NovelToon NovelToon
Wanita Suci Dunia Binatang Yang Terlupakan

Wanita Suci Dunia Binatang Yang Terlupakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Penyelamat
Popularitas:800
Nilai: 5
Nama Author: Roditya

Saat ajalnya tiba di tengah kobaran api dan puing Suku Serigala, Yana diberi kesempatan kedua oleh Dewa Binatang.

Ia terbangun di usianya yang ke-16—tepat dua bulan sebelum tragedi berdarah itu merenggut nyawa ayahnya dan meratakan tanah kelahirannya.

Namun, ancaman terbesar bukanlah monster, melainkan seorang gadis dari dunia lain yang mengaku sebagai "Wanita Suci". Berkedok kemajuan modern, ide-idenya justru merusak keseimbangan alam dan memicu perang antarsuku.

Siapakah sebenarnya sang Wanita Suci pilihan Dewa Binatang yang sesungguhnya? Mampukah Yana menyembunyikan identitasnya demi menyelamatkan sukunya tepat waktu?

Ikuti perjuangan Yana menembus batas takdir dan selamatkan dunia binatang sebelum semuanya terlambat! Baca selengkapnya sekarang di sini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Roditya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22 — Gagasan yang Terburu-buru

Suasana di balai suku pagi ini terasa lebih padat dari biasanya. Aron, Tetua Gordon, Paman Bimo, dan beberapa pemburu senior duduk mengelilingi meja kayu besar. Di sudut ruangan, Ayla berdiri dengan wajah percaya diri, didampingi oleh Luka yang tampak bersemangat menyokong kehadiran gadis itu.

Yana berdiri di dekat pilar kayu balai, menyandarkan bahunya sambil menyimak alur pembicaraan.

"Paman Aron, Tetua Gordon," Ayla membuka suara dengan nada sopan namun penuh keyakinan. "Persediaan makanan kita memang membaik dengan pengawetan baru, tapi itu hanya bertahan untuk musim dingin kali ini. Jika suku ingin berkembang, kita tidak bisa terus-menerus bergantung pada hasil buruan di Hutan Hitam yang makin berbahaya."

Tetua Gordon mengelus janggut putihnya, menatap Ayla datar. "Lalu, apa usulmu, Ayla?"

Ayla melangkah mendekati meja, menunjuk ke arah peta kulit binatang yang terbentang di atas kayu.

"Kita bisa membuka lahan baru di kaki Bukit Lembah Timur," terang Ayla penuh gairah. "Tanahnya datar dan dekat aliran sungai. Kalau kita membersihkan semak dan pepohonan di sana sebelum musim semi, kita bisa menanam gandum dan sayuran. Suku tidak perlu lagi bertaruh nyawa menghadapi binatang buas hanya untuk mencari makan."

Mendengar hal itu, beberapa pemburu muda berbisik antusias.

"Menanam gandum sendiri?" bisik seorang pemburu di samping Luka. "Kalau itu berhasil, kita tidak perlu kelaparan lagi saat musim dingin!"

Luka melangkah maju, memperkuat ucapan Ayla. "Usulan Ayla sangat masuk akal, Kepala Suku. Selama ini kita selalu terpaku pada cara lama. Dibukanya lahan baru di Lembah Timur akan membuat Suku Serigala jauh lebih kuat."

Namun, Tetua Gordon tidak langsung mengangguk. Keningnya berkerut dalam.

"Lembah Timur memang subur," sahut Tetua Gordon pelan. "Tapi tempat itu berbatasan langsung dengan wilayah jelajah serigala gading dan kondisi tanahnya sangat lembap saat salju meleleh. Menyiapkan lahan di sana membutuhkan banyak tenaga pemburu yang harusnya fokus mengumpulkan kayu bakar."

"Tapi kita bisa membagi tugas, Tetua!" potong Luka cepat, membela gagasan Ayla. "Hasilnya akan sepadan dengan usahanya!"

Ayla tersenyum lembut ke arah Luka, merasa mendapat dukungan kuat. "Aku tahu risikonya, Tetua. Tapi jika kita tidak mulai dari sekarang, kita akan terus tertinggal."

Di saat perdebatan mulai hangat, Yana akhirnya melangkah keluar dari naungan pilar. Suara langkah kakinya yang tenang membuat perhatian orang-orang di balai beralih padanya.

"Jangan terburu-buru," kata Yana singkat, menatap Ayla dan Luka secara bergantian.

Luka mengerutkan dahi, menatap Yana dengan raut tidak senang. "Kenapa, Yana? Ini demi kebaikan suku kita. Apa kamu mau kita terus kesulitan mencari makanan setiap tahun?"

Yana membalas tatapan Luka dengan dingin dan rasional.

"Musim dingin kali ini datang lebih cepat dan angin utara mulai memburuk," ujar Yana lugas tanpa kalimat berbelit. "Membuka lahan di Lembah Timur butuh penebangan pohon besar dan pengerukan tanah yang membeku. Itu memakan waktu dan menguras energi para pemburu. Jika badai es mendadak turun saat prajurit kita kelelahan di luar pemukiman, siapa yang bertanggung jawab kalau ada serangan binatang buas?"

Yana berpaling menatap ayahnya, Aron.

"Prioritas suku saat ini adalah menutup celah benteng dan memastikan persediaan kayu bakar cukup sampai salju mencair. Ide membuka lahan bisa dipikirkan lagi saat musim semi benar-benar tiba, bukan di ambang badai," tegas Yana.

Kata-kata Yana mendadak membungkam pemburu muda yang tadinya bersemangat. Paman Bimo mengangguk setuju dengan ucapan Yana.

"Yana benar," pangkas Paman Bimo. "Tanah di Lembah Timur saat ini masih keras seperti batu karena es. Memaksa menggali tanah di sana sekarang cuma membuang-buang tenaga pemburu kita."

Wajah Ayla berubah sedikit kaku, meski ia dengan cepat menutupi kekecewaannya dengan senyuman kecil. "Aku... aku hanya ingin memberikan saran terbaik untuk suku."

"Aku tahu niatmu baik, Ayla," potong Aron, mengangkat tangannya untuk menenangkan suasana.

Aron berdiri dari kursi kayunya, memandangi seluruh orang yang hadir di balai suku. Matanya tertuju pada Ayla, lalu beralih pada Yana dan Tetua Gordon.

"Usulan Ayla memang menarik untuk jangka panjang," ucap Aron dengan suara berat yang dipenuhi pertimbangan. "Tapi kekhawatiran Yana dan Tetua Gordon juga sangat beralasan. Kita tidak boleh mempertaruhkan keselamatan pemburu hanya demi rencana yang belum pasti di tengah musim dingin."

Aron menghela napas panjang, menepuk meja kayu di depannya.

"Keputusan soal pembukaan lahan baru ditunda sampai musim dingin berakhir," putus Aron tegas. "Saat ini, seluruh pemburu tetap fokus pada penguatan pemukiman dan pencarian persediaan rutin!"

Luka tampak ingin memprotes, tetapi aura kepemimpinan Aron memaksanya menahan diri. Ia hanya bisa mengepalkan tangan dan melirik Yana dengan rasa kesal.

Namun, saat warga mulai membubarkan diri dari balai suku, Ayla berdiri terpaku di tempatnya. Matanya menatap Yana yang melangkah keluar balai dengan tenang. Senyum ramah yang biasanya menghiasi wajah Ayla menghilang perlahan, berganti dengan kilatan mata yang penuh tanda tanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!