Dulu kopilot yang satu kokpit dengannya. Lalu istri siri yang dibuang dengan selembar talak. Tapi Anindya kembali—terbang lagi ke maskapai sang Kapten yang mencampakkannya, sambil menyimpan rahasia: dia pemilik Klub Enggar dan pewaris Grup Wicaksana. Ibunya dibunuh ibu tiri dan saudari tirinya. Amara cuma pramugari di kabin; hanya Anindya yang duduk di kokpit. Kini sang Kapten berlutut, menyesal… terlambat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
Bab 8
Jurang di Bawah Lereng Merapi
“Tekanan utama turun!”
Anindya menahan checklist darurat dengan satu tangan dan membaca angka pada panel. Helikopter kembali dihantam angin. Lereng bergerak naik di kaca depan seolah hendak menelan mereka.
“Sistem cadangan aktif,” kata Arka. “Bantu kendali. Cari tempat turun.”
“Dataran di kiri, seratus lima puluh meter. Sempit, tapi cukup kalau kita masuk melawan angin.”
“Saya lihat.”
Tangan Arka menjaga tuas kendali. Anindya mengalihkan beban sistem, memverifikasi tekanan cadangan, lalu memanggil pos komando.
“Mayday, unit Adiwijaya Tiga. Gangguan hidraulik, melakukan pendaratan darurat di sisi utara titik Cempaka. Dua pilot, dua petugas Basarnas, tanpa penumpang.”
Suara radio pecah oleh statis. “Adiwijaya Tiga, lokasi diterima. Tim darat bergerak.”
Hujan mulai menghantam kaca.
“Dua puluh meter,” sebut Anindya. “Rintangan pohon di kanan. Geser satu meter kiri.”
Arka mengoreksi arah.
“Sepuluh meter. Turun perlahan.”
Alarm masih berbunyi ketika roda pertama menyentuh tanah. Badan helikopter memantul, miring ke sisi jurang, lalu Arka menahan kendali sampai roda kedua menemukan permukaan keras.
“Matikan mesin!”
Anindya menyelesaikan prosedur bersama Arka. Putaran baling-baling melambat. Hanya setelah dengungnya turun, mereka mendengar suara hujan dan batu kecil yang bergulir di lereng.
Salah satu petugas membuka pintu samping. “Semua keluar. Tanahnya bergerak!”
Mereka melompat ke dataran sempit. Di satu sisi berdiri dinding tanah basah. Di sisi lain, jurang hitam menganga di balik semak. Helikopter miring beberapa derajat, tetapi tetap diam.
Arka meraih lengan Anindya sebelum ia menginjak retakan.
“Lewat sini.”
Anindya memindahkan kakinya, lalu melepaskan pegangan pria itu setelah berada di tanah stabil. “Terima kasih, Kapten.”
Jarak kembali dipasang di antara mereka bahkan saat napas keduanya masih memburu.
Petugas Basarnas memeriksa indikator luar dan menemukan cairan di sekitar salah satu saluran. “Kemungkinan sambungan terguncang. Kita tunggu teknisi. Pesawat tidak boleh terbang lagi.”
“Dua warga masih di titik Cempaka,” kata Anindya.
“Sekitar dua ratus meter dari sini. Tim mereka sudah memasang jalur tali ke sisi atas.”
Arka mengambil radio portabel. “Kita bantu evakuasi sambil menunggu tim darat.”
Mereka mengikuti jalur setapak di bawah hujan. Lumpur mencapai mata kaki. Beberapa kali tanah bergetar halus, disusul bunyi retak dari lereng yang tak terlihat.
Di titik Cempaka, seorang anak perempuan duduk di bawah terpal sambil memeluk tas sekolah. Kakeknya terbaring di tandu dengan kaki dibebat seadanya. Dua petugas lain sedang memasang sistem tali menuju dataran yang lebih tinggi.
“Helikopter kedua tidak bisa turun,” lapor seorang petugas. “Anginnya terlalu kuat. Kita bawa mereka lewat jalur atas sampai kendaraan medis bisa mencapai sisi selatan.”
Sebuah tali utama diikat pada pasak logam dekat batu besar. Tali pendamping membentuk pegangan sepanjang sisi lereng. Sekilas semuanya tampak terpasang.
Anindya menarik tali untuk memeriksa tegangannya.
“Seratnya berbulu,” katanya.
“Sudah dicek sebelum dipasang,” jawab petugas logistik yang menerima uang Amara. Suaranya terlalu cepat. “Cuma lapisan luar kena gesekan.”
Arka berjongkok di dekat pasak. “Tanahnya lembek. Tambah pengaman kedua.”
“Peralatannya dibawa tim atas.”
“Kalau begitu tunggu.”
Kakek di tandu mendadak batuk keras. Petugas medis memeriksa oksigen portabel, lalu wajahnya berubah.
“Saturasinya turun. Kita harus bergerak sekarang.”
Arka menatap jalur atas, kemudian tali. “Dua orang pegang tandu. Satu jaga anak. Bergerak satu per satu. Jangan membebani titik yang sama.”
Anindya memasang sabuk pengaman pada anak itu. “Namamu siapa?”
“Ayu.”
“Ayu pegang tangan saya. Jangan lihat ke bawah. Lihat rompi saya saja.”
“Kakek ikut?”
“Kakek tepat di belakang kita.”
Mereka mulai naik. Anindya berada di depan bersama Ayu. Arka dan seorang petugas mengangkat bagian depan tandu, sementara petugas lain menahan belakang. Hujan membuat batu licin. Setiap langkah harus diletakkan pada pijakan yang diuji lebih dulu.
Setengah jalur terlewati ketika terdengar bunyi logam bergeser.
Anindya menoleh.
Pasak utama miring keluar dari tanah.
“Berhenti!” teriaknya.
Semua orang membeku. Tali melendut beberapa sentimeter.
Arka menurunkan tandu ke permukaan yang relatif datar. “Pindahkan beban ke tali pendamping.”
Petugas di belakang meraih simpul. Pada saat itu, selubung tali utama terkelupas dan memperlihatkan inti yang terpotong hampir separuh.
Mata Anindya membesar. Kerusakan itu terlalu rapi untuk disebabkan gesekan biasa.
“Talinya disayat.”
Petugas logistik yang disuap Amara mundur satu langkah. Tumitnya merusak tepi tanah.
Pasak tercabut.
Tali utama melesat seperti cambuk. Tandu bergeser. Ayu menjerit.
Arka menangkap pegangan tandu dengan kedua tangan, tetapi tubuhnya ikut terseret menuju sisi jurang. Anindya mengaitkan lengannya pada sabuk Ayu dan mendorong anak itu ke petugas di atas.
“Bawa dia!”
Tanah di bawah lutut Arka retak.
Anindya menjatuhkan diri, meraih tali pendamping, lalu menendang tandu ke arah permukaan yang lebih tinggi. Dua petugas menarik kakek itu. Arka kehilangan pijakan dan bahunya menghantam batu.
“Arka!”
Nama itu keluar tanpa jabatan.
Anindya menangkap tali pada sabuknya dan mendorong tubuh pria itu ke sisi aman. Seorang petugas berhasil meraih rompi Arka.
Lereng mengeluarkan suara gemuruh rendah.
“Longsor!”
Arka berbalik. “Anindya, naik!”
Ia mengulurkan tangan. Jarak mereka kurang dari satu lengan.
Sebuah batu sebesar helm jatuh dari atas. Anindya menunduk, tetapi batu itu menghantam bahu dan punggungnya. Tubuhnya terlempar ke sisi retakan.
Tanah runtuh di bawah kakinya.
Arka menerjang maju. Ujung jarinya sempat menangkap sarung tangan Anindya sebelum kainnya terlepas.
Anindya jatuh beberapa meter bersama lumpur dan batu, lalu tubuhnya terbentur tonjolan tanah di bawah jalur. Suara benturannya tenggelam dalam gemuruh longsor kecil.
“ANINDYA!”
Arka turun tanpa menunggu tali pengaman terpasang. Dua petugas menahannya.
“Kapten, tunggu! Tanah belum stabil!”
“Lepaskan saya!”
“Kalau Anda jatuh, kami kehilangan dua orang!”
Arka menghantamkan lutut ke lumpur dan memasang karabiner dengan tangan gemetar. Begitu tali pengaman dikunci, ia merosot turun bersama seorang petugas.
Anindya terbaring miring di antara batu dan akar pohon. Darah mengalir dari pelipisnya. Seragam putihnya berubah merah di bagian bahu dan perut. Satu kakinya terjepit batu.
“Nindya.” Arka menyapu lumpur dari wajahnya. “Buka mata.”
Tak ada jawaban.
“Nindya, dengar aku.”
Petugas medis mencapai mereka dan memeriksa nadi. “Ada nadi. Lemah. Kita angkat batunya bersama.”
Arka meletakkan kedua tangan di bawah batu. Kulit telapak tangannya robek saat mereka mendorong. Ia tidak merasakan sakit. Begitu kaki Anindya bebas, ia membantu memasang penyangga leher dan memindahkannya ke tandu.
“Tekanan darah turun,” kata petugas medis. “Kemungkinan perdarahan dalam. Kita butuh evakuasi udara sekarang.”
“Helikopter kita rusak.”
“Unit kedua sudah menunggu di sisi selatan. Jalur atas harus dibuka.”
Arka menggenggam tangan Anindya yang dingin. “Buka jalurnya. Saya ikut tandu.”
Di atas, Enggar dan tim darat akhirnya tiba bersama Sisi. Enggar melihat darah pada seragam Anindya dan wajahnya langsung berubah.
“Bos!”
“Jangan berkerumun,” perintah petugas medis. “Kami perlu ruang.”
Enggar mengambil posisi di belakang tandu. Sisi membantu mengunci pengaman baru dari perlengkapan tim darat. Mereka mengangkat Anindya melewati jalur yang baru diperkuat, selangkah demi selangkah.
Ayu dan kakeknya sudah lebih dulu mencapai kendaraan medis di sisi selatan. Anak itu menangis sambil memeluk tas sekolahnya, terus bertanya apakah perempuan berseragam putih yang menyelamatkannya akan ikut pulang. Tak seorang pun sanggup memberi jawaban.
Petugas logistik yang disuap berdiri pucat di dekat pasak tercabut. Saat Sisi melewatinya, ia memotret tali yang tersayat dan posisi pasak tanpa berkata apa-apa.
Amara menunggu di sisi selatan bersama tim logistik. Ketika tandu muncul dari hujan, wajahnya kehilangan seluruh warna.
Ia mengenali tali itu.
Ia juga melihat Arka.
Pria yang tak pernah meninggikan suara di depan kru kini berjalan di samping tandu dengan kedua tangan berlumur darah. Topi kaptennya hilang. Seragamnya penuh lumpur. Ia terus memanggil nama Anindya, seolah suara itu satu-satunya benda yang menahan perempuan tersebut tetap hidup.
“Arka...” Amara mendekat. “Aku tidak tahu ini akan...”
Arka menoleh tajam. “Minggir.”
“Aku bisa ikut membantu.”
“Minggir, Amara!”
Bentakannya membuat semua orang menoleh.
Amara mundur. Untuk pertama kalinya, ia memahami bahwa dirinya tidak sedang menyaksikan kekhawatiran seorang kapten terhadap kru. Arka tampak seperti lelaki yang baru menyaksikan hidupnya sendiri jatuh ke jurang.
Helikopter kedua lepas landas dalam hujan. Anindya terbaring di lantai kabin dengan monitor portabel terpasang. Petugas medis menekan balutan di sisi tubuhnya dan memasang cairan infus.
Arka duduk di samping tandu. Ia menahan tangan Anindya di antara kedua telapak tangannya.
“Bawa dia ke RS Wira Medika,” katanya kepada radio. “Siapkan tim trauma lengkap. Apa pun yang mereka butuhkan, lakukan.”
“Kondisinya belum stabil untuk penerbangan langsung ke Jakarta,” jawab petugas medis. “Kita stabilkan di rumah sakit rujukan terdekat, lalu transfer begitu aman.”
Arka ingin membantah, tetapi ia melihat angka pada monitor. Ia memaksa dirinya mengangguk. “Lakukan yang paling cepat dan paling aman.”
Anindya bergerak sangat kecil. Bibirnya terbuka, tetapi tak ada suara.
“Aku di sini,” bisik Arka. “Jangan pergi.”
Monitor berbunyi lebih cepat.
Petugas medis meraih obat. “Tekanannya jatuh lagi!”
Arka mempererat genggamannya. Semua perintah yang biasa berada di lidahnya lenyap. Untuk pertama kalinya, Kapten Arkana tak punya kendali atas apa pun.
Bibirnya bergerak tanpa suara, memohon kepada perempuan yang pernah ia usir agar tidak meninggalkannya selamanya.