NovelToon NovelToon
Nikah Kilat dengan Kapten Angkuh

Nikah Kilat dengan Kapten Angkuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Kapten / Romantis
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Ratna Purnama

Kapten paling angkuh di Angkasa Nusantara.
Pengatur langit bersuara paling manis.
Semua mengira Laras yang beruntung menikahinya—
tak ada yang tahu, belasan tahun lalu, gadis itu sudah lebih dulu jatuh cinta diam‑diam.
Dan sang kapten dingin itu?
Di depan orang cuek, di depan istrinya… paling tak berdaya.
Sampai di udara, mesin mati,
dan cuma satu suara yang bisa membawanya pulang

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 13

Bab 013

Kontrak dan Kebiasaan

Pada pagi pertama setelah menikah, Laras bangun karena aroma nasi goreng.

Sisi kiri tempat tidur sudah kosong. Benteng bantal di tengah masih utuh, tetapi sebuah catatan terletak di atasnya.

Aku report jam sebelas. Sarapan di meja. Jangan cuma minum kopi.

Laras membaca kalimat terakhir dua kali. Tulisan Arkan sama tegasnya dengan nomor WhatsApp yang pernah ia berikan di sekolah.

Di dapur, nasi goreng buatan Arkan terlihat terlalu rapi dan terasa sedikit kurang garam. Laras tetap menghabiskannya.

Ketika Arkan pulang lewat tengah malam, ia menemukan wadah makanan sudah dicuci dan catatan baru ditempel di kulkas.

Besok tambah garam sedikit. Nilai: 7,5.

Pagi berikutnya, Laras bangun dan menemukan balasan di bawahnya.

Controller terlalu banyak komentar.

Sudut bibirnya naik tanpa izin.

Dalam beberapa hari, rumah itu mulai membentuk aturan sendiri. Siapa yang pulang lebih dulu menyalakan pemanas air. Laras mengisi ulang buah dan susu, sedangkan Arkan memastikan selalu ada makanan yang bisa dipanaskan setelah shift malam. Mereka tidak menetapkan pembagian pekerjaan resmi. Keduanya hanya mengerjakan apa yang terlihat.

Jadwal mereka ditempel di pintu kulkas. Garis biru untuk penerbangan Arkan, garis hijau untuk shift Laras. Beberapa hari hanya memiliki celah dua jam ketika satu orang pulang dan yang lain bersiap pergi.

Pada sore ketiga, Arkan mendorong sebuah kartu debit ke depan Laras saat mereka makan.

“Apa ini?”

“Rekening yang kupakai untuk kebutuhan rumah.”

“Kenapa diberikan kepadaku?”

“Biar kamu yang atur.”

Laras tidak menyentuhnya. “Kita baru menikah tiga hari.”

“Dan kita sudah tinggal di rumah yang sama tiga hari.”

“Itu bukan alasan menyerahkan rekening.”

“Aku sering terbang. Kalau ada kebutuhan mendadak, kamu nggak perlu menunggu izinku.”

Laras akhirnya mengambil kartu itu. “Ini rekening gajimu?”

“Salah satu rekening yang menerima penghasilan terbang.”

Jawaban santainya membuat Laras memegang kartu tersebut seolah benda itu jauh lebih berat daripada plastik biasa.

“Aku simpan, tapi nggak akan memakainya tanpa bicara dulu.”

“Terserah.”

Arkan kembali makan, seakan baru saja menyerahkan kartu parkir. Laras memasukkannya ke bagian terpisah di dompet. Ia belum tahu bahwa laki-laki itu hampir tidak pernah membiarkan orang lain mengatur uang atau jadwal pribadinya.

Hari itu mereka mampir ke Kopi Wulan. Wulan baru saja mengunggah foto tangan Laras dan Arkan dengan cincin pernikahan ke WhatsApp Status.

Anakku sudah menikah. Mohon doanya agar rumah tangga mereka penuh berkah.

Ucapan selamat berdatangan dari pelanggan, tetangga, dan teman arisan. Di antara notifikasi itu, nama Darmawan muncul sebagai panggilan masuk.

Wulan menatap layar lalu menerima panggilan di depan Laras.

“Ada apa?”

Suara laki-laki di seberang terdengar cukup keras. “Laras menikah dan kamu nggak memberi tahu saya?”

“Untuk apa?”

“Saya ayahnya.”

“Kamu ingat itu setelah melihat status WhatsApp?”

Arkan yang duduk di meja dekat bar mengangkat wajah. Laras merasakan bahunya menegang.

Darmawan mulai mempertanyakan keluarga suami Laras, tanggal akad, dan mengapa dirinya tidak dilibatkan. Wulan membiarkannya bicara sampai selesai.

“Laras menikah dengan laki-laki yang menghormatinya,” kata Wulan. “Itu lebih banyak daripada yang pernah kamu lakukan sebagai ayah.”

“Kamu selalu mengajarinya membenci saya.”

“Saya nggak perlu mengajarkan apa pun. Ketidakhadiranmu sudah menjelaskan semuanya.”

Wulan memutus panggilan.

Tangannya sedikit gemetar ketika meletakkan ponsel, tetapi ia segera kembali ke mesin kopi. Arkan tidak bertanya. Ia hanya memindahkan kursi agar Laras bisa duduk lebih dekat kepada ibunya.

Setelah Wulan masuk ke ruang penyimpanan, Arkan menatap Laras. “Kamu mau aku melakukan sesuatu?”

“Seperti apa?”

“Bicara dengannya. Atau memastikan dia nggak mengganggu Mama kamu lagi.”

Laras menggeleng. “Belum. Ini urusan yang harus Mama putuskan sendiri.”

“Baik.”

Tidak ada desakan untuk menjadi penyelamat. Arkan hanya mengambil dua gelas air, memberikan satu kepada Laras, lalu membawa satu lagi ke ruang penyimpanan untuk Wulan.

Ketika Wulan kembali, wajahnya sudah tenang. “Jangan biarkan telepon itu merusak hari kalian.”

“Mama benar-benar nggak apa-apa?” tanya Laras.

“Mama sudah hidup tanpa kabarnya bertahun-tahun. Satu panggilan nggak akan mengubah apa pun.” Wulan menyentuh cincin di tangan putrinya. “Pulanglah. Bangun rumahmu sendiri.”

Malam berikutnya, Laras bersiap menjalani shift pertama setelah menikah. Saat ia memasang jam tangan, Arkan berdiri di depan pintu ruang ganti dengan jadwal penerbangan di tangan.

“Selesai jam berapa?”

“Kalau nggak ada tambahan, tengah malam.”

“Sektor?”

“Tergantung pembagian Pak Bagas.”

“Kabari setelah selesai.”

“Kamu terbang?”

“Satu leg. Harusnya sudah landing sebelum shiftmu selesai.”

Ia menyerahkan tas makan berwarna hitam. Di dalamnya ada nasi, ayam panggang, irisan buah, dan kopi tanpa gula dalam botol kecil.

“Aku bisa beli makan di kantor.”

“Bisa. Tapi biasanya kamu baru ingat setelah lewat jam makan.”

“Mama cerita lagi?”

“Aku mengamati.”

Laras membuka botol kopi. Aromanya pas seperti yang biasa ia buat sendiri. “Kamu baru tiga hari mengamatiku.”

“Cukup untuk tahu kamu berbohong kalau bilang nggak lapar.”

Laras mengangguk dan mengambil tas. Ia tidak bertanya nomor penerbangannya. Bertanya akan terdengar terlalu ingin tahu.

Satu jam kemudian, ia berjalan memasuki aula Jakarta Approach dengan seragam kerja dan cincin tersembunyi di balik sarung tangan tipis yang belum dipakai.

Laras mengenakan headset, menerima serah terima posisi, lalu melihat sebuah label bergerak menuju batas sektornya.

Nusantara.

Ia belum tahu siapa kaptennya.

Jantungnya sudah lebih dulu melompat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!