~~
Demi aliansi politik, Iris von Draewyn—putri berambut perak dari Utara—terpaksa menikah dengan Grand Duke Darian von Ravengard, Panglima Tertinggi yang dikenal kejam dan berdarah dingin. Pernikahan mereka hampa dan dipenuhi jarak, hingga sebuah tragedi mengakhiri hidup Iris dalam kesendirian.
Namun, alih-alih mati, Iris justru terbangun di masa lalu dalam kondisi hamil muda—mengandung anak dari suami yang mengabaikannya.
~~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 18 KEBANGKITAN SANG DUCHESS
Langitnya bukan langit. Tanahnya bukan tanah. Udara di sekeliling Iris seperti kabut, namun tidak mengaburkan pandangan.
Ia berdiri... atau melayang. Entahlah. Rasanya tidak berat, tidak ringan. Tidak hidup, tidak mati.
Dan di depannya, berdiri seorang perempuan.
Perempuan itu mengenakan gaun panjang berwarna biru muda yang berkilauan lembut seperti embun pagi. Rambut peraknya diikat elegan, wajahnya anggun namun tak asing. Sorot matanya tajam namun tidak menusuk.
Ia adalah... Iris von Draewyn asli.
Pemilik tubuh yang kini ditempati Intan, jiwa dari dunia modern.
Iris asli mematung. “Kau...”
Perempuan di depannya tersenyum. “Kau tak perlu memperkenalkan diri. Aku tahu siapa dirimu.”
Intan mengerutkan kening. “Bagaimana... bagaimana ini bisa terjadi? Aku, aku seharusnya mati ditabrak truk tronton di duniaku... lalu aku terbangun di dalam tubuhmu... tubuh ini...”
Iris asli melangkah pelan. Langkahnya tidak menimbulkan suara. “Karena memang itu rencananya. Bukan olehku... tapi oleh kekuatan yang lebih besar. Yang menginginkan anak dalam kandunganku... dalam kandungan kita... hidup.”
Intan menatapnya dengan campuran takjub dan ketakutan. “Anak itu... anak Darian...?”
Iris asli mengnoduk. “Ia adalah api dan angin. Dua kekuatan yang belum pernah bersatu dalam darah manapun di Valeria. Tapi aku tahu... tubuhku tak cukup kuat menampungnya. Dan Darian... dia terlalu buta untuk melihatnya sebelum semuanya terlambat.”
Intan memejamkan mata. “Aku... aku tidak pernah berniat mengambil hidupmu.”
“Aku tahu.”
Suara Iris asli lembut, penuh kedewasaan. “Itulah sebabnya aku datang padamu sekarang. Bukan untuk mengusirmu. Tapi untuk memberimu kebenaran.”
Mereka berjalan menyusuri ‘tanah’ mimpi yang seolah tak berujung.
Iris asli mulai bicara perlahan. “Aku tahu sejak kecil bahwa darah dalam tubuhku... berbeda. Angin yang kuperintah bisa menghentikan badai. Tapi kekaisaran takut. Mereka menyuruhku diam. Aku dijodohkan dengan Grand Duke... Darian, pria yang bahkan tidak melihat wajahku saat hari pertama pernikahan kami.”
Intan mendengarkan dalam diam.
“Aku mencintainya. Sungguh,” lanjut Iris asli, suaranya lebih lirih. “Tapi dia terlalu terbiasa hidup dalam gelap dan peperangan. Dia takut pada cahaya. Takut pada cinta.”
Intan menunduk. “Dia... sudah berubah.”
Iris asli menatapnya. “Karena kau.”
“Tidak,” Intan menolak cepat. “Aku hanya... aku hanya mencoba bertahan. Aku tidak tahu harus bagaimana di dunia ini. Tapi saat aku melihat wajahnya... dan merasakan bayi ini menendangku... aku tidak bisa berpura-pura. Aku mencintai mereka. Tapi aku merasa bersalah. Karena ini bukan hidupku.”
“Tidak,” kata Iris asli tegas. “Sekarang adalah hidupmu. Bukan lagi tubuhku. Bukan lagi duniaku. Aku hanya bayang-bayang.”
Intan menggigit bibirnya. “Tapi ini salah. Kau mencintainya lebih dulu. Kau yang berkorban untuk anak ini. Aku hanya menumpang...”
Iris asli menghentikan langkah. “Lalu apakah kau ingin pergi?”
Intan terdiam.
Iris menatapnya dalam. “Apakah kau akan meninggalkan Darian... yang kini setiap hari duduk di sisimu, membersihkan tubuhmu sendiri dengan tangannya, menatap wajahmu seakan tak berani tidur... dan anakmu, yang menunggu suara ibunya?”
Air mata menggenang di mata Intan. “Aku... tidak bisa. Aku tidak ingin pergi.”
Iris asli tersenyum. Tapi senyum itu perih. “Lalu... tinggalah.”
“Tapi—”
“Tidak ada tapi,” potong Iris asli. “Aku... mungkin tak pernah mendapatkan cinta yang kuberikan. Tapi aku sudah merasa cukup melihat bagaimana Darian akhirnya belajar mencintai. Bahkan jika bukan padaku.”
Intan menatap perempuan itu, yang wajahnya begitu mirip dengannya... tapi dengan cahaya sedih yang hanya bisa dimiliki oleh seseorang yang telah menyerah dengan elegan.
Iris asli mendekat, menyentuh bahu Intan.
“Tinggallah. Jadilah ibu bagi anakku. Jadilah istri bagi pria yang akhirnya bisa mencintai. Karena sesungguhnya... dia bukan Grand Duke yang kejam. Dia hanya seorang pria yang telah lama tinggal dalam gelap.”
Intan terisak. “Aku akan menjaganya. Aku janji. Aku akan menjaganya, dan anak ini, dan nama Ravengard... dengan seluruh hidupku.”
Iris asli mengnoduk.
“Bagus.”
“Sekarang... saatnya kau bangun.”
Intan—yang kini seutuhnya Iris—merasa dunia di sekitarnya mulai bergetar. Cahaya mulai merembes dari bawah tanah, dari langit, dari tubuhnya sendiri.
Sebelum semuanya pudar, suara Iris asli bergema:
“Sampaikan padanya... aku tidak pernah membencinya. Bahkan ketika dia tak bisa melihatku.”
“Dan jangan biarkan dia kembali kesepian.”
“Kesepian itu... lebih menyakitkan dari kematian.”
Cahaya pagi menembus lembut dari celah tirai, menyentuh ujung tempat tidur berkanopi megah di mana tubuh Grand Duchess Iris masih terbaring. Udara di dalam kamar terasa hening, hanya ditemani suara dentingan samar dari jam antik di dinding dan desah napas lembut dari dua sosok yang kini saling berdekatan.
Tangan besar dan kasar itu masih menggenggam jemari Iris.
Wajah pria yang duduk di sisi ranjang itu terlihat letih, sangat letih. Rambut hitamnya jatuh ke dahi, berantakan, dan janggutnya telah tumbuh panjang, menutupi rahangnya yang biasanya bersih. Darian, Grand Duke yang ditakuti seluruh daratan Valeria, kini duduk bersandar dalam posisi setengah terlelap, dengan tubuh sedikit condong ke arah istrinya. Kemeja putihnya kusut, dan jubah kebesarannya bahkan tak terlihat lagi entah sejak kapan.
Tiba-tiba...
Jemari Iris bergerak.
Halus. Pelan.
Lalu kelopak matanya bergetar, sebelum perlahan terbuka, memperlihatkan sepasang mata violet jernih yang buram oleh cahaya setelah sekian lama tertutup.
Ia menarik napas pertama panjang, pelan, dan terputus-putus.
“D-Darian...?”
Suara itu nyaris seperti bisikan. Namun cukup untuk membuat pria di sisinya terbangun seketika.
Darian mendongak dengan cepat, pupilnya melebar. “Iris?! Tok! Iris! Kau... kau sadar!”
Ia menegakkan tubuhnya dengan kaget. “Iris! Kau benar-benar sadar!”
Tangan besar itu menggenggam jemari Iris lebih erat. Matanya tampak berkaca-kaca, tetapi tak ada air mata jatuh.
“Puji dewa... kau kembali...”
Iris menatapnya. Wajah suaminya yang tampan, kini tampak lebih tirus, dengan janggut hitam yang tumbuh lebat di sekitar dagu dan leher. Darian yang biasanya dingin dan rapi kini tampak kusut, lelah, dan... manusiawi.
Namun... rasa hangat di dada Iris perlahan digantikan oleh bayangan itu.
Bayangan Iris asli.
Tentang bagaimana ia tak pernah disentuh dengan penuh kasih.
Tentang bagaimana cinta yang ia berikan tak pernah berbalas.
Tentang bagaimana Grand Duke Darian bahkan tak pernah menatap mata istrinya... sebelum nyaris kehilangan dia.
Wajah Iris mulai berubah.
Senyuman samar yang sempat terbit kini padam. Tatapannya memudar menjadi netral. Dingin.
Darian yang menyadari perubahan ekspresinya mengerutkan kening. “Iris?”
Iris menarik tangannya perlahan dari genggamannya. “Berapa lama aku tertidur?”
“Seminggu penuh,” jawab Darian, masih memperhatikannya lekat-lekat. “Kau... kau hampir—” Ia tak bisa melanjutkan. Napasnya berat. “Tapi kau bertahan.”
Iris menatap lurus. Suaranya pelan, tapi tegas. “Apa kau khawatir... atau hanya merasa bersalah?”
Darian menatapnya, seolah dipukul oleh kalimat itu. “Apa maksudmu?”
Iris menoleh ke arah jendela. “Lucu. Aku terbangun, dan mendapati suami yang dulu nyaris tak pernah menyapaku kini menggenggam tanganku seperti pria kesepian yang kehilangan mainan.”
Darian terdiam. Matanya menyipit perlahan. “Kau tidak terdengar seperti dirimu yang biasanya.”
Iris menoleh kembali. Senyumnya tipis, tetapi bukan senyum hangat yang pernah Darian lihat dalam beberapa bulan terakhir.
“Mungkin aku lelah menjadi perempuan yang selalu tersenyum untuk menyenangkan suaminya.”
Darian berdiri perlahan. Wajahnya kini penuh tanda tanya dan kekhawatiran yang nyata. “Iris... apa kau marah?”
Iris memiringkan kepala, mata tajamnya menatap wajah pria itu. “Kau tahu, aku pernah dengar kalimat, pria hanya menghargai sesuatu setelah kehilangan. Mungkin itu berlaku juga untukmu.”
“Tidak,” kata Darian cepat. “Aku... aku sadar. Aku, aku menyesal. Aku mencintaimu. Aku—”
“Kau mencintaiku karena aku hampir mati?”
Darian terdiam. Mulutnya membuka, lalu menutup. Tidak ada kata yang keluar.
Iris menunduk, mengelus perutnya yang membesar dengan lembut. “Aku tidak akan menyalahkanmu sepenuhnya, Darian. Dulu, aku juga diam. Aku juga takut. Tapi... kau tahu apa yang lebih menyakitkan dari kematian?”
Darian menggeleng perlahan.
“Kesepian... dalam pernikahan.”
Kalimat itu seperti pedang dingin yang menusuk jantung sang panglima perang.
Iris memejamkan matanya sejenak, lalu berkata, “Aku akan pulih. Dan anak ini akan lahir. Tapi... aku tak yakin aku akan kembali menjadi perempuan yang dulu selalu menunggu suaminya pulang sambil menyeduh teh hangat.”
Darian menunduk. Kedua tangannya mengepal di sisi tubuhnya.
“Apa aku... kehilangan hatimu?”
Iris memandangi wajahnya, lama, sangat lama... lalu menjawab.
“Tidak. Tapi kau harus mencarinya kembali... jika kau memang menginginkannya.”
Suasana kamar di Kastil Ravengard menjadi sunyi. Hanya suara jam yang berdetak. Darian tidak berkata apa-apa lagi. Ia hanya berdiri di sisi ranjang, menatap Iris dengan tatapan pria yang baru saja menyadari, bahwa kehangatan yang pernah ia abaikan kini menjadi bara yang harus ia kejar... jika ia ingin mencintai, dan dicintai, dengan sungguh-sungguh.