NovelToon NovelToon
Melati

Melati

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Cinta Terlarang / Romansa / PSK
Popularitas:85.9k
Nilai: 5
Nama Author: Jenk kelin

Melati...

Cantik, kan? Tentu saja. Nama itu sesuai dengan parasku.

Cantik, anggun dan berkelas.

Semua ku dapat dalam genggamanku. Semuanya. Tapi tidak dengan kebahagiaan.

Akankah kutemukan kebahagiaan itu? Apakah masih ada jatah bahagia untuk seorang ja lang sepertiku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jenk kelin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pria Lalim

Pemakaman Mama berlangsung singkat. Hanya dihadiri beberapa kerabat dan relasi saja.

Itupun yang benar-benar berdiri mendukung dibelakang Mama selama ini.

Andai Mama tahu, teman-teman arisan sosialitanya bahkan tak ada satupun yang menampakkan batang hidungnya.

Miris sekali, di dunia berteman karena harta. Setelah mati tetap doa yang menjadi teman setianya. Sedangkan temannya di dunia, sudah pergi, karena tak ada lagi harta yang menguntungkan bagi mereka.

Aku dan Dewan berdiri berdampingan. Kami mengenakan pakaian putih dan kaca mata hitam.

Sama-sama menatap dua gundukan tanah merah yang masih basah dan bertabur bunga didepan sana dengan pikiran masing-masing.

Mama dimakamkan tepat disamping Papa. Di pemakaman artis paling mahal di kota ini.

Aku tak heran, mengingat Papaku arogan dia pasti akan membeli lahan seluas 200 meter persegi di atas bukit ini untuk tempat istirahat terakhirnya, area mercy mansion peak of the peak estate.

Setiap unit peak estate bisa di isi sampai 8 lubang. Yang artinya masih ada slot untukku dan juga Dewan.

Tunggu, aku bahkan tak yakin Papa memberikan slot untukku juga.

Memang indah pemandangan dari sini, letaknya paling tinggi diatas bukit. Suasananya sejuk dan tenang. Ada jalan khusus untuk sampai disini, jadi memudahkan proses pemakaman atau keluarga yang ingin ziarah dengan tenang.

Dan ku amati, sepertinya Papa mendesign ini sendiri, ada gazebo kecil dan juga kolam ikan buatan. Ada sentuhan khas yang membuat aku langsung tahu, sentuhan ini khas Papa.

Sekali lagi aku tidak perduli. Jika sudah mati urusannya sama akhirat. Jangankan menikmati keindahan pemakaman ini, untuk selamat dari pertanyaan malaikat saja kita tak tahu.

Ia membeli tempat paling mahal dan nyaman untuknya istirahat, tapi lupa kelakuannya di dunia lah penentuan nyaman atau tidaknya dia tidur disini.

Jangan heran pemikiranku sedalam ini, biarpun ja lang, aku juga punya impian ingin hidup lurus suatu saat nanti, sebelum Tuhan mencabut nyawaku. Berharap ada surga tersisa untukku nanti.

Dewan menyentuh pundakku. Aku mengangguk lalu berjalan beriringan kembali ke dalam mobil.

***

Aku masih tertegun di depan teras rumah. Dewan sudah mendahuluiku masuk kedalam.

Semua seperti mimpi bagiku.

Kupikir aku tak akan pernah menginjakkan kakiku lagi di rumah mewah ini. Dua belas tahun ku tinggalkan, banyak yang berubah.

Waran cat, penataan taman, letak garasi. Semuanya seperti baru ku lihat kali ini.

Perlahan aku membuka pintu dan masuk menyusul Dewan.

Saat ku hampiri dia di dapur, Dewan sedang bercakap-cakap dengan seseorang.

Brian.

Mereka menatapku saat aku datang.

Aku duduk di kursi makan dan melipat tanganku diatas meja.

Brian menghampiri, dia duduk tepat disamping kananku.

"Ngapain disini? Istrimu ditinggal sendirian di rumah, nggak takut diambil orang?" Ucapku ketus.

Dia malah menyeringai senang, alis sebelah kanannya sedikit terangkat.

"Seharusnya istriku kamu, pakai kabur segala sih." Jawabnya balas mencibirku.

"Aku di usir woy, bukannya kabur. Itu dua hal yang berbeda ya, tolong dipahami." Aku tak terima dibilang kabur. Nyatanya memang Papa yang menyuruhku angkat kaki dari rumah ini.

Kurang drama apalagi coba hidupku ini?

Lulus sekolah menengah atas, bukannya kuliah malah disuruh kawin.

Ku tolak dengan tegas malah aku diusir. Papa pikir aku akan menyerah begitu saja? Cih, jangan harap. Aku juga tak sudi hidup terlalu lama dibawah tekanannya.

Dasar Papaku keras, ketemu aku yang juga keras, nggak akan pernah bisa sejalan.

Aku keluar dari rumah ini dengan gagah berani. Yang dengan yakin, pasti hidupku lebih bahagia di luar sana.

Yang ku bawa hanya baju sekoper kecil dan uang tabungan yang tak seberapa.

Sampai sekarang percuma tabungan itu ku bawa, nyatanya Papa gerak cepat membekukannya.

Benar-benar orang tua yang lalim terhadap anaknya, darah dagingnya sendiri.

Praktis hanya uang di saku yang membuatku masih tetap hidup sampai detik ini.

Dan penyebab semua ini baru ketemu setelah dua belas tahun lamanya.

Pingin banget ku tonjok muka Brian saat ini. Untung ganteng, jadi rencana nonjok pake tangan, sementara di ubah pake bibir.

Tapi aku hanya bisa mendengus kesal. Pria ini beristri, aku bisa apa? Kalah sebelum nyosor judulnya.

"Kakak nggak usah galak-galak, disini yang salah Kak Lia, bukan Kak Brian. Jangan playing victim deh." Omel Dewan.

"Kamu ada di pihak yang mana sih?" Tanyaku galak. Heran, yang Kakaknya yang mana sebenarnya.

Dewan nyengir, "mana aja yang penting nguntungin. Hehehe..."

"Sekarang bukan saatnya ribut soal siapa yang salah dan benar. Apa pengacara keluarga ini sudah menghubungi kalian?" Brian menatapku dan Dewan bergantian.

"Tadi ketemu di pemakaman, Om Hotmarito bilang akan kesini saat pengajian habis magrib."

"Mengingat bagaimana kiprah bapak kalian, sebagai penerus sebaiknya kalian berhati-hati. Mudah-mudahan tidak ada yang ganjil dengan harta peninggalan mendiang."

"Sudah pasti banyak keganjilan, Papaku ambisius dan licik. Dia akan menggunakan segala cara untuk mendapatkan apa yang dia mau." Kataku sinis.

"Dewan, kamu harus siap-siap membersihkan harta Papa, semua ini sudah pasti jatuh ke tanganmu." Lanjutku lagi sambil menyesap Vape.

Aku sudah yakin, namaku pasti sudah dicoret dari daftar penerima warisan sejak aku jadi pembangkang. Aku tak masalah, malah lebih baik seperti itu.

Wajah Dewan tampak murung. Serasa beban berat tiba-tiba disampirkan di pundaknya yang masih belia.

Ia masih kuliah semester akhir. Masih ingin nongkrong bareng temen-temennya di cafe, masih ingin pacaran, masih ingin traveling menjelajahi tempat-tempat asyik di negeri ini.

Aku paham apa yang Dewan rasakan.

Brian menepuk bahu Dewan, "jangan pesimis dulu. Kita tidak bisa percaya begitu saja pada spekulasi orang yang sudah pernah meleset memprediksi sesuatu sebelumnya."

Dia jelas menyindirku.

Dewan yang sedang banyak pikiran cuma bengong mendengar petuah Brian.

Aku diam saja, sedang tak ingin berdebat, aku lelah. Ku lirik jam tanganku, masih ada waktu lumayan lama untuk istirahat sebelum acara pengajian dimulai.

Haruskah aku ke kamarku?

Kamar yang dulu ku tempati delapan belas tahun lamanya? Aku tak yakin.

Tapi jika harus pulang ke apartemen, akan sangat memakan waktu, belum macetnya. Tubuhku sudah lelah, benar-benar merindukan kasur.

Dan lagi kasihan Dewan, di rumah ini hanya bersama para asisten rumah tangga. Meski jumlahnya sepuluh orang dan sudah mengabdi pada bapakku sejak lama, tapi tetap saja aku tak tega.

Sudah tak ada Mama, jadi aku yang seharusnya menjaga Dewan.

Aku beranjak dari duduk dan melangkah menuju tangga, menuju kamarku.

Ku tinggalkan Brian dan Dewan yang masih sibuk kasak kusuk di meja dapur.

***

1
Madonna Donna
hallooo 🤨
Vlink Bataragunadi 👑
ahiiiiiw /Facepalm/
Vlink Bataragunadi 👑
eeeeeeh/Chuckle/
Vlink Bataragunadi 👑
iiih kalian iseng bangettt/Facepalm/
Mamah Aish
awal nya maju mundur mau lanjut baca ,,tapi dari sini udah enak dibaca ,,aku suka thorr
Esti Purwanti Sajidin
kpn ka mel di bikin sibuk ka otor
sryharty
Doni patah hati mel,,karena tambatan hatinya malah pacaran sama Ade kamu,, wkwk
Esti Purwanti Sajidin
mel yg di sayang kita yg guling2 gigit2 bantal,,,wewww suami mna suami
Esti Purwanti Sajidin
di bikin hamil biar mel lebih bahagia
Madonna Donna
Mau mandiii kucing 🐱🐈🤭😊
Siska habibah
jeng mau kaya brian di dunia nyata ada g ya🤭
Siska habibah: /Facepalm//Facepalm/
total 2 replies
sryharty
tenang marni
bang Brian memberi restu kalian ko
brian cuma lg nguji kamu doang biar makin kuat
Esti Purwanti Sajidin
pokokna klo teh meli udah keluar di cerita behhhh langsung wae greget yakaaannn
sryharty
entah lah mau komen apa aku ini
Jenk kelin: komen dong jenk, biar seru nih/Applaud/
total 1 replies
sryharty
nah gitu dong Marni,,
kamu juga harus ikut memperjuangkan ketulusan. cinta dewan
buat Zain kamu hebat bisa menyadarkan marni
Madonna Donna
novel ini sangat hidup
tokoh tokohnya keren
dialognya kekinian membuat para pembaca terkoneksi ke situasinya.
tulisannya menjadi candu yg nikmat terasa saat dibaca.

great job
you're the best Jeng Kelin ❤️🌹
Jenk kelin: ayo kita ngopi jenk. tersanjung akutu/Grin//Smirk//Pray/
total 1 replies
Madonna Donna
"... dalam hitungan ketiga, kamu lupa semuanya." 😀😁😂🤣
Anna Kusbandiana
wah bskalan sda doble date wedding nih....😅😅😅😘👍💖💖💖
Esti Purwanti Sajidin
ahhh sweet bgt,berasa se uprit baca nya,boleh serakah gak sih ka otor up yg byk
Jenk kelin: boleh kakaaakkk/Sob/ tapi tunggu otor kilap yak/Drool/
total 1 replies
Madonna Donna
apa cuma aku yg bayangkan ;
adegan situasinya..
dialognya..
complicated nya..
haa haa haa 🤣

you did it JENG KELIN ❤️🌹
Jenk kelin: let's we do it babe/Smirk//Kiss//Kiss/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!