NovelToon NovelToon
Kembar Genius Milik Tuan Kenzo

Kembar Genius Milik Tuan Kenzo

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:254.1k
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

Enam tahun lalu, Kenzo Roman De Luca kehilangan seorang wanita yang tak pernah berhasil ia lupakan. Yang tak pernah ia ketahui, wanita itu pergi membawa dua kehidupan yang tumbuh menjadi anak-anak genius.

Takdir mempertemukan mereka kembali.
Namun, sebelum Kenzo mengetahui kebenarannya, seorang bocah laki-laki yang tak sengaja bertemu dengannya dengan berani menawari sesuatu padanya.

"Asal Anda siap menikah dengan Mommy kami. Maka saya siap bekerja sama dengan Anda," ujar Mateo enteng.

Kenzo terpaku, dia tak tahu anak yang sedang memohon kepadanya itu adalah putranya sendiri. Akankah, Kenzo setuju atau justru sebaliknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Di depan mobil, suasana menjadi jauh lebih tenang. Kenzo berdiri di samping mobilnya. Tatapannya tertuju kepada Mateo dan Alisya. Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia membuka suara.

"Maaf," Suara itu pelan, tetapi terdengar jelas.

"Saya datang terlambat." Kenzo menatap kedua anaknya itu.

Mateo tidak menjawab. Alisya hanya menggenggam tangan kakaknya. Kenzo kemudian mengalihkan pandangannya kepada Maya.

"Kenapa Anda tidak memberi tahu saya?"

Maya mengangkat sebelah alis.

"Bagaimana caranya? Aku bahkan tidak punya nomor pribadi Tuan Kenzo."

Kenzo menjawab datar. "Memang, nomor pribadi saya tidak dimiliki sembarangan orang."

Maya langsung mendengus. "Ih ... sombong."

Digo refleks menundukkan kepala, menahan senyum. Namun, Kenzo seolah tidak mendengar gerutuan itu.

"Tapi Anda bisa menghubungi Mommy mereka. Setidaknya memberi tahu apa yang terjadi."

Maya menghela napas. "Kejadiannya berlangsung sangat cepat. Aku sedang berusaha melindungi mereka."

Sebelum Maya melanjutkan, suara Mateo terdengar.

"Aku udah biasa menghadapi hal-hal seperti ini," semua menoleh kepadanya. Mateo menatap lurus ke arah Kenzo.

"Aku udah bisa menjaga diriku sendiri sejak kami kecil." Ia menggenggam tangan Alisya sedikit lebih erat.

"Bahkan aku yang menjaga adikku."

Keheningan menyelimuti mereka. Tatapan Mateo tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun. Kalimat berikutnya keluar dengan nada tenang, tetapi terasa begitu tajam.

"Kalau Daddy nggak telat tau bahwa kami anak Daddy semua ini nggak akan pernah terjadi."

Kenzo terdiam, tak ada bantahan dan tak ada alasan. Di sampingnya, Digo sampai melebarkan mata.

'Astaga...' batinnya. 'Selama bertahun-tahun saya bekerja dengan Tuan Kenzo, belum pernah ada yang membuat beliau terdiam seperti ini.'

Digo melirik Mateo.

"Tuan Muda benar-benar sudah menemukan titik lemah Tuan Kenzo."

Sementara itu, Kenzo masih menatap putranya. Ucapan bocah lima tahun itu jauh lebih menusuk daripada kemarahan para direksi, ancaman para pesaing bisnis, atau kritik para kolega. Ia menyadari bahwa bukan hanya Mateo dan Alisya yang kehilangan seorang ayah selama lima tahun terakhir. Ia pun telah kehilangan lima tahun kehidupan bersama kedua anaknya.

Kenzo terdiam beberapa saat setelah mendengar ucapan Mateo. Angin siang berembus pelan di area parkir sekolah.

Tidak ada yang berbicara. Bahkan, Digo memilih diam, karena ia tahu atasannya sedang memikirkan banyak hal. Beberapa detik kemudian, Kenzo membuka suara.

"Mateo."

Bocah itu mengangkat wajahnya.

"Hari ini kalian pulang bersama saya."

Mateo tidak langsung menjawab. Kenzo lalu menoleh kepada Maya.

"Dan Anda bisa kembali bekerja, mereka akan bersama saya sampai sore nanti, tolong beri tahu Mommy mereka,"

Maya melirik Mateo dan Alisya sejenak. Sejujurnya, ia masih sedikit khawatir. Namun, setelah kejadian hari ini, Maya tahu satu hal. Kenzo tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh kedua anak itu lagi.

Maya menghela napas pelan, "baiklah." Lalu ia menunduk dan mengusap kepala Alisya.

"Alisya, dengarkan Daddy, ya."

Alisya mengangguk kecil. "Iya, Bibi."

Maya kemudian menatap Mateo. "Kamu juga harus baik-baik sama Daddy ya,"

Mateo menjawab singkat. "Hm."

Tak banyak bicara. Persis seperti seseorang yang berdiri beberapa langkah di depannya. Kenzo memperhatikan putranya beberapa saat. Sangat mirip dengan dirinya sendiri. Untuk sesaat, Kenzo merasa seperti sedang melihat versi kecil dirinya berdiri di hadapannya. Bedanya, versi kecil itu menatapnya dengan sedikit rasa kesal. Tanpa berkata apa-apa lagi, Mateo menggandeng tangan Alisya.

"Ayo,"

Alisya mengikuti kakaknya. Mateo berjalan menuju mobil dengan langkah tenang. Ia hanya membuka pintu belakang mobil dan masuk ke dalam. Alisya ikut duduk di samping kakaknya.

Sementara itu, Kenzo masih berdiri di luar mobil, Digo mendekat pelan.

"Tuan..."

Kenzo tidak menjawab. Matanya masih tertuju pada Mateo yang duduk di dalam mobil sambil menatap keluar jendela. Ekspresinya datar, persis seperti dirinya ketika menghadapi masalah besar.

Digo tersenyum tipis. "Sepertinya Tuan Muda benar-benar mirip dengan Anda."

Kenzo terdiam, lalu berkata pelan,

"Itu masalahnya."

Digo berkedip bingung, Kenzo merapikan jasnya sebelum masuk ke mobil.

"Kalau dia memang mirip saya berarti dia juga keras kepala."

Digo hampir tertawa mendengar itu. Karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ada seseorang yang membuat Tuan Kenzo De Luca, CEO dingin dan sulit ditebak itu, mulai memikirkan cara mendekati seorang anak laki-laki berusia lima tahun yang sifatnya sama persis dengan dirinya sendiri.

Di dalam mobil, suasana hening. Alisya duduk tenang sambil memeluk tas sekolahnya. Mateo masih menatap keluar jendela. Kenzo duduk di samping mereka.

"Daddy." Suara Alisya memecah keheningan.

Kenzo menoleh.l, "ya?"

Alisya memiringkan kepalanya polos.

"Kalau hari ini Daddy nggak datang apa Kak Mateo benar-benar harus berlutut?"

Pertanyaan itu membuat suasana di dalam mobil kembali hening. Mateo tetap menatap keluar jendela. Namun, jemarinya perlahan mengepal di atas pangkuannya.

"Siapa yang mau berlutut sama mereka!" Nada suaranya terdengar kesal.

"Aku sampai kapan pun nggak akan ngaku salah kalau memang nggak berbuat salah. Aku tadi cuma lindungi kamu aja. Lagian aku cuma bela diri nggak bermaksud lukai Raka. Aku cuma dorong kecil dia udah jatuh, Raka aja yang lemah."

Kenzo melirik putranya dari sudut mata.

"Jadi menurutmu Raka lemah, sedangkan kamu kuat?"

Mateo mendengus pelan, Kenzo kemudian berkata dengan nada tenang.

"Dengarkan Daddy. Melindungi orang lain memang benar, apalagi adik sendiri. Tapi kekerasan tetap bukan pilihan pertama. Kalau masih ada cara untuk menghindar, kamu harus menghindar. Kalau benar-benar sudah tidak ada jalan lain dan kamu atau adikmu berada dalam keadaan mendesak, barulah kamu boleh membela diri secukupnya."

Mateo mendengarkan tanpa mengalihkan pandangan dari jendela. Sesaat kemudian ia mencibir pelan.

"Kayak Daddy udah paling benar aja."

Kenzo mengernyit, Mateo akhirnya menoleh.

"Padahal tadi Daddy juga pakai kekerasan. Di depan anak-anak lagi, Daddy nendang kepala sekolah, lalu menampar Mama Raka. Bedanya apa sama yang Daddy larang ke aku?"

Mobil kembali sunyi, Kenzo terdiam, dia kehabisan kata-kata. Digo yang duduk di kursi depan hanya tersenyum tipis sambil menahan tawanya.

Dalam hati ia bergumam, 'Tuan Muda benar-benar mewarisi sifat Tuan. Kalau sudah membalas, tidak ada celah untuk menyela.'

Kenzo akhirnya mengembuskan napas pelan.

"Kamu benar."

Mateo sedikit terkejut karena tidak menyangka ayahnya akan mengakuinya.

"Apa yang Daddy lakukan tadi bukan contoh yang baik. Tapi Daddy juga manusia. Daddy marah ketika melihat kalian diperlakukan seperti itu. Meski begitu..." Kenzo menoleh menatap Mateo.

"Itu bukan berarti Daddy ingin kamu meniru cara Daddy."

Mateo tidak menjawab, dia kembali memandang keluar jendela. Meski masih memasang wajah datar, dalam hati ia mulai memikirkan ucapan ayahnya.

Sementara itu, di area parkir sekolah. Farhan membanting pintu mobilnya dengan keras. Ia berbalik menatap Disti dengan wajah penuh amarah.

"Puas sekarang?"

Disti ikut terpancing emosi. "Maksud Mas apa?"

"Kalau kamu tidak mencari gara-gara dengan keluarga De Luca aku tidak akan ikut terseret sejauh ini!" Bentak Farhan.

Disti tidak mau kalah. "Aku cuma membela anak kita! Raka nggak salah!"

Farhan menggeleng keras.

"Justru karena kamu selalu membela apa pun yang dia lakukan! Anak kita jadi merasa semua tindakannya benar. Dia mengejek temannya, kamu malah membenarkan. Dia memulai keributan, kamu menyalahkan anak lain dan membela anak sendiri tanpa mencari tau lebih dulu siapa yang salah."

Wajah Disti memerah. "Jadi sekarang salahku?"

"Iya!" Farhan membentak lebih keras. "Yang salah itu kamu karena terlalu memanjakan Raka!"

Tangisan Raka yang duduk di kursi belakang membuat keduanya terdiam sejenak. Namun, sebelum sempat berbicara lagi ponsel Farhan berdering. Ia melihat nama yang muncul di layar, kantor hukumnya.

Farhan segera mengangkat panggilan itu.

"Halo."

Belum sampai lima detik mendengarkan, wajahnya berubah.

"Apa? Surat dari tim hukum De Luca sudah masuk? Hari ini juga?"

Ekspresi Farhan perlahan mengeras. Ia menatap kosong ke depan.

Sementara, suara di seberang telepon terus menjelaskan bahwa tim hukum De Luca bergerak sangat cepat dan telah menyiapkan langkah hukum berdasarkan bukti serta keterangan para saksi. Farhan mengepalkan ponselnya erat. Farhan tahu, bahwa persoalan di sekolah tadi bukan sekadar pertengkaran anak-anak. Kini, masalah itu telah berubah menjadi sengketa hukum yang dapat memengaruhi nama baik dan kariernya sendiri.

"Sial!" Teriak Farhan memukul setir mobilnya.

1
Teh Euis Tea
aku penasaran sm pasangan Kenzi thor😁
Teh Euis Tea
Tara manggil Alex Daddy dong masa tuan
fatin Rahman
bingung saya.. bukan Alex sudh meninggal🤭 kenapa kenzi mengatakan Mama dady nya menunggu penjelasan Dr kenzo💪
Lisa Halik
lagi thor double up
dewi rofiqoh
Makin ramai mansion vasillo
Susma Wati
nah keluarga ara di libat kan dalam kisah kenzo 👍👍👍
mimief
kan mau nyebrang jalan zi,jadi dipegangi Mulu 🤣🤣..
anknya di biarin aja
bini nya tangannya ga mau dilepas 🫣🤣🤣
dasar...mantan jomblo 40 th🙄
mimief
wkwkwkwkwkwk
aku suka keributan ini
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
umur brp lg tuh si kenzo y. si ara aja udah umur 30 lahirin si acha.
Teh Euis Tea: Kenzo Kenzi 55 thn berarti Kenzi jomblo abadi ya, kasian Kenzi ga ada niatan nikah
total 5 replies
Ema Susanti
jangan ada drama acha suka sama kenzo pamannya. acha kan anak sambung ara
Aisyah Alfatih: Acha itu anak kandung Ara, yang anak sambung itu Alya dan dia udah nikah sama seseorang 🤭 ada novelnya kok...
total 3 replies
mimief
ternyata..bahagia itu sederhana dan murah ya
asal kau di sisi ku dan memegang erat tangan ku
semua akan baik baik saja 😍
Mutia
Ara, adiknya Kenzo kn gak pernah disingging sama sekali, spy Tara jg mengenalnya.
Rokhyati Mamih
Acha ngga bareng mama Ara nih ?
Aisyah Alfatih: nggak ya, Acha itu tinggal sama Alex dan Tasya, dan seluruh biaya sekolahnya di biayai sama mereka.
total 1 replies
Storyginal Finger
💪🤭
Lisa Halik
aranya ke mana thor....sudah bagi gift,semangat updatenya
mimief: jagain elang..di rumah sakit😔
total 1 replies
Lisa Halik
double up thor..gift menyusul😍
Rahmat
tadix berfikir yg gak"ternyata baik"sj syukur lah😅
dewi rofiqoh
Ukir kenangan indah bersama keluarga tuan alex, selagi masih ada waktu dan kesempatan
Rokhyati Mamih
sabar Kenzo biarkan dady mu bahagia
Ita rahmawati
jgn khawatir Ken orang yg kmu khawatirin geh B aja 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!