NovelToon NovelToon
Suamiku yang "Gila" Ternyata CEO Dingin

Suamiku yang "Gila" Ternyata CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / Reinkarnasi / CEO / Identitas Tersembunyi / Psikopat itu cintaku / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:7.7k
Nilai: 5
Nama Author: Lumisse

Keira Hartono tidak pernah menyangka bahwa malam sebelum pernikahannya, dia akan memergoki tunangannya sendiri — Brandon Liem, pewaris Liem Group — sedang tidur dengan adik tirinya, Celine.
Tapi Keira bukan wanita yang bisa diinjak dua kali.
Alih-alih menangis dan memohon, dia mengambil ponselnya, merekam segalanya, dan memberikan ultimatum pada kedua keluarga:
*"Ganti pengantin prianya, atau ganti pengantin wanitanya."*
Pilihan jatuh pada Reynard Liem — kakak Brandon yang dikenal seluruh Jakarta sebagai pewaris yang "sudah gila" setelah kecelakaan mobil yang menewaskan kakeknya. Dia duduk di kursi roda, tidak bisa berbicara dengan benar, dan menghabiskan hari-harinya bermain Rubik sendirian di pavilion belakang rumah.
Semua orang menertawakan Keira. *"Menikahi orang gila demi balas dendam? Kasihan sekali."*
Tapi Keira tahu sesuatu yang tidak diketahui siapa pun.
Dia tahu bahwa tiga tahun dari sekarang, Reynard Liem akan bangkit kembali — lebih kuat, lebih kejam, dan lebih berkuasa dari sebelumnya. Yang perlu dia lakukan hanyalah menjaganya sampai saat itu tiba. Setelah itu, cerai, dan mereka berdua bebas.
Rencananya sempurna.
Sampai dia mulai jatuh cinta pada suaminya.
Sampai dia menyadari bahwa di balik tatapan polos dan kata-kata cadel itu, ada sepasang mata gelap yang mengawasinya — dengan obsesi yang tidak pernah dia sangka.
*"Kei mau pergi dariku? Tidak boleh."*
*"Selain di sisiku, kamu tidak boleh ke mana pun."*
Ternyata, Reynard Liem tidak pernah gila.
Dan dia tidak pernah berencana untuk melepaskannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24

Bab 24: Syuting Dimulai

Beberapa minggu kemudian, Hanya Kamu resmi mulai syuting.

Hari pertama dibuka di halaman gedung BC Entertainment dengan tumpeng kecil, doa singkat, dan tepuk tangan kru yang jumlahnya belum banyak. Tidak ada karpet merah. Tidak ada media besar. Namun Keira berdiri di depan monitor dengan jaket sederhana, topi hitam, dan mata yang begitu fokus sampai kru baru langsung tahu siapa yang memegang arah kapal ini.

Naomi duduk di dekat meja naskah, memeluk laptop seperti senjata. Rio mengatur jadwal talent. Evan datang terlambat membawa kopi untuk semua orang dan langsung dimarahi Keira karena hampir menaruh minuman di dekat dokumen produksi.

Reynard duduk di sudut dengan kursi roda, Rubik di tangan.

Sebelum kamera pertama menyala, Keira mengumpulkan kru.

"Kita bukan produksi paling kaya," katanya. "Kita tidak punya waktu untuk gengsi. Kalau ada masalah, bicara. Kalau ada yang melewati batas, lapor. Aku tidak ingin orang di lokasi ini takut pada aktor, investor, atau sutradara."

Beberapa kru saling melirik. Industri ini tidak terbiasa mendengar sutradara bicara begitu pada hari pertama.

Livia berdiri di barisan depan, matanya serius. Rio mencatat sesuatu di clipboard. Naomi tersenyum seperti ingin bertepuk tangan, tetapi menahan diri agar tidak terlalu memalukan.

"Sekarang," Keira menutup naskah, "mari bikin cerita yang membuat orang lupa kita perusahaan baru."

Pada hari pertama, kru menatapnya diam-diam.

Pada hari ketiga, mereka mulai terbiasa.

Pada minggu kedua, orang-orang sudah tahu bahwa suami sutradara mereka adalah pria tampan yang suka duduk diam, kadang minta air pada Keira, kadang memanggil "Kei" dengan suara pelan saat semua orang sedang tegang.

"Nyonya direktor," bisik seorang asisten kamera suatu siang, "suaminya manis banget."

Keira mendengar dan pura-pura tidak.

Reynard mendengar dan menatap orang itu terlalu lama sampai asisten kamera tersebut buru-buru memeriksa tripod.

Setelah itu, kru belajar satu aturan tidak tertulis: boleh memuji Reynard tampan, jangan memuji Keira terlalu lama di depan Reynard. Seorang penata lampu pernah berkata Keira terlihat keren saat memberi arahan. Reynard tidak mengatakan apa-apa, tetapi lampu di dekat pria itu mendadak diperiksa ulang olehnya sampai tiga kali karena ia merasa diperhatikan.

Naomi menyebutnya "aura suami posesif versi lucu".

Keira menyebutnya "kalian semua terlalu banyak waktu luang".

Di lokasi, Keira berbeda dari di Pavilion. Ia bergerak cepat, memberi arahan jelas, memotong adegan yang tidak perlu, dan tidak takut mengulang take sampai ekspresi pemain tepat. Livia, yang akhirnya menandatangani kontrak proyek pertama, bekerja paling keras. Ia datang paling pagi, pulang hampir terakhir.

Ada hari ketika hujan palsu tidak turun sesuai tekanan. Ada hari ketika aktor pendukung lupa dialog lima kali. Ada hari ketika listrik studio padam selama dua puluh menit dan kru mulai panik karena jadwal mundur. Keira tidak berteriak. Ia memindahkan urutan pengambilan gambar, meminta Naomi menyesuaikan dialog, lalu menyuruh Evan mencari genset tambahan.

"Aku investor, bukan tukang genset," protes Evan.

"Hari ini kamu dua-duanya."

Evan pergi sambil menggerutu. Setengah jam kemudian genset datang.

Reynard melihat semua itu dengan dagu bertumpu di tangan. Semakin banyak Keira memberi perintah, semakin terang matanya.

Satu sore, setelah take emosional yang berat, Livia menunduk ke Keira. "Saya bisa ulang kalau kurang."

"Tidak perlu. Yang tadi sudah benar." Keira menatap monitor. "Kamu tidak menangis terlalu banyak. Itu bagus. Luka karakter ini bukan untuk dikasihani, tapi untuk dipahami."

Livia mengangguk, matanya berbinar.

Reynard melihat cara Livia menatap Keira, lalu memutar Rubik satu klik lebih keras.

Naomi yang lewat membawa naskah langsung berbisik, "Koh Rey, Livia perempuan."

"Rey tahu."

"Bagus."

"Tetap tidak suka."

Naomi hampir tertawa, lalu memilih kabur sebelum Keira mendengar.

Hari-hari syuting melelahkan tetapi hidup. Kru mulai menyebut Reynard "maskot set" secara diam-diam, sampai suatu kali Evan mengucapkannya terlalu keras.

"Bro Rey, kau sekarang maskot resmi Hanya Kamu."

Reynard menatapnya tanpa ekspresi.

Evan langsung menambahkan, "Maskot yang sangat terhormat."

Keira menoleh dari monitor. "Kalian berdua kalau mengganggu, keluar."

Reynard langsung menunduk. "Rey diam."

Evan berbisik, "Tidak adil. Kalau dia bilang diam, semua orang luluh."

"Karena dia benar-benar diam," jawab Keira.

Evan menatap Reynard. Reynard menatap balik dengan mata dingin selama satu detik. Evan mengangkat tangan menyerah.

Di balik semua kelucuan itu, Reynard bekerja dengan caranya sendiri.

Saat Keira sibuk mengatur adegan, ia menelepon Evan dengan ponsel cadangan dari ruang kecil dekat set. "Pastikan lokasi outdoor minggu depan dapat izin. Jangan pakai vendor yang pernah bekerja dengan Langit."

"Sudah."

"Akun promosi?"

"Disiapkan atas nama agensi kecil."

"Bagus. Jangan sampai Keira tahu."

"Kau sadar suatu hari dia akan tahu semua?"

Reynard diam sebentar. Dari celah pintu, ia melihat Keira berdiri di bawah lampu set, memegang naskah sambil tersenyum pada Livia.

"Nanti."

Evan menghela napas. "Kata paling berbahaya."

Ketika Evan keluar, Reynard tetap di ruang kecil itu beberapa detik. Guntur pertama terdengar jauh, hampir tertutup suara kru. Tubuhnya menegang sebelum ia sempat memerintahkannya tenang.

Kenangan selalu datang tanpa sopan santun.

Bau aspal basah. Lampu depan mobil yang terlalu terang. Suara logam terpelintir. Tangan Engkong yang tidak lagi bergerak.

Reynard menutup mata, rahangnya mengeras.

Ia tidak boleh terlihat seperti ini di depan Keira.

Ia memutar keran wastafel dan membasahi pergelangan tangan dengan air dingin. Bukan untuk menyakiti diri, hanya untuk menarik pikirannya kembali ke ruangan sempit itu. Namun guntur kedua datang sebelum napasnya stabil.

Kali ini, lututnya terasa kosong.

Ia mengunci pintu karena tidak ingin siapa pun melihatnya jatuh.

Terutama Keira, yang selalu melihat terlalu dalam.

Dan terlalu lembut.

Sore itu, langit berubah mendung lebih cepat dari perkiraan. Syuting adegan outdoor terpaksa dipindah ke set indoor. Hujan turun saat kru mulai berkemas, lalu guntur terdengar jauh.

Keira sedang memeriksa hasil take ketika sadar Reynard tidak berada di sudut biasa.

"Rey?"

Naomi menoleh. "Tadi Koh Rey bilang mau ke ruang istirahat."

Guntur kedua lebih keras.

Keira langsung berdiri.

Di meja kecil dekat kursi roda, Rubik tertinggal.

Reynard tidak pernah meninggalkan Rubik sembarangan.

Rasa tidak enak langsung merayap ke tengkuk Keira. Ia mengambil Rubik itu, masih hangat oleh genggaman, lalu berjalan lebih cepat.

Ia berjalan cepat melewati lorong produksi. Pintu ruang istirahat tertutup. Biasanya tidak dikunci. Hari itu, gagangnya tidak bergerak saat ia tekan.

"Rey?"

Tidak ada jawaban.

Keira mengetuk lebih keras. "Rey, buka pintunya."

Dari bawah pintu, air merembes keluar.

Darah Keira seperti berhenti sesaat.

"Rey? Rey!"

1
aku
bro rey apa yg di belakang layar nnti jd pendampingmu key 😁😃
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!