NovelToon NovelToon
Ibu Tiri Penyelamat Dua Pewaris

Ibu Tiri Penyelamat Dua Pewaris

Status: tamat
Genre:Asmara / Perubahan Hidup / CEO / Anak Genius / Ibu Tiri / Transmigrasi / Healing / Antagonis Jahat / Tamat
Popularitas:11.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nilam

Karina terbangun sebagai ibu tiri kejam dalam novel yang baru ia baca. Nathan dan Lucas, dua anak kecil yang seharusnya ia lindungi, justru gemetar setiap kali melihatnya. Lebih gawat lagi, Sebastian Wijaya, suaminya yang dingin dan berkuasa, pulang dengan kecurigaan tajam.
Karina hanya punya satu pilihan: memperbaiki semuanya sebelum terlambat.
Namun ketika Nathan dan Lucas mulai memanggilnya Mama, rahasia keluarga Wijaya perlahan terbuka. Pernikahan tanpa cinta berubah menjadi perjuangan melawan masa lalu, fitnah, dan keluarga besar yang ingin memisahkan mereka.
Bisakah Karina menjadi Mama yang mereka butuhkan sebelum takdir menyeretnya pergi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nilam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 1

Bab 1

Terjaga di Gubuk Cibungur

"Ma... Mama nggak apa-apa? Kenapa matanya beda?"

"Jangan panggil dia Mama. Dia bukan Mama kita."

Suara kedua terdengar lebih keras, tetapi getarnya tak bisa disembunyikan. Disusul bunyi sesuatu yang bergesek di lantai, lalu embusan napas dua anak yang sama-sama ditahan.

Karina membuka mata.

Rasa sakit langsung menghantam belakang kepalanya. Pandangannya berputar, perutnya melilit kosong, dan tulang punggungnya seolah ditusuk satu per satu oleh anyaman tikar kasar di bawah tubuhnya.

Ia tidak mengenali langit-langit rendah di atasnya.

Bambu penyangga yang menghitam oleh asap. Atap rumbia dengan lubang kecil di dekat sudut. Dinding tanah yang lembap dan bernoda kehijauan. Udara dini hari masuk dari celah jendela tanpa kaca, membawa bau tanah basah, abu dingin dari tungku, dan kandang ayam.

Kukuruyuk terdengar jauh di luar.

Ini bukan kamar kosnya. Bukan pula laboratorium tempat ia terakhir kali memeriksa kultur sampai lewat tengah malam.

Karina mengangkat siku untuk bangun.

"Jangan bergerak!"

Sebuah sapu melesat ke depan.

Ujung lidi yang sudah mekar dan berbulu menggesek lehernya. Kulit di bawah rahangnya terasa perih. Karina membeku dengan satu telapak tangan masih menekan lantai.

Di dekat pintu berdiri seorang anak laki-laki yang terlalu kurus untuk usianya. Kedua tangannya menggenggam gagang sapu sekuat tenaga. Buku-buku jarinya memutih, bahunya terangkat, dan kedua kakinya terbuka dalam kuda-kuda yang goyah.

Mungkin enam tahun, pikir Karina.

Anak itu mengenakan kaus lengan panjang yang kebesaran dan celana kusam dengan lutut penuh tambalan. Rambutnya berantakan. Ada lebam kekuningan di pelipisnya, sementara satu garis kebiruan menyembul dari balik kerah.

Namun yang membuat dada Karina tercekat bukan luka-luka itu.

Tatapan anak tersebut terlalu siap untuk disakiti.

Di belakangnya, seorang bocah yang sedikit lebih kecil mencengkeram bagian belakang kaus sang kakak. Wajahnya pucat di balik lapisan debu. Bulu matanya basah. Satu tangannya menutup mulut, tangan yang lain menekan perutnya sendiri.

Kausnya terangkat sedikit. Kulit di atas pusarnya memerah oleh tekanan jemari yang berusaha membungkam lapar.

Kruuk.

Bunyi itu kecil, nyaris tenggelam oleh kokok ayam. Bocah tersebut tetap tersentak. Ia buru-buru menekan perut lebih kuat, lalu melirik Karina dengan ketakutan seolah tubuhnya baru saja melakukan kesalahan besar.

"Maaf," bisiknya.

Hanya karena lapar, anak itu meminta maaf.

Karina menahan napas. Tenggorokannya mendadak panas.

"Lucas, jangan bicara," ujar anak yang memegang sapu. Ia bergeser setapak, menutup adiknya lebih rapat. "Di belakang Kakak."

Lucas.

Nama itu jatuh di benak Karina seperti batu ke permukaan air. Riak pertama belum hilang ketika nama lain muncul dari tempat yang tak ia kenali, lengkap dengan wajah, suara, dan serpihan kejadian.

Nathan.

Nathan Wijaya dan Lucas Wijaya.

Tidak mungkin.

Karina memejamkan mata, tetapi gelombang ingatan telanjur menerjang. Sebagian adalah miliknya sendiri: meja laboratorium, aroma alkohol, layar ponsel yang menyala di kamar gelap, dan novel daring yang ia baca sampai pagi. Sebagian lagi terasa asing dan kotor di dalam kepalanya: pintu yang dibanting, uang yang disembunyikan, tangis anak-anak, serta sapu yang sama ketika diayunkan ke betis kecil.

Napas Karina tersangkut.

Ia mengenal adegan ini.

Desa Cibungur. Rumah reyot di kaki pegunungan. Dua bocah dari keluarga Wijaya yang dibuang ke kampung bersama ibu tiri mereka atas dalih belajar hidup sederhana.

Dan perempuan yang tubuhnya kini ia tempati adalah Karina Tanaya, ibu tiri jahat dalam novel *Dendam Sang Konglomerat*.

Karakter kecil yang dibenci setiap pembaca.

Perempuan yang melampiaskan amarah kepada dua anak karena merasa ditelantarkan keluarga suaminya. Perempuan yang menyembunyikan uang kiriman, membiarkan dapur kosong, lalu menghukum anak-anak setiap kali mereka menangis lapar.

Kelak, semua perbuatannya akan terbongkar.

Sebastian Wijaya akan datang menagih satu per satu. Dalam cerita itu, Karina kehilangan tangan yang pernah memukul, kaki yang pernah menendang, lalu mati sendirian di gunung tanpa seorang pun bersedia mencari jasadnya.

Rasa dingin menjalar dari tengkuk hingga ujung kaki.

"Kak," Lucas merengek sangat pelan. "Dia kenapa?"

"Jangan lihat dia."

Nathan mengatakannya seperti perintah, tetapi matanya sendiri tak lepas dari Karina. Sapu itu tetap terangkat. Tubuh kecilnya gemetar karena takut, kedinginan, atau terlalu lama menahan berat gagangnya.

Karina menelan ludah. Bibirnya pecah dan rasa asin darah menyentuh lidah.

Tak ada gunanya memikirkan kematiannya sekarang.

Di depannya ada dua anak yang yakin satu gerakannya akan berakhir dengan pukulan.

Perlahan, Karina menurunkan siku. Ia tidak berdiri. Ia bahkan menggeser tubuh menjauh dari tikar dan duduk di sudut dinding, memberi jarak selebar mungkin di ruangan sempit itu.

Nathan mengikuti setiap gerakannya dengan ujung sapu.

"Aku nggak akan mendekat," kata Karina.

Suaranya serak. Kedua bocah itu tersentak juga.

Ia mengangkat kedua tangan sampai telapak tangannya terlihat kosong, lalu meletakkannya di atas paha. Tidak ada gerakan mendadak. Tidak ada tangan yang terangkat lebih tinggi daripada bahu.

"Sapunya boleh diturunkan. Berat, kan?"

Nathan menggeleng cepat.

"Nggak berat."

Gagangnya bergetar semakin jelas.

Lucas menyentuh siku kakaknya. "Kak Nathan..."

"Aku kuat."

Jawaban itu terlalu tergesa. Nathan mengatupkan rahang seperti seorang anak yang pernah belajar bahwa terlihat lemah berarti memberi orang lain kesempatan untuk menyakiti.

Karina tidak membantah. Tatapannya jatuh pada kaki Lucas yang menyembul di balik tubuh kakaknya.

Celana bocah itu berhenti di atas mata kaki. Pada tulang keringnya terdapat luka memanjang yang mengering tanpa balutan. Keropengnya pecah di bagian tengah, dikelilingi kulit kemerahan. Di betis satunya ada dua garis lama berwarna keunguan.

Potongan ingatan asing menyambar lagi.

Suara anak menangis. Sebatang ranting lentur di tangan perempuan. Pintu dapur dikunci dari luar.

Karina memalingkan wajah. Lambungnya bergolak meski kosong.

Tubuh ini yang melakukannya.

Bukan dirinya, tetapi rasa ngeri di mata kedua anak itu melekat pada wajah yang sekarang ia miliki. Kalau ia meminta mereka percaya hanya karena jiwa di dalam tubuh ini telah berubah, itu sama saja menyuruh luka menutup karena pelakunya mengucapkan satu kalimat.

Tidak ada anak yang berutang kepercayaan kepadanya.

"Aku minta maaf," ucap Karina.

Nathan berkedip. Sesaat saja, ujung sapu turun beberapa sentimeter. Kemudian ia seperti tersadar dan kembali mengangkatnya.

"Bohong."

Satu kata itu begitu pelan, tetapi tepat mengenai dada Karina.

"Iya," jawabnya. "Kalian boleh menganggap aku bohong."

Nathan tampak kebingungan. Barangkali ia sudah menyiapkan diri menghadapi bentakan, bukan persetujuan.

Karina menarik napas perlahan. "Tapi mulai sekarang, aku nggak akan memukul kalian lagi."

"Kemarin juga bilang begitu," sahut Nathan.

Lucas langsung menarik bajunya, seakan ucapan tersebut terlalu berbahaya. "Kak, jangan. Nanti dia marah."

Karina menggigit bagian dalam pipinya.

Ingatan itu muncul tanpa diminta. Perempuan sebelum dirinya pernah tersenyum, menjanjikan makanan, lalu menyuruh anak-anak berdiri di luar karena mereka menjatuhkan mangkuk. Berapa kali janji sederhana dipakai sebagai perangkap?

"Aku nggak marah," katanya. "Kamu benar. Kalau aku sudah pernah berbohong, kalian nggak perlu percaya sekarang."

Ruangan kembali sunyi.

Tetes air jatuh dari sudut atap ke baskom retak. Tik. Tik. Tik.

Lucas mengintip dari bahu kakaknya. Matanya merah, pipinya cekung, dan helaian rambut menempel di kening yang berkeringat. Pagi di pegunungan sedingin ini, tetapi wajah bocah itu tampak terlalu panas.

Karina baru menyadari napasnya pendek-pendek.

"Lucas sakit?"

Nathan langsung merapatkan tubuh. "Nggak."

"Keningnya berkeringat."

"Dia nggak sakit."

"Kak..." Lucas bersandar pada punggung Nathan. Kelopak matanya turun sesaat. "Aku cuma dingin."

Nathan meraih tangan adiknya tanpa melepaskan sapu. Telapak kecil itu menempel ke pipi Lucas, meniru cara orang dewasa memeriksa demam, lalu buru-buru ditarik kembali.

Wajahnya berubah.

Ia tahu adiknya panas.

Namun ketakutan pada Karina lebih besar daripada ketakutan pada demam itu sendiri.

Karina menggeser pandangannya ke pintu. Tak ada obat. Tak ada air hangat. Ia bahkan belum tahu di mana sumber air terdekat. Tubuhnya sendiri lemas karena tiga hari hanya mendapat beberapa suap makanan, sebuah ingatan yang terasa seperti ironi kejam: perempuan itu menahan lapar demi mengasihani diri, tetapi tetap membiarkan dua anak kecil kelaparan bersamanya.

Ia harus memeriksa suhu Lucas. Sesudah itu mencari air, makanan, dan apa pun yang bisa digunakan untuk membersihkan luka.

Namun ketika Karina baru mengangkat satu tangan, Nathan mengacungkan sapu lebih tinggi.

"Jangan!"

Karina berhenti.

"Aku cuma mau memeriksa dahinya."

"Nggak boleh."

"Aku nggak akan menyakitinya."

"Nggak boleh!"

Suara Nathan pecah. Lucas ikut terisak di belakangnya. Mereka mundur bersamaan sampai punggung Lucas menabrak dinding tanah. Tak ada lagi tempat untuk menjauh.

Karina segera menurunkan bahu. Ia membuka telapak tangannya, memperlihatkan jari-jari kosong, lalu duduk lebih rendah agar wajah mereka sejajar.

"Lihat tangan Mama," katanya selembut mungkin. "Nggak ada apa-apa. Sapunya taruh dulu, ya. Mama nggak akan mukul kalian lagi."

Kata itu membuat Nathan terdiam.

Mama.

Ada sesuatu yang melintas di wajahnya. Bukan percaya. Bukan pula lega. Hanya luka lama yang seolah baru disentuh di tempat paling sakit.

Genggamannya pada gagang sapu malah semakin erat.

Karina tidak bergerak selama beberapa detik. Setelah napas Nathan sedikit melambat, ia mengulurkan tangan setapak demi setapak, hanya ingin menyentuh kening Lucas dengan punggung jarinya.

Nathan mendadak menarik adiknya ke belakang.

Dua tubuh kecil itu terdesak ke sudut. Gagang sapu terangkat untuk kedua kalinya, tepat di antara telapak tangan Karina yang menggantung dan wajah Lucas yang memerah karena demam.

1
awesome moment
pelakor ternuata tu jess jess
awesome moment
vincent dan sebastian punya rahasia p n
awesome moment
udh makin cinta kn
awesome moment
cinta yg tumbuh perlahan
awesome moment
lucas pernah ke sana
awesome moment
vincent c kuman
awesome moment
sebastian lahir dri kekejian herman thd elina
awesome moment
sebastian dan karina sama2 hidup kembali
awesome moment
ratih n lbh jahat dri dajjal. tega dgn anak kecil. demi harta
awesome moment
sabrina n wujud dajjal
awesome moment
banyak tangan yg mau menjaga nabil dan rafi. smg mrk ttp terlindungi dri org2 dws yg hnya melihat uang
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
awesome moment
kasihan anak2. sejarah adopsi nabil dan rafi penuh cerita keknya
awesome moment
mmg membangun mental yg hampir runtuh butuh perjuangan dan kejujuran
awesome moment
kasihan 2 bocil.
awesome moment
smua butuh proses
awesome moment
sll d yg bemar di lautan kesalahan
awesome moment
s7 bgts dgn alya.
awesome moment
siapa yg bantu raka dan alya. d pemain lain n
awesome moment
alya brubah. demi nabil dan rafi. smg sm author, alya g dibalikin lg ke dunia nyata. tar nabil sm rafi oleng
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!