Ia masuk ke tubuh wanita yang ia anggap bodoh, dan memilih mengubah takdirnya, bukan mengulangnya
Dina, yatim piatu cerdas yang selalu diremehkan karena penampilan, meninggal dalam kecelakaan dan terbangun sebagai Belvina Laurent, sosialita cantik yang dulu ia anggap bodoh. Terjebak dalam pernikahan tanpa cinta dengan Alden Virel, pria dingin yang membencinya,
Dina dalam tubuh Belvina memutuskan berhenti mengejar cinta yang bukan miliknya.
Perubahannya membuat Alden gelisah, sementara Seraphina, wanita yang tampak lembut, perlahan menunjukkan sisi tersembunyi.
Dengan kecerdasan yang kini jadi senjata, Belvina mulai membalik keadaan, mengungkap kebohongan, dan membuktikan bahwa harga diri lebih berharga daripada cinta sepihak.
Namun semakin ia menjauh, semakin Alden tak mampu melepaskannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. Masalahku Kamu
Belvina menjatuhkan diri ke sofa ruang tengah. Semburat merah masih terlihat samar di pipinya.
Di sudut ruangan, Arsen sedang sibuk bermain game. Ia hanya melirik sekilas, lalu kembali fokus ke layar ponselnya.
“Akh! Sial! Bego banget sih!” gerutu Arsen. “Tim apaan ini? Nggak setia kawan!” gerutunya, nyaris membanting ponsel.
Belvina berdecak. “Main game aja berisik.”
Arsen tersenyum sinis tanpa mengalihkan pandangan. “Kakak mana ngerti main game.”
“Aku?” Belvina menunjuk dadanya sendiri. “Nggak ngerti main game?”
Ia tertawa kering. Dulu, game justru pernah jadi hobi sekaligus sumber penghasilannya. Menjual akun demi uang, jauh sebelum ia menjadi joki makalah.
“Emang ada siapa lagi di sini selain Kakak?” tantang Arsen. "Hantu?"
Belvina langsung membuka ponselnya. “Apa nama akunmu? Ayo main bareng.”
"Main sama Kakak?" Arsen memutar bola matanya malas. “Palingan Kakak cuma jadi beban.”
"Jangan suka meremehkan orang," ujar Belvina. “Gini aja, kalau aku kalah dan jadi beban timmu, uang bulananku bulan ini kukasih ke kamu.”
Arsen menyipitkan mata. “Serius?”
“Dua rius.”
“Oke. Deal.”
Tak lama kemudian, keduanya tenggelam dalam permainan.
Arsen yang semula percaya diri perlahan terdiam.
Belvina bergerak cepat, mengatur arah serangan, menutup celah, lalu menghabisi satu per satu lawan dengan tenang.
Dalam hitungan menit, tim lawan rata tanpa sisa.
Victory.
Arsen terpaku pada layar, lalu menoleh padanya dengan mulut terbuka.
“Kak... sejak kapan Kakak bisa main game? Biasanya 'kan sibuk makeup dan shopping.”
“Kepo," sahut Belvina santai. "Makanya jangan suka ngeremehin orang,”
“Sorry... sorry... aku beneran nggak tahu.” Arsen terkekeh. “Lagian Kakak biasanya nempel terus sama Kak Alden. Mana sempat main game?”
“Itu dulu,” jawab Belvina singkat.
“Kalau gitu kita main lagi.”
Arsen bangkit dari kursinya lalu pindah duduk tepat di sebelah Belvina.
“Oke. Siapa takut?”
Mereka kembali tenggelam dalam permainan.
Saat itulah Alden masuk ke ruang tengah.
Langkahnya terhenti. Alisnya bertaut melihat istrinya duduk berdekatan dengan adiknya, bahu hampir bersentuhan, sama-sama fokus menatap layar ponsel.
"Bel," panggilnya.
"Hmm," sahut Belvina, tapi matanya tak bergeser dari layar ponselnya.
Wajah Alden perlahan suram.
Tadi di kamar ia diabaikan karena game. Kini hal yang sama terulang.
Dan yang paling mengganggu... wanita itu tampak sangat menikmati kebersamaannya dengan Arsen. Mereka tertawa, saling memberi instruksi, kompak tanpa canggung.
Bahkan Alden belum pernah melihat sisi Belvina yang seringan itu saat bersamanya.
“A r s e n,” panggilnya dingin. “Berhenti main game.”
“Nanggung, Kak. Lagi seru,” sahut Arsen tanpa menoleh.
Garis rahang Alden menegang.
“Berhenti main game. Belajar sana.”
“Ada waktunya buat belajar, Kak. Kalau belajar terus tanpa hiburan, bisa stres,” jawab Arsen santai, matanya tak lepas dari layar.
Belvina hanya mendengus pelan, sekilas melirik Alden sebelum kembali fokus.
“Cover, Kak!” seru Arsen.
“Calm down. Kamu mundur, aku yang maju,” balas Belvina cepat.
Alden masih berdiri di sana. Diabaikan lagi.
Tanpa peringatan, ia melangkah maju dan—
Dalam satu gerakan cepat, Alden merampas dua ponsel dari tangan mereka.
“Eh?!” Belvina refleks mendongak.
“Woi, Kak!” Arsen refleks berdiri. “Lagi war ini!”
Belvina mendongak dengan ekspresi tak percaya. “Seriusan?”
Alden mengangkat kedua ponsel itu lebih tinggi, menjauh dari jangkauan mereka. Wajahnya datar, tapi sorot matanya tajam.
“Sudah cukup.”
“Balikin,” kata Belvina, nada suaranya mulai dingin.
“Kalau tidak?” tantang Alden.
Belvina berdiri, mendekat satu langkah. “Itu ponselku.”
Alden bergeming. “Dan itu adikku.”
Arsen melirik keduanya, bingung harus ikut siapa. “Kak, serius… ini rank, loh…”
“Diam,” ucap Alden tanpa menoleh.
Belvina berkacak pinggang. “Masalahmu apa sih?”
“Masalahku...” Alden menatap lurus. “Kamu.”
Arsen menelan ludah.
“Kayaknya ini sudah bukan soal game lagi deh...”
Dengan gerakan kilat, ia merebut ponselnya dari tangan Alden.
“Kalian selesaiin masalah kalian. Aku cabut.”
Ia buru-buru kabur. Namun Belvina dan Alden sama sekali tak menanggapinya.
Belvina menegakkan kepala dengan tatapan menantang. “Apa masalahmu?”
Sorot mata Alden mengeras. “Dari tadi kau main game seolah tak peduli apa pun.”
Belvina mengernyit. “Apa yang harus kupedulikan? Kamu?”
Ia tertawa kecil tanpa humor.
“Bukannya kamu paling tidak suka kalau aku pedulikan? Nempel sama kamu, dekat-dekat sama kamu?”
Alden mengatupkan rahang. Tapi Belvina belum selesai.
“Kenapa sekarang malah ribut saat aku tak melakukan hal yang kau benci? Nggak jelas banget.”
Di balik dinding, Arsen berjongkok mengintip.
Di belakangnya, Alena ikut membungkuk. Fransisca berdiri sambil melipat tangan. Andreas, yang paling tinggi, mengintip dari belakang semuanya.
Alden maju satu langkah.
“Kau makin berani, ya.”
Belvina mendongak pongah, tak mundur sedikit pun.
“Kenapa aku harus takut?”
Alden menunduk, jarak wajah mereka tinggal beberapa senti.
“Yakin tak takut?”
“Enggak.”
Jawaban Belvina tegas..Sayangnya, detak jantungnya justru mengkhianati.
Alden menyadarinya. Senyum tipis mulai muncul di bibirnya.
“Kita lihat seberapa berani kau.”
Sebelum Belvina sempat bereaksi, Alden sudah mengangkat tubuhnya ke bahu seperti karung beras.
“Alden! Turunin aku!”
Belvina memukul punggung pria itu dengan tangan kecilnya, kakinya menendang-nendang udara.
Alden terus melangkah seolah tak mendengar.
“Wah... ini sih perang beneran,” gumam Arsen sambil nyengir.
“Aku suka versi Kak Belvina yang ini!” bisik Alena dengan mata berbinar.
“Kalau Kak kalian berani macam-macam sama menantu Bunda, lihat saja nanti,” ujar Fransisca sambil melipat tangan.
“Tenang,” sahut Andreas. “Alden tahu batas.”
Sementara itu, Alden masuk ke kamar dan menutup pintu dengan kakinya.
“Dasar brengsek! Turunin!” umpat Belvina.
Alden menjatuhkannya pelan ke atas ranjang, lalu menahan tubuh wanita itu dengan kedua tangan bertumpu di sisi kanan-kiri tubuhnya.
“Ma-mau apa kau?”
Suaranya masih keras, tetapi napasnya tak lagi seteratur tadi.
Alden menunduk makin dekat.
“Kenapa? Bukannya tadi bilang tak takut?”
“Aku memang nggak takut.”
Suaranya tetap keras, tetapi wajahnya berpaling.
Alden mendekat ke telinganya.
“Aku dengar jantungmu lebih ribut daripada mulutmu.”
Kepanikan mulai merayap di wajah Belvina. Namun di tengah kekacauan itu, satu ide muncul di kepalanya.
“Arkh!”
Alden tersentak saat Belvina menggigit lehernya.
Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, Belvina mendorong dada pria itu lalu lolos dari bawah kurungan tubuhnya.
“Belvina...” geram Alden.
Namun wanita itu sudah berdiri di dekat pintu. Ia menjulurkan lidah.
“Weeek!”
Lalu kabur keluar kamar.
BRAK!
Pintu tertutup keras.
Alden berdiri diam beberapa detik. Tangannya menyentuh bekas gigitan di leher. Perih.
Namun anehnya, bibirnya justru melengkung geli.
“Berani menggigit aku...” gumamnya rendah.
Pandangannya tertuju pada pintu yang sudah tertutup.
“Baik, Belvina.”
Ia tertawa pendek.
“Sekarang giliranku.”
...✨"Alden mengira ia marah karena game. Padahal yang mengusiknya adalah Belvina yang tak lagi berpusat padanya."✨...
.
To be continued
Alden sangat takut kehilangan Belvina ..ayo Bel Rawat Alden dengan baik,Alden akan bersikap lembut kepadamu dan sayang,cinta sama kamu