NovelToon NovelToon
Transmigrasi Menjadi Anak Kesayangan Mafia Kejam Dan Sadis

Transmigrasi Menjadi Anak Kesayangan Mafia Kejam Dan Sadis

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Mafia / Balas Dendam
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: ocha Via

Maya dikhianati, difitnah, dan dibunuh oleh anak angkat yang direbut kasih sayang serta hartanya. Saat keluarganya sadar dan meminta maaf, semuanya sudah terlambat.

Namun Maya terbangun sebagai Chelsea putri kesayangan seorang penguasa yang ditakuti. Di kehidupan baru ini, ia dicintai dan dilindungi sepenuh hati. Musuh masih mengancam, tapi Maya tidak lagi lemah. Dengan pengalaman masa lalu dan kekuatan yang baru, ia bangkit untuk melawan kejahatan dan melindungi keluarga barunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ocha Via, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Maya Hidup Sendirian Hanya Alena yang Masih Percaya

Bab 5

Hari hari berlalu dan kesepian di rumah ini terasa semakin dalam dan semakin menyakitkan. Aku tidak lagi dipanggil untuk ikut makan bersama mereka di ruang makan besar. Makananku selalu disiapkan dan diletakkan di meja kecil di sudut dapur atau dibawa ke kamarku oleh salah satu pelayan yang merasa kasihan kepadaku. Setiap kali aku berpapasan dengan salah satu anggota keluargaku di lorong rumah mereka hanya akan memandangku sekilas lalu memalingkan wajah seolah olah aku adalah orang asing yang tidak seharusnya berada di sini. Kadang kadang aku mendengar suara tawa mereka yang terdengar dari ruang tamu atau ruang keluarga di lantai bawah dan suara itu terasa seperti jarum yang menusuk telingaku setiap kali sampai ke telingaku sendiri. Rumah yang dulu menjadi tempat paling nyaman di seluruh dunia kini berubah menjadi tempat yang paling dingin dan paling sepi yang pernah ada.

Aku menghabiskan sebagian besar waktuku sendirian di kamarku yang terletak di bagian belakang rumah yang jauh dari ruang utama. Dari jendela kamarku aku bisa melihat ke arah taman yang luas tempat aku dulu sering bermain bersama ketiga kakakku dan tempat yang kini sering dikunjungi oleh mereka berempat yang lain. Kadang kadang aku berdiri di sana cukup lama hanya untuk melihat mereka tertawa berbicara dan berjalan berdampingan tanpa menyadari bahwa ada seseorang yang berdiri sendirian di balik jendela yang jauh itu. Tidak ada satu orang pun yang menoleh ke arahku tidak ada satu orang pun yang memanggil namaku tidak ada satu orang pun yang menyadari bahwa aku hilang dari kehidupan mereka.

Namun di tengah kesepian yang begitu pekat itu masih ada satu orang yang tidak pernah berhenti mempercayaiku. Namanya Alena ia adalah sahabatku sejak kami masih kecil dan kami tumbuh bersama di lingkungan yang sama. Alena tidak peduli dengan apa yang dikatakan orang lain tidak peduli dengan apa yang disebarkan oleh Vanessa dan tidak peduli dengan pandangan keluargaku terhadapku. Ia tahu siapa aku sebenarnya karena ia telah mengenalku sejak aku masih kecil sebelum ada topeng yang dipakai oleh siapa pun di hadapanku. Ia tahu bahwa aku tidak pernah berbohong kepadanya dan ia tahu bahwa sifat asliku tidak mungkin berubah hanya karena kehadiran seorang gadis baru yang datang tiba tiba dari mana saja.

Suatu sore Alena datang berkunjung ke rumah seperti yang sering ia lakukan setiap minggu. Biasanya ia akan disambut dengan hangat oleh seluruh keluarga namun sejak kehadiran Vanessa keadaannya berubah. Kali ini tidak ada yang menyambutnya di pintu depan dan tidak ada yang membawanya ke ruang tamu seperti dulu. Alena langsung berjalan menuju kamarku di bagian belakang rumah dan saat ia membuka pintu ia melihat aku yang sedang duduk sendirian di tepi tempat tidur dengan wajah yang tampak lelah dan sedih. Tanpa mengucapkan satu kata pun ia berjalan mendekat dan memelukku dengan erat seolah olah ia sedang memeluk seseorang yang baru saja kembali dari perjalanan yang sangat jauh dan menyakitkan. Air mataku jatuh membasahi bahunya dan ia tidak melepaskan pelukannya sampai aku sedikit tenang kembali.

Setelah aku tenang Alena duduk di sampingku dan berkata dengan suara yang lembut namun tegas aku tahu kau tidak pernah melakukan hal hal yang dituduhkan kepadamu Maya. Aku tahu kau bukan anak yang mengambil barang milik orang lain dan bukan pula anak yang membohongi keluargamu. Ada sesuatu yang tidak beres dengan gadis yang bernama Vanessa itu. Matanya tidak pernah berbohong dan cara bicaranya selalu terasa terlalu rapi dan terlalu direncanakan seolah olah setiap kata yang keluar dari mulutnya sudah dipikirkan berkali kali sebelum diucapkan. Aku tidak tahu apa tujuannya namun aku yakin ia tidak datang ke sini dengan niat yang baik. Mendengar kata kata itu rasanya seolah ada cahaya kecil yang menyala kembali di dalam hatiku yang sudah lama gelap dan dingin. Setelah sekian lama hanya ada Alena yang melihat kebenaran hanya ada Alena yang berani mengucapkannya dengan lantang tanpa takut pada siapa pun.

Aku mengeluarkan buku catatan tebal yang tersembunyi di bawah bantal tempat tidurku dan menyerahkannya kepada Alena. Ia menerimanya dengan hati hati seolah olah itu adalah benda yang paling berharga di dunia. Ia membacanya halaman demi halaman dengan wajah yang semakin lama semakin serius dan penuh kekhawatiran. Setiap kali ia membaca satu halaman ia akan menggelengkan kepalanya perlahan seolah olah tidak percaya dengan semua hal yang tertulis di dalamnya. Setelah selesai membaca sampai halaman terakhir ia menutup buku itu perlahan dan menatapku dengan mata yang berkaca kaca namun tatapannya tetap teguh dan tidak goyah sedikit pun. Semua yang tertulis di sini sangat jelas dan sangat nyata katanya. Pola yang sama terus berulang di setiap halaman. Ia selalu menuduh lalu selalu menemukan bukti lalu selalu tampak baik hati di akhir cerita. Tidak ada orang yang waras yang tidak melihat hal ini namun sepertinya keluargamu sedang tertidur pulas dalam mimpi yang diciptakan oleh gadis itu sendiri.

Alena berjanji akan selalu ada untukku dan selalu datang berkunjung sesering mungkin. Ia berkata bahwa aku tidak boleh menyerah dan tidak boleh pergi dari rumah ini sebelum kebenaran terungkap sepenuhnya. Ia juga berkata bahwa aku harus terus mencatat setiap hal yang terjadi tidak peduli seberapa kecil hal itu terlihat karena suatu hari nanti tulisan tulisan inilah yang akan menjadi saksi paling kuat atas segala ketidakadilan yang telah terjadi di dalam rumah ini. Kami berjanji satu sama lain untuk tetap berdiri bersama tidak peduli seberapa berat badannya dan tidak peduli seberapa sepi jalan yang kami tempuh.

Setelah Alena pulang aku merasa jauh lebih kuat dari sebelumnya. Kehadirannya memberiku semangat yang baru dan tekad yang lebih besar dari sebelumnya. Setiap kali aku merasa kesepian atau merasa ingin menyerah aku akan teringat pada kata kata Alena yang selalu menguatkan hatiku kembali. Aku tidak sendirian masih ada satu orang yang tahu kebenaran dan masih ada satu orang yang berdiri teguh di sisiku tanpa mengharapkan apa pun sebagai gantinya. Itu sudah cukup bagiku untuk terus melangkah maju dan terus bertahan sampai hari di mana semuanya menjadi jelas bagi semua orang.

Namun di sisi lain keadaan di dalam rumah semakin memburuk setiap harinya. Vanessa semakin leluasa bergerak semakin berani bertindak dan semakin tidak takut tertangkap. Ia tahu bahwa tidak ada satu orang pun yang berani mempertanyakannya tidak ada satu orang pun yang berani memeriksanya dan tidak ada satu orang pun yang berani meragukannya. Ia sering terlihat berbicara sendiri di sudut ruangan atau berbicara melalui telepon dengan suara yang sangat pelan dan berbisik seolah olah ia sedang melaporkan sesuatu kepada seseorang yang berada di luar rumah. Setiap kali aku lewat di dekatnya ia akan segera menutup telepon dan menatapku dengan tatapan yang penuh ancaman namun tidak ada satu orang pun yang melihat hal itu selain aku sendiri.

Suatu sore aku melihatnya berdiri di dekat gudang tua di bagian belakang rumah sambil menunggu seseorang yang tidak aku kenal. Pria itu berdiri di balik bayang bayang dinding yang gelap dan mereka berbicara dengan cepat dan dengan wajah yang serius dan tegang. Aku tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang mereka bicarakan namun aku melihat Vanessa menyerahkan selembar kertas kepada pria itu dan pria itu menyerahkan sesuatu yang kecil dan berkilau kepada Vanessa sebagai gantinya. Setelah mereka selesai berbicara pria itu pergi dengan cepat menghilang di balik pepohonan yang rimbun dan Vanessa kembali masuk ke dalam rumah seolah olah tidak ada apa apa yang baru saja terjadi. Aku segera mencatat kejadian itu di dalam buku catatanku secara rinci mulai dari waktu terjadinya penampilan pria itu pakaian yang dikenakannya dan benda apa yang terlihat berpindah tangan dari satu orang ke orang lain. Aku tahu bahwa hal ini adalah petunjuk yang sangat besar dan sangat penting yang menunjukkan bahwa ada sesuatu yang jauh lebih besar dan jauh lebih berbahaya yang sedang direncanakan oleh Vanessa di balik punggung seluruh keluarga ini.

Malam itu saat aku sedang duduk sendirian di kamarku merenungkan segala hal yang baru saja aku lihat aku menyadari sesuatu yang sangat penting. Vanessa tidak bekerja sendirian ada orang lain yang terlibat ada orang lain yang mengatur ada orang lain yang menunggu di luar sana untuk menerima apa yang sedang ia persiapkan. Dan keluargaku yang buta dan tuli ini tidak menyadari bahwa mereka sedang memelihara seekor ular berbisa di dalam pelukan mereka sendiri yang suatu hari nanti akan menggigit mereka semua sampai jatuh ke tanah tanpa daya. Aku harus segera menemukan tahu rencana lengkapnya sebelum semuanya terlambat. Aku tidak boleh hanya diam dan mencatat saja aku harus mulai mencari tahu siapa orang orang yang bekerja sama dengannya apa yang sebenarnya mereka cari dan kapan rencana besar mereka akan dilaksanakan.

Namun aku juga tahu bahwa aku harus berhati hati sekali. Jika Vanessa menyadari bahwa aku mulai mengetahui rahasia besarnya ia tidak akan ragu ragu untuk melakukan hal yang jauh lebih berbahaya daripada sekadar menuduhku mengambil barang hilang. Ia sudah berani bertemu dengan orang asing di tempat tersembunyi maka ia pasti juga berani melakukan hal yang jauh lebih buruk lagi jika ia merasa terancam. Aku harus tetap tenang tetap sabar dan tetap waspada. Aku harus bertindak dengan cerdas dan dengan hati hati agar tidak menjadi korban sebelum aku sempat membongkar semuanya.

Hari itu berakhir dengan kesepian yang sama seperti biasanya namun di dalam kesepian itu kini ada harapan yang tidak akan pernah padam. Alena selalu ada di sisiku dan kebenaran selalu ada di pihakku. Buku catatanku semakin tebal setiap harinya dan setiap halaman yang baru tertulis adalah satu langkah lebih dekat menuju hari pembalasan yang adil dan benar. Aku tidak tahu kapan hari itu akan tiba namun aku tahu bahwa hari itu pasti akan datang. Dan saat hari itu tiba tidak ada satu kebohongan pun yang mampu bertahan di hadapan tumpukan bukti yang telah aku kumpulkan dengan kesabaran yang panjang dan air mata yang tulus.

 

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!