Di Benua Awan Merah, bakat surgawi, garis keturunan, dan dukungan klan besar adalah segalanya. Awan tidak memiliki satupun dari hal itu. Lahir dengan meridian sempit sebagai anak seorang pandai besi miskin, dunia telah menakdirkannya untuk hidup dan mati sebagai manusia fana.
Namun, Awan menolak bertekuk lutut pada takdir. Tanpa bantuan artefak dewa purba, tanpa roh guru sakti, dan tanpa pil mujarab, ia menempuh jalan kultivasi melalui siksaan fisik yang ekstrem. Saat para jenius menyerap energi alam dengan mudah sambil duduk bermeditasi, Awan mengayunkan pedang besinya puluhan ribu kali di bawah terik matahari dan badai hujan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Udara yang Terbelah dan Cikal Bakal Niat
Keheningan mutlak menyelimuti lantai pertama Menara Warisan Pusat.
Di bawah cahaya redup dari ukiran dinding batu hitam, Awan duduk bersila tanpa memedulikan sisa darah yang mengering di tubuhnya. Matanya yang tajam terpaku pada gulungan kulit binatang usang di pangkuannya.
[Pemahaman Niat Pedang: Pengantar Menuju Hampa]
Awan membaca deretan aksara kuno itu perlahan. Tidak ada instruksi pernapasan atau jalur meridian di dalamnya. Gulungan itu lebih terlihat seperti catatan harian seorang penderita skizofrenia atau filsuf gila daripada sebuah buku bela diri.
"Pedang bukanlah besi. Besi bisa berkarat, patah, dan hancur. Pedang sejati adalah kehendak. Saat kau menebas sebuah daun, apakah matamu melihat daunnya, atau melihat ruang di belakang daun tersebut? Qi adalah tangan yang melempar batu, tetapi Niat (Intent) adalah mata yang memastikan batu itu menghancurkan sasarannya. Jika kehendakmu untuk membunuh cukup absolut, dan fokusmu setajam ujung jarum, maka realitas harus tunduk. Kekosongan akan terbelah."
Awan menutup matanya, memijat pelipisnya yang berdenyut.
Selama bertahun-tahun, sepuluh ribu tebasan yang ia lakukan setiap hari selalu berfokus pada titik benturan. Saat ia membelah Kayu Besi Hitam, ia menghentikan tenaganya tepat saat balok kayu itu terbelah dua. Ia menggunakan tenaganya layaknya sebuah palu.
"Jika aku mengayunkan pedang... tapi aku tidak berniat menghentikan tenaganya di titik benturan, melainkan memproyeksikannya menembus udara ke ruang di depannya..." gumam Awan, perlahan bangkit berdiri.
Ia mencabut pedang Kayu Besi Hitam seberat lima puluh kilogram itu dengan satu tangan.
"Hanya karena aku tidak punya Qi, bukan berarti aku tidak bisa memadatkan udara dengan tenaga fisikku."
Awan memejamkan mata. Ia memanggil kembali ingatan saat ia bertarung di Hutan Kabut Hitam—niat membunuh absolut saat ia menghancurkan jantung Beruang Zirah Baja, ketenangan murni saat ia meremukkan rahang Wu Kang. Ia menggabungkan insting predator itu ke dalam pikirannya, memusatkannya hingga menjadi satu garis imajiner lurus yang menembus ke arah dinding batu di depannya yang berjarak sepuluh meter.
Otot lengan, bahu, dan punggungnya memadat. Awan menarik napas pendek, lalu mengayunkan pedangnya dengan ledakan kecepatan ekstrem.
Wushhh!
Hanya suara angin kencang yang tersapu oleh kayu tebal itu. Tidak ada yang terjadi pada dinding batu di kejauhan.
Awan menghela napas. "Gagal. Kecepatannya cukup, tenaga fisiknya luar biasa, tapi udara itu menyebar ke segala arah alih-alih membentuk satu garis lurus. Pikiranku tidak memegang kendali atas angin tersebut. Niatku kurang terpusat."
Ia tidak menyerah. Awan kembali memasang kuda-kuda.
Swush! Gagal.
Swush! Hanya embusan angin.
Satu jam berlalu. Tiga jam. Lima jam.
Di dalam menara tertutup ini, waktu terasa tidak bermakna. Awan mengayunkan pedangnya ribuan kali ke arah ruang kosong. Ototnya mulai menjerit kelelahan, tetapi rasa sakit yang lebih parah justru terjadi di kepalanya. Memfokuskan "Niat" dan "Niat Membunuh" secara intens terus-menerus sangat menguras energi mentalnya. Kepalanya berdenyut seolah ada paku yang dipalu ke dalam tengkoraknya.
"Lagi!" geram Awan, menolak menyerah.
Pada ayunan ke tiga ribu, Awan berhenti berpikir tentang kekuatan otot. Ia membiarkan tubuhnya yang telah mengingat gerakan dasar itu bergerak secara otomatis. Seluruh kesadarannya, jiwanya, dan matanya hanya terfokus pada satu hal: Dinding batu itu harus terbelah.
Tangan kanannya mengayunkan Kayu Besi Hitam secara horizontal.
SRAAASH!
Kali ini, suaranya berbeda. Udara di depan ujung pedang kayu itu mendadak terdistorsi, terkompresi secara brutal oleh kombinasi kecepatan otot yang gila dan fokus kehendak absolut.
Sebuah bilah angin tak kasat mata—bukan terbuat dari Qi spiritual, melainkan udara yang dipadatkan oleh tekanan fisik dan dikendalikan oleh "Cikal Bakal Niat Pedang"—melesat menembus ruang hampa.
TRANG!
Bilah angin fana itu menghantam dinding batu hitam yang berjarak sepuluh meter. Sebuah goresan putih tipis, sedalam setengah ruas jari, terukir di atas permukaan batu yang bahkan sulit dihancurkan oleh pedang baja tersebut.
Begitu serangan itu mendarat, Awan langsung jatuh berlutut. Pedang kayunya terlepas dari genggamannya.
Pemuda itu memegangi kepalanya dengan kedua tangan, memuntahkan cairan lambung karena rasa pusing dan mual yang luar biasa. Pandangannya kabur.
"Hah... hah..." napas Awan terputus-putus. Keringat dingin membasahi punggungnya. "Jadi ini... Niat Pedang. Tanpa fondasi spiritual untuk menyokong pikiran, menggunakan Niat menguras energi jiwa (mental) secara langsung. Menggunakannya satu kali saja rasanya seperti tiga hari tidak tidur."
Awan tersenyum dengan gigi gemeretak menahan pusing. Goresan tipis di dinding itu adalah bukti. Ia akhirnya memiliki jangkauan serang. Walau hanya sejauh sepuluh meter, dan walau ia mungkin hanya bisa menggunakannya dua atau tiga kali sebelum pingsan, itu sudah cukup untuk memutus jarak mematikan dari sihir jarak jauh.
Ia meminum beberapa teguk air dari kendi di Kantong Penyimpanannya, beristirahat selama satu jam, lalu mengambil pedangnya.
"Lantai Kedua," ucapnya seraya melangkah menaiki tangga melingkar di ujung ruangan.
Lantai Kedua menara ini tidak memiliki dinding melingkar seperti lantai pertama. Saat Awan mencapai puncak tangga, ia mendapati dirinya berdiri di tepi sebuah jembatan batu sempit selebar dua meter. Di bawah jembatan itu terhampar jurang tak berdasar yang diselimuti kabut hitam.
Di ujung jembatan yang berjarak lima puluh meter darinya, berdiri sebuah patung perunggu raksasa setinggi tiga meter. Patung itu mengenakan zirah kuno dan menggenggam sebuah pedang besar (Zhanmadao) yang terbuat dari perak menyala.
Begitu Awan menapakkan kaki di jembatan, mata patung perunggu itu menyala merah terang. Suara decit logam bergesekan bergema di udara saat patung itu mengangkat pedang peraknya.
"Penyusup. Ujian Ketahanan. Taklukkan Boneka Pedang Perunggu."
Boneka itu tidak berlari mendekat. Sebagai gantinya, ia mengayunkan pedang raksasanya dari jarak lima puluh meter.
WUSSS!
Sebuah bilah Qi berbentuk bulan sabit berwarna perak melesat menyusuri jembatan, merobek udara langsung menuju dada Awan.
Serangan jarak jauh lagi. Menara ini benar-benar menguji setiap celah kelemahan, batin Awan.
Jembatan ini terlalu sempit untuk menghindar ke samping. Menangkis gelombang Qi secara beruntun hanya akan merusak pedang kayunya. Awan tidak punya pilihan selain maju menerjang rintangan.
Langkah Besi Jatuh!
Awan melesat ke depan. Saat bilah Qi perak itu hampir menyentuhnya, Awan meluncur di atas lantai batu jembatan dengan lututnya, membiarkan bilah tajam itu lewat hanya beberapa sentimeter di atas kepalanya. Ia kembali bangkit dengan satu tolakan tangan, lalu terus berlari ke depan.
Melihat sasarannya menghindar, Boneka Perunggu itu mengayunkan pedangnya lagi, kali ini tiga kali berturut-turut! Tiga bilah Qi melesat silang-menyilang, menutup seluruh ruang di jembatan selebar dua meter tersebut.
Tidak ada celah untuk merunduk. Tidak ada ruang untuk melompat. Jarak mereka masih dua puluh meter!
"Bagus. Saat kau tidak bisa lari, tebas jalan keluarmu!"
Awan berhenti berlari. Ia menancapkan kuda-kudanya kuat-kuat ke batu jembatan. Mata Awan menajam, pikirannya seketika dibersihkan dari rasa takut akan kematian atau rasa lelah. Ia memusatkan seluruh daya ledaknya ke satu titik imajiner di tengah-tengah tiga bilah Qi yang datang.
Awan mencengkeram Kayu Besi Hitam dengan kedua tangan, menarik napas dalam, dan menebas udara ke depan dengan kekuatan yang merobek pembuluh darah kapiler di lengannya.
Niat Pedang Semu: Belahan Hampa!
SRAASH!
Udara terkompresi membentuk bilah angin tak kasat mata akibat kecepatan fisik dan Niat Awan. Bilah udara fana itu bertabrakan hebat dengan tiga bilah Qi perak di tengah jembatan.
BOOOM!
Ledakan energi menyapu jembatan sempit itu. Karena Cikal Bakal Niat Pedang milik Awan masih sangat mentah, serangan itu tidak mampu menghancurkan seluruh bilah Qi lawan. Sisa serpihan Qi perak berhasil menembus ledakan dan menyayat dada serta bahu Awan. Darah menyembur, mewarnai dada perunggunya menjadi merah.
Namun, Awan tidak peduli pada luka-lukanya. Ia telah berhasil menghancurkan inti serangan mematikan itu, menciptakan celah bagi dirinya.
Rasa sakit dan pusing yang luar biasa menghantam kepalanya karena memaksakan Niat Pedang, tetapi Awan menelannya bulat-bulat.
Sepuluh meter!
Memanfaatkan debu ledakan, Awan melesat bagai hantu menggunakan Langkah Besi Jatuh.
Saat Boneka Perunggu itu bersiap mengayunkan pedangnya untuk keempat kalinya, Awan sudah berada tepat di bawah dagunya. Bagi petarung fisik, masuk ke dalam radius kurang dari satu meter adalah kemenangan mutlak.
"Selamat tidur, rongsokan tua!" aum Awan.
Awan tidak menebas. Kayu Besi Hitam terlalu panjang untuk jarak sedekat ini. Ia menjatuhkan pedang kayunya. Sebagai gantinya, ia menarik kepalan tangan kanannya ke belakang pinggul. Organ dalamnya berkontraksi maksimal, memompa darah layaknya mesin uap yang kelebihan tekanan.
Ia meminjam prinsip dari banturan palu pandai besi. Pukulannya diarahkan lurus ke persendian lutut patung raksasa tersebut.
DUAAGH!
Suara logam patah terdengar menyakitkan. Kaki kanan Boneka Perunggu itu bengkok ke belakang. Keseimbangan makhluk logam seberat dua ton itu hancur, membuatnya berlutut dengan suara dentuman keras.
Kini, kepala patung itu berada sejajar dengan Awan.
Tanpa membuang waktu satu milidetik pun, Awan menggunakan kaki kirinya untuk menendang gagang Kayu Besi Hitamnya yang tadi ia jatuhkan, memantulkannya kembali ke tangannya. Ia menangkapnya di udara, memutar tubuhnya di udara seperti gasing, dan menghantamkan pedang kayu seberat lima puluh kilogram itu tepat ke sisi kepala Boneka Perunggu tersebut.
TANGGGG!
Bunyi benturan itu seperti lonceng kuil raksasa yang dipukul oleh raksasa.
Kepala perunggu yang sangat keras itu penyok parah, merusak formasi inti sihir yang tertanam di dalamnya. Cahaya merah di mata Boneka Perunggu itu berkedip-kedip sebelum akhirnya padam total. Tubuh raksasanya ambruk ke depan, tak lagi bergerak.
Awan mendarat dengan kedua kakinya, napasnya memburu kencang. Ia menyeka darah yang mengalir dari luka sayat di dadanya, lalu menekan titik akupuntur di sekitar luka tersebut untuk menghentikan pendarahan.
"Menara ini... benar-benar memaksa manusia untuk menembus batas," napas Awan terengah, memegangi kepalanya yang masih berdenyut sakit. "Lantai pertama mengajariku bahwa fisik tidak bisa mengenai asap. Lantai kedua memaksaku menguji Niat Pedangku di tengah tekanan. Jika lantai tiga..."
Tiba-tiba, suara mekanis kuno itu kembali menggema.
"Ujian Lantai Kedua diselesaikan. Nilai: Sempurna. Hadiah Ujian akan diberikan."
Sebuah pilar batu kembali naik dari ujung jembatan. Awan berjalan mendekat dengan langkah gontai. Di atas pilar itu, tidak ada pil penyembuh, dan tidak ada gulungan teknik.
Hanya ada sebuah kotak panjang berlapis kain sutra hitam.
Saat Awan membuka kotak tersebut, udara di sekitarnya mendadak menjadi sangat berat. Di dalamnya, terbaring sebilah pedang besi berwarna abu-abu gelap, berkarat di beberapa bagian, dan tampak sangat tidak terawat. Tidak ada ornamen, tidak ada cahaya Qi yang mewah, tidak ada permata di gagangnya.
Bahkan tidak memiliki ketajaman yang jelas. Namun, saat Awan memandangnya, seolah pedang berkarat itu sedang memandangnya balik dengan keangkuhan yang membelah langit.
Di dasar kotak, terdapat sebuah tulisan kuno yang diukir dengan ujung jari:
"Pedang tidak membutuhkan ketajaman, jika yang mengayunkannya cukup berat untuk membelah bumi. — Pedang Berat Fana: Bumi Pijar."
Mata Awan bergetar. Tangannya perlahan meraba gagang Kayu Besi Hitam di punggungnya, lalu beralih menatap pedang besi berkarat di dalam kotak.