruh kebencian mereka.

Di atas panggung eksekusi, seorang algojo berbadan kekar naik. Ia menggenggam sebuah golok raksasa yang berkilat tajam di bawah terik matahari, bersiap untuk melaksanakan perintah.

Detik demi detik berlalu dengan ketegangan yang mencekik. Golok besar itu sudah terangkat tinggi, berada tepat di atas leher-leher para tahanan. Sang algojo menatap isyarat terakhir dari Jenderal Mo, lalu mengayunkan senjatanya dengan satu gerakan tebasan yang sangat cepat.

Dan... Dug! Dug! Dug!

Suara benturan berat terdengar beruntun. Satu per satu, kepala mereka menggelinding di atas panggung kayu, menyisakan genangan darah pekat yang mengakhiri riwayat para penyusup sekte terlarang tersebut.

            **********************

Suasana Aula Agung terasa jauh lebih berat dari biasanya. Kepulan wangi dupa kayu cendana seolah menguap, tertelan oleh aura dingin yang memancar dari jajaran pejabat dan menteri yang menundukkan kepala. Setelah eksekusi mati bagi para pencuri itu tuntas dilaksanakan, tak ada satu pun yang berani bersuara.

Di atas singgasana megahnya, Kaisar Lin Dong memandang ke arah tengah ruangan dengan sorot mata yang dalam namun melembut.

Di sisi kanannya, Permaisuri Li duduk dengan postur sempurna, wajahnya tampak tenang bagai danau tanpa riak, tetapi siapa sangka jika di balik jubah sutranya yang mewah, hatinya terbakar oleh kobaran rasa panas dan benci.

Sementara itu, Putri Mahkota Lin Ju dan Putra Mahkota Lin Dui mengepalkan tangan erat-erat di balik lengan baju mereka. Rasa tidak percaya terus menggerogoti hati mereka—bagaimana mungkin orang yang selama ini mereka anggap tak berguna, kini justru menjadi pahlawan yang menyelamatkan Kekaisaran Naga Langit?

Di sudut lain, Selir Gu—selir pertama—duduk layaknya patung es dengan napas teratur. Meski ia mencoba mempertahankan ketenangannya, buku-buku jarinya memutih akibat cengkeraman kuat pada pegangan kursi. di sisi nya, Kedua anaknya--- Pangeran Lin Zhang dan Putri Lin Zhu pun menatap iri pada Pangeran Lin Tian dan Lin Jia.

Namun, di antara jajaran keluarga Kekaisaran, hanya Selir kedua yang duduk dengan senyuman tulus yang mengembang sempurna. Matanya berbinar penuh kebanggaan, menatap dua sosok yang berdiri tegap di tengah aula.

Mereka adalah Pangeran Lin Tian dan Lin Jia. Keduanya itu berdiri dengan postur sempurna, membungkuk penuh rasa hormat kepada sang penguasa tertinggi.

Kaisar Lin Dong pun bangkit dari duduknya, perlahan menuruni tangga pualam dan berdiri tepat di hadapan kedua anaknya. Sebuah senyuman hangat, yang jarang sekali ia tunjukkan kepada publik, terukir jelas di wajah sang Kaisar.

"Kalian berdua telah membuktikan kemampuan kalian. Dengan strategi yang cerdik, keberanian, dan kesetiaan yang tak tergoyahkan, kalian berhasil menjebak dan menangkap para pencuri itu. Atas nama seluruh rakyat, kalian telah menyelamatkan kehormatan Kekaisaran Naga Langit," kata Kaisar Lin Dong penuh rasa terima kasih, suaranya menggema di setiap sudut Aula Agung.

Kaisar Lin Dong meletakkan kedua tangannya di pundak Pangeran Lin Tian dan Lin Jia, menatap mereka lekat-lekat. "Karena itu, sebagai ungkapan rasa bangga dan terima kasih Ayah secara pribadi, Ayah akan mengabulkan satu keinginan kalian. Katakanlah, apa yang paling kalian inginkan saat ini?" lanjut Kaisar Lin Dong dengan tatapan penuh harap.

Suasana Aula Agung kembali senyap. Semua mata tertuju pada Pangeran Lin Tian dan Lin Jia, menunggu dengan napas tertahan.

Setelah keheningan yang terasa cukup panjang, Lin Jia melangkah maju mendekati Kaisar, lalu menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Terima kasih banyak atas kemurahan hati Ayah. Namun, sejujurnya, kami berdua hanyalah perencana di balik layar. Kemenangan ini tak akan pernah terjadi tanpa pertumpahan darah dan kerja keras di garis depan."

Lin Jia mengangkat wajahnya, menatap sang ayah dengan sorot mata yang tulus dan penuh ketegasan. "Yang bertarung mempertaruhkan nyawa adalah prajurit Wu Kevin dan Mei Mei, serta para prajurit Kekaisaran lain nya yang tak kenal takut. Jadi, mungkin Ayah bisa memberikan hadiah itu kepada mereka, karena merekalah yang sesungguhnya berjasa."

Pangeran Lin Tian turut melangkah maju dan mengangguk setuju. "Benar, Ayah. Mereka yang berdiri di medan laga menahan pedang kekuatan musuh jauh lebih berhak menerima penghargaan tersebut dibandingkan kami."

Mendengar penuturan kedua anaknya, raut wajah Kaisar Lin Dong menunjukkan kekaguman yang mendalam.

Ia pun tertawa pelan, sebuah tawa yang memancarkan kebanggaan seorang ayah."Jangan khawatir, mereka akan mendapatkan hak dan penghargaan mereka yang setimpal... dan begitu juga dengan kalian berdua."

Lin Jia terdiam sejenak, menundukkan kepala untuk berpikir sebelum menjawab. "Kalau begitu," katanya tenang sambil mengangkat kembali pandangannya. "Biarkan kami memikirkan nya lebih dulu... jika kami menginginkan sesuatu, kami akan mengatakannya kepada Ayah."

Pernyataan itu langsung di angguki oleh Pangeran Lin Tian yang berdiri di sampingnya. "Benar, Ayah. Kami akan memikirkannya dengan matang," kata Pangeran Lin Tian mendukung keputusan saudarinya.

Kaisar Lin Dong tertawa pelan, sebuah suara yang memecah keheningan aula. "Baiklah, aku akan menunggunya," kata Kaisar Lin Dong. "Kalian telah bekerja keras, sekarang istirahatlah dan nikmati kemenangan ini."

1
Cty Badria
up lg ni hadiah /Rose/
Mydar Diamond
lanjuutt upnya mungkin calon suami masa depan telah di temukan🤔
Dewiendahsetiowati
apakah ini calon imam Lin Jia
Hendri Wirawan
bagus....lanjutkan
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Anonim
ceritanya bagus, masih awal tapi menarik buat dibaca. lanjut semangat yaaa/Determined//Rose/
Alia Chans
"Menulis cerita ini membutuhkan waktu berjam-jam, tetapi satu like mungkin mampu menghapus lelah itu dalam sekejap. semangat✍️👈😍☺
Ardella Ardellaarcell
lanjut
Dania
semangat tor di tunggu upnya
Ardella Ardellaarcell
lanjut kak bgus crita'y😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!