NovelToon NovelToon
Diusir Mertua, Ternyata Pewaris Konglomerat

Diusir Mertua, Ternyata Pewaris Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Menantu Pria/matrilokal / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Ardana Bayu

"Arya Suryanegara — menantu miskin yang diusir dari rumah mertua tanpa sepeser pun. Dicaci, dihinakan, diperlakukan bagai sampah selama tiga tahun.

Tapi semua orang salah besar.

Arya adalah pewaris tunggal Keluarga Suryanegara, konglomerat terkuat di Indonesia dengan aset ratusan triliun. Perusahaan terbesar di kota itu? Miliknya. Mantan Kapten Kopassus dengan kemampuan bela diri mematikan? Itu dia. Otak bisnis jenius yang bisa menghancurkan perusahaan saingan dengan satu telepon? Juga dia.

Sekarang penyamarannya berakhir. Yang pernah menghinanya akan berlutut. Yang berani menyentuh orang-orangnya akan hancur — secara bisnis, secara hukum, secara total.

Menantu miskin? Tidak. Pewaris triliunan yang kembali untuk mengambil tahtanya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardana Bayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 23

Bab 023: Pengkhianat dari Dalam

Hendro Wicaksana masuk dengan wajah marah yang terlalu rapi.

Jasnya hitam, rambutnya tersisir, dan jam mahal di pergelangan tangannya berkilau setiap kali ia mengangkat tangan. Di belakangnya berdiri seorang pemuda kurus bernama Faisal, anaknya, dengan mata yang sibuk menghindari semua orang.

"Apa-apaan ini?" Hendro menatap Pak Satria, lalu Arya. "Sejak kapan orang luar mengatur pintu kamar ayah saya?"

Soedirman berbaring di ranjang, masih lemah, tetapi matanya sudah jauh lebih jernih.

"Hendro," katanya.

Nada itu tidak keras.

Namun seluruh ruangan langsung diam.

Hendro menoleh. Kemarahan di wajahnya berubah menjadi kekhawatiran yang dipasang terlalu cepat.

"Bapak sudah sadar. Alhamdulillah. Saya sangat khawatir."

Nayla menatap pamannya dengan rahang mengeras.

Arya berdiri di sisi ranjang. Ia tidak menyela.

Orang bersalah sering bicara lebih banyak jika dibiarkan.

Hendro mendekat. "Bapak seharusnya dibawa ke rumah sakit besar, bukan dijadikan percobaan oleh orang yang tidak jelas."

"Orang yang tidak jelas ini membuat saya bisa membuka mata," kata Soedirman.

Hendro tersenyum kaku. "Tentu, kalau begitu kita berterima kasih. Tapi urusan keluarga Wicaksana biar kami yang tangani."

Arya bertanya tenang, "Termasuk urusan jamu harian Pak Soedirman?"

Hendro berhenti setengah langkah.

Sangat kecil.

Namun cukup.

"Apa maksud Anda?"

"Saya bertanya siapa yang mengatur pasokan bahan jamu dan dapur pribadi beliau."

"Itu urusan rumah tangga."

"Rumah tangga yang hampir membunuh beliau."

Suasana di kamar berubah dingin.

Faisal menelan ludah.

Hendro menunjuk Arya. "Hati-hati bicara. Anda berada di rumah Wicaksana."

"Justru karena saya berada di rumah Wicaksana, saya bicara dengan hati-hati."

Nayla melangkah ke depan. "Om, jawab saja. Siapa yang mengatur jamu Eyang selama empat bulan terakhir?"

Hendro memandang Nayla. "Kau masih anak-anak. Jangan ikut bicara."

"Saya cucu yang merawat Eyang setiap malam. Jangan sebut saya anak-anak saat Anda bahkan tidak tahu obat terakhirnya apa."

Faisal mendesis, "Nayla, jaga mulut."

Nayla menatapnya tajam. "Kamu juga tahu?"

Faisal langsung diam.

Arya melihat reaksi itu seperti melihat angka jatuh ke tempatnya.

Di pendopo utama, rapat keluarga darurat dimulai satu jam kemudian.

Soedirman tidak bisa berdiri lama, tetapi ia menolak tetap di kamar. Kursi roda dibawa ke tengah ruangan. Selimut tipis menutup pangkuannya. Di belakangnya berdiri Nayla, wajahnya pucat tetapi tegar.

Hendro duduk di sisi kanan, bersama Faisal.

Di hadapan mereka, Arya meletakkan tiga map.

Map pertama berisi laporan toksikologi awal.

Map kedua berisi foto bahan jamu dari dapur pribadi.

Map ketiga berisi cetakan komunikasi dan catatan transfer.

Hendro tertawa ketika melihatnya.

"Ini lelucon? Orang luar membawa kertas-kertas lalu menuduh anak kandung?"

Arya membuka map pertama.

"Ini hasil awal dari dua laboratorium. Satu dari tim Siloam, satu dari jaringan Prima di Singapura yang melakukan pembacaan cepat sampel darah. Kandungan toksin konsisten dengan paparan berulang."

Seorang paman tua bergumam, "Paparan berulang..."

Arya membuka map kedua.

"Bahan yang tercemar ditemukan bukan di semua dapur. Hanya di wadah khusus untuk jamu Pak Soedirman. Wadah itu disimpan di lemari terkunci."

Nayla menatap kepala pelayan. "Kuncinya ada pada siapa?"

Kepala pelayan gemetar. "Tiga orang, Nona. Saya, Pak Hendro, dan Mas Faisal. Tapi saya tidak pernah..."

"Cukup," potong Hendro. "Pelayan bisa dibeli."

"Karena itu saya tidak berhenti di pelayan."

Arya membuka map ketiga.

Hendro tidak tertawa lagi.

"Dalam enam minggu terakhir, Faisal Wicaksana melakukan komunikasi dengan nomor asing yang juga terhubung ke konsultan aset di Singapura. Setelah setiap komunikasi, ada perubahan jadwal minum Pak Soedirman. Kami cocokkan dengan catatan perawat."

Faisal berdiri. "Itu fitnah!"

Pak Satria menggeser satu lembar ke depan. "Ini log operator. Nomor itu memakai perangkat yang dibeli atas nama asisten pribadi Anda."

Wajah Faisal memerah.

Hendro berdiri perlahan. "Anda menyadap keluarga kami?"

Arya menatapnya. "Tidak. Keluarga Anda menyimpan catatan keamanan sendiri. Saya hanya membaca data yang sudah ada."

Soedirman menutup mata.

"Hendro," katanya lirih. "Benarkah?"

Hendro menarik napas. Untuk beberapa detik, wajahnya seperti anak kecil yang tertangkap mencuri. Lalu semua berubah menjadi keras.

"Bapak sudah terlalu tua."

Nayla tersentak. "Om..."

"Keluarga ini butuh pemimpin yang bisa mengambil keputusan cepat. Bapak menolak restrukturisasi. Bapak menolak menjual aset pelabuhan. Bapak menolak kerja sama yang bisa membuat kita mengimbangi Suryanegara dan Pradipta."

Soedirman membuka mata. "Jadi kau meracuniku?"

"Saya tidak ingin Bapak mati." Suara Hendro naik. "Saya hanya ingin Bapak mundur sebelum semua peluang hilang."

Kata-kata itu jatuh seperti batu.

Tidak ingin mati.

Seolah-olah itu membuat pengkhianatan menjadi lebih lembut.

Nayla maju satu langkah, tetapi Andini menahan lengannya.

Faisal mulai panik. "Bapak, kita bisa jelaskan. Mereka tidak punya bukti final. Kalau kita panggil pengacara..."

Pak Satria meletakkan satu flash drive di meja.

"Rekaman dari koridor dapur. Tanggal dan jam cocok dengan tiga kali penambahan bahan ke wadah jamu. Kami belum memutarnya karena menunggu keputusan Pak Soedirman."

Faisal langsung pucat.

Hendro menatap anaknya.

Di situlah semuanya selesai.

Soedirman menunduk. Bahunya yang tua bergetar sekali, tetapi ia tidak menangis keras.

"Aku membesarkanmu," katanya. "Aku memberimu nama, saham, rumah, sekolah terbaik. Dan kau memberiku racun."

Hendro membuka mulut, tetapi tidak ada kata yang keluar.

Soedirman mengangkat tangan.

Semua orang diam.

"Hendro Wicaksana dan Faisal Wicaksana dicabut dari seluruh jabatan operasional keluarga mulai hari ini. Saham keluarga yang mereka kuasai dibekukan sampai audit hukum selesai. Mereka akan dikirim ke Pulau Nusa, mengelola lahan kelapa milik keluarga tanpa akses ke kantor pusat. Seumur hidup, mereka tidak boleh kembali duduk dalam rapat keluarga."

Faisal jatuh berlutut. "Eyang, jangan! Saya masih muda!"

Soedirman menatapnya dengan mata lelah.

"Justru karena masih muda, kau harus belajar hidup tanpa meracuni orang."

Hendro tidak berlutut. Harga dirinya terlalu besar untuk itu. Namun wajahnya runtuh.

"Bapak menghukum anak sendiri demi orang luar?"

Soedirman menoleh ke Arya.

"Orang luar ini menyelamatkan nyawaku. Anak sendiri mencoba mengambilnya."

Tidak ada lagi pembelaan.

Petugas keamanan keluarga masuk. Mereka tidak menyeret Hendro dengan kasar, tetapi semua orang tahu jalannya hanya satu: keluar dari pendopo, keluar dari pusat keluarga, keluar dari hidup yang selama ini ia anggap miliknya.

Ketika Hendro melewati Arya, ia berhenti.

"Kau pikir dengan menyelamatkan ayahku, kau mendapat Wicaksana?"

Arya menjawab datar, "Saya tidak membeli keluarga orang dengan nyawa orang tua mereka."

Wajah Hendro menegang.

"Itulah perbedaan kita."

Hendro dibawa pergi.

Setelah ruangan sepi, Soedirman meminta kursi rodanya didorong menghadap Arya.

Lelaki tua itu berusaha membungkuk.

Arya segera menahan bahunya. "Pak Soedirman, jangan."

"Tidak." Soedirman tetap menundukkan kepala semampunya. "Keluarga Wicaksana berutang satu nyawa kepadamu, Nak Arya. Mulai hari ini, pintu rumah ini terbuka untukmu."

Nayla berdiri di belakang kakeknya. Matanya merah.

Tidak ada lagi sinis di sana.

Yang ada hanya hormat, dan sesuatu yang lebih sulit ia akui.

Di halaman depan, ketika Arya hendak masuk mobil, Nayla mengejarnya.

"Arya."

Ia memanggil tanpa Mas, tanpa Pak, seolah-olah ingin menguji jarak.

Arya menoleh.

Nayla tiba-tiba kehilangan sedikit keberaniannya. "Terima kasih. Eyang masih hidup karena kamu."

"Jaga beliau. Musuh paling berbahaya sering duduk di meja makan yang sama."

"Aku akan ingat."

Ia menggenggam ponsel, lalu berkata lebih pelan, "Eyang juga ingin meminta bantuanmu untuk satu urusan lain. Ada aset keluarga di Kota Selatan. Lahan senilai lima puluh delapan miliar yang sudah lama dikuasai PT Pelayaran Jaya."

Pak Satria yang berdiri di dekat mobil melirik Arya.

Nayla melanjutkan, "Eyang bilang, kalau kamu bersedia, Wicaksana akan menyerahkan mandat penuh kepadamu."

Arya melihat gerbang besar Wicaksana, lalu jalan di luar yang menuju kota lain.

Kota Selatan.

Nama itu muncul juga dalam salah satu catatan Bagaskara. Sebuah simpul kecil, tetapi terhubung ke beberapa aliran uang mencurigakan.

Ia tersenyum tipis.

"Katakan pada Pak Soedirman," kata Arya, "saya terima."

1
Riski Channel
mantap
Riski Channel
cerita bagus sayang orang pada tidak tahu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!