Selama tiga tahun menjadi istri Arga Pratama, Rania selalu merasa tertekan karena dianggap gagal memberikan keturunan.
Arga mencintainya, tapi tak sanggup menahan tekanan ibunya yang mengancam akan mengakhiri hidup jika Arga tidak mau menikah lagi dan bercerai dengan Rania.
Akhirnya, Rania meninggalkan rumah tangganya dengan hati yang hancur.
Di sisi lain, Alvino Pratama, saudara sepupu Arga yang jauh lebih kaya dan berkuasa, ternyata sudah lama menyimpan perasaan pada Rania.
Rania pun menerima lamaran dari Alvino karena orang tua Alvino mengatakan Alvino juga tidak bisa memiliki keturunan. Rania berharap setidaknya ia bisa mendapatkan ketenangan karena tak lagi dikejar masalah anak.
Namun baru tiga bulan menikah, Rania dinyatakan hamil. Rania bahagia, tapi juga cemas. Bagaimana kalau kehamilannya dicurigai? Karena itu Rania menyembunyikan kehamilannya. Namun, tanpa sengaja Alvino mengetahui kehamilan Rania.
Lalu, apakah Alvino bisa menerima kehamilan Rania?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
09
.
Suara lembut itu membuatnya tersentak kaget. Ia segera mengangkat lengan, berusaha menghapus air mata dengan tergesa-gesa. Tapi sudah terlambat. Bu Soraya yang baru saja masuk sudah melihat matanya yang sembab dan merah.
Wanita paruh baya itu mengerutkan dahi, lalu melangkah mendekat dengan nada khawatir. “Kamu menangis?”
Rania hanya bisa menunduk, suaranya terasa tercekat di tenggorokan. Belum sempat ia menjawab, tangan Bu Soraya bergerak mengambil dokumen yang tadi terjatuh di meja, lalu membaca sekilas isinya. Wanita paruh baya itu seketika menatapnya dengan penuh rasa iba.
“Ya ampun, Nak….”
Kalimat sederhana itu meruntuhkan benteng pertahanan Rania. Air matanya kembali mengalir deras tanpa bisa ditahan lagi.
“Semuanya sudah selesai, Bu…” suaranya bergetar hebat, nyaris terdengar seperti bisikan. “Semuanya sudah benar-benar berakhir.”
Bu Soraya terdiam sejenak, hatinya terasa perih melihat wanita yang selama ini dikenal kuat itu kini terlihat begitu rapuh.
Perlahan ia duduk di kursi depan meja, lalu menjangkau dan menggenggam kedua tangan Rania dengan lembut. “Tidak apa-apa. Menangislah sepuas hatimu.”
Kalimat itu terasa seperti obat penenang sekaligus pelampiasan. Rania merasa tidak lagi harus berpura-pura kuat.
“Saya sudah berusaha sungguh-sungguh, Bu…” isaknya terputus-putus.
“Ibu tahu, Nak. Ibu tahu itu semua,” jawab Bu Soraya lembut sambil mengusap punggung tangannya.
*
*
*
Sementara di tempat lain, di ruang kerja rumahnya yang megah, Arga duduk termenung. Di hadapannya tergeletak salinan dokumen yang sama, surat perceraian. Tanda tangannya tercetak jelas di sana, namun terasa seperti luka bakar di hatinya.
Ia tahu, saat ini Rania pasti sudah menerima kiriman itu. Ia membayangkan bagaimana reaksi wanita itu, bagaimana rasa sakit yang akan ia rasakan saat membacanya. Dan setiap kali membayangkannya, dada Arga terasa sesak hingga sulit bernapas.
Tangannya mengepal kuat. Ia terpaksa melakukannya demi keselamatan Rania, namun ia sadar… begitu dokumen itu sampai di tangan Rania, satu-satunya benang harapan yang tersisa di antara mereka akan ikut terputus selamanya.
“Maafkan aku, Rania…” bisiknya lirih, suaranya nyaris hilang ditelan keheningan ruangan. “Maafkan aku karena terlalu lemah melindungimu.”
*
*
*
Keesokan harinya Rania tidak masuk kerja. Ia terpaksa mengajukan cuti mendadak. Semalam ia nyaris tidak memejamkan mata.
Hanya selembar kertas tipis saja, tidak berat sama sekali jika diangkat. Tapi entah mengapa, rasanya jauh lebih berat daripada beban apa pun yang pernah ia pikul seumur hidupnya. Perlahan ujung jarinya menyentuh tanda tangan Arga. Tanda tangan yang sudah sangat hafal di luar kepala selama tiga tahun ini, sering terlihat di dokumen bisnis, di buku tabungan, di surat-surat rumah tangga. Tak pernah sekalipun ia membayangkan, suatu hari akan melihatnya tertulis di atas kertas yang menjadi penutup kisah pernikahan mereka.
Air mata kembali menggenang. Ia segera mengusapnya kasar. “Cukup, Rania. Jangan menangis lagi hari ini,” bisiknya pelan menenangkan dirinya sendiri.
*
Di rumah keluarga Pratama, suasana pagi itu terasa kaku dan sunyi. Arga duduk membisu, menatap secangkir kopi di hadapannya yang sudah mulai dingin. Sementara Bu Ratih terlihat jauh lebih tenang dari biasanya karena ia sudah berhasil memisahkan Arga dari wanita yang sangat tidak disukai olehnya.
“Arga, Ibu sudah membuat janji temu dengan beberapa gadis yang Ibu pilih untukmu,” ucapnya tiba-tiba sambil menyuap sarapannya.
Arga hanya mengangkat wajah sekilas, tatapannya terasa datar dan hampa. “Untuk apa?”
“Untuk apa lagi? Tentu saja untuk menjadi calon istrimu.”
“Aku sudah melakukan semua yang Ibu minta,” jawab Arga pelan namun tegas. “Itu belum cukup?”
“Tentu saja belum! Tujuan kamu bercerai adalah agar kamu bisa menikah lagi dan memiliki keturunan. selain itu juga kamu memang harus memiliki istri yang bisa mengangkat derajat keluarga Pratama.”
Arga tertawa kecil, tapi tawanya terasa getir dan menyakitkan. “Keturunan, keturunan, keturunan… Selama ini hanya itu yang Ibu pikirkan? Kenapa Ibu tidak pernah sekali saja bertanya, apakah aku bahagia atau tidak?”
Bu Ratih terdiam sesaat, lalu menjawab tegas, “Nanti kalau kamu sudah menikah lagi dan punya anak kamu juga pasti akan bahagia. Apalagi yang Ibu pilih ini dari keluarga berkelas, bukan dari orang-orang yang hanya akan menumpang hidup.”
Kalimat itu membuat Arga kehilangan selera bicara. Ia hanya menggeleng pelan, lalu berdiri meninggalkan meja makan begitu saja tanpa menoleh lagi.
Bu Ratih mendengus seraya memandangi punggung putranya yang menjauh dengan hati kesal. Sikap Arga berubah drastis. Terasa semakin jauh, semakin dingin, dan semakin tak bisa diatur.
"Ini tidak bisa dibiarkan. Aku harus segera bertindak!"
*
Menjelang siang, Rania keluar dari kamar hotel untuk menghirup udara segar. Hanya berdiam diri di ruangan tertutup membuat otaknya semakin sumpek.
Wanita itu pergi ke taman kota yang cukup ramai. Namun, melihat anak-anak berlarian gembira, pasangan muda berjalan bergandengan tangan, keluarga yang duduk bersama menikmati waktu luang, nyatanya justru membuat hatinya semakin nelangsa. Dulu ia juga pernah membayangkan memiliki anak, berjalan berdua dengan suami, membangun rumah tangga yang hangat. Namun, semua itu kini tinggal kenangan yang menyakitkan.
Saat Rania sedang berjalan menikmati suasana, tiba-tiba seorang anak kecil menabrak lututnya hingga terjatuh.
“Aduh…!” rengek suara anak laki-laki itu.
Rania terkejut dan secara refleks membungkuk dan melihat wajah bocah mungil itu yang terlihat merah seperti habis menangis. “Ya ampun, Sayang! Kamu tidak terluka kan? Maaf ya Tante tidak melihat.”
Anak itu mendongak menatap wajah Rania dengan raut sedih.
"Hei... Kenapa menangis?"
“Aku main bola, tapi bolanya hilang.”
Rania yang merasa kasihan ikut membantu mencari. Beberapa saat hingga akhir apa yang mereka cari ketemu. Rania menatap bola itu seolah ikut merasa lega.
“Itu bukan bolanya?” Rania menunjuk ke arah semak-semak tak jauh dari situ.
Wajah anak itu langsung berseri. “Horee... Ketemu...”
Rania mengambil bola itu lalu berjongkok di depan anak itu dan menyerahkannya dengan lembut. “Ini, lain kali kalau nendang jangan keras-keras, ya," ucapnya sambil mengusap kepala anak itu.
“Terima kasih banyak, Tante!” seru anak itu gembira sambil memeluk erat bolanya. Senyumnya yang polos seketika menghangatkan hati Rania, meski di saat yang sama terasa perih karena teringat kembali pada keinginan terbesarnya. Namun melihat anak itu kembali berlari dengan gembira ia merasa bahagia.
“Rania? Kamu di sini?”
Suara lembut menyapa dari samping. Rania menoleh dan terkejut melihat Bu Soraya berdiri di sana sambil tersenyum ramah.
“Bu Soraya? Ibu ada di sini?” tanyanya segera berdiri sopan.
"Kebetulan saja, aku habis urusan di dekat sini lalu berjalan-jalan sebentar,” jawab Bu Soraya lalu berjalan ke sebuah bangku tak jauh dari tempat itu, dan Rania segera mengikutinya.
"Duduklah, kenapa berdiri saja?" Bu Soraya menepuk ruang kosong di bangku panjang yang ia duduki.
Rania menggaruk tengkuknya merasa ragu. Apa iya dia akan ikut duduk sebangku dengan atasannya? Apa tidak apa-apa? Tapi melihat Bu Soraya yang tersenyum dan kembali menepuk bangku itu, akhirnya ia ikut duduk juga.
Bu Soraya memandang wajahnya dengan tatapan lembut dan bisa melihat mata Rania yang masih sembab. Raut sedih itu tak bisa disembunyikan.
“Aku dengar kamu mengajukan cuti hari ini. Kamu baik-baik saja, kan?”
mak semangat truus menulis ny ,, sehat2 trus mamak ku ,, 🫰🫰🫰🫰
nonis tidak ada pakai ijab kabul ya.kita adanya pemberkatan di gereja.
tidak harus ada orang tua yang jadi wali jabat tangan dengan mempelai pria...
pemberkatan di lakukan oleh pendeta atau pastor,diantara dua pengantin.
mohon di perhatikan lagi kk Thor
setau saya nikah di gereja itu namanya pemberkatan nikah oleh Pendeta.
tolong lebih diperluas referensinya. karena ketika kita membaca maka yang diharapkan ada bertambahnya pengetahuan bukan makin keliru.