Suatu malam, entah kenapa, muncul semacam notifikasi aneh di kepala Doni — seperti pesan sistem di game, tapi ini nyata. Sistem ini memberinya satu informasi akurat setiap minggu: bisa berupa saham yang akan melejit, barang langka yang harganya bakal meroket, atau peluang bisnis kecil yang menguntungkan. Masalahnya, modal Doni nyaris nol. Jadi cerita ini bukan tentang tiba-tiba kaya, tapi soal gimana Doni pelan-pelan memutar informasi terbatas jadi modal, sambil tetap kuliah, kerja part-time, ngurusin teman-teman kos yang berisik, dan menghindari kecurigaan orang-orang di sekitarnya kenapa dia tiba-tiba "beruntung" terus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachmat Rachimullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Undangan Tak Terduga
Senin sore, seminggu setelah obrolan sarapan di warung nasi kucing, Casanova nyamperin Doni yang lagi duduk di teras kos, mukanya keliatan sumringah dari kejauhan.
"Don! Don! Gue dapet sesuatu!" teriaknya, sambil lari kecil dari gerbang kos, hampir aja nyenggol jemuran Bu Warti yang masih basah.
"Apaan, Bro? Pelan-pelan, jemuran Ibu kos jangan sampe kena," Doni buru-buru nyingkirin laptopnya dari jangkauan Casanova yang keliatan terlalu semangat.
Casanova duduk, ngatur napas sebentar, terus ngeluarin HP-nya. "Sepupu gue, yang kerja di perkebunan Wijaya itu, bilang bulan depan ada acara CSR gede. Panen raya sama bagi-bagi bantuan buat masyarakat sekitar perkebunan. Biasanya, keluarga besar Wijaya ikut hadir, termasuk... yang paling sepuh."
Doni langsung duduk tegak. "Kakek gue bakal dateng?"
"Kemungkinan besar, Don. Sepupu gue bilang, beliau jarang absen dari acara tahunan itu, udah kayak tradisi keluarga."
Jantung Doni berdegup kencang, campuran antara excited dan takut. Ini kesempatan yang udah dia tunggu, tapi juga bikin dia ragu gimana caranya dia bisa hadir di acara semacam itu tanpa keliatan mencurigakan, apalagi tanpa diundang resmi.
"Acaranya buat umum, Bro, atau khusus undangan?"
"Nah, ini yang menarik. Katanya, mereka buka slot relawan buat mahasiswa, biasanya dari kampus-kampus sekitar kabupaten, bantu-bantu bagi sembako sama dokumentasi acara. Kalau lo daftar jadi relawan, otomatis lo bisa masuk ke lokasi acara, legal, nggak mencurigakan."
Doni menatap Casanova, ngerasa ide itu genius banget. "Lo bisa bantu daftarin gue, Bro?"
"Udah gue siapin, Don. Tinggal isi formulir online doang, gue kirim linknya sekarang."
Malam itu, Doni langsung isi formulir pendaftaran relawan, jantungnya masih berdegup tiap kali mikirin kemungkinan bakal ketemu langsung, atau minimal ngeliat dari dekat, sosok yang selama ini cuma jadi nama dan cerita dari orang tuanya.
Doni cerita rencana itu ke Sinta keesokan harinya, waktu mereka jalan bareng ke kelas.
"Serius, Don? Lo mau ke sana, ke acara keluarga kakek lo, sebagai relawan?" Sinta keliatan khawatir, langkahnya jadi lebih pelan.
"Iya, Sin. Ini kesempatan paling masuk akal buat gue liat langsung situasinya, tanpa harus dateng terang-terangan sebagai cucu yang tiba-tiba nongol."
"Tapi gimana kalau lo malah ketauan, terus jadi ribut di depan umum? Itu bisa bahaya, Don, apalagi kalau keluarga besarnya emang keras kayak yang diceritain."
Doni diam sebentar, mikirin kekhawatiran Sinta yang emang masuk akal. "Gue nggak akan langsung ngaku-ngaku, Sin. Gue cuma mau liat dulu, ngerasain suasananya, siapa tau ada celah buat kenalan pelan-pelan, tanpa harus buka identitas langsung."
"Lo yakin bisa nahan diri kalau beneran ketemu langsung sama beliau?"
Pertanyaan itu bikin Doni terdiam lebih lama. Jujur, dia sendiri nggak yakin sepenuhnya gimana reaksi dia kalau beneran berhadapan langsung sama kakek yang selama ini cuma jadi sosok abstrak di kepalanya.
"Gue nggak tau, Sin. Tapi gue harus coba. Ini bukan cuma soal gue, ini juga soal Ibu, yang udah dua puluh tahun lebih nyimpen luka itu sendirian."
Sinta menghela napas, akhirnya mengangguk pelan. "Oke. Tapi gue ikut."
"Hah? Lo ikut jadi relawan juga?"
"Iya. Gue nggak akan biarin lo ke sana sendirian, Don. Kalau ada apa-apa, minimal ada yang bisa bantu atau narik lo keluar sebelum situasinya makin runyam."
Doni tersenyum, ngerasa hangat denger kepedulian itu. "Makasih, Sin."
Seminggu berikutnya, persiapan buat acara CSR itu berjalan lumayan sibuk. Doni, Sinta, dan Casanova resmi terdaftar sebagai relawan, sementara Mamat, yang lebih suka di belakang layar, milih bantu ngurusin laporan koperasi yang tetap harus jalan meski Doni lagi fokus ke misi lain.
"Lo yakin nggak butuh gue ikut juga, Don?" tanya Mamat suatu malam, waktu mereka lagi ngumpul di ruang tengah kos.
"Nggak usah, Mat. Biar lo di sini aja pegang laporan koperasi, itu juga penting banget. Kalau semua orang ninggalin urusan koperasi buat misi ini, bisa berantakan nanti."
Mamat mengangguk, ngerti posisinya. "Oke, Don. Gue pegang sini. Lo fokus aja sama urusan keluarga lo."
Casanova, di sisi lain, sibuk koordinasi sama sepupunya soal detail teknis acara jam berapa mulai, siapa aja yang bakal hadir dari keluarga besar, sampai posisi tugas relawan yang paling memungkinkan buat Doni bisa deket sama area utama acara.
"Menurut info terakhir, kakek lo bakal buka acara jam sepuluh pagi, kasih sambutan singkat, terus keliling liat proses bagi-bagi sembako," jelas Casanova, nunjukin catatan yang dia rangkum dari obrolan sama sepupunya.
"Berarti gue harus di posisi yang deket sama area itu," kata Doni, mikir strategi.
"Udah gue usahain, Don. Gue minta ke sepupu gue biar lo sama Sinta ditempatin di seksi dokumentasi, biasanya mereka yang paling bebas gerak, bisa muter-muter ambil foto tanpa dicurigai."
Doni mengangguk, ngerasa rencana ini mulai kebentuk rapi, meski di dalam hati dia tau, secanggih apapun persiapannya, dia nggak akan pernah bisa benar-benar siap buat momen yang mungkin bakal dia hadapi.
Malam sebelum keberangkatan, Doni duduk sendirian di kamar, natap foto lama orang tuanya yang dia foto dari album di kampung beberapa minggu lalu, disimpen sebagai wallpaper HP-nya.
Dia mikir soal ibunya, yang sampai sekarang belum tau rencana ini. Dia sengaja belum cerita, takut ibunya khawatir atau malah ngelarang keras.
"Maaf ya, Bu," gumamnya pelan, "Doni cuma pengen tau, bukan mau bikin masalah."
Dari balik kelopak mata yang mulai berat, dia sempat mikir, entah minggu ini bakal ada notifikasi sistem baru atau nggak.
Tapi untuk pertama kalinya sejak dengingan itu muncul tujuh bulan lalu, dia ngerasa apa yang bakal dia hadapi besok jauh lebih penting daripada info apapun yang mungkin dikasih sistem saat itu murni soal keberanian dan hati, bukan soal peluang atau untung.